Selamat​​ Malam Sobat Gogo yang sangat Gogo sayangi dimanapun kalian berada. Kalian bosan atau tidak Gogo tanyakan kabar? Kalau Gogo pastinya tidak dong, oleh karena itu gogo mau tanya kembali, bagaimana kabar kalian? Gogo sangat senang kalau kalian semua dalam keadaan yang baik. Kembali lagi bersama kami, yap betul sekali kami dari prodi akmen siap ​​ untuk menghibur anda kembali. #loh. Bukan, maksudnya Gogo kembali hadir untuk memberi sedikit saja pencerahan buat sobat Gogo semuanya. Kenapa sedikit? Karena segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, eaaaa.

 

Yappp tanpa panjang lebar lagi, malam ini Gogo akan bahas tentang Value Chain atau sobat biasa​​ kenal dengan nama Rantai Nilai.​​ Konsep ini dipopulerkan oleh Michael Porter pada buku Competitive Advantage: Creating and Sustaining Superior Performance (1985).​​ Wahhh, sudah lama juga yah ternyata sob, kalian sudah lahir belum? Hihihi. Pasti ada yang udah kan? Hayo ngakuuuu.

Sebelum kita belajar lebih jauh, mari kita simak pengertian Value Chain menurut para ahli.​​ 

 

Menurut David (2012:227), analisis rantai nilai (Value Chain analysis-VCA) mengacu pada proses yang dengannya perusahaan menentukan biaya yang terkait dengan aktivitas organisasional dari pembelian bahan mentah sampai produksi dan pemasaran produk tersebut. Menurut Assuari (2011:66), rantai nilai adalah suatu kumpulan yang terkait dengan aktivitas penciptaan nilai, yang dimulai dengan bahan baku dasar, yang datang dari pemasok dan bergerak ke rangkaian aktivitas penambahan nilai (value added), yang mencakup produksi dan pemasaran produk, berupa barang atau jasa, dan diakhiri dengan distribusi untuk dapat diterimanya produk oleh konsumen akhir. Sedangkan menurut Pearce dan Robinson (2007:158), rantai nilai merupakan sebuah perspektif di mana bisnis dipandang sebagai rantai kegiatan dalam mengubah input menjadi output yang memberikan nilai kepada pelanggan. Sedangkan analisis rantai nilai adalah sebuah analisis yang mencoba untuk memahami bagaimana suatu bisnis dapat menciptakan nilai bagi pelanggan (customer value) dengan menguji kontribusi dari kegiatan yang berbeda dalam suatu perusahaan.

 

Berdasarkan pendapat para ahli mengenai definisi dari Value Chain, maka dapat disimpulkan bahwa Value Chain merupakan suatu proses perusahaan dalam menentukan biaya yang terkait dengan aktivitas penciptaan nilai perusahaan, dimulai pada proses input sampai dengan output serta diterimanya produk oleh konsumen akhir. Nah jadi kesimpulannya seperti itu sob. Pertanyaan selanjutnya adalah... tujuan Value Chain itu apa sih? Kenapa dia ada?

 

Tujuan Value Chain Menurut David (2012:227), Value Chain Analysis bertujuan untuk mengidentifikasi dimana keunggulan (advantage) atau kelemahan (disadvantage) biaya rendah yang ada di sepanjang rantai nilai mulai dari bahan mentah sampai aktivitas layanan konsumen. Sedangkan Menurut Porter, tujuan dari Value Chain Analysis adalah untuk mengidentifikasi tahap-tahap Value Chain di mana perusahaan dapat meningkatkan value untuk pelanggan atau untuk menurunkan biaya. Penurunan biaya atau peningkatan nilai tambah (value added) dapat membuat perusahaan lebih kompetitif. Dan Menurut Wisdaningrum (2012) dalam jurnalnya, Value Chain Analysis dapat dipergunakan untuk menentukan pada titik-titik di mana dalam rantai nilai yang dapat mengurangi biaya atau memberikan nilai tambah. Jadi kesimpulannya, tujuan Value Chain Analysis adalah untuk mengidentifikasikan keunggulan dan kelemahan dalam aktivitas pada rantai nilai.

 

Terus nih terus, sebenernya konsep Value Chain itu gimana yah? Menurut Porter (1998:39-41), menjelaskan bahwa Value Chain terbagi dalam dua jenis aktivitas yaitu Aktivitas Primer​​ (Primary Activities) dan Aktivitas Sekunder (Support Activities). Sekarang kita bahas dulu yang Aktivitas Primer, terdiri dari beberapa kategori yaitu:

  • Logistik ke dalam (Inbound Logistic) Kegiatan yang berhubungan dengan menerima, menyimpan, dan menyebarkan masukan ke produk, seperti material handling, pergudangan, inventory control, penjadwalan kendaraan, dan kembali ke pemasok.

  • Operasi (Operation) Kegiatan yang berhubungan dengan mengubah input menjadi bentuk produk akhir (output), seperti mesin, kemasan, perakitan, pemeliharaan peralatan, pengujian, percetakan, dan fasilitas dalam kegiatan operasi.

  • Logistik ke luar (Outbound Logistic) Aktivitas yang berhubungan dengan pengumpulan, penyimpanan, dan fisik mendistribusikan produk kepada pembeli, seperti selesai pergudangan barang, material handling, kendaraan operasional pengiriman, pemrosesan pemesanan, dan penjadwalan.

  • Pemasaran dan Penjualan (Marketing and Sales) Kegiatan yang berhubungan dengan menyediakan sarana yang pembeli dapat membeli produk dan mendorong mereka untuk melakukannya, seperti iklan, promosi, salesforce, pilihan channels, hubungan dengan channels, dan harga.

  • Pelayanan (Service) Kegiatan yang berhubungan dengan menyediakan layanan untuk meningkatkan atau mempertahankan nilai produk, seperti instalasi, perbaikan, pelatihan, pasokan suku cadang, dan penyesuaian produk.

 

Nah kalau untuk aktivitas sekunder, terdiri dari beberapa kategori juga meliputi:

  • Pengadaan (Procurement) Pengadaan mengacu pada aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk pembelian input yang diperlukan dalam kegiatan produksi dalam rantai nilai perusahaan, bukan untuk input yang dibeli sendiri.​​ 

  • Pengembangan Teknologi (Technology Development) Perkembangan teknologi terdiri dari berbagai kegiatan yang dapat dikelompokkan menjadi upaya untuk meningkatkan produk dan proses yang digunakan perusahaan.​​ 

  • Manajemen Sumber Daya Manusia (Human Resource Management) Manajemen sumber daya manusia terdiri dari kegiatan yang terlibat dalam merekrut, menyewa, pelatihan, pengembangan, dan kompensasi dari semua jenis personil.​​ 

  • Infrastruktur Perusahaan (Firm Infrastructure) Infrastruktur perusahaan terdiri dari sejumlah kegiatan termasuk manajemen umum, perencanaan, keuangan, akuntansi, hukum, urusan pemerintahan, dan manajemen mutu.

 

Menurut Porter (1998:37), menjelaskan bahwa aktivitas-aktivitas yang dilakukan dalam Value Chain Analysis sebagai berikut​​ 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Porter (1998) juga memberikan contoh aktivitas–aktivitas dalam Value Chain analysis pada perusahaan manufaktur sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam tiap-tiap aktivitas nilai, baik aktivitas utama (Primary Activities) maupun aktivitas pendukung (Support Activities), terdapat tiga jenis aktivitas yang memainkan peran yang berbeda dalam menciptakan keunggulan kompetitif suatu perusahaan. Porter menjelaskan sebagai berikut:​​ 

  • Direct Activities, aktivitas yang secara langsung terlibat dalam penciptaan nilai bagi pembeli, yang meliputi perakitan, pembuatan komponen, operasi tenaga penjualan, periklanan, desain produk, perekrutan.

  • Indirect Activities, aktivitas yang memungkinkan untuk dilakukannya aktivitas langsung secara terus menerus, meliputi pemeliharaan, penjadwalan, administrasi.

  • Quality Assurance, aktivitas yang menjamin mutu aktivitas lain, meliputi inspeksi, pengujian, pemantauan, pemeriksaan, pengerjaan, perbaikan mutu.

 

Aktivitas dalam Value Chain bukan aktivitas yang independen melainkan interdependen. Hubungan antar aktivitas mempengaruhi kinerja dan biaya aktivitas lainnya. Menurut Porter, keterkaitan diantara beberapa aktivitas nilai bersumber dari:

  • Fungsi yang sama dapat dilakukan dengan cara yang berbeda.

  • Biaya atau kinerja aktivitas langsung (direct activities) diperbaiki dengan melakukan usaha yang lebih pada aktivitas tidak langsung (indirect activities).

  • Aktivitas yang dilakukan di dalam perusahaan mengurangi kebutuhan untuk memperagakan, menjelaskan, atau melayani produk di lapangan.​​ 

  • Fungsi quality assurance dapat dilakukan dengan cara yang berbeda.

 

Nahh gimana gais sudah cukup bisa? Atau pusing? Tunggu dulu, Gogo tambahin satu lagi yahhh. Yaitu tahap-tahap value chain yang biasa dilakukan:

  • Mengidentifikasikan aktivitas Value Chain

  • Mengidentifikasi Cost Driver pada setiap aktivitas nilai

  • Mengembangkan keunggulan kompetitif dengan mengurangi biaya atau menambah nilai

 

Dalam melakukan hal tersebut, perusahaan harus melakukan hal-hal berikut:

  • Mengidentifikasi keunggulan kompetitif (Cost Leadership atau Differentiation)

  • Mengidentifikasi peluang akan nilai tambah

  • Mengidentifikasi peluang untuk mengurangi biaya

 

Nahhh itu dia temen-temen materi dari Gogo malam ini. Sudah cukup? Atau mau tambah lagi? Sudah Go sudah. Baiklah kalau seperti itu, cukup sekaian materi dari Gogo. Nantikan kuis dari Gogo yang berhadiah jengjengggg. Pulsa senilai 50.000 lala yeyeye lalalala yeyeye. Lumayan dong untuk telpon doi? Jawab dengan benar yah sob!!! See you babayyyyy. Keep learning, sharing, inspiring...

 

 

Sumber:

http://library.binus.ac.id/eColls/eThesisdoc/Bab2/2014-2-01495-MN%20Bab2001.pdf

Porter, M.E. (1985). Competitive Advantage: Creating and Sustaining Superior Performance