Assalamualaikum wr.wb .​​ 

Hai Sobat Gogo,​​ Jum’at malam serunya bersama prodi aksyar dong yah.​​ Kepoin materi-materi akuntansi syariah lebih dalem bareng gogo yuk!​​ 

Nah​​ Jum’at kali​​ ini,​​ gogo akan​​ bahas​​ mengenai saham tepatnya mengenai​​ “Skrining Saham Syariah”. Wah penasaran dong gimana sih penentuan kriteria yang tergolong saham syariah di Indonesia?​​ Yuk, jangan mau ketinggalan,​​ pantengin terus twitter,​​ line,​​ dan instagram kita sobat gogo!

Skrining saham syariah merupakan penentuan kriteria-kriteria yang harus di penuhi oleh emiten untuk masuk dalam kategori saham syariah. Tahu gak sobat gogo, ​​ skrining saham syariah ditetapkan oleh bursa dengan melibatkan dewan syariah yang kompeten di bidang fiqih mualamah.

ISSI (Indeks Saham Syariah Indonesia) merupakan hasil dari skrining saham syariah. Saham-saham yang masuk dalam indeks ini ​​ adalah saham yang memenuhi kriteria ​​ saham syariah ​​ sebagaimana ​​ ditetapkan DSN dan bursa efek.​​ 

Sebelum lanjut ke topik utama, yuk sob bareng-bareng kita review kembali bagaimana perkembangan saham syariah di Indonesia. Perkembangan saham syariah masih tergolong baru dibandingkan perbankan syariah dan asuransi syariah yang relatif lebih dulu berkembang.​​ JII​​ (Jakarta Islamic Index)​​ telah dikembangkan sejak tanggal 3 Juli 2000 oleh PT Bursa Efek Indonesia bekerjasama dengan PT Danareksa Investment​​ Management.​​ Pembentukan instrumen syariah ini untuk mendukung pembentukan Pasar Modal Syariah yang dibentuk berdasarkan syariah islam, indeks ini diharapkan dapat menjadi tolak ukur kinerja saham-​​ saham yang berbasis syariah.​​  Setiap periodenya, saham yang masuk JII berjumlah 30 (tiga puluh) saham yang memenuhi kriteria syariah.​​ Pada​​ November 2007, Bapepam & LK telah mengeluarkan Daftar Efek Syariah (DES) yang merupakan daftar saham syariah di Indonesia.​​ Keberadaan DES tersebut​​ ditindaklanjuti ​​ oleh BEI dengan mendirikannya ISSI pada 12 Mei 2011.​​ 

Oke sob, kita kembali ke laptop, ke topik utama kita yaitu skrining saham syariah. Metode seleksi saham syariah menggunakan 2 (dua) metode yaitu​​ screening​​ kualitatif dan kuantitatif.​​ Secara kualitatif merupakan paduan dari dewan syariah mengenai boleh tidaknya emiten dimasukan kedalam indeks syariah. Kriteria kualitatif ini mencakup jenis usaha emiten dan produk yang dihasilkan emiten. Metode kedua yaitu kuantitatif kriterianya yaitu berdasarkan kriteria akuntansi yang mencakup rasio keuangan ​​ seperti rasio utang dan pendapatan non​​ halal.​​ 

Berikut ini selektif​​ kualitatif untuk saham-saham syariah di Bursa Efek Indonesia yaitu ISSI. Di BEI, kriteria kualitatif disebut sebagai kriteria bisnis, yaitu jenis usaha setiap emiten. Kategori jenis usaha yang dijadikan indikator dalam kriteria bisnis adalah berdasarkan kehalalan dari bisnis tersebut baik karena zatnya mau pun prosesnya. Berikut kriteria ISSI :

 

Keterangan

Dasar

Berdasarkan Fatwa DSN No. 80/DSN-MUI/III/2011 tentang Penerapan Prinsip Syariah Dalam Mekanisme Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas Di Pasar Reguler Bursa Efek

Pembuat Aturan

DSN-MUI dan OJK

Transaksi dilarang

Tadlis: Front Running & Misleading Information, Wahs Sale, Pre-arrange trade, Pump and Dump, Hype and Dump, Creating fake demand supply, Ikhtikar: Pooling interest, cornering, Ghisysy: Markin at the close, Alternate Trade, Insider Trading, Short Selling, Margin Trading.

Bidang Usaha yang dilarang

  • Perjudian dan permainan yang tergolong judi

  • Perdagangan yang dilarang (misal menjual narkoba)

  • Usaha keuangan konvensional (ribawi): perbankan dan asuransi konvensional

  • Jual beli resiko yang mengandung gharar (ketidakpastian) atau maysir (judi)

  • Usaha yang memproduksi, mendistribusi, serta memperdagangkan ​​ makanan dan minuman yang tergolong haram, dan​​ 

  • Usaha yang memproduksi, mendistribusi, serta menyediakan barang-barang ataupun jasa yang merusak moral dan bersifat mudharat (tidak bermanfaat dan merugikan).

​​ 

So, gimana sobat gogo sejauh ini sudah paham dong yah bagaimana kriteria dari sisi kualitatif ​​ ISSI. Bagaimana kriteria secara kuntitatifnya? Yuk terus disimak ya Sob! Berikut ini kriteria kuantitatif saham-saham syariah di BEI (ISSI):

Kriteria

Keterangan

Utang (Debto Asset Ratio)

Tidak lebih dari 45%

Kontribusi Pendapatan Non Halal

Tidak lebih dari 10 %

​​ 

Kriteria secara kuantitatif ini menjelaskan bahwa utang yang terlalu banyak tidak sesuai dengan syariah. Hal ini karena keuangan Islam mengikuti prinsip pembagian resiko dan keuntungan (profit and loss sharing), sehingga pinjaman dan pembayaran bunga (interest) atas utang​​ tidak​​ sharia compliant.

Mengenai pendapatan non halal, di Indonesia memiliki sistem keuangan yang bukan sepenuhnya syariah artinya bursa efek memiliki ambang batas ​​ (treshold) untuk rasio pendapatan non halal ini. DSN menetapkan treshold 10% yang artinya pendapatan non halal ​​ tidak boleh lebih banyak dari pendapatan umum. Pendapatan non halal ini juga disyaratkan oleh DSN MUI kepada emiten untuk melakukan pemurnian ​​ pendapatan ini untuk​​ dialokasikan sebagai dana kebajian (dana sosial untuk kepentingan umum).

Tahukah sobat gogo?​​ Skrining saham syaria di setiap negara memiliki kriteria-kriteria yang berbeda​​ loh. Hal ini​​ dikarenakan di setiap negara memiliki ijtihad ulamanya masing-masing. Salah satu contohnya negara yang paling dekat dengan Indonesia, yaitu Malaysia. Berdasarkan kriteria kuantitatif ​​ kedua negera memiliki kriteria yang cukup signifikan. Di Indonesia memiliki ambang batas rasio utang yang lebih besar dari pada Malaysia (tidak lebih dari 33%), sedangkan treshold pendapatan non halal ​​ menetapkan patokan ganda yaitu 5% dan 20% tergantung pada sektornya. Dan perbedaan yang paling signifikan yaitu rasio kas pada total aset yang ada di Bursa Efek Malaysia (33%), yang mana rasio kas tidak ada pada BEI.

Oke, sobat gogo utk hari ini sekian​​ dulu yah kultweet Aksyarnya. Semoga​​ bermanfaat dan semakin bertambah nih ilmu kita tentang​​ akuntansi syariah .

Wassalammualaikum​​ wr. wb

​​  

 

SUMBER

 

Berikut adalah sumber yang dijadikan rujukan dalam menyusun materi mengenai​​ Skrining Saham Syariah​​ :

Arvian Firmansyah, Egi. 2017.​​ Seleksi Saham Syariah : Perbandingan antara Bursa Efek Indonesia dan Malaysia. Jurnal Inspirasi Bisnis dan Manajemen Vol 1 (1).

 

https://id.wikipedia.org/wiki/Jakarta_Islamic_Index

http://www.ojk.go.id

https://dsnmui.or.id