Just in Time (JIT)

 

 

 

 

 

Halo selamat malam, kembali lagi bersama Gogo di Kultweet Prodi Akuntansi Manajemen. Yeeeeee…… malam ini gogo akan bahas yang perlu dibahas *loh. Malam ini yang perlu dibahas adalah tentang Just In Time (JIT). Gogo yakin kalian sudah banyak yang tahu tentang Just In Time. Dan untuk lebih lanjutnya, yuk simak pembahasan Gogo malam ini.

Perkembangan yang pesat dalam sektor industry dewasa ini mengakibatkan semakin banyaknya tingkat persaingan yang dihadapi tiap-tiap perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan. Untuk dapat bersaing dalam merebut pasar tiap perusahaan akan berusaha untuk saling mengungguli atau bahkan menjatuhkan, hal ini diupayakan untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya. Untuk mencapai laba yang layak, salah satu upaya adalah dengan meningkatkan kualitas produk yang diproduksi dan menekan biaya yang akan dikeluarkan. Bagi para pelaku ekonomi dalam menghadapi persaingan tersebut dapat menggunakan seluruh potensi yang ada secara efisien dan efektif. Salah satu strategi yang ada saat ini dalam perkembangan teknologi manufaktur saat ini dengan system​​ Just In Time. Dengan menerapkan system Just In Time ini maka diharapkan perusahaan dalam proses produksinya akan memiliki biaya yang rendah, harga jual yang murah, kualitas yang baik, dan kemampuan ketepatan waktu pengiriman yang tepat ke pelanggan.

Just In Time adalah filosofi yang memusatkan pada aktivitas yang diperlukan oleh internal lainnya dalam suatu organisasi. Empat aspek pokok Just In Time meliputi; aktivitas yang tidak bernilai tambah harus dieliminasi, komitmen untuk selalu meningkatkan mutu, penyempurnaan yang berkesinambungan, dan penyederhanaan aktivitas. System Just In Time menitikberatkan pada pembelian persediaan dalam jumlah yang tepat, waktu yang tepat, dan pada tempat yang tepat. Pada system ini ciri yang utama adalah tidak adanya persediaan karena persediaan dianggap hanya merupakan pemborosan. Dalam system produksi Just In Time, persediaan dibeli sangat kecil dengan pengiriman berkala dan tepat waktu saat digunakan. Tujuan utama Just In Time adalah menghilangkan pemborosan dan konsisten dalam meningkatkan produktivitas.​​ 

Just in time pertama kali dikembangkan di negara Jepang dekade yang lalu, dan kemudian diadopsi oleh banyak Perusahaan Manufaktur di Jepang dan Amerika Serikat. Just in time adalah sebuah filosofi pemecahan masalah secara berkelanjutan dan memaksa yang mendukung produksi ramping (lean). Just in time di definisikan sebagai system manajemen​​ pabrikasi dan persediaan komprehensif di mana bahan baku dan berbagai suku cadang dibeli dan di produksi pada saat produksi dan pada saat (just in time) akan digunakan dalam setiap tahap proses produksi/ pabrikasi. (Simamora, 2002:105)

Menurut Krismaji (2011;8), ide-ide yang mendukung just in time adalah; sederhana adalah lebih baik, penekanan pada kualitas dan perbaikan yang berkesinambungan, mempertahankan persediaan yang menjadi sumber pemborosan dan pekerjaan jelek yang tersembunyi, setiap aktivitas atau fungsi yang tidak menambah nilai harus dihilangkan, barang diproduksi apabila dibutuhkan, pekerja harus berketerampilan banyak dan berpartisipasi dalam memperbaiki efisiensi dan kualitas produk. Sasaran just in time menitikberatkan pada continuos improvement untuk mencapai biaya produksi yang rendah, tingkat produktivitas yang lebih tinggi, kualitas dan realibitas produk yang lebih baik, memperbaiki waktu penyerahan produk akhir dan memperbaiki hubungan kerja antara pelangan dengan pemasok. Tjahjadi (2001:227).

Dalam konsepn just in time, Simamora, (2002:107) menyatakan terdapat empat aspek fundamental dalam konsep just in time, yaitu:

  • Menghilangkan segala aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah bagi seluruh produk atau jasa. Dalam hal ini mencakup seluruh aktivitas atau sumber daya yang menjadi sasaran untuk pengurangan atau penghilangan.

  • Komitmen tinggi terhadap mutu melakukan secara benar segala sesuatunya di awal adalah esensial manakala tidak ada waktu ntuk mengerjakan ulang. Perusahaan perlu memiliki komitmen untuk mencapai dan mempertahankan tingkat mutu yang tinggi dalam semua aspek aktivitas-aktivitas perusahaan.

  • Upaya perbaikan yang berkelanjutan dalam efisiensi aktivitas perusahaan. Perusahaan perlu mencanangkan komitmen terhadap perbaikan berkesinambungan (continuous improvement) pada semua aktivitas perusahaan dan kegunaan data yang dihasilkan bagi manejemennya. Perbaikan yang berkesinambungan adalah pengupayaan terus-menerus nilai yang kian besar yang diberikan kepada pelanggan.

  • Penekanan pada penyederhanaan dan peningkatan visibilitas aktivitas nilai tambah, hal ini membantu untuk mengidentifikasi aktivtias yang tidak menambah nilai.

Nah sob, sebenernya nih peranan just in time tuh apa ya? Jadi menurut Kuncoro (2005:293) berpendapat bahwa peranan just in time adalah 1. meningkatkan laba, 2. meningkatkan posisi persaingan perusahaan yang dicapai melalui: a. Pengendalian biaya, b. Peningkatan kualitas, c. Perbaikan kinerja kualitas.

Nah sekarang apasih tujuan dan manfaat just in time? Menurut Hansen dan Mowen (2001:412) tujuan Just In Time memiliki dua tujuan strategis yaitu: untuk meningkatkan keuntungan dan memperbaiki daya saing perusahaan. Tujuan just in time adalah menghasilkan sebuah produk hanya ketika dibutuhkan dan hanya dalam kuantitas yang diminta oleh pelanggan. (Simamora, 2002:108). Menurut Krismaji, (2011:125) tujuan utama just in time adalah untuk menghasilkan produk hanya jika diperlukan dan hanya menghasilkan kuantitas produk sebanyak yang diminta pelanggan.

Manfaat utama system just in time adalah akan mengubah daya telusur biaya, meningkatkan akurasi penentuan kos produk, menurunkan kebutuhan alokasi biaya tak langsung, mengubah perilaku dan kepentingan relative biaya tenaga kerja langsung, dan mempengaruhi system penentuan kos pesanan dan kos proses. Tunggal (1998:71) terdapat 2 manfaat yang dapat ditemukan dari Just In Time antara lain:

  • Manfaat tangibles, yaitu:

  • Turn over pembelian bahan baku/ suku cadang bertambah

  • Ketepatan pengiriman meningkat

  • Lead time pengiriman berkurang

  • Pekerjaan ekspedisi berkurang

  • Waktu implementasi perubahan-perubahan oleh pemasok berkurang.

  • Manfaat intangibles, yaitu:

  • Memperbaiki kualitas produk

  • Berhasil mendorong pemasok memenuhi kualitas yang diperlukan

  • Memperbaiki produktivitas

  • Jadwal produksi yang lebih baik

  • Mengurangi keperluan untuk menginspeksi barang-barang yang masuk

  • Meningkatkan efisiensi

  • Memperbaiki posisi kompetitif

  • Memperbaiki desain produk

  • Memperbaiki moralitas dalam produksi

  • Lebih banyak kontak personal dengan pemasok

  • Mengurangi pekerjaan klerikal

Keberhasilan JIT tidak terlepas dari peran pemasok, oleh karena itu hubungan antara pemasok dengan pelanggan harus dijaga dengan baik. Menurut Supriyono (2002:68), perbandingan antara pemanufakturan just in time dengan pemanufakturan tradisional adalah sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

Nah sob, sekarang kalian penasaran atau enggak sih system pembelian dari Just In Time? Pembelian Just In Time adalah system pembelian penjadwalan pengadaan barang atau bahan yang tepat waktu sehingga dapat dilakukan pengiriman atau penyerahan secara cepat dan tepat untuk memenuhi permintaan.​​ 

Nah ini yang terpenting yaitu kunci sukses Just In Time, yaitu:

  • Suppliers, hal-hal yang harus diperhatikan adalah:

  • Kedatangan material dan produk akhir termasuk kesia-siaan.

  • Pembeli dan pemasok membentuk kemitraan

  • Kemitraan just in time

  • Layout, merupakan tata letak yang memungkinkan pengurangan kesia-siaan yang lain pergerakan. Misalnya pergerakan bahan baku manusia menjadi fleksibel, JIT Mensyaratkan:

  • Sel kerja untuk produk keluarga

  • Pergerakan atau perubahan mesin

  • Jarak yang pendek

  • Tempat yang kecil untuk persediaan

  • Pengiriman langsung ke area kierja

  • Inventory, persediaan dalam system produksi dan distribusi sering diadakan untuk berjaga-jaga.

  • Scheduling, jadwal yang efektif dikomunikasikan di dalam organisasi dan kepada pemasok, maka akan sangat mendukung penerapan just in time.

  • Preventive maintenance, pemeliharaan dilakukan dalam rangka untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan supaya tidak terjadi atau merupakan suatu tindakan pencegahan.

  • Kualitas, hubungan just in time dan mutu kuat sekali, karena berhubungan dengan tiga hal yaitu:

  • Just in time mengurangi biaya perolehan mutu yang baik karena biata prosuk sisa, pengerjaan ulang, investasi persdiaan menurun

  • Just in time meningkatkan mutu dengan mengurangi antrian dan waktu antara just in time juga membatasi jumlah sumber kesalahan potensial.

  • Mutu yang baik berarti lebih sedikit cadangan sehingga JIT lebih mudah diterapkan

  • Employee Empowerment, karyawan yang diberdayakan dapat ikut terlibat dalam isu-isu operasi harian yang merupakan falsafah just in time.

Nah itu dia sob materi Gogo malam mini. Jangan lupa terus update ilmu kalian dengan pantengin terus kultweet Gogo setiap malamnya. Sampai berjumpa minggu depan! Keep learning, sharing, and inspiring…

 

Sumber :​​ https://ejournal.stiesia.ac.id/jira/article/viewFile/300/292

 

 

 

 

Perencanaan Laba

 

 

 

Halo selamat malam sobat Gogo!! Apa kabar semuanya? Sehat? Semoga seluruh Sobat Gogo dimanapun kalian, dalam keadaan yang sehat, sejahtera, dan yang paling penting yaitu bahagia. Wahai sobat Gogo sekalian, sedang apa kalian? Masih​​ sibukah membuat video bu Denddy?​​ Jangan sibuk-sibuk si​​ ​​ nanti waktu buat Gogonya kapan? Tapi nih ya sob, taugak sih kenapa bu Denddy bisa banyak uangnya?:o Bu Denddy lagi apa yah disana? #lahkokjdbuDenndy. Bicara soal bu Denddy, kemarin Gogo dikasih tau sama beliau katanya nih uangnya bisa banyak karena beliau pandai dalam Perencanaan Laba (profit planning). Wih kayak kenal tuh materi apa. Yappp betul sekali, sepertinya bu Denddy adalah penggemar berat Gogo di prodi Akmen yaaa.. hihihi.

Yuk sob pantengin kultweet dr Gogo yah, karena di malam yang indah penuh dengan kebahagiaan ini, Gogo akan bahas salah satu ilmunya bu Denddy yaitu tentang “Perencanaan Laba (Profit Planning). Sobat Gogo pokoknya jangan sampai kalah dengan bu Denddy yahh.​​  Pengertian dari Perencanaan Laba (Profit Planning) adalah sebuah proses yang dilakukan oleh organisasi bisnis untuk mencapai tingkat laba yang diharapkan.​​ Pada kali ini, Gogo akan berfokus kepada tahap-tahap yang dilakukan ya sob. Kita akan melihat bahwa perencanaan laba dicapai melalui penyusunan sejumlah anggaran yang apa bila disatukan, induk (master budget). Anggaran induk merupakan alat manajemen yang sangat penting yang mengkomunikasikan rencana-rencana manajemen di dalam suatu organisasi, mengalokasikan sumber daya, dan mengoordinasikan aktivitas.

Anggaran adalah rencana terperinci untuk masa depan yang diekspresikan dalam bentuk kuantitatif. Anggaran digunakan untuk dua tujuan yaitu perencanaan dan pengendalian. Perencanaan meliputi perumusan tujuan dan penyusunan berbagai anggaran untuk mencapai tujuan tersebut. Pengendalian meliputi pengumpulan umpan balik untuk memastikan rencana telah dijalankan secara tepat atau di modifikasikan bila perubahan keadaan. Untuk menjadi efektif, anggaran yang baik harus mencakup keduanya, karena rencana yang baik tanpa pengendalian yang efektif akan membuang waktu. Nahh pada materi ini Gogo akan membagi menjadi dua bagian yaitu untuk kerangka dasar penganggaran dan penyusunan anggaran induk.

Kerangka dasar penganggaran meliputi:

  • Manfaat anggaran. Anggaran sendiri memiliki manfaat sebagai alat komunikasi bagi rencana manajemen, alat memaksa manajer untuk memikirkan dan merencanakan masa depan, alat alokasi sumber daya, memunculkan potensi masalah sebelum masalah terjadi,​​ mengkoordinasikan aktivitas seluruh organisasi dengan cara mengintegrasikan rencana dari berbagai bagian, dan menentukan tujuan dan sasaran untuk mengevaluasi kinerja selanjutnya.

  • Akuntansi Pertanggungjawaban (responsibility accounting). Adalah bahwa seorang manajer harus dibuat bertanggung jawab atas permasalahan tertentu dan hanya masalah tersebut saja segingga manajer dapat melakukan pengendalian pada tingkat yang signifikan.​​ 

  • Memilih Periode Anggaran.​​ Anggaran operasi biasanya mencakup periode satu tahun sesuai dengan tahun pajak perusahaan. Anggaran berlanjur banyak digunakan oleh berbagai organisasi. Anggaran berlanjut atau perpetual adalah anggaran 12 bulanan yang bergerak maju ke bulan berikutnya bila bulan saat ini telah berakhir.

  • Anggaran yang Ditetapkan Sendiri (self-imposed budget) atau Anggaran Partisipatif (partisipatif budget) merupakan anggaran yang disusun dengan kerja sama dan partisipasi penuh dari seluruh manajer pada segala tingkatan.

  • Faktor Manusia dalam Penganggaran.​​ Keberhasilan program anggaran juga bergantung pada seberapa jauh manajemen puncak menerima program anggaran sebagai bagian penting dari aktivitas perusahaan, dan cara manajemen puncak menggunakan data yang dianggarkan.

  • Komite Anggaran (budget committee) biasanya bertanggung jawab atas semua masalah kebijakan yang berkaitan dengan program anggaran dan berkaitan dengan koordinasi penyusunan anggaran itu sendiri. Komite biasanya terdiri dari direktur utama, wakil diretur utama berbagai bidang. Kesulitan dan perselisihan tentang masalah anggaran diselesaikan oleh komite ini.

  • Anggaran induk (master budget) mengandung sejumlah anggaran terpisah tetapi saling berkaitan. Berikut adalah gambar keterkaitan anggaran tersebut:

WhatsApp Image 2018-03-12 at 21.32.52.jpeg

 

Nah sob​​ sekarang yang akan Gogo bahas adalah tentang Penyusunan Anggaran Induk. Daftar dokumen yang merupakan bagian dari anggaran produk yaitu:

  • Anggaran Penjualan. Anggaran penjualan adalah titik awal dalam penyusunan anggaran induk. Seperti gambar 8.2 yang diatas sob, banyak hal dalam anggaran induk bergantung pada anggaran penjualan, seperti produksi, pembelian, persediaan, dan beban.​​ 

  • Anggaran Produksi. Anggaran produksi disusun setelah anggaran penjualan. Anggaran produksi (production budget) menampilkan jumlah unit yang harus diproduksi selama setiap periode anggaran untuk memenuhi rencana penjualan dan juga untuk menghasilkan persediaan akhir yang iinginkan.

  • Anggaran Bahan Baku Langsung. Anggaran ini dapat disusun setelah kebutuhan produksi selesai dihitung. Anggaran bahan baku langsung menunjukan secara terperinci bahan mentah yang harus dibeli untuk memenuhi anggaran produksi dan untuk memenuhi jumlah persediaan yang memadai. Anggaran bahan baku langsung (dan anggaran pembelian barang dagangan untuk perusahaan dagang) umumnya disertai dengan skedul perkiraan pengeluaran kas​​ untuk bahan mentah. Skedul ini diperlukan untuk menyusun anggaran kas secara keseluruhan.

  • Anggaran Tenaga Kerja Langsung (direct labor budet) menunjukan jumlah jam tenaga kerja langsung yang dibutuhkan untuk memenuhi anggaran produksi. Kebutuhan tenaga​​ kerja langsung harus dihitung agar perusahaan tahu apakah jam tenaga kerja yang ada cukup untuk produksi.

  • Anggaran Overhead Manufaktur (manufacturing overhead budget) menunjukan skedul seluruh biaya produksi selain bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung.

  • Anggaran Persediaan Akhir Barang Jadi (ending finished goods inventory budget). Setelah suatu perusahaan memiliki seluruh data yang diperlukan, maka dihitunglah biaya produksi per unit. Untuk biaya dan unit yang belum terjual dihitung pada anggaran persediaan akhir barang jadi.

  • Anggaran Beban Penjualan dan Administrasi (selling and admninistrative expense budget) menunjukan beban yang dianggarkan selain yang berkaitan dengan pabrik. Di perusahaan besar, anggaran ini merupakan kompilasi dari banyak anggaran lebih kecil yang diserahkan oleh para kepala departemen dan orang lain yang bertanggung jawab atas beban penjualan dan administrasi.

  • Anggaran Kas, terdiri dari empat bagian yaitu bagian penerimaan, bagian pengeluaran, bagian kelebihan dan kekurangan kas, dan bagian pendanaan.

  • Anggaran Laporan Laba Rugi, merupakan salah satu skedul penting dalam proses anggaran. Anggaran laporan laba rugi menunjukan rencana laba perusahaan untuk periode anggaran yang akan datang, dan ini juga berlaku sebagai acuan bagi kinerja perusahaan selanjutnya.

  • Anggaran Laporan Posisi Keuangan, disusun dengan memulainya pada laporan posisi keuangan awal periode anggaran dan menyesuaikan dengan data yang terdapat pada skedul.

Nah itu dia sob sekilas materi dari Gogo tentang perencanaan laba. Untuk kali ini hanyalah pengantar penganggaran dan perencanaan laba. Di pertemuan selanjutnya, Gogo akan lebih banyak menjelaskan tentang perencanaan laba secara mendalam. Sobat Gogo jangan lupa terus update ilmu kalian, jangan lupa di like dan retweet, serta jangan lupa untuk dipelajari. Jangan mudah rindu Gogo yah berat hihihi. Dadahhh. Keep learning, sharing, inspiring sob…..

Balanced Scorecard

 

 

Halooo apa kabar Sobat​​ Gogo se-Indonesia!​​ Kembali lagi nih di hari Rabu malam​​ dengan kultweet dari prodi akuntansi manajemen...​​ Yuk Sobat Gogo,​​ jangan lupa​​ pantengin,​​ retweet dan like ya ^__^

Malam ini kita akan membahas teori mengenai Balanced Scorecard. Kalian pasti penasaran kan apa sih peranan Balanced Scorecard di dalam Manajemen ?​​ ​​ Sedikit sejarah pada awal mula nya Balanced Scorecard ini digunakan untuk memperbaiki sistem pengukuran kinerja eksekutif Sob. Awal penggunaannya kinerja eksekutif diukur hanya dari segi keuangan, kemudian berkembang luas menjadi empat perspektif, yang kemudian digunakan untuk mengukur kinerja organisasi secara utuh. Waahhh semakin penasaran kan Sobat Gogo dengan materi kita malam ini. Yukk simak bersama yaa Sob ^___^

Definisi Balanced Scorecard

Konsep Balanced Scorecard adalah pendekatan terhadap strategi manajemen yang dikembangkan oleh Drs.Robert Kaplan (Harvard Business School) and David Norton pada awal tahun 1990. Balanced Scorecard berasal dari dua kata yaitu Balanced (berimbang) dan scorecard (kartu skor). Balanced (berimbang) berarti adanya keseimbangan antara performance keuangan dan non-keuangan, performance jangka pendek dan performance jangka panjang, antara performance yang bersifat internal dan performance yang bersifat eksternal. Sedangkan scorecard (kartu skor) yaitu kartu yang digunakan untuk mencatat skor performance seseorang. Kartu skor ini juga dapat digunakan untuk merencanakan skor yang hendak diwujudkan oleh seseorang di masa depan Sob.

Dalam definisi lain Balance Scorecard adalah suatu konsep untuk mengukur apakah aktivitas-aktivitas operasional suatu perusahaan dalam skala yang lebih kecil sejalan dengan sasaran yang lebih besar dalam hal visi dan strategi.

 

Keunggulan Balanced Scorecard

Menurut Mulyadi (2007, p.18) balanced scorecard memiliki beberapa keungguluan, yaitu:

  • Komprehensif

Memperluas perspective yang tercakup dalam perencanaan strategik, yang sebelumnya hanya terbatas pada strategi keuangan, lalu meluas ke tiga perspective lainnya, yaitu​​ customer perspective, internal business perspective, dan learning and growth perspective. Perluasan perspective ini akan bermanfaat untuk:

  • Menjanjikan kinerja keuangan menjadi berlipat ganda dan berjangka panjang.

  • Perusahaan jadi memilki kemampuan untuk memasuki lingkungan bisnis yang kompleks.

Untuk menghasilkan kinerja keuangan yang lebih baik, perusahaan juga harus mewujudkan sasaran dari perspective customer. Itu berarti perusahaan harus menghasilkan barang dengan value yang sesuai dengan ekspektasi customer dari proses produksi yang efektif dan efisien. Kekompeherensifan sasaran strategik merupakan respon yang sesuai untuk memasuki lingkungan bisnis yang kompleks dan penuh tantangan.

  • Koheren

Kekoherenan sasaran strategik memotivasi personel untuk bertanggung jawab dalam mencari inisiatif strategik yang mempunyai manfaat bagi perwujudan tujuan strategik pada financial perspective, customer perspective, internal business perspective, dan learning and growth perspective.

Kekoherenan juga berarti dibangunnya hubungan sebab-akibat diantara output yang dihasilkan sistem perumusan strategi dengan output yang dihasilkan sistem strategik planning. Sasaran strategik yang dirumuskan dalam sistem perencanaan strategik merupakan terjemahan dari visi, tujuan, dan strategi yang dihasilkan perumusan strategi.

3. Terukur

Keterukuran sasaran startegik menjanjikan tercapainya berbagai sasaran strategik yang dihasilkan oleh sistem tersebut. Dan Balanced Scorecard mengukur sasaran strategik yang pantas untuk diukur. Sasaran-sasaran di customer perspective, internal business perspective, dan learning and growth perspective. Ketiga aspek ini merupakan sasaran yang tidak mudah diukur. Namun dalam konsep Balanced Scorecard, sasaran dari ketiga perspective ini dibuat ukurannya agar dapat dikelola, agar dapat diwujudkan. Dengan

demikian, kinerja keuangan akan berlipat ganda.

4. Seimbang

Keseimbangan sasaran strategik yang dihasilkan oleh system perencanaan strategik penting untuk menghasilkan kinerja keuangan dan perusahaan secara keseluruhan.

 

Balanced scorecard memberi manfaat bagi organisasi dalam beberapa cara:

  • menjelaskan visi organisasi

  • menyelaraskan organisasi untuk mencapai visi itu

  • mengintegrasikan perencanaan strategis dan alokasi sumber daya

  • meningkatkan efektivitas manajemen dengan menyediakan informasi yang tepat untuk mengarahkan perubahan

 

Selanjutnya dalam menerapkan balanced scorecard, Robert Kaplan dan David Norton, mensyaratkan dipegangnya​​ lima prinsip utama​​ berikut:

  • Menerjemahkan sistem manajemen strategi berbasis balanced scorecard ke dalam terminologi operasional sehingga semua orang dapat memahami

  • Menghubungkan dan menyelaraskan organisasi dengan strategi itu. Ini untuk memberikan arah dari eksekutif kepada staf garis depan

  • Membuat strategi merupakan pekerjaan bagi semua orang melalui kontribusi setiap orang dalam implementasi strategis

  • Membuat strategi suatu proses terus menerus melalui pembelajaran dan adaptasi organisasi dan

  • Melaksanakan agenda perubahan oleh eksekutif guna memobilisasi perubahan.

 

4 Perspektif Balanced Scorecard

Pengukuran kinerja dengan Balanced Scorecard memandang unit bisnis dari empat perspektif.​​ Empat perspektif tersebut yaitu keuangan, pelanggan, proses bisnis internal serta pembelajaran dan pertumbuhan. Kerangka kerja penerjemahan berbagai strategi dalam empat perspective Balanced Scorecard akan digambarkan pada gambar berikut:

 

Pengukuran ke-empat prespektif tersebut dapat dilakukan sebagai berikut :

  • Perspektif Financial menurut Kaplan (Kaplan, 1996) pada saat perusahaan melakukan pengukuran secara finansial, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah mendeteksi keberadaan industri yang dimilikinya. Kaplan menggolongkan tiga tahap perkembangan industri yaitu; growth, sustain, dan harvest.​​ Dari tahap-tahap perkembangan industri tersebut akan diperlukan strategi-strategi yang berbeda-beda. Dalam perspektif finansial, terdapat tiga aspek dari strategi yang dilakukan​​ suatu​​ perusahaan; (1) pertumbuhan pendapatan dan kombinasi pendapatan yang dimiliki suatu organisasi bisnis, (2) penurunan biaya dan peningkatan produktivitas, (3) penggunaan aset yang optimal dan strategi investasi.

  • Perspektif Customer, dalam perspektif customer ini mengidentifikasi bagaimana kondisi customer mereka dan segmen pasar yang telah dipilih oleh perusahaan untuk bersaing dengan kompetitor mereka. Segmen yang telah mereka pilih ini mencerminkan keberadaan customer tersebut sebagai sumber pendapatan mereka. Dalam perspektif ini, pengukuran dilakukan dengan lima aspek utama (Kaplan,1996:67); yaitu ◦pengukuran pangsa pasar, pengukuran terhadap besarnya pangsa pasar perusahaan mencerminkan proporsi bisnis dalam satu area bisnis tertentu yang diungkapkan dalam bentuk uang, jumlah customer, atau unit volume yang terjual atas setiap unit produk yang terjual.

  • customer retention, pengukuran dapat dilakukan dengan mengetahui besarnya prosentase pertumbuhan bisnis dengan jumlah customer yang saat ini dimiliki oleh perusahaan.

  • customer acquisition, pengukuran dapat dilakukan melalui prosentase jumlah penambahan customer baru dan perbandingan total penjualan dengan jumlah customer baru yang ada.

  • customer satisfaction, pengukuran terhadap tingkat kepuasan pelanggan ini dapat dilakukan dengan berbagai macam teknik diantaranya adalah : survei melalui surat (pos), interview melalui telepon, atau personal interview.

  • customer profitability, pengukuran terhadap customer profitability dapat dilakukan dengan menggunakan teknik Activity Based-Costing (ABC).

  • Perspektif Proses Bisnis Internal, dalam perspektif ini, perusahaan melakukan pengukuran terhadap semua aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan baik manajer maupun karyawan untuk menciptakan suatu produk yang dapat memberikan kepuasan tertentu bagi customer dan juga para pemegang saham. Dalam hal ini perusahaan berfokus pada tiga proses bisnis utama yaitu: proses inovasi, proses operasi, proses pasca penjualan.

  • Perspektif Pertumbuhan dan Pembelajaran, Perspektif yang terakhir dalam Balanced Scorecard adalah perspektif pertumbuhan dan pembelajaran. Kaplan (Kaplan,1996) mengungkapkan betapa pentingnya suatu organisasi bisnis untuk terus memperhatikan karyawannya, memantau kesejahteraan karyawan dan meningkatkan pengetahuan karyawan karena dengan meningkatnya tingkat pengetahuan karyawan akan meningkatkan pula kemampuan karyawan untuk berpartisipasi dalam pencapaian hasil ketiga perspektif di atas dan tujuan perusahaan.

Gimana sob, Sobat Gogo semakin pahamkan bagaimana manajemen menerapkan Balanced Scorecard dlm organisasinya :D. Dimana #BalancedScorecard ini dapat membantu perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan atas 4 perspektif: ​​ financial,customer,internal bisnis, learning & growth.

Ok sob, sekian dulu materi dari prodi akmen hari ini. Sampai bertemu minggu depan di Kultweet selanjutnya. Keep learning, Sharing, Inspiring !​​ 

 

 

Daftar Pustaka

  • Kaplan R.S. & Norton, D.P.; The Balanced Scorecard, Translating Strategy into Action, 1996

  • Mulyadi, Sistem manajemen Strategik Berbasis Balanced Scorecard, Yogyakarta: UPP AMP YKPN.Balanced Scorecard, 2005.

Value Chain

 

 

Selamat​​ Malam Sobat Gogo yang sangat Gogo sayangi dimanapun kalian berada. Kalian bosan atau tidak Gogo tanyakan kabar? Kalau Gogo pastinya tidak dong, oleh karena itu gogo mau tanya kembali, bagaimana kabar kalian? Gogo sangat senang kalau kalian semua dalam keadaan yang baik. Kembali lagi bersama kami, yap betul sekali kami dari prodi akmen siap ​​ untuk menghibur anda kembali. #loh. Bukan, maksudnya Gogo kembali hadir untuk memberi sedikit saja pencerahan buat sobat Gogo semuanya. Kenapa sedikit? Karena segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, eaaaa.

 

Yappp tanpa panjang lebar lagi, malam ini Gogo akan bahas tentang Value Chain atau sobat biasa​​ kenal dengan nama Rantai Nilai.​​ Konsep ini dipopulerkan oleh Michael Porter pada buku Competitive Advantage: Creating and Sustaining Superior Performance (1985).​​ Wahhh, sudah lama juga yah ternyata sob, kalian sudah lahir belum? Hihihi. Pasti ada yang udah kan? Hayo ngakuuuu.

Sebelum kita belajar lebih jauh, mari kita simak pengertian Value Chain menurut para ahli.​​ 

 

Menurut David (2012:227), analisis rantai nilai (Value Chain analysis-VCA) mengacu pada proses yang dengannya perusahaan menentukan biaya yang terkait dengan aktivitas organisasional dari pembelian bahan mentah sampai produksi dan pemasaran produk tersebut. Menurut Assuari (2011:66), rantai nilai adalah suatu kumpulan yang terkait dengan aktivitas penciptaan nilai, yang dimulai dengan bahan baku dasar, yang datang dari pemasok dan bergerak ke rangkaian aktivitas penambahan nilai (value added), yang mencakup produksi dan pemasaran produk, berupa barang atau jasa, dan diakhiri dengan distribusi untuk dapat diterimanya produk oleh konsumen akhir. Sedangkan menurut Pearce dan Robinson (2007:158), rantai nilai merupakan sebuah perspektif di mana bisnis dipandang sebagai rantai kegiatan dalam mengubah input menjadi output yang memberikan nilai kepada pelanggan. Sedangkan analisis rantai nilai adalah sebuah analisis yang mencoba untuk memahami bagaimana suatu bisnis dapat menciptakan nilai bagi pelanggan (customer value) dengan menguji kontribusi dari kegiatan yang berbeda dalam suatu perusahaan.

 

Berdasarkan pendapat para ahli mengenai definisi dari Value Chain, maka dapat disimpulkan bahwa Value Chain merupakan suatu proses perusahaan dalam menentukan biaya yang terkait dengan aktivitas penciptaan nilai perusahaan, dimulai pada proses input sampai dengan output serta diterimanya produk oleh konsumen akhir. Nah jadi kesimpulannya seperti itu sob. Pertanyaan selanjutnya adalah... tujuan Value Chain itu apa sih? Kenapa dia ada?

 

Tujuan Value Chain Menurut David (2012:227), Value Chain Analysis bertujuan untuk mengidentifikasi dimana keunggulan (advantage) atau kelemahan (disadvantage) biaya rendah yang ada di sepanjang rantai nilai mulai dari bahan mentah sampai aktivitas layanan konsumen. Sedangkan Menurut Porter, tujuan dari Value Chain Analysis adalah untuk mengidentifikasi tahap-tahap Value Chain di mana perusahaan dapat meningkatkan value untuk pelanggan atau untuk menurunkan biaya. Penurunan biaya atau peningkatan nilai tambah (value added) dapat membuat perusahaan lebih kompetitif. Dan Menurut Wisdaningrum (2012) dalam jurnalnya, Value Chain Analysis dapat dipergunakan untuk menentukan pada titik-titik di mana dalam rantai nilai yang dapat mengurangi biaya atau memberikan nilai tambah. Jadi kesimpulannya, tujuan Value Chain Analysis adalah untuk mengidentifikasikan keunggulan dan kelemahan dalam aktivitas pada rantai nilai.

 

Terus nih terus, sebenernya konsep Value Chain itu gimana yah? Menurut Porter (1998:39-41), menjelaskan bahwa Value Chain terbagi dalam dua jenis aktivitas yaitu Aktivitas Primer​​ (Primary Activities) dan Aktivitas Sekunder (Support Activities). Sekarang kita bahas dulu yang Aktivitas Primer, terdiri dari beberapa kategori yaitu:

  • Logistik ke dalam (Inbound Logistic) Kegiatan yang berhubungan dengan menerima, menyimpan, dan menyebarkan masukan ke produk, seperti material handling, pergudangan, inventory control, penjadwalan kendaraan, dan kembali ke pemasok.

  • Operasi (Operation) Kegiatan yang berhubungan dengan mengubah input menjadi bentuk produk akhir (output), seperti mesin, kemasan, perakitan, pemeliharaan peralatan, pengujian, percetakan, dan fasilitas dalam kegiatan operasi.

  • Logistik ke luar (Outbound Logistic) Aktivitas yang berhubungan dengan pengumpulan, penyimpanan, dan fisik mendistribusikan produk kepada pembeli, seperti selesai pergudangan barang, material handling, kendaraan operasional pengiriman, pemrosesan pemesanan, dan penjadwalan.

  • Pemasaran dan Penjualan (Marketing and Sales) Kegiatan yang berhubungan dengan menyediakan sarana yang pembeli dapat membeli produk dan mendorong mereka untuk melakukannya, seperti iklan, promosi, salesforce, pilihan channels, hubungan dengan channels, dan harga.

  • Pelayanan (Service) Kegiatan yang berhubungan dengan menyediakan layanan untuk meningkatkan atau mempertahankan nilai produk, seperti instalasi, perbaikan, pelatihan, pasokan suku cadang, dan penyesuaian produk.

 

Nah kalau untuk aktivitas sekunder, terdiri dari beberapa kategori juga meliputi:

  • Pengadaan (Procurement) Pengadaan mengacu pada aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk pembelian input yang diperlukan dalam kegiatan produksi dalam rantai nilai perusahaan, bukan untuk input yang dibeli sendiri.​​ 

  • Pengembangan Teknologi (Technology Development) Perkembangan teknologi terdiri dari berbagai kegiatan yang dapat dikelompokkan menjadi upaya untuk meningkatkan produk dan proses yang digunakan perusahaan.​​ 

  • Manajemen Sumber Daya Manusia (Human Resource Management) Manajemen sumber daya manusia terdiri dari kegiatan yang terlibat dalam merekrut, menyewa, pelatihan, pengembangan, dan kompensasi dari semua jenis personil.​​ 

  • Infrastruktur Perusahaan (Firm Infrastructure) Infrastruktur perusahaan terdiri dari sejumlah kegiatan termasuk manajemen umum, perencanaan, keuangan, akuntansi, hukum, urusan pemerintahan, dan manajemen mutu.

 

Menurut Porter (1998:37), menjelaskan bahwa aktivitas-aktivitas yang dilakukan dalam Value Chain Analysis sebagai berikut​​ 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Porter (1998) juga memberikan contoh aktivitas–aktivitas dalam Value Chain analysis pada perusahaan manufaktur sebagai berikut: