Assalamualaikum wr.wb .​​ 

Hallo Sobat Gogo, malam ini Gogo akan share materi akuntansi syariah mengenai​​ Akad​​ Salam dan E-commerce. Yuk mari disimak.

Secara umum perdagangan secara Islam menjelaskan adanya transaksi yang bersifat fisik, dengan menghadirkan benda tersebut sewaktu transaksi, atau tanpa menghadirkan benda yang dipesan, tetapi dengan ketentuan harus dinyatakan sifat benda secara kongkret, baik diserahkan langsung atau diserahkan kemudian sampai batas waktu tertentu, seperti dalam transaksi as-salam dan transaksi al-istishna‟.

Namun dengan perkembangan zaman melalui berkembangnya internet muncul suatu bentuk suatu transaksi yang dikenal dengan istilah transaksi E-Commerce. Hal ini tentu akan menjadi suatu tantangan agama untuk menjelaskan atau menjawab semua fenomena peradaban manusia saat ini.

E-commerce merupakan kegiatan bisnis yang menyangkut konsumen (consumers), manufaktur (manufactures), service providers dan pedagang perantara (intermediaries) dengan menggunakan jaringan komputer (computer networks) yaitu internet.​​ Jadi e-commerce​​ bisa dikatakan​​ proses transaksi jual beli yang dilakukan melalui internet dimana website digunakan sebagai wadah untuk melakukan proses tersebut.​​ 

Berdasarkan PSAK 103: Akuntansi Salam,​​ Salam adalah akad jual beli barang pesanan (muslam fiih) dengan pengiriman di kemudian hari oleh penjual (muslam illaihi) dan pelunasannya dilakukan oleh pembeli pada saat akad disepakati sesuai dengan syarat-syarat tertentu.

Pelaksanaan transaksi bisnis e-commerce, sekilas hampir serupa dengan​​ akad salam​​ dalam hal pembayaran dan penyerahan komoditi yang dijadikan sebagai obyek transaksi. Oleh karena itu, mari kita lihat komparasi keduanya, membandingkan dengan jelas apakah transaksi dalam e-commerce melalui internet tersebut dapat disejajarkan dengan prinsip-prinsip transaksi yang ada dalam akad salam maka masing-masing dapat dicermati melalui pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi, proses pernyataan kesepakatan dalam transaksi dan melalui obyek transaksi sebagai berikut :

 

 

  • Pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi​​ 

Dalam transaksi e-commerce melalui internet perintah pembayaran (payment instruction) melibatkan beberapa pihak selain dari pembeli (cardholder) dan penjual (merchant).​​ Para pihak itu, yaitu sbb:

  • Payment Gateway. Dalam hal ini payment gateway dapat dianggap seperti saksi dalam transaksi yang melakukan otorisasi terhadap instruksi pembayaran dan memonitor proses transaksi online.

  • Acquirer. Pihak ketiga lain yang berfungsi untuk memproses instruksi pembayaran.

  • Issuer adalah sebuah institusi finansial dalam hal ini bank yang dipercaya oleh merchant untuk memproses dan menerima pembayaran secara online dari pihak consumer.

Berbeda dengan melaui dalam transaksi e-commerce,​​ akad salam​​ merupakan ​​ perwakilan dalam melakukan transaksi atau dalam melakukan pembayaran bukan suatu keharusan seperti yang terdapat dalam transaksi e-commerce melalui internet.

Hal ini tergantung kepada kehendak pihak yang melakukan transaksi dan sangat terkait dengan situasi dan keadaan yang melingkupinya. Namun, apabila memang perwakilan diperlukan maka hal tersebut tidak akan merusak atau membatalkan transaksi, karena adanya perwakilan itu dibolehkan dalam Islam.

  • Pernyataan kesepakatan dalam transaksi​​ 

Kesepakatan dalam​​ akad salam​​ dinyatakan dengan ijab dan qabul. Tujuan yang terkandung dalam pernyataan ijab dan qabul harus jelas dan terdapat kesesuaian, sehingga dapat dipahami oleh masing-masing pihak.

Pada transaksi e-commerce Dalam transaksi e-commerce pernyataan kesepakatan dapat dilakukan melalui chatting, video conference, e-mail atau langsung melalui website merchant dan media sosial seperti​​ line@, wa, dll.

Dan​​ pada transaksi​​ e-commerce​​ pada prinsipnya sama dengan pernyataan kesepakatan pada​​ akad​​ salam. Namun, pada pelaksanaannya dalam transaksi​​ online​​ pernyataan kesepakatan dinyatakan melalui media elektronik dan internet. Meski pernyataan kesepakatan dilakukan dengan berbagai cara, yang terpenting adalah pernyataan dapat dipahami maksudnya oleh kedua pihak yang melakukan transaksi, sehingga dapat dijadikan manifestasi dari kerelaan kedua pihak.

 

  • Objek transaksi​​ 

Dalam​​ akad salam, obyek transaksi harus merupakan harta yang memiliki nilai dan manfaat menurut syara‟ bagi pihak-pihak yang mengadakan transaksi. Pembayaran atau penyerahan harga dalam akad ​​ salam harus di tempat kontrak atau dengan kata lain harus tunai atau disegerakan/didahulukan. Kemudian harus dapat ditentukan dan diketahui oleh pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi. Misalnya pembayaran dilakukan dengan uang, harus dijelaskan jumlah dan mata uang yang digunakan atau dengan barang, harus dijelaskan jenisnya, kualitasnya dan sifatnya.

Dalam transaksi e-commerce melalui internet, sebelum proses pembayaran dilakukan masing-masing pihak telah menyepakati mengenai jumlah dan jenis mata uang yang digunakan sebagai pembayaran/ harga serta metode pembayaran yang digunakan, seperti dengan kartu kredit/debit.

Dengan demikian, pembayaran/harga dalam transaksi e-commerce pada prinsipnya sama dengan pembayaran/harga dalam transaksi as-salam. Dalam​​ akad salam,​​ pembayaran/harga harus merupakan harta yang memiliki​​ nilai dan manfaat menurut syara’​​ bagi pihak-pihak yang mengadakan transaksi dan pembayaran/harga harus dibayarkan segera/didahulukan serta dapat ditentukan dan diketahui oleh pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi. Misalnya pembayaran dilakukan dengan uang, harus dijelaskan jumlah dan mata uang yang digunakan. Pembayaran/harga dalam transaksi online melalui e-commerce pada prinsipnya telah memenuhi ketentuan-ketentuan yang ada dalam​​ akad salam.

Lebih jelas dapat dilihat aspek perbedaan dan persamaan antara transaksi e-commerce
dengan akad salam pada tabel berikut:

 

No.

Aspek

Persamaan

Perbedaan

 

Transaksi e-Commerce

Transaksi as-Salam

1.​​ 

Pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi.​​ 

 

Adanya penjual dan pembeli sebagai subyek transaksi.​​ 

Adanya payment gateway, acquirer dan issuer yang dianggap sebagai saksi dan wakil dalam melakukan pembayaran merupakan suatu keharusan.​​ 

Keberadaan saksi dan wakil bukan suatu keharusan tapi apabila diperlukan hal tersebut tidak akan merusak atau membatalkan transaksi, bahkan untuk keberadaan saksi sangat dianjurkan dalam transaksi ini.​​ 

2.​​ 

Pernyataan kesepakatan​​ 

Adanya pernyataan kesepakatan sebagai manifestasi dari kerelaan kedua belah pihak yang bertransaksi.​​ 

Dilakukan melalui media elektronik dan internet.​​ 

Dapat dilakukan dengan berbagai cara yang dapat dipahami maksudnya oleh kedua belah pihak yang bertransaksi.​​ 

3

Obyek transaksi​​ 

 

Pembayaran/ harga diserahkan segera/​​ didahulukan.​​ 

- Komoditi yang diperdagangkan dapat berupa komoditi yang legal dan illegal untuk​​ diperdagangkan menurut Islam.​​ 

- Untuk komoditi digital diserahkan langsung setelah transaksi melalui internet, dan untuk komoditi non-digital tidak dapat diserahkan langsung namun dikirimkan melalui jasa kurir sesuai dengan kesepakatan spesifikasi komoditi, waktu dan tempat penyerahan.​​ 

- Komoditi yang diperdagangkan harus berupa komoditi yang legal untuk diperdagangkan​​ menurut Islam.​​ 

- Penyerahan komoditi harus ditangguhkan sampai batas waktu kemudian

 

Jadi berdasarkan nilai-nilai yang ada dalam perdagangan secara Islam, khususnya dianalogikan dengan prinsip akad​​ salam, transaksi​​ e-commerce​​ melalui internet dapat dibolehkan menurut Islam, kecuali pada komoditi yang tidak dibenarkan untuk diperdagangkan secara Islam.​​ 

 

Demikian sobat gogo materi di hari Jum’at kali ​​ ini. Semoga ilmu nya bermanfaat dan semakin cinta dengan akuntansi syariah. Selamat malam...

Keep Learning, Sharing, Inspiring!!!

 

Berikut adalah sumber yang dijadikan rujukan dalam menyusun materi mengenai​​ Akad Salam dan e-Commerce.

 

http://iaiglobal.or.id/v03/standar-akuntansi-keuangan/pernyataan-sas-66-psak-103-akuntansi-salam

Mawardi.​​ 2008.​​ Transaksi E-Commerce Dan Bai’ As-Salam (Suatu Perbandingan).​​ Hukum Islam. Vol. VIII No.1​​ 

Mokhtar, Ainnur Hafizah Anuar.dkk. 2014.​​ Bai as-Salam and E-Commerce: A Comparative Analysis from Shariah Perspective.​​ IRACST – International Journal of Commerce, Business and Management (IJCBM), ISSN: 2319–2828​​ Vol. 3, No. 1

 

 

 

 

  • SUMBER

Berikut adalah sumber yang dijadikan rujukan dalam menyusun materi mengenai​​ Akad Salam dan e-Commerce.

 

http://iaiglobal.or.id/v03/standar-akuntansi-keuangan/pernyataan-sas-66-psak-103-akuntansi-salam

Mawardi.​​ 2008.​​ Transaksi E-Commerce Dan Bai’ As-Salam (Suatu Perbandingan).​​ Hukum Islam. Vol. VIII No.1​​ 

Mokhtar,​​ Ainnur Hafizah Anuar.dkk. 2014.​​ Bai as-Salam and E-Commerce: A Comparative Analysis from Shariah Perspective.​​ IRACST – International Journal of Commerce, Business and Management (IJCBM), ISSN: 2319–2828​​ Vol. 3, No. 1