Halo selamat malam, kembali lagi bersama Gogo di Kultweet Prodi Akuntansi Manajemen. Yeeeeee…… malam ini gogo akan bahas yang perlu dibahas *loh. Malam ini yang perlu dibahas adalah tentang Just In Time (JIT). Gogo yakin kalian sudah banyak yang tahu tentang Just In Time. Dan untuk lebih lanjutnya, yuk simak pembahasan Gogo malam ini.

Perkembangan yang pesat dalam sektor industry dewasa ini mengakibatkan semakin banyaknya tingkat persaingan yang dihadapi tiap-tiap perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan. Untuk dapat bersaing dalam merebut pasar tiap perusahaan akan berusaha untuk saling mengungguli atau bahkan menjatuhkan, hal ini diupayakan untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya. Untuk mencapai laba yang layak, salah satu upaya adalah dengan meningkatkan kualitas produk yang diproduksi dan menekan biaya yang akan dikeluarkan. Bagi para pelaku ekonomi dalam menghadapi persaingan tersebut dapat menggunakan seluruh potensi yang ada secara efisien dan efektif. Salah satu strategi yang ada saat ini dalam perkembangan teknologi manufaktur saat ini dengan system​​ Just In Time. Dengan menerapkan system Just In Time ini maka diharapkan perusahaan dalam proses produksinya akan memiliki biaya yang rendah, harga jual yang murah, kualitas yang baik, dan kemampuan ketepatan waktu pengiriman yang tepat ke pelanggan.

Just In Time adalah filosofi yang memusatkan pada aktivitas yang diperlukan oleh internal lainnya dalam suatu organisasi. Empat aspek pokok Just In Time meliputi; aktivitas yang tidak bernilai tambah harus dieliminasi, komitmen untuk selalu meningkatkan mutu, penyempurnaan yang berkesinambungan, dan penyederhanaan aktivitas. System Just In Time menitikberatkan pada pembelian persediaan dalam jumlah yang tepat, waktu yang tepat, dan pada tempat yang tepat. Pada system ini ciri yang utama adalah tidak adanya persediaan karena persediaan dianggap hanya merupakan pemborosan. Dalam system produksi Just In Time, persediaan dibeli sangat kecil dengan pengiriman berkala dan tepat waktu saat digunakan. Tujuan utama Just In Time adalah menghilangkan pemborosan dan konsisten dalam meningkatkan produktivitas.​​ 

Just in time pertama kali dikembangkan di negara Jepang dekade yang lalu, dan kemudian diadopsi oleh banyak Perusahaan Manufaktur di Jepang dan Amerika Serikat. Just in time adalah sebuah filosofi pemecahan masalah secara berkelanjutan dan memaksa yang mendukung produksi ramping (lean). Just in time di definisikan sebagai system manajemen​​ pabrikasi dan persediaan komprehensif di mana bahan baku dan berbagai suku cadang dibeli dan di produksi pada saat produksi dan pada saat (just in time) akan digunakan dalam setiap tahap proses produksi/ pabrikasi. (Simamora, 2002:105)

Menurut Krismaji (2011;8), ide-ide yang mendukung just in time adalah; sederhana adalah lebih baik, penekanan pada kualitas dan perbaikan yang berkesinambungan, mempertahankan persediaan yang menjadi sumber pemborosan dan pekerjaan jelek yang tersembunyi, setiap aktivitas atau fungsi yang tidak menambah nilai harus dihilangkan, barang diproduksi apabila dibutuhkan, pekerja harus berketerampilan banyak dan berpartisipasi dalam memperbaiki efisiensi dan kualitas produk. Sasaran just in time menitikberatkan pada continuos improvement untuk mencapai biaya produksi yang rendah, tingkat produktivitas yang lebih tinggi, kualitas dan realibitas produk yang lebih baik, memperbaiki waktu penyerahan produk akhir dan memperbaiki hubungan kerja antara pelangan dengan pemasok. Tjahjadi (2001:227).

Dalam konsepn just in time, Simamora, (2002:107) menyatakan terdapat empat aspek fundamental dalam konsep just in time, yaitu:

  • Menghilangkan segala aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah bagi seluruh produk atau jasa. Dalam hal ini mencakup seluruh aktivitas atau sumber daya yang menjadi sasaran untuk pengurangan atau penghilangan.

  • Komitmen tinggi terhadap mutu melakukan secara benar segala sesuatunya di awal adalah esensial manakala tidak ada waktu ntuk mengerjakan ulang. Perusahaan perlu memiliki komitmen untuk mencapai dan mempertahankan tingkat mutu yang tinggi dalam semua aspek aktivitas-aktivitas perusahaan.

  • Upaya perbaikan yang berkelanjutan dalam efisiensi aktivitas perusahaan. Perusahaan perlu mencanangkan komitmen terhadap perbaikan berkesinambungan (continuous improvement) pada semua aktivitas perusahaan dan kegunaan data yang dihasilkan bagi manejemennya. Perbaikan yang berkesinambungan adalah pengupayaan terus-menerus nilai yang kian besar yang diberikan kepada pelanggan.

  • Penekanan pada penyederhanaan dan peningkatan visibilitas aktivitas nilai tambah, hal ini membantu untuk mengidentifikasi aktivtias yang tidak menambah nilai.

Nah sob, sebenernya nih peranan just in time tuh apa ya? Jadi menurut Kuncoro (2005:293) berpendapat bahwa peranan just in time adalah 1. meningkatkan laba, 2. meningkatkan posisi persaingan perusahaan yang dicapai melalui: a. Pengendalian biaya, b. Peningkatan kualitas, c. Perbaikan kinerja kualitas.

Nah sekarang apasih tujuan dan manfaat just in time? Menurut Hansen dan Mowen (2001:412) tujuan Just In Time memiliki dua tujuan strategis yaitu: untuk meningkatkan keuntungan dan memperbaiki daya saing perusahaan. Tujuan just in time adalah menghasilkan sebuah produk hanya ketika dibutuhkan dan hanya dalam kuantitas yang diminta oleh pelanggan. (Simamora, 2002:108). Menurut Krismaji, (2011:125) tujuan utama just in time adalah untuk menghasilkan produk hanya jika diperlukan dan hanya menghasilkan kuantitas produk sebanyak yang diminta pelanggan.

Manfaat utama system just in time adalah akan mengubah daya telusur biaya, meningkatkan akurasi penentuan kos produk, menurunkan kebutuhan alokasi biaya tak langsung, mengubah perilaku dan kepentingan relative biaya tenaga kerja langsung, dan mempengaruhi system penentuan kos pesanan dan kos proses. Tunggal (1998:71) terdapat 2 manfaat yang dapat ditemukan dari Just In Time antara lain:

  • Manfaat tangibles, yaitu:

  • Turn over pembelian bahan baku/ suku cadang bertambah

  • Ketepatan pengiriman meningkat

  • Lead time pengiriman berkurang

  • Pekerjaan ekspedisi berkurang

  • Waktu implementasi perubahan-perubahan oleh pemasok berkurang.

  • Manfaat intangibles, yaitu:

  • Memperbaiki kualitas produk

  • Berhasil mendorong pemasok memenuhi kualitas yang diperlukan

  • Memperbaiki produktivitas

  • Jadwal produksi yang lebih baik

  • Mengurangi keperluan untuk menginspeksi barang-barang yang masuk

  • Meningkatkan efisiensi

  • Memperbaiki posisi kompetitif

  • Memperbaiki desain produk

  • Memperbaiki moralitas dalam produksi

  • Lebih banyak kontak personal dengan pemasok

  • Mengurangi pekerjaan klerikal

Keberhasilan JIT tidak terlepas dari peran pemasok, oleh karena itu hubungan antara pemasok dengan pelanggan harus dijaga dengan baik. Menurut Supriyono (2002:68), perbandingan antara pemanufakturan just in time dengan pemanufakturan tradisional adalah sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

Nah sob, sekarang kalian penasaran atau enggak sih system pembelian dari Just In Time? Pembelian Just In Time adalah system pembelian penjadwalan pengadaan barang atau bahan yang tepat waktu sehingga dapat dilakukan pengiriman atau penyerahan secara cepat dan tepat untuk memenuhi permintaan.​​ 

Nah ini yang terpenting yaitu kunci sukses Just In Time, yaitu:

  • Suppliers, hal-hal yang harus diperhatikan adalah:

  • Kedatangan material dan produk akhir termasuk kesia-siaan.

  • Pembeli dan pemasok membentuk kemitraan

  • Kemitraan just in time

  • Layout, merupakan tata letak yang memungkinkan pengurangan kesia-siaan yang lain pergerakan. Misalnya pergerakan bahan baku manusia menjadi fleksibel, JIT Mensyaratkan:

  • Sel kerja untuk produk keluarga

  • Pergerakan atau perubahan mesin

  • Jarak yang pendek

  • Tempat yang kecil untuk persediaan

  • Pengiriman langsung ke area kierja

  • Inventory, persediaan dalam system produksi dan distribusi sering diadakan untuk berjaga-jaga.

  • Scheduling, jadwal yang efektif dikomunikasikan di dalam organisasi dan kepada pemasok, maka akan sangat mendukung penerapan just in time.

  • Preventive maintenance, pemeliharaan dilakukan dalam rangka untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan supaya tidak terjadi atau merupakan suatu tindakan pencegahan.

  • Kualitas, hubungan just in time dan mutu kuat sekali, karena berhubungan dengan tiga hal yaitu:

  • Just in time mengurangi biaya perolehan mutu yang baik karena biata prosuk sisa, pengerjaan ulang, investasi persdiaan menurun

  • Just in time meningkatkan mutu dengan mengurangi antrian dan waktu antara just in time juga membatasi jumlah sumber kesalahan potensial.

  • Mutu yang baik berarti lebih sedikit cadangan sehingga JIT lebih mudah diterapkan

  • Employee Empowerment, karyawan yang diberdayakan dapat ikut terlibat dalam isu-isu operasi harian yang merupakan falsafah just in time.

Nah itu dia sob materi Gogo malam mini. Jangan lupa terus update ilmu kalian dengan pantengin terus kultweet Gogo setiap malamnya. Sampai berjumpa minggu depan! Keep learning, sharing, and inspiring…

 

Sumber :​​ https://ejournal.stiesia.ac.id/jira/article/viewFile/300/292

 

 

 

 

Skip to toolbar