Managerial Accounting, The Business Organization, and Professional Ethics

Hallo! Hai! Selamat malam Sob, bagaimana Jumat malam kalian? Pastinya harus semangat ya sob, gaboleh sedih2 ah sob. Daripada sedih, mending kita belajar yukyuk. Di malam yang bahagia ini, Gogo kembali hadir dengan membawakan materi yang ringan nan bermanfaat, dan kali ini Gogo akan diskusi bareng sama anak Akmen nih sob. Jadi, malam ini Gogo akan bahas tentang “Managerial Accounting, The Business Organization, and Professional Ethics”. Yaps, dari judulnya aja pasti sobat Gogo sudah punya bayangan nih tentang pembahasan malam ini, Hihi. Jadi, malam ini kita akan membahas tentang apa sih managerial accounting itu? Dan apa hubungan antara managerial accounting dan organisasi bisnis, lalu bagaimana etika profesi dalam managerial accounting?
Nah daripada penasaran, langsung aja yuk kita bahas tentang “Managerial Accounting, The Business Organization, and Professional Ethics.
Yuk Simak!!

Definisi dan Kegunaan Managerial Accounting
Sebelum kita bahas tentang Managerial Accounting, sobat Gogo harus tau dulu nih mengenai apa sih yang dimaksud dengan Managerial Accounting? Terus apa sih kegunaan dari Managerial Accounting? Nah, jadi gini sob, managerial accounting atau akuntansi managerial itu adalah salah satu bidang akuntansi yang berfokus pada penyediaan, pengembangan, dan penafsiran informasi akuntansi bagi para manager dalam melakukan 3 aktivitas penting, yaitu Perencanaan (Planning), Pengawasan (Controlling), dan Pengambilan Keputusan (Decision Making). Jadi intinya sob, sesuai namanya managerial accounting ini berguna bagi para manager untuk dapat merencanaan hal-hal apa saja yang harus dilakukan dalam mencapai tujuan usaha, terus setelah melakukan perencanaan maka manager juga harus melakukan pengendalian atas pelaksanaan perencanaan tersebut agar tidak terjadi miss atau bahkan loss, dan dalam melakukan pengawasan, terkadang manager juga harus melakukan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kinerja usaha agar tujuan usaha dapat berjalan dengan baik.
Aktivitas yang pertama, yaitu Perencanaan (Planning) ini menggambarkan tentang bagaimana cara agar sebuah organisasi dapat mencapai tujuan usahanya, dan biasanya hal ini disertai dengan pembuatan Anggaran (Budgets). Anggaran adalah sebuah suatu rencana yang disusun secara sistematis dalam bentuk angka dan dinyatakan dalam unit moneter yang meliputi semua aktivitas perusahaan untuk jangka waktu (periode) tertentu di masa yang akan datang. Jadi, dalam perencanaan (planning) ini sobat Gogo harus mampu membuat ekspektasi yang akan dicapai dalam usaha dan pastinya juga dengan cara-cara dalam mencapai ekspektasi tersebut, yang salah satunya bisa dibuat dulu anggarannya, lalu melakukan satu per satu kegiatan yang dapat menunjung perkembangan ekspektasi ini.
Aktivitas yang kedua yaitu Pengendalian (Controlling) ini adalah proses dalam mengimplementasikan rencana dan mengevaluasi tujuan usaha yang sudah dicapai. Proses dari pengendalian ini sob meliputi pengumpulan, evaluasi, dan pemberian tanggapan atas umpan balik, hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa rencana yang telah dibuat dapat berjalan dengan baik dan juga untuk mengetahui cara yang lebih efektif dalam mencapai tujuan tersebut. Nah, salah satu bagian dari aktivitas pengendalian ini adalah membuat Laporan Kinerja (Performance Report). Laporan kinerja adalah laporan yang membandingkan data yang dianggarkan dengan data aktualnya. Laporan ini digunakan sebagai cara untuk mengidentifikasi kinerja yang bagus, sekaligus mengurangi sumber dari kinerja yang kurang memuaskan. Jadi, laporan kinerja ini lah yang digunakan sebagai bahan evaluasi dan penghargaan untuk karyawan yang telah berhasil mencapai tujuan usaha.
Aktivitas Pengambilan Keputusan (Decision Making) adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai pemecahan masalah dengan cara/teknik tertentu, dan nantinya dapat diterima oleh semua pihak. Kemampuan pengambilan keputusan merupakan keahlian managerial yang paling dasar sob. Dalam pengambilan keputusan biasanya melibatkan 3 pertanyaan berikut, yaitu Apa yang harus diproduksi? Siapa yang harus kita layani? dan, Bagaimana cara kita melakukannya? Ketiga pertanyaan itu muncul karena pengambilan keputusan ini berkaitan dengan kinerja perusahaan. Pada pertanyaan pertama, perusahaan harus membuat keputusan yang berkaitan dengan produk dan jasa yang dijual, sedangkan pada pertanyaan kedua, perusahaan harus menetapkan jenis pelanggan yang dilayani. Dan untuk pertanyaan yang terakhir, perusahaan harus membuat keputusan yang berkaitan dengan cara pelaksanaannya. Ketiga pertanyaan ini akan selalu ada dalam pengambilan sebuah keputusan managerial, karena hal ini sangat mempengaruhi aktivitas perusahaan.

  • Hubungan antara Managerial Accounting dan Organisasi Bisnis
    Selanjutnya sob, Gogo akan membahas tentang hubungan antara managerial accounting dan organisasi bisnis. Dari penjelasan diatas, sobat Gogo pasti sudah dapat menarik tali merah dari hubungan mereka iya kan? Yaps dalam organisasi bisnis, kita pasti sangat memerlukan managerial accounting, karena para manager harus merencanakan, mengendalikan, dan mengambil keputusan atas setiap kegiatan organisasi. Jadi, dapat digambarkan bahwa posisi manager bisa juga disebut seorang konsultan, karena mereka harus menginterpretasi dan menganalisis sebuah informasi, lalu membuat keputusan dengan membuat standarisasi laporan.
    Sebagai contoh manager pemasaran,
    Dalam aktivitas perencanaan, dia harus dapat membuat anggaran dan menentukan jumlah staff yang dipekerjakan.
    Dalam aktivitas pengendalian, ia harus mampu mengendalikan harga terhadap peningkatan atau penurunan penjualan, serta mengendalikan jumlah persediaan yang ada.
    Dalam pengambilan keputusan, manager pemasaran harus mampu menentukan jumlah barang atau jasa yang diproduksi dan menentukan cara dalam melakukan penjualan, apakah langsung ke pelanggan atau ke distributor.
    Lalu, selain manager pemasaran, manager operasi juga memerlukan managerial accounting dalam kegiatan organisasi bisnis,, yaitu
    Dalam aktivitas perencanaan manager harus mampu merencanakan jumlah unit yang akan diproduksi untuk mengantisipasi lonjakan permintaan. Selain itu, manager juga perlu membuat anggaran untuk biaya operasional seperti utilitas, perlengkapan, dan biaya tenaga kerja.
    Dalam segi pengendalian, manager harus memantau besar pengeluaran aktual terhadap anggaran, dan mengawasi secara ketat ukuran-ukuran operasional, seperti jumlah barang cacat terhadap rencana produksinya.
    Lalu, dalam pengambilan keputusan manager juga akan membuat beberapa keputusan, seperti melakukan pilihan untuk berinvestasi pada penataan ulang proses manufaktur untuk mengurangi tingkat persediaan.
    Selain manager pemasaran dan manager operasi, manager SDM juga memerlukan managerial accounting dalam organisasi bisnis, yaitu
    Pada aktivitas perencanaan, manager SDM harus mampu menentukan anggaran seperti anggaran untuk pelatihan karyawan dan perekrutan karyawan.
    Dalam aktivitas pengendalian, manager harus memantau umpan balik yang berhubungan dengan masalah manajemen, misalnya tingkat retensi dan penilaian kinerja karyawan.
    Dalam pengambilan keputusan manager SDM juga membuat keputusan penting seperti jenis perekrutan karyawan seperti apa yang diperlukan, jenis pelatihan apa yang diperlukan karyawan, dan bahkan asuransi apa saja yang diperlukan karyawan..
    Tapi tidak hanya manager saja yang perlu pengetahuan tentang managerial accounting, para karyawan yang lain pun juga harus tau akan pentingnya managerial accounting, karena merekalah yang nantinya bisa menjadi penasihat dan juga pihak pendukung dalam keberhasilan pencapaian target usaha. Jadi dalam managerial accounting ini juga harus mengenal kerjasama dalam tim sob!

Pentingnya Managerial Accounting dalam Menunjang Karir
Selain dalam organisasi bisnis, managerial accounting ini juga penting untuk meningkatkan karir, karena lingkup yang dipelajari dalam managerial accounting ini sangat berguna untuk menunjang keberhasilan sebuah usaha. Lalu, dalam managerial accounting ini juga ada sertifikasi profesionalnya sob, yaitu Certified Management Accountant (CMA) yang telah diakui dunia (disponsori IMA). CMA ini bisa menjadi pilihan yang baik untuk meningkatkan kreadibilitas, jenjang karier, dan juga kenaikan gaji sobat Gogo. Nah dalam ujian CMA ini berfokus pada keahlian perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan yang sangat penting bagi kantor nonpublic. Setelah dapat info ini, sobat Gogo yang tertarik mengembangkan diri di managerial accounting bisa nih cari-cari info lebih lengkapnya hehe..

Tujuan dari praktek Akuntansi Manajemen
Tujuan dari praktek Akuntansi Manajemen yang saat ini meluas ke tiga bidang oleh American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) berikut:
Manajemen Strategi – Memajukan peran akuntan manajemen sebagai mitra strategis dalam organisasi.
Manajemen Kinerja – Mengembangkan praktik pengambilan keputusan bisnis dan mengelola kinerja organisasi.
Manajemen Risiko – Berkontribusi untuk membuat kerangka kerja dan praktik untuk mengidentifikasi, mengukur, mengelola dan melaporkan risiko untuk mencapai tujuan organisasi.

Akuntansi Manajemen dan Etika Profesi
Dalam dunia bisnis, etika sangat diperlukan untuk mengelola dan menjalankan sebuah bisnis. Dengan etika yang baik, secara otomatis bisnis akan lebih mudah berkembang. Lalu apa ya etika bisnis itu? Etika bisnis merupakan cara melakukan kegiatan bisnis yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan, dan juga masyarakat. Nah, sebelum bahas lebih lanjut lagi, sobat gogo udah pada tau belum etika profesional dalam akuntansi manajemen? Eitss, tapi sebelum itu kita bahas terlebih dahulu apa sih Akuntansi Manajemen itu? Yap seperti yang sobat tahu, akuntansi manajemen adalah disiplin ilmu yang berkenaan dengan penggunaan informasi akuntansi oleh para manajemen dan pihak-pihak internal lainnya untuk keperluan penghitungan biaya produk, perencanaan, pengendalian dan evaluasi, serta pengambilan keputusan. Akuntan manajemen mempunyai peran penting dalam menunjang tercapainya tujuan perusahaan, dimana tujuan tersebut harus dicapai melalui cara yang legal dan etis, maka para akuntan manajemen dituntut untuk bertindak jujur, terpercaya, dan etis. Nah, lalu apa saja sih etika profesional akuntansi manajemen itu?.
Yap, sob seperti yang kita ketahui kebiasaaan beretika adalah sangat penting dalam menjalankan perekonomian kita yang telah memicu berbagai perubahan peraturan dan permintaan perundang-undangan baru. Dalam perekonomian yang baru, digital, dan berbasis kepercayaan, kepentingan sangat dijunjung tinggi. Kejujuran perusahaan, yang diwujudkan dalam merek dan reputasi, meningkatkan kepercayaan pelanggan, karyawan dan investor. Pengalaman menunjukkan bahwa aset semacam ini harus dibangun lama dan penuh pengorbanan, namun cepat dapat hilang dalam sekejap, dan jika hilang, maka kehilangan segalanya. Akhirnya, untuk kebaikan semua orang termasuk perusahaan pencetak laba adalah sangat penting untuk menjalankan bisnis dalam kerangka etika yang membangun dan menjaga kepercayaan.
Nah selanjutnya, Ikatan Akuntan Manajemen (Institute of Management Accountant IMA) di Amerika Serikat telah mengembangkan kode etik yang disebut Standar Kode Etik untuk Praktisi Akuntan Manajemen dan Manajemen Keuangan (Standards of Ethical Conduct for Practitioners of Management Accounting and Financial Management).
Ada empat standar etika untuk akuntan manajemen yaitu:
Kompetensi (Competence)
Artinya, akuntan harus memelihara pengetahuan dan keahlian yang sepantasnya, mengikuti hukum, peraturan dan standar teknis, dan membuat laporan yang jelas dan lengkap berdasarkan informasi yang dapat dipercaya dan relevan.
Contohnya : Pengetahuan Profesional adalah menunjukkan tingkat mahir keahlian profesional dalam pengetahuan akuntansi agar menjaga tetap terkini dengan perkembangan dan tren. Pengetahuan dan kemampuan untuk menggunakan teknologi informasi yang berlaku dan sistem untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan.

Kerahasiaan (Confidentiality)
Mengharuskan seorang akuntan manajemen untuk tidak mengungkapkan informasi rahasia kecuali ada otorisasi dan hukum yang mengharuskan untuk melakukan hal tersebut. Kerahasiaan harus terdefinisi dengan baik, dan prosedur untuk menjaga kerahasiaan informasi harus diterapkan secara berhati-hati, khususnya untuk komputer yang bersifat standalone atau tidak terhubung ke jaringan. Aspek penting dari kerahasiaan adalah pengidentifikasian atau otentikasi terhadap user. Identifikasi positif dari setiap user sangat penting untuk memastikan efektivitas dari kebijakan yang menentukan siapa saja yang berhak untuk mengakses data tertentu.
Contohnya : Access Control Models sangat berfungsi dalam menentukan jenis kontrol akses yang diperlukan dalam mendukung kebijakan keamanan. Model akses kontrol ini menyediakan view konseptual dari kebijakan keamanan. Hal ini akan mengijinkan kita untuk melakukan pemetaan antara tujuan dan petunjuk dari kebijakan keamanan anda terhadapevent yang spesifik. Proses dari pemetaan ini memungkinkan terbentuknya definisi formal dan spesifikasi yang diperlukan dalam melakukan kontrol terhadap keamanan. Singkatnya, access control model memungkinkan untuk memilah kebijakan keamanan yang kompleks menjadi langkahlangkah keamanan yang lebih sederhana dan terkontrol. Beberapa model yang berbeda sudah dibangun sampai dengan tahun ini. Kita akan membahas beberapa model yang dianggap unik pada bagian-bagian selanjutnya. Kebanyakan penerapan kebijakan keamanan melakukan kombinasi dari beberapa access control models.

Integritas (Integrity)
Mengharuskan untuk menghindari conflicts of interest, menghindari kegiatan yang dapat menimbulkan prasangka terhadap kemampuan mereka dalam menjunjung etika. Seperti halnya kerahasiaan, integritas bisa dikacaukan oleh hacker, masquerader, aktivitas user yang tidak terotorisasi, download file tanpa proteksi, LAN, dan program-programterlarang.
Contoh : User yang berhak mengakses sistem secara tidak sengaja maupun secara sengaja dapat merusak data dan program, apabila aktivitas mereka didalam sistem tidak dikendalikan secara baik.

Objektivitas (Objectivity)
Mengharuskan para akuntan untuk mengkomunikasikan informasi secara wajar dan objektif, mengungkapan secara penuh (fully disclose) semua informasi relevan yang diharapkan dapat mempengaruhi pemahaman user terhadap pelaporan, komentar dan rekomendasi yang ditampilkan.

Nah dalam melaksanakan etika profesi pasti kita sering dilema nih sob, contohnya itu seperti berikut ini :
Konflik nilai yang signifikan di antara kepentingan yang berbeda,
Alternatif nyata yang semuanya dapat dibenarkan, dan
Konsekuensi signifikan terhadap pemangku kepentingan dalam situasi tersebut.
Nah cukup disini dulu sob pembahasan Gogo malam ini. Jangan lupa yaa untuk terus aktif belajar dan update pengetahuannya. Bulan depan kita akan bertemu lagi tentunya dengan bahasan yang berbeda dan tidak kalah menarik dengan hari ini. Gogo pamit yah sob.
Keep learning, sharing, and inspiring!

  • Sumber :
    Garrison, Ray H, Eric W. Noreen, dan Peter C. Brewer. 2014. Akuntansi Manajerial (Managerial Accounting). Jakarta: Salemba Empat.
    https://radityoyuditama.wordpress.com/2016/01/04/etika-dalam-akuntansi-keuangan-dan-akuntansi-manajemen/

Just in Time (JIT)

 

 

 

 

 

Halo selamat malam, kembali lagi bersama Gogo di Kultweet Prodi Akuntansi Manajemen. Yeeeeee…… malam ini gogo akan bahas yang perlu dibahas *loh. Malam ini yang perlu dibahas adalah tentang Just In Time (JIT). Gogo yakin kalian sudah banyak yang tahu tentang Just In Time. Dan untuk lebih lanjutnya, yuk simak pembahasan Gogo malam ini.

Perkembangan yang pesat dalam sektor industry dewasa ini mengakibatkan semakin banyaknya tingkat persaingan yang dihadapi tiap-tiap perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan. Untuk dapat bersaing dalam merebut pasar tiap perusahaan akan berusaha untuk saling mengungguli atau bahkan menjatuhkan, hal ini diupayakan untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya. Untuk mencapai laba yang layak, salah satu upaya adalah dengan meningkatkan kualitas produk yang diproduksi dan menekan biaya yang akan dikeluarkan. Bagi para pelaku ekonomi dalam menghadapi persaingan tersebut dapat menggunakan seluruh potensi yang ada secara efisien dan efektif. Salah satu strategi yang ada saat ini dalam perkembangan teknologi manufaktur saat ini dengan system​​ Just In Time. Dengan menerapkan system Just In Time ini maka diharapkan perusahaan dalam proses produksinya akan memiliki biaya yang rendah, harga jual yang murah, kualitas yang baik, dan kemampuan ketepatan waktu pengiriman yang tepat ke pelanggan.

Just In Time adalah filosofi yang memusatkan pada aktivitas yang diperlukan oleh internal lainnya dalam suatu organisasi. Empat aspek pokok Just In Time meliputi; aktivitas yang tidak bernilai tambah harus dieliminasi, komitmen untuk selalu meningkatkan mutu, penyempurnaan yang berkesinambungan, dan penyederhanaan aktivitas. System Just In Time menitikberatkan pada pembelian persediaan dalam jumlah yang tepat, waktu yang tepat, dan pada tempat yang tepat. Pada system ini ciri yang utama adalah tidak adanya persediaan karena persediaan dianggap hanya merupakan pemborosan. Dalam system produksi Just In Time, persediaan dibeli sangat kecil dengan pengiriman berkala dan tepat waktu saat digunakan. Tujuan utama Just In Time adalah menghilangkan pemborosan dan konsisten dalam meningkatkan produktivitas.​​ 

Just in time pertama kali dikembangkan di negara Jepang dekade yang lalu, dan kemudian diadopsi oleh banyak Perusahaan Manufaktur di Jepang dan Amerika Serikat. Just in time adalah sebuah filosofi pemecahan masalah secara berkelanjutan dan memaksa yang mendukung produksi ramping (lean). Just in time di definisikan sebagai system manajemen​​ pabrikasi dan persediaan komprehensif di mana bahan baku dan berbagai suku cadang dibeli dan di produksi pada saat produksi dan pada saat (just in time) akan digunakan dalam setiap tahap proses produksi/ pabrikasi. (Simamora, 2002:105)

Menurut Krismaji (2011;8), ide-ide yang mendukung just in time adalah; sederhana adalah lebih baik, penekanan pada kualitas dan perbaikan yang berkesinambungan, mempertahankan persediaan yang menjadi sumber pemborosan dan pekerjaan jelek yang tersembunyi, setiap aktivitas atau fungsi yang tidak menambah nilai harus dihilangkan, barang diproduksi apabila dibutuhkan, pekerja harus berketerampilan banyak dan berpartisipasi dalam memperbaiki efisiensi dan kualitas produk. Sasaran just in time menitikberatkan pada continuos improvement untuk mencapai biaya produksi yang rendah, tingkat produktivitas yang lebih tinggi, kualitas dan realibitas produk yang lebih baik, memperbaiki waktu penyerahan produk akhir dan memperbaiki hubungan kerja antara pelangan dengan pemasok. Tjahjadi (2001:227).

Dalam konsepn just in time, Simamora, (2002:107) menyatakan terdapat empat aspek fundamental dalam konsep just in time, yaitu:

  • Menghilangkan segala aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah bagi seluruh produk atau jasa. Dalam hal ini mencakup seluruh aktivitas atau sumber daya yang menjadi sasaran untuk pengurangan atau penghilangan.

  • Komitmen tinggi terhadap mutu melakukan secara benar segala sesuatunya di awal adalah esensial manakala tidak ada waktu ntuk mengerjakan ulang. Perusahaan perlu memiliki komitmen untuk mencapai dan mempertahankan tingkat mutu yang tinggi dalam semua aspek aktivitas-aktivitas perusahaan.

  • Upaya perbaikan yang berkelanjutan dalam efisiensi aktivitas perusahaan. Perusahaan perlu mencanangkan komitmen terhadap perbaikan berkesinambungan (continuous improvement) pada semua aktivitas perusahaan dan kegunaan data yang dihasilkan bagi manejemennya. Perbaikan yang berkesinambungan adalah pengupayaan terus-menerus nilai yang kian besar yang diberikan kepada pelanggan.

  • Penekanan pada penyederhanaan dan peningkatan visibilitas aktivitas nilai tambah, hal ini membantu untuk mengidentifikasi aktivtias yang tidak menambah nilai.

Nah sob, sebenernya nih peranan just in time tuh apa ya? Jadi menurut Kuncoro (2005:293) berpendapat bahwa peranan just in time adalah 1. meningkatkan laba, 2. meningkatkan posisi persaingan perusahaan yang dicapai melalui: a. Pengendalian biaya, b. Peningkatan kualitas, c. Perbaikan kinerja kualitas.

Nah sekarang apasih tujuan dan manfaat just in time? Menurut Hansen dan Mowen (2001:412) tujuan Just In Time memiliki dua tujuan strategis yaitu: untuk meningkatkan keuntungan dan memperbaiki daya saing perusahaan. Tujuan just in time adalah menghasilkan sebuah produk hanya ketika dibutuhkan dan hanya dalam kuantitas yang diminta oleh pelanggan. (Simamora, 2002:108). Menurut Krismaji, (2011:125) tujuan utama just in time adalah untuk menghasilkan produk hanya jika diperlukan dan hanya menghasilkan kuantitas produk sebanyak yang diminta pelanggan.

Manfaat utama system just in time adalah akan mengubah daya telusur biaya, meningkatkan akurasi penentuan kos produk, menurunkan kebutuhan alokasi biaya tak langsung, mengubah perilaku dan kepentingan relative biaya tenaga kerja langsung, dan mempengaruhi system penentuan kos pesanan dan kos proses. Tunggal (1998:71) terdapat 2 manfaat yang dapat ditemukan dari Just In Time antara lain:

  • Manfaat tangibles, yaitu:

  • Turn over pembelian bahan baku/ suku cadang bertambah

  • Ketepatan pengiriman meningkat

  • Lead time pengiriman berkurang

  • Pekerjaan ekspedisi berkurang

  • Waktu implementasi perubahan-perubahan oleh pemasok berkurang.

  • Manfaat intangibles, yaitu:

  • Memperbaiki kualitas produk

  • Berhasil mendorong pemasok memenuhi kualitas yang diperlukan

  • Memperbaiki produktivitas

  • Jadwal produksi yang lebih baik

  • Mengurangi keperluan untuk menginspeksi barang-barang yang masuk

  • Meningkatkan efisiensi

  • Memperbaiki posisi kompetitif

  • Memperbaiki desain produk

  • Memperbaiki moralitas dalam produksi

  • Lebih banyak kontak personal dengan pemasok

  • Mengurangi pekerjaan klerikal

Keberhasilan JIT tidak terlepas dari peran pemasok, oleh karena itu hubungan antara pemasok dengan pelanggan harus dijaga dengan baik. Menurut Supriyono (2002:68), perbandingan antara pemanufakturan just in time dengan pemanufakturan tradisional adalah sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

Nah sob, sekarang kalian penasaran atau enggak sih system pembelian dari Just In Time? Pembelian Just In Time adalah system pembelian penjadwalan pengadaan barang atau bahan yang tepat waktu sehingga dapat dilakukan pengiriman atau penyerahan secara cepat dan tepat untuk memenuhi permintaan.​​ 

Nah ini yang terpenting yaitu kunci sukses Just In Time, yaitu:

  • Suppliers, hal-hal yang harus diperhatikan adalah:

  • Kedatangan material dan produk akhir termasuk kesia-siaan.

  • Pembeli dan pemasok membentuk kemitraan

  • Kemitraan just in time

  • Layout, merupakan tata letak yang memungkinkan pengurangan kesia-siaan yang lain pergerakan. Misalnya pergerakan bahan baku manusia menjadi fleksibel, JIT Mensyaratkan:

  • Sel kerja untuk produk keluarga

  • Pergerakan atau perubahan mesin

  • Jarak yang pendek

  • Tempat yang kecil untuk persediaan

  • Pengiriman langsung ke area kierja

  • Inventory, persediaan dalam system produksi dan distribusi sering diadakan untuk berjaga-jaga.

  • Scheduling, jadwal yang efektif dikomunikasikan di dalam organisasi dan kepada pemasok, maka akan sangat mendukung penerapan just in time.

  • Preventive maintenance, pemeliharaan dilakukan dalam rangka untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan supaya tidak terjadi atau merupakan suatu tindakan pencegahan.

  • Kualitas, hubungan just in time dan mutu kuat sekali, karena berhubungan dengan tiga hal yaitu:

  • Just in time mengurangi biaya perolehan mutu yang baik karena biata prosuk sisa, pengerjaan ulang, investasi persdiaan menurun

  • Just in time meningkatkan mutu dengan mengurangi antrian dan waktu antara just in time juga membatasi jumlah sumber kesalahan potensial.

  • Mutu yang baik berarti lebih sedikit cadangan sehingga JIT lebih mudah diterapkan

  • Employee Empowerment, karyawan yang diberdayakan dapat ikut terlibat dalam isu-isu operasi harian yang merupakan falsafah just in time.

Nah itu dia sob materi Gogo malam mini. Jangan lupa terus update ilmu kalian dengan pantengin terus kultweet Gogo setiap malamnya. Sampai berjumpa minggu depan! Keep learning, sharing, and inspiring…

 

Sumber :​​ https://ejournal.stiesia.ac.id/jira/article/viewFile/300/292

 

 

 

 

Perencanaan Laba

 

 

 

Halo selamat malam sobat Gogo!! Apa kabar semuanya? Sehat? Semoga seluruh Sobat Gogo dimanapun kalian, dalam keadaan yang sehat, sejahtera, dan yang paling penting yaitu bahagia. Wahai sobat Gogo sekalian, sedang apa kalian? Masih​​ sibukah membuat video bu Denddy?​​ Jangan sibuk-sibuk si​​ ​​ nanti waktu buat Gogonya kapan? Tapi nih ya sob, taugak sih kenapa bu Denddy bisa banyak uangnya?:o Bu Denddy lagi apa yah disana? #lahkokjdbuDenndy. Bicara soal bu Denddy, kemarin Gogo dikasih tau sama beliau katanya nih uangnya bisa banyak karena beliau pandai dalam Perencanaan Laba (profit planning). Wih kayak kenal tuh materi apa. Yappp betul sekali, sepertinya bu Denddy adalah penggemar berat Gogo di prodi Akmen yaaa.. hihihi.

Yuk sob pantengin kultweet dr Gogo yah, karena di malam yang indah penuh dengan kebahagiaan ini, Gogo akan bahas salah satu ilmunya bu Denddy yaitu tentang “Perencanaan Laba (Profit Planning). Sobat Gogo pokoknya jangan sampai kalah dengan bu Denddy yahh.​​  Pengertian dari Perencanaan Laba (Profit Planning) adalah sebuah proses yang dilakukan oleh organisasi bisnis untuk mencapai tingkat laba yang diharapkan.​​ Pada kali ini, Gogo akan berfokus kepada tahap-tahap yang dilakukan ya sob. Kita akan melihat bahwa perencanaan laba dicapai melalui penyusunan sejumlah anggaran yang apa bila disatukan, induk (master budget). Anggaran induk merupakan alat manajemen yang sangat penting yang mengkomunikasikan rencana-rencana manajemen di dalam suatu organisasi, mengalokasikan sumber daya, dan mengoordinasikan aktivitas.

Anggaran adalah rencana terperinci untuk masa depan yang diekspresikan dalam bentuk kuantitatif. Anggaran digunakan untuk dua tujuan yaitu perencanaan dan pengendalian. Perencanaan meliputi perumusan tujuan dan penyusunan berbagai anggaran untuk mencapai tujuan tersebut. Pengendalian meliputi pengumpulan umpan balik untuk memastikan rencana telah dijalankan secara tepat atau di modifikasikan bila perubahan keadaan. Untuk menjadi efektif, anggaran yang baik harus mencakup keduanya, karena rencana yang baik tanpa pengendalian yang efektif akan membuang waktu. Nahh pada materi ini Gogo akan membagi menjadi dua bagian yaitu untuk kerangka dasar penganggaran dan penyusunan anggaran induk.

Kerangka dasar penganggaran meliputi:

  • Manfaat anggaran. Anggaran sendiri memiliki manfaat sebagai alat komunikasi bagi rencana manajemen, alat memaksa manajer untuk memikirkan dan merencanakan masa depan, alat alokasi sumber daya, memunculkan potensi masalah sebelum masalah terjadi,​​ mengkoordinasikan aktivitas seluruh organisasi dengan cara mengintegrasikan rencana dari berbagai bagian, dan menentukan tujuan dan sasaran untuk mengevaluasi kinerja selanjutnya.

  • Akuntansi Pertanggungjawaban (responsibility accounting). Adalah bahwa seorang manajer harus dibuat bertanggung jawab atas permasalahan tertentu dan hanya masalah tersebut saja segingga manajer dapat melakukan pengendalian pada tingkat yang signifikan.​​ 

  • Memilih Periode Anggaran.​​ Anggaran operasi biasanya mencakup periode satu tahun sesuai dengan tahun pajak perusahaan. Anggaran berlanjur banyak digunakan oleh berbagai organisasi. Anggaran berlanjut atau perpetual adalah anggaran 12 bulanan yang bergerak maju ke bulan berikutnya bila bulan saat ini telah berakhir.

  • Anggaran yang Ditetapkan Sendiri (self-imposed budget) atau Anggaran Partisipatif (partisipatif budget) merupakan anggaran yang disusun dengan kerja sama dan partisipasi penuh dari seluruh manajer pada segala tingkatan.

  • Faktor Manusia dalam Penganggaran.​​ Keberhasilan program anggaran juga bergantung pada seberapa jauh manajemen puncak menerima program anggaran sebagai bagian penting dari aktivitas perusahaan, dan cara manajemen puncak menggunakan data yang dianggarkan.

  • Komite Anggaran (budget committee) biasanya bertanggung jawab atas semua masalah kebijakan yang berkaitan dengan program anggaran dan berkaitan dengan koordinasi penyusunan anggaran itu sendiri. Komite biasanya terdiri dari direktur utama, wakil diretur utama berbagai bidang. Kesulitan dan perselisihan tentang masalah anggaran diselesaikan oleh komite ini.

  • Anggaran induk (master budget) mengandung sejumlah anggaran terpisah tetapi saling berkaitan. Berikut adalah gambar keterkaitan anggaran tersebut:

WhatsApp Image 2018-03-12 at 21.32.52.jpeg

 

Nah sob​​ sekarang yang akan Gogo bahas adalah tentang Penyusunan Anggaran Induk. Daftar dokumen yang merupakan bagian dari anggaran produk yaitu:

  • Anggaran Penjualan. Anggaran penjualan adalah titik awal dalam penyusunan anggaran induk. Seperti gambar 8.2 yang diatas sob, banyak hal dalam anggaran induk bergantung pada anggaran penjualan, seperti produksi, pembelian, persediaan, dan beban.​​ 

  • Anggaran Produksi. Anggaran produksi disusun setelah anggaran penjualan. Anggaran produksi (production budget) menampilkan jumlah unit yang harus diproduksi selama setiap periode anggaran untuk memenuhi rencana penjualan dan juga untuk menghasilkan persediaan akhir yang iinginkan.

  • Anggaran Bahan Baku Langsung. Anggaran ini dapat disusun setelah kebutuhan produksi selesai dihitung. Anggaran bahan baku langsung menunjukan secara terperinci bahan mentah yang harus dibeli untuk memenuhi anggaran produksi dan untuk memenuhi jumlah persediaan yang memadai. Anggaran bahan baku langsung (dan anggaran pembelian barang dagangan untuk perusahaan dagang) umumnya disertai dengan skedul perkiraan pengeluaran kas​​ untuk bahan mentah. Skedul ini diperlukan untuk menyusun anggaran kas secara keseluruhan.

  • Anggaran Tenaga Kerja Langsung (direct labor budet) menunjukan jumlah jam tenaga kerja langsung yang dibutuhkan untuk memenuhi anggaran produksi. Kebutuhan tenaga​​ kerja langsung harus dihitung agar perusahaan tahu apakah jam tenaga kerja yang ada cukup untuk produksi.

  • Anggaran Overhead Manufaktur (manufacturing overhead budget) menunjukan skedul seluruh biaya produksi selain bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung.

  • Anggaran Persediaan Akhir Barang Jadi (ending finished goods inventory budget). Setelah suatu perusahaan memiliki seluruh data yang diperlukan, maka dihitunglah biaya produksi per unit. Untuk biaya dan unit yang belum terjual dihitung pada anggaran persediaan akhir barang jadi.

  • Anggaran Beban Penjualan dan Administrasi (selling and admninistrative expense budget) menunjukan beban yang dianggarkan selain yang berkaitan dengan pabrik. Di perusahaan besar, anggaran ini merupakan kompilasi dari banyak anggaran lebih kecil yang diserahkan oleh para kepala departemen dan orang lain yang bertanggung jawab atas beban penjualan dan administrasi.

  • Anggaran Kas, terdiri dari empat bagian yaitu bagian penerimaan, bagian pengeluaran, bagian kelebihan dan kekurangan kas, dan bagian pendanaan.

  • Anggaran Laporan Laba Rugi, merupakan salah satu skedul penting dalam proses anggaran. Anggaran laporan laba rugi menunjukan rencana laba perusahaan untuk periode anggaran yang akan datang, dan ini juga berlaku sebagai acuan bagi kinerja perusahaan selanjutnya.

  • Anggaran Laporan Posisi Keuangan, disusun dengan memulainya pada laporan posisi keuangan awal periode anggaran dan menyesuaikan dengan data yang terdapat pada skedul.

Nah itu dia sob sekilas materi dari Gogo tentang perencanaan laba. Untuk kali ini hanyalah pengantar penganggaran dan perencanaan laba. Di pertemuan selanjutnya, Gogo akan lebih banyak menjelaskan tentang perencanaan laba secara mendalam. Sobat Gogo jangan lupa terus update ilmu kalian, jangan lupa di like dan retweet, serta jangan lupa untuk dipelajari. Jangan mudah rindu Gogo yah berat hihihi. Dadahhh. Keep learning, sharing, inspiring sob…..

Balanced Scorecard

 

 

Halooo apa kabar Sobat​​ Gogo se-Indonesia!​​ Kembali lagi nih di hari Rabu malam​​ dengan kultweet dari prodi akuntansi manajemen...​​ Yuk Sobat Gogo,​​ jangan lupa​​ pantengin,​​ retweet dan like ya ^__^

Malam ini kita akan membahas teori mengenai Balanced Scorecard. Kalian pasti penasaran kan apa sih peranan Balanced Scorecard di dalam Manajemen ?​​ ​​ Sedikit sejarah pada awal mula nya Balanced Scorecard ini digunakan untuk memperbaiki sistem pengukuran kinerja eksekutif Sob. Awal penggunaannya kinerja eksekutif diukur hanya dari segi keuangan, kemudian berkembang luas menjadi empat perspektif, yang kemudian digunakan untuk mengukur kinerja organisasi secara utuh. Waahhh semakin penasaran kan Sobat Gogo dengan materi kita malam ini. Yukk simak bersama yaa Sob ^___^

Definisi Balanced Scorecard

Konsep Balanced Scorecard adalah pendekatan terhadap strategi manajemen yang dikembangkan oleh Drs.Robert Kaplan (Harvard Business School) and David Norton pada awal tahun 1990. Balanced Scorecard berasal dari dua kata yaitu Balanced (berimbang) dan scorecard (kartu skor). Balanced (berimbang) berarti adanya keseimbangan antara performance keuangan dan non-keuangan, performance jangka pendek dan performance jangka panjang, antara performance yang bersifat internal dan performance yang bersifat eksternal. Sedangkan scorecard (kartu skor) yaitu kartu yang digunakan untuk mencatat skor performance seseorang. Kartu skor ini juga dapat digunakan untuk merencanakan skor yang hendak diwujudkan oleh seseorang di masa depan Sob.

Dalam definisi lain Balance Scorecard adalah suatu konsep untuk mengukur apakah aktivitas-aktivitas operasional suatu perusahaan dalam skala yang lebih kecil sejalan dengan sasaran yang lebih besar dalam hal visi dan strategi.

 

Keunggulan Balanced Scorecard

Menurut Mulyadi (2007, p.18) balanced scorecard memiliki beberapa keungguluan, yaitu:

  • Komprehensif

Memperluas perspective yang tercakup dalam perencanaan strategik, yang sebelumnya hanya terbatas pada strategi keuangan, lalu meluas ke tiga perspective lainnya, yaitu​​ customer perspective, internal business perspective, dan learning and growth perspective. Perluasan perspective ini akan bermanfaat untuk:

  • Menjanjikan kinerja keuangan menjadi berlipat ganda dan berjangka panjang.

  • Perusahaan jadi memilki kemampuan untuk memasuki lingkungan bisnis yang kompleks.

Untuk menghasilkan kinerja keuangan yang lebih baik, perusahaan juga harus mewujudkan sasaran dari perspective customer. Itu berarti perusahaan harus menghasilkan barang dengan value yang sesuai dengan ekspektasi customer dari proses produksi yang efektif dan efisien. Kekompeherensifan sasaran strategik merupakan respon yang sesuai untuk memasuki lingkungan bisnis yang kompleks dan penuh tantangan.

  • Koheren

Kekoherenan sasaran strategik memotivasi personel untuk bertanggung jawab dalam mencari inisiatif strategik yang mempunyai manfaat bagi perwujudan tujuan strategik pada financial perspective, customer perspective, internal business perspective, dan learning and growth perspective.

Kekoherenan juga berarti dibangunnya hubungan sebab-akibat diantara output yang dihasilkan sistem perumusan strategi dengan output yang dihasilkan sistem strategik planning. Sasaran strategik yang dirumuskan dalam sistem perencanaan strategik merupakan terjemahan dari visi, tujuan, dan strategi yang dihasilkan perumusan strategi.

3. Terukur

Keterukuran sasaran startegik menjanjikan tercapainya berbagai sasaran strategik yang dihasilkan oleh sistem tersebut. Dan Balanced Scorecard mengukur sasaran strategik yang pantas untuk diukur. Sasaran-sasaran di customer perspective, internal business perspective, dan learning and growth perspective. Ketiga aspek ini merupakan sasaran yang tidak mudah diukur. Namun dalam konsep Balanced Scorecard, sasaran dari ketiga perspective ini dibuat ukurannya agar dapat dikelola, agar dapat diwujudkan. Dengan

demikian, kinerja keuangan akan berlipat ganda.

4. Seimbang

Keseimbangan sasaran strategik yang dihasilkan oleh system perencanaan strategik penting untuk menghasilkan kinerja keuangan dan perusahaan secara keseluruhan.

 

Balanced scorecard memberi manfaat bagi organisasi dalam beberapa cara:

  • menjelaskan visi organisasi

  • menyelaraskan organisasi untuk mencapai visi itu

  • mengintegrasikan perencanaan strategis dan alokasi sumber daya

  • meningkatkan efektivitas manajemen dengan menyediakan informasi yang tepat untuk mengarahkan perubahan

 

Selanjutnya dalam menerapkan balanced scorecard, Robert Kaplan dan David Norton, mensyaratkan dipegangnya​​ lima prinsip utama​​ berikut:

  • Menerjemahkan sistem manajemen strategi berbasis balanced scorecard ke dalam terminologi operasional sehingga semua orang dapat memahami

  • Menghubungkan dan menyelaraskan organisasi dengan strategi itu. Ini untuk memberikan arah dari eksekutif kepada staf garis depan

  • Membuat strategi merupakan pekerjaan bagi semua orang melalui kontribusi setiap orang dalam implementasi strategis

  • Membuat strategi suatu proses terus menerus melalui pembelajaran dan adaptasi organisasi dan

  • Melaksanakan agenda perubahan oleh eksekutif guna memobilisasi perubahan.

 

4 Perspektif Balanced Scorecard

Pengukuran kinerja dengan Balanced Scorecard memandang unit bisnis dari empat perspektif.​​ Empat perspektif tersebut yaitu keuangan, pelanggan, proses bisnis internal serta pembelajaran dan pertumbuhan. Kerangka kerja penerjemahan berbagai strategi dalam empat perspective Balanced Scorecard akan digambarkan pada gambar berikut:

 

Pengukuran ke-empat prespektif tersebut dapat dilakukan sebagai berikut :

  • Perspektif Financial menurut Kaplan (Kaplan, 1996) pada saat perusahaan melakukan pengukuran secara finansial, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah mendeteksi keberadaan industri yang dimilikinya. Kaplan menggolongkan tiga tahap perkembangan industri yaitu; growth, sustain, dan harvest.​​ Dari tahap-tahap perkembangan industri tersebut akan diperlukan strategi-strategi yang berbeda-beda. Dalam perspektif finansial, terdapat tiga aspek dari strategi yang dilakukan​​ suatu​​ perusahaan; (1) pertumbuhan pendapatan dan kombinasi pendapatan yang dimiliki suatu organisasi bisnis, (2) penurunan biaya dan peningkatan produktivitas, (3) penggunaan aset yang optimal dan strategi investasi.

  • Perspektif Customer, dalam perspektif customer ini mengidentifikasi bagaimana kondisi customer mereka dan segmen pasar yang telah dipilih oleh perusahaan untuk bersaing dengan kompetitor mereka. Segmen yang telah mereka pilih ini mencerminkan keberadaan customer tersebut sebagai sumber pendapatan mereka. Dalam perspektif ini, pengukuran dilakukan dengan lima aspek utama (Kaplan,1996:67); yaitu ◦pengukuran pangsa pasar, pengukuran terhadap besarnya pangsa pasar perusahaan mencerminkan proporsi bisnis dalam satu area bisnis tertentu yang diungkapkan dalam bentuk uang, jumlah customer, atau unit volume yang terjual atas setiap unit produk yang terjual.

  • customer retention, pengukuran dapat dilakukan dengan mengetahui besarnya prosentase pertumbuhan bisnis dengan jumlah customer yang saat ini dimiliki oleh perusahaan.

  • customer acquisition, pengukuran dapat dilakukan melalui prosentase jumlah penambahan customer baru dan perbandingan total penjualan dengan jumlah customer baru yang ada.

  • customer satisfaction, pengukuran terhadap tingkat kepuasan pelanggan ini dapat dilakukan dengan berbagai macam teknik diantaranya adalah : survei melalui surat (pos), interview melalui telepon, atau personal interview.

  • customer profitability, pengukuran terhadap customer profitability dapat dilakukan dengan menggunakan teknik Activity Based-Costing (ABC).

  • Perspektif Proses Bisnis Internal, dalam perspektif ini, perusahaan melakukan pengukuran terhadap semua aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan baik manajer maupun karyawan untuk menciptakan suatu produk yang dapat memberikan kepuasan tertentu bagi customer dan juga para pemegang saham. Dalam hal ini perusahaan berfokus pada tiga proses bisnis utama yaitu: proses inovasi, proses operasi, proses pasca penjualan.

  • Perspektif Pertumbuhan dan Pembelajaran, Perspektif yang terakhir dalam Balanced Scorecard adalah perspektif pertumbuhan dan pembelajaran. Kaplan (Kaplan,1996) mengungkapkan betapa pentingnya suatu organisasi bisnis untuk terus memperhatikan karyawannya, memantau kesejahteraan karyawan dan meningkatkan pengetahuan karyawan karena dengan meningkatnya tingkat pengetahuan karyawan akan meningkatkan pula kemampuan karyawan untuk berpartisipasi dalam pencapaian hasil ketiga perspektif di atas dan tujuan perusahaan.

Gimana sob, Sobat Gogo semakin pahamkan bagaimana manajemen menerapkan Balanced Scorecard dlm organisasinya :D. Dimana #BalancedScorecard ini dapat membantu perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan atas 4 perspektif: ​​ financial,customer,internal bisnis, learning & growth.

Ok sob, sekian dulu materi dari prodi akmen hari ini. Sampai bertemu minggu depan di Kultweet selanjutnya. Keep learning, Sharing, Inspiring !​​ 

 

 

Daftar Pustaka

  • Kaplan R.S. & Norton, D.P.; The Balanced Scorecard, Translating Strategy into Action, 1996

  • Mulyadi, Sistem manajemen Strategik Berbasis Balanced Scorecard, Yogyakarta: UPP AMP YKPN.Balanced Scorecard, 2005.

Value Chain

 

 

Selamat​​ Malam Sobat Gogo yang sangat Gogo sayangi dimanapun kalian berada. Kalian bosan atau tidak Gogo tanyakan kabar? Kalau Gogo pastinya tidak dong, oleh karena itu gogo mau tanya kembali, bagaimana kabar kalian? Gogo sangat senang kalau kalian semua dalam keadaan yang baik. Kembali lagi bersama kami, yap betul sekali kami dari prodi akmen siap ​​ untuk menghibur anda kembali. #loh. Bukan, maksudnya Gogo kembali hadir untuk memberi sedikit saja pencerahan buat sobat Gogo semuanya. Kenapa sedikit? Karena segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, eaaaa.

 

Yappp tanpa panjang lebar lagi, malam ini Gogo akan bahas tentang Value Chain atau sobat biasa​​ kenal dengan nama Rantai Nilai.​​ Konsep ini dipopulerkan oleh Michael Porter pada buku Competitive Advantage: Creating and Sustaining Superior Performance (1985).​​ Wahhh, sudah lama juga yah ternyata sob, kalian sudah lahir belum? Hihihi. Pasti ada yang udah kan? Hayo ngakuuuu.

Sebelum kita belajar lebih jauh, mari kita simak pengertian Value Chain menurut para ahli.​​ 

 

Menurut David (2012:227), analisis rantai nilai (Value Chain analysis-VCA) mengacu pada proses yang dengannya perusahaan menentukan biaya yang terkait dengan aktivitas organisasional dari pembelian bahan mentah sampai produksi dan pemasaran produk tersebut. Menurut Assuari (2011:66), rantai nilai adalah suatu kumpulan yang terkait dengan aktivitas penciptaan nilai, yang dimulai dengan bahan baku dasar, yang datang dari pemasok dan bergerak ke rangkaian aktivitas penambahan nilai (value added), yang mencakup produksi dan pemasaran produk, berupa barang atau jasa, dan diakhiri dengan distribusi untuk dapat diterimanya produk oleh konsumen akhir. Sedangkan menurut Pearce dan Robinson (2007:158), rantai nilai merupakan sebuah perspektif di mana bisnis dipandang sebagai rantai kegiatan dalam mengubah input menjadi output yang memberikan nilai kepada pelanggan. Sedangkan analisis rantai nilai adalah sebuah analisis yang mencoba untuk memahami bagaimana suatu bisnis dapat menciptakan nilai bagi pelanggan (customer value) dengan menguji kontribusi dari kegiatan yang berbeda dalam suatu perusahaan.

 

Berdasarkan pendapat para ahli mengenai definisi dari Value Chain, maka dapat disimpulkan bahwa Value Chain merupakan suatu proses perusahaan dalam menentukan biaya yang terkait dengan aktivitas penciptaan nilai perusahaan, dimulai pada proses input sampai dengan output serta diterimanya produk oleh konsumen akhir. Nah jadi kesimpulannya seperti itu sob. Pertanyaan selanjutnya adalah... tujuan Value Chain itu apa sih? Kenapa dia ada?

 

Tujuan Value Chain Menurut David (2012:227), Value Chain Analysis bertujuan untuk mengidentifikasi dimana keunggulan (advantage) atau kelemahan (disadvantage) biaya rendah yang ada di sepanjang rantai nilai mulai dari bahan mentah sampai aktivitas layanan konsumen. Sedangkan Menurut Porter, tujuan dari Value Chain Analysis adalah untuk mengidentifikasi tahap-tahap Value Chain di mana perusahaan dapat meningkatkan value untuk pelanggan atau untuk menurunkan biaya. Penurunan biaya atau peningkatan nilai tambah (value added) dapat membuat perusahaan lebih kompetitif. Dan Menurut Wisdaningrum (2012) dalam jurnalnya, Value Chain Analysis dapat dipergunakan untuk menentukan pada titik-titik di mana dalam rantai nilai yang dapat mengurangi biaya atau memberikan nilai tambah. Jadi kesimpulannya, tujuan Value Chain Analysis adalah untuk mengidentifikasikan keunggulan dan kelemahan dalam aktivitas pada rantai nilai.

 

Terus nih terus, sebenernya konsep Value Chain itu gimana yah? Menurut Porter (1998:39-41), menjelaskan bahwa Value Chain terbagi dalam dua jenis aktivitas yaitu Aktivitas Primer​​ (Primary Activities) dan Aktivitas Sekunder (Support Activities). Sekarang kita bahas dulu yang Aktivitas Primer, terdiri dari beberapa kategori yaitu:

  • Logistik ke dalam (Inbound Logistic) Kegiatan yang berhubungan dengan menerima, menyimpan, dan menyebarkan masukan ke produk, seperti material handling, pergudangan, inventory control, penjadwalan kendaraan, dan kembali ke pemasok.

  • Operasi (Operation) Kegiatan yang berhubungan dengan mengubah input menjadi bentuk produk akhir (output), seperti mesin, kemasan, perakitan, pemeliharaan peralatan, pengujian, percetakan, dan fasilitas dalam kegiatan operasi.

  • Logistik ke luar (Outbound Logistic) Aktivitas yang berhubungan dengan pengumpulan, penyimpanan, dan fisik mendistribusikan produk kepada pembeli, seperti selesai pergudangan barang, material handling, kendaraan operasional pengiriman, pemrosesan pemesanan, dan penjadwalan.

  • Pemasaran dan Penjualan (Marketing and Sales) Kegiatan yang berhubungan dengan menyediakan sarana yang pembeli dapat membeli produk dan mendorong mereka untuk melakukannya, seperti iklan, promosi, salesforce, pilihan channels, hubungan dengan channels, dan harga.

  • Pelayanan (Service) Kegiatan yang berhubungan dengan menyediakan layanan untuk meningkatkan atau mempertahankan nilai produk, seperti instalasi, perbaikan, pelatihan, pasokan suku cadang, dan penyesuaian produk.

 

Nah kalau untuk aktivitas sekunder, terdiri dari beberapa kategori juga meliputi:

  • Pengadaan (Procurement) Pengadaan mengacu pada aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk pembelian input yang diperlukan dalam kegiatan produksi dalam rantai nilai perusahaan, bukan untuk input yang dibeli sendiri.​​ 

  • Pengembangan Teknologi (Technology Development) Perkembangan teknologi terdiri dari berbagai kegiatan yang dapat dikelompokkan menjadi upaya untuk meningkatkan produk dan proses yang digunakan perusahaan.​​ 

  • Manajemen Sumber Daya Manusia (Human Resource Management) Manajemen sumber daya manusia terdiri dari kegiatan yang terlibat dalam merekrut, menyewa, pelatihan, pengembangan, dan kompensasi dari semua jenis personil.​​ 

  • Infrastruktur Perusahaan (Firm Infrastructure) Infrastruktur perusahaan terdiri dari sejumlah kegiatan termasuk manajemen umum, perencanaan, keuangan, akuntansi, hukum, urusan pemerintahan, dan manajemen mutu.

 

Menurut Porter (1998:37), menjelaskan bahwa aktivitas-aktivitas yang dilakukan dalam Value Chain Analysis sebagai berikut​​