Akuntansi Dasar – Laporan Keuangan

 

 

Halo Sobat Gogo dimana pun kalian berada. Bagaimana nih kabarnya? Yang pastinya luar biasa dong ya!!! Di Senin malam yang indah ini, Gogo kembali hadir lagi dengan kultweet dari prodi Akuntansi Dasar. Yuk Sobat Gogo, jangan lupa terus​​ simak, retweet, dan like ya ^~^

Malam ini, kita akan membahas tentang “Laporan Keuangan” ya Sob. Beberapa diantara kita pasti sudah tidak asing lagi dengan kata “laporan keuangan”, atau bahkan ada juga nih yang mungkin pekerjaan setiap harinya selalu berhubungan dengan laporan keuangan.​​ Sebelumnya, Gogo punya accounting fun fact nih Sob untuk malam ini mengenai aplikasi untuk membuat laporan keuangan yang diluncurkan oleh Kemenkop UKM. Kita simak dulu ya Sob.

 

 

Accounting​​ Fun Fact

Tahukah kamu ?

Beberapa waktu yang lalu​​ atau​​ tepatnya pada Oktober 2017​​ telah diluncurkan aplikasi yang bernama “Lamikro” atau nama lain dari “Laporan Keuangan Mikro” oleh Kementerian ​​ Koperasi dan UKM. Lamikro ini merupakan aplikasi pembukuan akuntansi sederhana bagi usaha mikro yang dapat digunakan melalui smartphone dengan sistem operasi android. Latar belakang terciptanya aplikasi ini disebabkan karena selama ini pelaku usaha mikro belum memiliki tata kelola administrasi dan laporan keuangan yang baik. Dengan adanya aplikasi ini, UKM tersebut diharapkan dapat memiliki laporan keuangan yang akuntabel sehingga dapat menunjang pengembangan usahanya serta ​​ meningkatkan daya saing dan kapasitas UKM dalam negeri.​​ 

Sumber.​​ https://keuangan.kontan.co.id/news/lamikro-aplikasi-laporan-keuangan-buat-umkm

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

For your information nih Sob, penting loh bagi suatu entitas atau organisasi untuk membuat laporan keuangannya. Kira-kira kenapa ya Sob laporan keuangan itu menjadi penting ?? Ayo, kalian pada penasaran tidak nih Sob ? Sabar dulu ya Sob, karena habis ini kita mau membahas tentang pengertian dan bentuk laporan keuangan. Tanpa membuang-buang waktu lagi yuk kita mulai kultweet kita malam ini.

  • Pengertian dan Bentuk Laporan Keuangan​​ 

  • Pengertian Laporan Keuangan

Menurut Standar Akuntasi Keuangan (SAK), laporan keuangan adalah bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara seperti, misalnya: sebagai laporan arus kas atau laporan arus dana),​​ catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian intergral ​​ dari laporan keuangan termasuk skedul dan informasi tambahan, misalnya : informasi keuangan segmen industri dan geografis serta pengungkapan pengaruh perubahan harga (IAI:2009).

Menurut Soemarso (2002:34), laporan keuangan adalah laporan yang dirancang untuk pembuatan keputusan, terutama pihak di luar perusahaan, mengenai posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan.

Dari ​​ kedua pengertian diatas, maka bisa kita simpulkan nih Sob bahwa laporan keuangan merupakan laporan yang menggambarkan kondisi dan posisi keuangan serta kinerja dari suatu entitas dalam periode tertentu, yang salah satunya​​ manfaatnya​​ dapat digunakan dalam pengambilan keputusan.

Laporan keuangan yang lengkap biasanya terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan.

 

  • Tujuan Laporan Keuangan

Selanjutnya kita mau membahas tentang tujuan laporan keuangan ya Sob. Sekedar informasi saja nih, laporan keuangan ini awalnya digunakan sebagai alat uji terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh bagian akuntansi ​​ loh Sob, tetapi seiring berkembangnya waktu,​​ laporan keuangan juga menyediakan informasi mengenai posisi dan kinerja keuangan yang digunakan sebagai dasar penilaian kinerja suatu perusahaan serta menjadi referensi dalam suatu pengambilan keputusan yang akan diambil.​​ 

Yang pastinya nih Sob, laporan keuangan ini dibuat​​ untuk memenuhi kebutuhan akan informasi keuangan bagi pihak-pihak yang berkepentingan terhadap entitas tersebut, (misalnya saja informasi mengenai posisi keuangannya, kinerjanya, ataupun perubahan posisi keuangannya) serta menjadi salah satu wujud pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang telah dipercayakan kepada mereka.​​ 

Sebelum melanjutkan ke pembahasan selanjutnya, Gogo mau bertanya nih !!! kalian masih ingat tidak, kira-kira siapa saja pihak-pihak berkepentingan yang menjadi pengguna dari laporan keuangan ?? Ya, benar sekali Sob. Pihak-pihak yang berkepentingan itu adalah pihak internal yang meliputi, pemilik perusahaan, manager, ataupun karyawan serta pihak eksternal yang meliputi, investor, kreditur, pemasok dan kreditur usaha lainnya, pelanggan, pemerintah, serta masyarakat.

 

  • Bentuk Laporan Keuangan

Seperti yang sudah pernah kita bahas sebelumnya nih Sob, secara umum laporan keuangan ini terdiri dari beberapa komponen atau​​ beberapa laporan yang meliputi:

  • ​​ Laporan Laba Rugi (Income Statement)

Di dalam laporan ini terdapat ringkasan pendapatan dan beban untuk periode keuangan tertentu, serta laba atau rugi yang diperoleh suatu entitas.

 

  • Laporan Perubahan Modal (Statement of Changes in Equity)

Di dalam laporan ini terdapat informasi mengenai jumlah modal yang dimiliki oleh suatu entitas dalam periode keuangan tertentu, serta Sobat Gogo juga bisa melihat perubahan dan penyebab perubahan yang terjadi pada modal.

 

  • Laporan Posisi Keuangan atau Neraca (Statement of Financial Position)

Di dalam laporan ini terdapat informasi mengenai kondisi dan posisi keuangan (jumlah asset, liabilitas, dan ekuitas / modal) yang dimiliki oleh suatu entitas dalam periode keuangan tertentu.

 

  • Laporan Arus Kas (Statement of Cash Flows)

Laporan ini menunjukkan aliran kas masuk dan kas keluar yang berasal dari tiga aktivitas yaitu aktivitas operasi, aktivitas investasi, dan aktivitas pendanaan suatu entitas dalam periode keuangan tertentu.

  • Catatan atas Laporan Keuangan

Catatan yang berisi penjelasan dan informasi tambahan yang lebih rinci mengenai hal-hal yang tertera dalam laporan keuangan.

 

  • Standar Akuntansi di Indonesia.

Dalam pelaporan keuangan terdapat beberapa standar yang berlaku di Indonesia nih Sobat Gogo. Langsung saja ya Sob, kita akan membahas standar-standar tersebut.

  • SAK – IFRS (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan – International Financial Reporting Standards)

SAK – IFRS ini diterapkan untuk entitas dengan akuntabilitas publik, misalnya. Perusahaan yang sudah go public di BEI, BUMN, perbankan, dan asuransi. Penetapan IFRS sebagai akuntansi umum di Indonesia ini disebabkan karena Indonesia merupakan salah satu anggota IFAC yang mana para anggotanya menjadikan IFRS sebagai standar akuntansinya sehingga Indonesia yang juga menjadi salah satu anggotanya wajib untuk mematuhi kesepakatan antar anggota IFAC. Berikut komponen laporan keuangan berdasarkan SAK – IFRS, yaitu :

  • Laporan Laba Rugi Komprehensif

  • Laporan Perubahan Ekuitas

  • Laporan Posisi Keuangan

  • Laporan Arus Kas

  • Catatan atas Laporan Keuangan

 

  • SAK ETAP (Standar Akuntansi Keuangan – Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik)

SAK ETAP merupakan bentuk sederhana dari SAK IFRS yang bertujuan agar semua unit usaha dapat menyusun laporan keuangan sesuai dengan standar yang sudah dibuat. Standar ini diterapkan untuk entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik atau akuntabilitas publiknya tidak terlalu signifikan dan laporan keuangan tersebut disusun dengan tujuan umum bagi pihak pengguna eksternal. Pengguna SAK-ETAP ini adalah Perusahaan tertutup, BPR konvensional, CV, Firma, dan Koperasi. Berikut komponen laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP, yaitu:

  • Neraca

  • Laporan Laba Rugi​​ 

  • Laporan Perubahan Ekuitas

  • Laporan Arus Kas

  • Catatan atas Laporan Keuangan

 

  • SAK Syariah

SAK Syariah ini diterapkan bagi entitas yang bertransaksi dengan prinsip syariah, baik yang dilakukan oleh lembaga syariah ataupun non-syariah, misalnya. BPR Syariah, Bank Umum Syariah, Baznas, dan unit-unit syariah lainnya. Tujuan pembuatan standar akuntansi ini adalah untuk memudahkan penyelenggaraan berbagai lembaga yang berbasis syariah tersebut. Berikut komponen laporan keuangan berdasarkan SAK Syariah, yaitu :

  • Neraca

  • Laporan Laba Rugi​​ 

  • Laporan Perubahan Ekuitas

  • Laporan Arus Kas

  • Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat

  • Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan

  • Catatan atas Laporan Keuangan

 

  • SAK EMKM (Standar Akuntansi Keuangan – Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah)

SAK EMKM ini disusun guna memenuhi kebutuhan dalam pelaporan keuangan entitas mikro, kecil, dan menengah yang belum atau tidak mampu terhadap persyaratan akuntansi dalam SAK ETAP. SAK-EMKM ini memang ditujukan agar UMKM yang ada di Indonesia ini lebih mudah dalam membuat atau menyusun laporan keuangannya. Hal ini dilakukan pemerintah karena masih cukup banyak UMKM yang belum memiliki laporan keuangan yang memadai. Hal ini juga berakibat pada kurang berdaya saingnya UMKM yang ada di Indonesia ini loh Sob sehingga untuk memudahkan UMKM tersebut maka dibuatlah standar akuntansi yang lebih sederhana (SAK EMKM) lagi. Berikut komponen laporan keuangan berdasarkan SAK EMKM, yaitu :

  • Laporan Posisi Keuangan

  • Laporan Laba Rugi

  • Catatan atas Laporan Keuangan

 

  • SAP (Standar Akuntansi Pemerintahan)

SAP ini diterapkan bagi pemerintah dalam menyusun Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) dan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) yang bertujuan agar terjaminnya transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan negara. Berikut komponen laporan keuangan berdasarkan SAP, yaitu :

  • Laporan Realisasi Anggaran (LRA)

  • Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (LPSAL)

  • Neraca

  • Laporan Operasional

  • Laporan Arus Kas

  • Laporan Perubahan Ekuitas

  • Catatan atas Laporan Keuangan

Wah, tidak terasa ya Sob kita sudah ada di akhir pembahasan kita hari ini yang bertemakan tentang laporan keuangan. Cukup sekian dulu ya Sob. Tapi, jangan khawatir ya Sob, karena Gogo masih punya pembahasan yang menarik lainnya untuk Sobat Gogo semua. Sampai ketemu Sobat Gogo di kutweet selanjutnya. Keep Learning, Sharing, and Inspiring !!!!

Sumber:

 

Indonesia dan Era Industri 4.0 at Glance

Indonesia dan Era Industri 4.0 at Glance

Halo apa kabar sobat Gogo ? Gogo harap sobat semua sehat selalu ya. Setelah sebulan lamanya kita tidak bertemu melalui media sosial, hari ini Gogo akan menjelaskan kultweet tentang peran akuntan Indonesia di tengah berkembangnya era industri 4.0. Hmm seperti apa ya ? Yuk sama- sama kita cari tahu.

Istilah industri 4.0 pertama kali di perkenalkan di Jerman beberapa tahun yang lalu. Istilah ini mengacu kepada penggunaan internet untuk memberikan solusi terhadap sektor manufaktur agar dapat bekerja lebih efisien. Singkatnya industri 4.0 merupakan era dimana seluruh pekerjaan terhubung melalui sambungan koneksi internet. Pernyataan ini didukung oleh laporan yang disampaikan oleh KPMG pada tahun 2016 yang mengatakan masa depan industri ada pada sambungan internet yang dapat mengintegrasikan seluruh informasi.

Era industri 4.0 juga berdampak kepada Indonesia. Perkembangan industri di Indonesia direspon dengan pembenahan akan penguasaan terhadap informasi dan teknologi. Disisi lain gencarnya pembangunan infrastruktur guna membantu meningkatkan akses di setiap daerah dianggap mampu menurunkan cost. Hal ini juga diperkuat dengan data yang dikeluarkan World Economic Forum (WEF)’s Global Competitiveness Report 2017 yang mengatakan Indonesia berada di urutan 36 dari 100 negara. Tahun 2017 juga pertumbuhan start-up di Indonesia berada di urutan ke 4 sebanyak 1.705 start-up.

Paparan diatas menggambarkan kesiapan Indonesia dalam era Industri 4.0. Dengan maraknya pertumbuhan start-up serta perkembangan industri maka selain menumbuhkan daya saing, diperlukan juga struktur keuangan yang kuat untuk dapat going concern.

 

Lalu bagaimana peran akuntan dalam industri 4.0? Apakah akuntan dapat survive dalam era ini ?

Memasukki modernisasi industri diyakini akan berdampak kepada berbagai faktor pendukung. Setiap faktor tersebut dapat men-support perkembangan industri di Indonesia. Salah satu faktor pendukung adalah dari sisi keuangan. Meningkatnya jumlah start up di masing- masing sektor menjadi modal bagus bagi Indonesia untuk menyambut era industri baru. Artinya akan muncul investor potensial untuk menanamkan modal di Indonesia. Investor membutuhkan laporan keuangan yang informatif demi membuat keputusan. Peran akuntan sangat dibutuhkan demi menyiapkan laporan keuangan tersebut. Dibutuhkan kemampuan teknis, pengetahuan akan business process untuk dapat menyiapkan laporan keuangan tersebut.

Disisi perusahaan, kehadiran akuntan penting dalam membantu perkembangan perusahaan sob. Jika kita melihat berita akhir- akhir ini start up unicorn di Indonesia contohnya Go-Jek yang melakukan ekspansi ke Vietnam, atau Grab yang mengakuisi beberapa start up layaknya Kudo, atau perusahaan kompetitor semacam UBER. Artinya terjadi ekspansi perusahaan-perusahaan tersebut dalam melebarkan bisnisnya. Peran akuntan disini penting bagi perusahaan dalam membuat analisis terkait profitabilitas dan Return on Investment (ROI) bagi perusahaan. Selain itu analisa mengenai pricing serta cost control dianggap krusial bagi perusahaan terutama di era internet of things.

Meningkatnya internet ditandai dengan ingeritas data serta koneksi terkait database perusahaan menjadi semakin penting. Peningkatan konektivitis juga berdampak kepada perubahan model bisnis dan business process. Namun, disisi lain, adanya potensi terhadap risiko seperti misalnya ransomware. Akuntan perlu dapat memahami enterprise riskmanagement process terutama dalam menilai risiko yang muncul bagi perusahaan. Selain itu, akuntan perlu membantu perusahaan dalam meningkatkan value yang perusahaan tawarkan dengan era internet sehingga menjadi modal dalam berkompetisi.

Kemudian sob apa saja yang perlu dilakukan oleh akuntan untuk survive ya sob ?

Kehadiran industri 4.0 turut serta membawa internet of things (IoT), big data yang akan berdampak kepada akuntan baik secara langsung dan tidak langsung. Akuntan perlu mempelajari cara manajemen big data. Akuntan harus bisa memahami bahasa IT dan konsep IoT dalam membangun struktur keuangan, akuntansi dan sistem pelaporan keuangan. Hal ini dapat membantu akuntan dalam memberikan advice kepada perusahaan/ client.

Kemampuan menganalisis dan advice sangat dibutuhkan oleh seorang akuntan sob. Artinya, sobat calon akuntan tidak hanya dibutuhkan kemampuan teknis akuntansi, tapi juga perlu mempelajari kemampuan memberikan advice. Sobat perlu memahami business process setiap industri. Hal ini penting, apalagi dengan hadirnya otomatisasi dan artificial intelligence yang dapat mengubah industri dengan cepat.

Era industri 4.0 akan berfokus kepada kecepatan dan ketepatan. Diperlukan data keuangan yang informatif, proses yang efektif dan efisien dalam membantu membuat keputusan. Maka dapat kita katakan akuntan memiliki potensi untuk berkembang dalam era industri 4.0 ini. Komunitas Jago Akuntansi juga mendukung dalam mengawal era industri 4.0 melalui kultweet-kultweet yang informatif terkait akuntansi. Jadi jangan lewatkan kultweet kami melalui media sosial sobat ya. See ya.

 

 

 

 

 

 

Jenis Sertifikasi Akuntan

Halo, Sobat Gogo! Ketemu lagi nih di kultweet Akkeu malam ini 😀
Tim Akkeu pada hari ini akan membahas Jenis Profesi Akuntan dan Sertifikasinya loh, Sob!
Sebelum kita membahas #sertifikasiakuntan, kita bahas sedikit yuk tentang organisasi yang
mewadahi para akuntan di Indonesia!
Di Indonesia, terdapat tiga organisasi yang mewadahi para akuntan professional. Yaitu IAI,
IAPI dan IAMI.
IAI adalah organisasi profesi yg mewadahi para akuntan dan juga bertanggung jawab
terhadap penyusunan PSAK yg berlaku di berbagai sector.
Selain IAI, ada juga IAPI yaitu organisasi yang mewadahi para akuntan publik di Indonesia.
Tak hanya IAI dan IAPI, di Indonesia ada juga yang namanya IAMI yaitu organisasi yang
mewadahi para akuntan manajemen di Indonesia.
Semua organisasi yang dibuat, memiliki ujian dan sertifikasinya masing-masing loh, Sob..
Pertama, ada lima jenis ujian sertifikasi untuk para akuntan yang dikeluarkan oleh IAI yaitu
USKAD, CA Indonesia, USAAP, USPSAK dan USAS.
USKAD IAI adalah Ujian Sertifikasi Keahlian Akuntansi Dasar yang diadakan untuk
mengukur keahlian peserta dalam hal pemahaman kerangka dasar penyusunan dan penyajian
laporan keuangan sudah sesuai dengan SAK, mengidentifikasi transaksi yang ada dalam
laporan keuangan, menyusun laporan keuangan sesuai dengan siklus akuntansi, hingga
melakukan analisa terhadap laporan keuangan. Sertifikasi ini lebih diperuntukan bagi Lulusan
SMA/SMAK atau mahasiswa programstudi Akuntansi (Baik D3, DIV, S1).
Selain USKAD, ada juga USAAP yaitu Ujian Sertifikasi Ahli Akuntansi Pemerintahan yang
diadakan untuk menilai kemampuan/kompetensi peserta dalam menyusun LK Pemerintah,
menyusun kebijakan akuntansi keuangan pemerintah dan menyusun LK prospektif

(anggaran) pemerintahan. Sertifikasi Ahli Akuntansi Pemerintahan memperlengkapi dunia
pemerintahan dalam menjawab kebutuhan SDM di pemerintahan yang berkompeten, IAI
telah merancang standar kompetensi teknis yang akan menjadi instrumen pengukuran
kompetensi pengelola keuangan negara dalam rangka pemetaan SDM pengelolaan keuangan
negara.
Masih ada lagi nih, Sob. Yaitu USPSAK. Yap sesuai namanya kalian pasti tau dong ujian ini
untuk apa? USPSAK ini diadakan untuk peserta yang memiliki kompetensi di dunia SAK
nih. Dalam ujian ini, peserta diukur kompetensinya terhadap pemahamannya atas Pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan.
Lalu, ada USAS yaitu ujian yang baru diadakan IAI pada tahun 2008 untuk sertifikasi peserta
yang berkompeten di bidang Akuntansi Syariah. Dengan adanya USAS, Indonesia telah
mempunyai suatu ujian sebagai suatu sistem pembelajaran yang baku bagi mereka yang akan
berpraktik di bidang Akuntansi Syariah. Ujian Sertifikasi Akuntansi Syariah merupakan suatu
strategi pengembangan keilmuan dan keahlian Akuntansi Syariah dalam rangka penyesuaian
dengan perkembangan ekonomi syariah di Indonesia. SAS harus mampu mengaplikasikan
Standar Akuntansi Keuangan Syariah.
Yang terakhir sertifikasi paling hits di IAI. Apa coba? Yess, CA Indonesia. Sertifikasi ini
diselenggarakan bertujuan untuk mendapatkan akuntan yang memiliki kualifikasi sebagai
akuntan professional sesuai panduan standar internasional.
Kedua, selain dari IAI, ada juga nih sertifikasi dari IAMI yaitu CPMA (Certiefied
Professional Management Accountant) yang ujian tersebut diadakan untuk meningkatkan
penguasaan peserta atas pengetahuan dan kompetensinya di bidang akuntansi manajemen,
Sob. CPMA dimaksudkan pula sebagai salah satu strategi pengembangan profesi akuntan
manajemen di Indonesia dalam rangka menghadapi arus globalisasi yang ditandai dengan
perdagangan bebas dalam produk dan jasa termasuk jasa akuntansi. Buat kamu yang suka
akmen, bisa nih ikutin ujian ini 😀
Terakhir yaitu IAPI yang memiliki tiga sertifikasi untuk para akuntan publik.
1. Entry Level: Gelar A-CPAI: Associate Certified Professional Auditor of Indonesia
2. Profesional Staff Level: Gelar CPAI: Certified Professional Auditor of Indonesia
3. Public Accountant Level: Gelar CPA: Certified Public Accountant of Indonesia (STL
UPAP/UU 5 th 2011)
Yang pertama adalah A-CPAI sebagai sertifikasi yang diberikan kepada peserta setelah
mereka menyelesaikan ujian sertifikasi tingkat dasar. Dilanjutkan ke sertifikasi CPAI sebagai
ujian sertifikasi tingkat professional hingga ke tingkat lanjutan untuk mendapatkan sertifikasi
CPA sebagai sertifikasi tertinggi profesi akuntan public di Indonesia.

Selain Certified Public Accountant, IAPI juga menyelenggarakan Sertifikasi Perikatan
Investigasi Untuk Akuntan Publik untuk Gelar Certified Professional Investigator (CPI) yang
bertujuan agar auditor dapat melakukan audit investigasi terhadap perkara korupsi yang
diduga menimbulkan kerugian keuangan negara dalam sistem hokum nasional dan dalam
praktik peradilan.
Tak hanya sertifikasi yang ada di Indonesia aja loh, Sob. Ada juga beberapa sertifikasi global
yang bekerja sama dengan Indonesia, yaitu:
1. The Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW)
2. Certified Practising Accountants Australia (CPA Australia)
3. The Institute of Certified Management Accountants (ICMA)
4. International Federation of Accountants (IFAC)
5. Association of Chartered Certified Accountants (ACCA)
6. Chartered Accountants Worldwide (CAW)
7. ASEAN Chartered Professional Accountant (ACPA)
Yang paling terupdate nih, Sob, untuk para akuntan di Indonesia yaitu sertifikasi akuntan
yang diakui di ASEAN. Apakah itu? Yap ACPA!
ACPA merupakan tindaklanjut dari ditandatanganinya Mutual Recognition Arrangement on
Accountancy Services (MRAA) oleh kesepuluh negara anggota ASEAN pada tahun 2014. Di
bawah MRAA, Akuntan Profesional dari seluruh negara ASEAN yang memiliki kualifikasi
dan pengalaman sesuai ketentuan MRAA, dapat mengajukan permohonan untuk menjadi
ACPA.
ACPA secara hukum diizinkan untuk memberikan layanan akuntansi di seluruh negara
ASEAN (kecuali untuk penandatanganan laporan auditor independen dan penyediaan layanan
akuntansi yang memerlukan lisensi domestik) tanpa harus menjalani prosedur pelatihan atau
kualifikasi ulang.
Di Indonesia yang dapat mendaftar untuk memperoleh ACPA adalah pemegang sertifikasi
berikut:
– CA dari IAI
– CPA dari IAPI
– CPMA dari IAMI
Banyak banget kan, Sob, kesempatan kamu untuk mengikuti sertifikasi kompetensi akuntan?
Sertifikasi ini berguna banget loh buat kamu-kamu yang ingin memiliki daya saing tinggi
dengan para akuntan lainnya alias bisa membuat kamu punya ‘ciri khas’ tersendiri dari
akuntan yang lain :D.
Sekian dulu Kultweet Akkeu mengenai #sertifikasiakuntan hari ini ya, Sobat Gogo..

ASAS-ASAS TRANSAKSI SYARIAH

Assalamualaikum wr wb.Gimana kabarnya Sobat Gogo di Jumat berkah hari ini?Jangan lupa baca surah Al Kahfi ya. Dan satu lagi jangan lupa pantengi kultweet dari prodi akuntansi syariah.

Seperti biasa Jumat malam kita isi dgn materi yg menarik dan bikin hati adem. Yap Aksyar! Jumat kali ini kita bakal bahas Asas-asas Transaksi Syariah.

Sobat gogo sudah tahu belum apa aja asas – asas transaksi syariah (AATS)? Yok mengenal asas – asas transaksi syariah. Nah, asas – asas transaksi syariah merupakan komponen penting yg disusun dalam Kerangka Dasar Penyusunan & Penyajian Laporan Keuangan Syariah (KDPPLKS).

Dewan Standar Akuntansi Syariah (DSAS) IAI telah menyusun asas-asas transaksi syariah yang terdiri dari 5 asas (prinsip) transaksi syariah yaitu:

  1. Prinsip persaudaraan (ukhuwah)
  2. Prinsip keadilan (’adalah)
  3. Prinsip kemaslahatan (mashlahah)
  4. Prinsip keseimbangan (tawazun)
  5. Prinsip universalisme (syumuliyah)

Istilah – istilah seperti di atas harus familiar ya di telinga temen-temen, karena nantinya akan lebih banyak lagi istilah-istilah aksyar yang lainnya.

Kita bahas asas (prinsip) pertama yaitu prinsip persaudaraan (ukhuwah) esensinya merupakan nilai universal yang menata interaksi sosial dan harmonisasi kepentingan para pihak untuk kemanfaatan secara umum dengan semangat saling tolong-menolong. Transaksi syariah menjunjung tinggi nilai kebersamaan dalam memperoleh manfaat (sharing economic) sehingga seseorang tidak boleh mendapat keuntungan diatas kerugian orang lain. Ukhuwah dalam transaksi syariah berdasarkan prinsip saling mengenal (ta’aruf), saling memahami (tafahum), saling menolong (ta’awun), saling menjamin (takaful), saling bersinergi dan beraliansi (tahaluf).

Selanjutnya asas (prinsip) yang kedua yaitu Prinsip keadilan (’adalah) esensinya menempatkan sesuatu hanya pada tempatnya dan memberikan sesuatu hanya pada yang berhak serta memperlakukan sesuatu sesuai dengan posisinya. Implementasi keadilan dalam kegiatan usaha berupa aturan prinsip muamalah yang melarang adanya unsur :

  1. riba (unsur bunga dalam segala bentuk dan jenisnya, baik riba nasiah maupun fadhl),
  2. kezaliman (unsur yang merugikan diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan),
  3. maysir(unsur judi dan sifat spekulatif),
  4. gharar(unsur ketidakjelasan), dan
  5. haram (unsur haram baik dalam barang maupun jasa serta aktivitas operasional yang terkait).

Sobat gogo kelima larangan ini harus selalu diingat dan jangan dilanggar ya dalam melakukan kegiatan usaha atau transaksi syariah. Karena biasanya terlalu asik melakukan transaksi sampai tidak memperhatikan larangan-larangannya.

Asas ketiga yaitu Prinsip kemaslahatan (mashlahah esensinya merupakan segala bentuk kebaikan dan manfaat yang berdimensi duniawi dan ukhrawi, material dan spiritual, serta individual dan kolektif.

Kemashlahatan yang diakui harus memenuhi dua unsur yakni kepatuhan syariah (halal) serta bermanfaat dan membawa kebaikan (thayib) dalam semua aspek secara keseluruhan yang tidak menimbulkan kemudharatan.

Transaksi syariah yang dianggap bermashlahat harus memenuhi secara keseluruhan unsur-unsur yang menjadi tujuan ketetapan syariah (maqasid syariah) yaitu berupa pemeliharaan terhadap :

  1. akidah, keimanan dan ketakwaan (dien),
  2. intelek (’aql),
  3. keturunan (nasl),
  4. jiwa dan keselamatan (nafs), dan
  5. harta benda (mal).

Asas yang keempat yaitu Prinsip keseimbangan (tawazun) esensinya meliputi keseimbangan aspek material dan spiritual, aspek privat dan publik, sektor keuangan dan sektor riil, bisnis dan sosial, dan keseimbangan aspek pemanfaatan dan pelestarian. Transaksi syariah tidak menekankan pada maksimalisasi keuntungan perusahaan semata untuk kepentingan pemilik (shareholder). Sehingga manfaat yang didapatkan tidak hanya difokuskan pada pemegang saham, akan tetapi pada semua pihak yang dapat merasakan adanya suatu kegiatan ekonomi.

Terakhir nih sobat gogo asas (prinsip) transaksi syariah yang perlu di ingat yaitu Prinsip universalisme (syumuliyah) esensinya dapat dilakukan oleh, dengan, dan untuk semua pihak yang berkepentingan (stakeholder) tanpa membedakan suku, agama, ras dan golongan, sesuai dengan semangat kerahmatan semesta (rahmatan lil alamin).

So, sebagai masyarakat yg ingin menjalankan syariat Islam kita harus menerapkan asas-asas transaksi syariah.Karena asas-asas transaksi syariah merupakan prinsip awal/ dasar kita dalam melakukan transaksi syariah.

Sekian kultweet dari prodi aksyar semoga bermanfaat dan makin bertambah ilmunya tentang aksyar. Sobat Gogo jangan lupa pantengi terus kultweet kita setiap hari jumat.sobat gogo utk hari ini sekian dulu yah kultweet Aksyarnya.

Sebelum tidur jangan lupa baca doa ya sobat gogo. Okedeh, Selamat malam dan selamat beristirahat sobat gogo tercinta. Wassalammualaikum wr. wb

Digitalisasi Proses Order Pembelian dan Invoicing

Halo!! Selamat Malam Sobat Gogo! Apa kabarnya ? Semoga semakin baik setiap harinya dengan Kultweet Gogo ya Sob. Beberapa minggu yang lalu, kita sudah membahas mengenai Artificial Intelligence yang digembar-gemborkan dapat menggantikan peran Akuntan. Minggu sebelumnya, kita membahas mengenai #DeepLearninginAuditing, dan bagaimana penggunaan Deep Learning bisa meningkatkan kualitas Audit. Pada kesempatan ini, sedikit berhubungan dari topik-topik sebelumnya yang membahasi mengenai bagaimana Teknologi mempengaruhi dunia Akuntansi, sekarang kita akan membahas suatu artikel yang lebih praktikal mengenai bagaimana cara untuk Mengurangi Ketidakpastian Biaya Transaksional dengan Digitalisasi Proses Order Pembelian dan invoicing dan bagaimana hal tersebut dapat memberikan dampak positif pada bisnis. Menarik sekali ya Sob… Artikel tersebut dibuat oleh Ian Smith, Finance Director and General Manager of Invu. Invu merupakan organisasi penyedia jasa software independen.

Sebelumnya, apakah Sobat sudah mengetahui tentang apa itu Transactional Cost ? Terdapat banyak pengertian dari Transactional Cost dari berbagai bidang ilmu masing-masing, namun secara umum kita bisa mengambil pengertian umum bahwa Transactional Cost adalah seluruh biaya yang berkaitan dengan pengaturan operasi dari suatu perusahaan Sob. Ditengah ketidakpastian yang sekarang ini melanda, sebut saja Brexit yang terjadi 2016 lalu, juga terpilih Presiden Donald Trump yang menjadi polemik, Ancaman Perang Nuklir di Korea Utara, Refrendum Kemerdekaan Barcelona di Spanyol, ketidakstabilan di Timur Tengah bahkan di Indonesia sendiri, semuanya memicu ketidakpastian, di dalam dunia yang penuh dengan ketidakpastian, kebutuhan atas informasi real time atas Pernjanjian Keuangan, yang dibuat oleh bisnis menjadi sangat penting dan sangat dibutuhkan. #DigitalisasiPOP&I

Dalam riset independen yang memfokuskan pada pembuat keputusan keuangan dalam medium sized business dengan jumlah pegawai 50 hingga 250 pegawai, mengungkapkan bahwa visibilitas, efisiensi dan pengendalian masih menjadi hal yang sulit bagi departemen-departemen keuangan dalam suatu perusahaan. Meskipun usaha untuk menerapkan pengendalian yang lebih kuat terhadap order pembelian terus dilakukan, Chief Financial Officer (CFO) and Finance Department masih kekurangan pengetahuan atas visibilitas keuangan yang real time, sehingga menghambat pengendalian operasi dari perusahaan tersebut. Selain itu, yang semakin memperparah keadaan ini yaitu dengan penggunaan system pemrosesan yang “Ketinggalan Zaman”. Berdasarkan survey, hampir setengah, tepatnya 47 % dari jumlah Perusahaan ukuran medium di Inggris masih mendasarkan proses bisnisnya pada Microsoft Office (Word dan Excel) yaitu 25 %, proses manual berbasis kertas 14%, atau kombinasi dari keduanya yaitu 8% dalam mengatur proses order pembelian, juga sekitar 45 % bisnis tersebut masih menggunakan proses manual terhadap pengendalian Hutang Usaha mereka. Proses-proses manual yang kurang up-to date diatas menyebabkan proses bisnis menjadi lambat, dan tidak memberikan informasi yang komprehensif bagi pembuat keputusan. Penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa hampir setengah, tepatnya 44% perusahaan ukuran sedang di Inggris, harus menunda produksinya diakibatkan oleh lambatnya pemrosesan atas tagihan supplier. #DigitalisasiPOP&I

Salah satu langkah besar untuk meningkatkan visibilitas dan pengendalian atas operasi perusahaan yaitu dengan mengubah proses manual menjadi digital. Dokumen digital bisa dibagikan dan dapat dengan mudah dilacak apabila terdapat kesalahan. Kemudahan dokumen digital untuk dilacak, diketahui keberadaannya, dan siapa yang harus melanjutkan pengerjaan atas dokumen tersebut, dapat secara signifikan meningkatkan visibilitas dan pengendalian. Sebuah system pemrosesan order pembelian dan tagihan supplier yang ramah pengguna, dapat membantu bisnis untuk mengurangi ketidakpastian transaksional. Sehingga hal tersebut juga harus menjadi perhatian dari para CFO dan Manajer Keuangan untuk meningkatkan efisiensi dari proses bisnis yang sudah ada. Digitalisasi dalam pemrosesan Invoice dari supplier memungkinkan kita untuk mengetahui liabilitas secara real time, dan membuat kita bisa mengatur kapan untuk melunasinya, membuat bagian keuangan menjadi lebih leluasa untuk mengatur agenda pembayaran, bukannya untuk baru dipersiapkan dananya ketika terdapat penagihan dari supplier. Hal tersebut secara signifikan mengurangi ketidakpastian transaksional. Hal tersebut juga lebih memperdayakan karyawan keuangan, yang tidak hanya meng-entri data, tetapi juga dilibatkan ke fungsi review dan pengendalian.

Perubahan dalam proses keuangan merupakan suatu evolusi yang panjang, namun merupakan hal yang penting terutama bagi CFO yang berkeinginan untuk mengurangi ketidakpastian transaksional. Sekian sharing pengetahuan mengenai Digitalisasi Proses Order Pembelian dan Invoincing ini ya Sob, Semoga pengetahuan ini bermanfaat dan jangan lupa tetap semangat untuk mengembangkan diri ya Sob. Dan Keep Learning, Sharing, and Inspiring ! #DigitalisasiPOP&I

Deep Learning in Auditing

Halo!! Selamat Malam Sobat Gogo! Apa kabarnya ? Semoga semakin baik setiap harinya dengan Kultweet Gogo ya Sob. Beberapa minggu yang lalu, kita membahas mengenai Artificial Intelligence yang digembar-gemborkan dapat menggantikan peran Akuntan. Pada masih ingat kan Sob apa itu Artificial Intelligence ? dan seberapa besar sih dampak maupun manfaatnya bagi Akuntan ? Yang belum baca ataupun sudah pada lupa, silakan cek Timeline kita atau cek tagar #AKUNTANvsAI ya Sob 😀 Menyambung materi mengenai Artificial Intelligence, pada kesempatan ini kita akan membahas mengenai “Deep Learning di Dunia Auditing”.

Deep Learning merupakan Pendalaman dari Artificial Intelligence, yang bisa dilatih untuk mengenali pola dari volume data yang luar biasa banyak yang bisa dibilang tidak mungkin dapat diproses oleh manusia tanpa bantuan teknologi. Deep Learning memungkinkan kita untuk menganalisa “Big Data” untuk menyediakan bukti audit pendukung yang bisa meningkatkan efektivitas dan efisiensi dari automasi dalam dunia Auditing dan pengambilan keputusannya.

Dalam dunia bisnis sekarang ini, Pengembangan dari teknologi berbasis data (Seperti ERP System, cloud storage, dan berbagai teknologi lain), Menghasilkan jumlah data yang sangat besar, untuk memanfaatkan data tersebut, dibutuhkanlah Deep Learning. Beberapa Kantor Akuntan terkemuka sudah mulai menggunakan Deep Learning untuk melakukan tugas-tugas audit. KPMG menggunakan IBM-Watson’s Deep Learning system untuk menganalisa data kredit bank untuk portofolio kredit agunan aset. Deloitte pun sudah beraliansi dengan Kira Systems untuk mereview kontrak-kontrak, perjanjian leasing, invoices and bahkan tweets.

Memang benar, penggunaan Deep Learning dalam dunia profesi Akuntansi masih dalam tahap awal, untuk mempercepat dan memperluas Deep Learning penting untuk menciptakan skala ekonomi dengan mengintegrasikan kemampuan belajar dari Deep Learning ke wilayah analisas tekstual, Pengenalan suara, pemilahan gambar dan video, juga judgment support ke dalam proses Audit itu sendiri. Kedepannya, dipercayai bahwa Deep Learning akan diaplikasikan ke berbagai prosedur audit untuk membantu proses audit dan pembuatan keputusannya. Namun, pengaplikasian hal tersebut tidak juga bisa dibilang mudah, namun bukan mustahil. Ada beberapa pekerjaan yang dapat kita lakukan tanpa mengeluarkan usaha sama sekali, Sebagai contoh sederhana, otak manusia dapat dengan mudah membedakan antara kucing dan anjing juga kita dapat menganalisa tulisan dengan mudah, namun tidak dengan mesin, informasi tersebut harus diubah ke format yang dapat dibaca oleh mesin. Sehingga, dalam rangka untuk meningkatkan efektifitas prediksi, Deep Learning dilatih dengan jumlah data yang sangat besar agar Deep Learning dapat menemukan batasan-batasan yang bisa meminimalkan kesalahan dalam prediksi.

Proses belajar dari Deep Learning akan berulang hilang jutaan hingga miliaran kali hingga error dalam prediksinya diminimumkan. Semakin banyak contoh model yang digunakan, semakin tinggi akurasi yang dapat dihasilkan oleh Deep Learning, hal tersebut dapat digunakan misalnya untuk mendekteksi kesalahan penyajian dalam laporan keuangan dengan mudah dan sangat cepat. Efisiensi dari Deep Learning juga ditunjukan dengan fakta bahwa Deep Learning dapat mempelajari pola tanpa intervensi dari manusia dan membutuhkan lebih sedikit langkah langkah proses dibandingkan dengan pendekatan pembelajaran data tradisional lainnya. Lebih spesifik ke ranah auditing, Deep Learning dapat memberikan nilai tambah pada pekerjaan-pekerjaan rutin yang melibatkan jumlah data yang besar bagi Auditor untuk dianalisa. Deep Learing juga bisa mengurangi pekerjaan manual dengan mengotomasi berbagai prosedur substantive seperti Konfirmasi maupun Pengecekan. Lebih jauh lagi, kemampuan ini membuat membantu Auditor dapat menganalisa berbagai kontrak perusahaan yang sekarang ini terlalu memakan biaya dan terlalu kompleks dan menghabiskan banyak waktu dan energi Auditor.

Teknologi tersebut juga dapat membantu Auditor untuk menganalisa lebih banyak sample, bahkan hingga mendekati 100%. Seperti yang kita ketahui, dalam pengerjaannya, Auditing menggunakan Audit Sampling untuk menentukan jumlah sample yang dianggap dapat mewakili keseluruhan dari objek audit, namun dengan adanya Deep Learning, Auditor dapat mengecek keseluruhan dokumen dari perusahaan, sehingga dipercayai dapat meningkatkan kualitas dari Audit tersebut. Luar Biasa kan Sob ? Contoh lainnya yaitu pada Penghitungan Inventory, suatu proses yang memakan waktu panjang bagi Auditor untuk melakukan stock opname di tempat klien. Belum lagi, dengan jumlah persediaan yang sedemikian besar dan rumit, akan sangat memakan waktu dan tenaga untuk proses ini, Deep Learning juga diharapkan dapat membantu auditor dalam proses ini dengan memproses data melalui foto realtime, untuk mengkalkulasi jumlah, jenis baik dari bahan material maupun dari Produk dari klien, hal tersebut dianggap memungkinkan bagi Deep Learning di kemudian hari. Dengan banyak proses otomasi yang mempersingkat waktu dan tenaga, Auditor dapat lebih focus untuk mengingkatkan kualitas dengan menghabiskan waktu yang lebih banyak untuk menggunakan Professional Judgment mereka untuk melengkapi kerja dari Deep Learning.Sekian sharing pengetahuan mengenai Deep Learning dalam dunia Auditing ini ya Sob, Semoga pengetahuan ini bermanfaat dan jangan lupa tetap semangat untuk mengembangkan diri ya Sob. Dan Keep Learning, Sharing, and Inspiring ! #DeepLearninginAuditing

Skip to toolbar