Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah

  1. Pengertian Keuangan Negara dan Keuangan Daerah
    a. Keuangan Negara
    Menurut UU No 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, yang dimaksud dengan
    Keuangan Negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang,
    serta segalaa sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik
    negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut.
    b. Keuangan Daerah
    Menurut PP No 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah , yang
    dimaksud dengan Keuangan Daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka
    penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya
    segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut.
  2. Pengelolaan Keuangan Negara/Daerah
    Pengelolaan keuangan Negara/Daerah Pengelolaan Keuangan Negara/Daerah adalah
    keseluruhan kegiatan yang meliputi  perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan,
    pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan negara/daerah. Kegiatan yang dilakukan
    dalam pengelolaan keuangan negara/daerah, adalah sebagai  berikut:
  3. Perencanaan
  4. Pelaksanaan
  5. Penatausahaan
  6. Pertanggungjawaban
  7. Pengawasan
    Berdasarkan UU No. 25 Tahun 2004 tentang sistem perencanaan Pembangunan
    Nasional serta memperhatikan UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan UU
     No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Dokumen rencana pembangunan daerah yang
    harus dibuat adalah sebagai berikut:
  8. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD)
  9. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
  10. Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD).
  11. Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD)
  12. Rencana Kerja SKPD (Renja SKPD)
  13. Tujuan Pengelolaan Keuangaan Negara dan Daerah
    Tujuan Pengelolaan Keuangaan Negara, yakni ;
  14. Mempengaruhi pertumbuhan ekonomi
  15. Menjaga stabilitas ekonomi
  16. Merealokasi sumber-sumber ekonomi
  17. Mendorong Redistribusi Pendapatan
    Tujuan Utama Pengelolaan Keuangaan Daerah, adalah mempertajam esensi sistem
    penyelenggaraan pemerintahan Daerah dalam konteks pengelolaan keuangan daerah.
    Memperjelas distribusi kewenangan (distribution of authority) dan memperjelas derajat
    pertanggungjawaban (clarity of responsibility) pada level penyelenggaraan pemerintahan
    Daerah di bidang pengelolaan keuangan daerah.
  18. Asas-asas Pengelolaan Keuagan Negara dan Daerah
    a. Asas-asas Pengelolaan Keuagan Negara yang telah lama dikenal adalah :
  19. Tahunan
  20. Universalitas
  21. Kesatuan
  22. Spesialitas
    Demi Terwujudnya Good Governance dalam Penyelenggaraan Negara maka
    dilakukan perubahan menjadi, Asas-asas Baru (best practises) :
  23. Akuntabilitas berorientasi hasil
  24. Profesionalitas
  25. Proporsionalitas
  26. Keterbukaan dalam PKN
  27. Pemeriksaan keuangan oleh BP yg bebas & mandiri
    b. Asas-asas Pengelolaan Keuagan Daerah, yakni:
  28. Keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan,
    efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan
    memperhatikan asas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat.
  29. Pengelolaan keuangan daerah dilaksanakan dalam suatu sistem yang terintegrasi
    yang diwujudkan dalam APBD yang setiap tahun ditetapkan dengan peraturan
    daerah.
  30. Kekuasaan Atas Pengelolaan Keuangan Negara/Daerah
    Kekuasaan pengelolaan keuangan negara dipegang oleh Presiden selaku Kepala
    Pemerintahan dan sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan. Kekuasaan Keuangan
    Daerah dilaksanakan oleh kepala satuan kerja pengelola keuangan daerah selaku pejabat
    pengelola APBD dan kepala satuan kerja perangkat daerah selaku pejabat pengguna
    anggaran/barang daerah.
  31. Penyusunan dan Penetapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)/ Anggaran
    Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
    a. Penyusunan dan Penetapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
    Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), adalah rencana keuangan tahunan
    pemerintahan negara Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat. APBN berisi
    daftar sistematis dan terperinci yang memuat rencana penerimaan dan pengeluaran negara
    selama satu tahun anggaran (1 Januari – 31 Desember).
    Struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, meliputi:
  32. Belanja Negara, Belanja terdiri atas dua jenis;
    a. Belanja Pemerintah Pusat, adalah belanja yang digunakan untuk membiayai
    kegiatan  pembangunan Pemerintah Pusat, baik yang dilaksanakan di pusat maupun di
    daerah (dekonsentrasi dan tugas pembantuan). Belanja Pemerintah Pusat dapat
    dikelompokkan menjadi: Belanja Pegawai, Belanja Barang, Belanja Modal,
    Pembiayaan Bunga Utang, Subsidi BBM dan Subsidi Non-BBM, Belanja Hibah,
    Belanja Sosial (termasuk Penanggulangan Bencana), dan Belanja Lainnya.  
    b. Belanja Daerah, adalah belanja yang dibagi-bagi ke Pemerintah Daerah, untuk
    kemudian masuk dalam pendapatan APBD daerah yang bersangkutan. Belanja Daerah
    meliputi:
  • Dana Bagi Hasil
  • Dana Alokasi Umum
  • Dana Alokasi Khusus
  • Dana Otonomi Khusus
  1. Pembiayaan Pembiayaan meliputi:
    a. Pembiayaan Dalam Negeri, meliputi Pembiayaan Perbankan, Privatisasi, Surat
    Utang Negara, serta penyertaan modal negara.

b. Pembiayaan Luar Negeri, meliputi Penarikan Pinjaman Luar Negeri, terdiri
atas Pinjaman Program dan Pinjaman Proyek serta Pembayaran Cicilan Pokok Utang
Luar Negeri, yang terdiri atas Jatuh Tempo dan Moratorium.

Adapun terdapat Fungsi dari APBN itu sendiri yaitu:

  1. Fungsi otorisasi mengandung arti bahwa anggaran negara menjadi dasar untuk
    melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan.
  2. Fungsi perencanaan mengandung arti bahwa anggaran negara menjadi pedoman
     bagi manajemen dalam merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan.
  3. Fungsi pengawasan mengandung arti bahwa anggaran negara menjadi pedoman
    untuk menilai apakah kegiatan penyelenggaraan pemerintahan negara sesuai
    dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
  4. Fungsi alokasi mengandung arti bahwa anggaran negara harus diarahkan untuk
    mengurangi pengangguran dan pemborosan sumber daya, serta meningkatkan
    efisiensi dan efektifitas perekonomian.
  5. Fungsi distribusi mengandung arti bahwa kebijakan anggaran negara harus
    memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.
  6. Fungsi stabilitasasi mengandung arti bahwa anggaran pemerintah menjadi alat
    untuk memelihara dan mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian

Penyusunan APBN.
Pemerintah mengajukan Rancangan APBN dalam bentuk RUU tentang APBN kepada
DPR. Setelah melalui pembahasan, DPR menetapkan Undang-Undang tentang APBN
selambat-lambatnya 2 bulan sebelum tahun anggaran dilaksanakan.
Pelaksanaan APBN.
Pelaksanaan APBN diatur lebih lanjut menggunakan peraturan  presiden (alokasi
anggaran kantor pusat dan kantor daerah,pembayaran tunggakan, alokasi dana perimbangan,
alokasi subsidi) sebagai pedoman kementrian dan lembaga. Setelah APBN ditetapkan dengan
Undang-Undang, pelaksanaan APBN dituangkan lebih lanjut dengan Peraturan Presiden.
Berdasarkan perkembangan, di tengah-tengah berjalannya tahun anggaran, APBN dapat
mengalami revisi/perubahan. Untuk melakukan revisi APBN, Pemerintah harus mengajukan
RUU Perubahan APBN untuk mendapatkan persetujuan DPR. Perubahan APBN dilakukan
paling lambat akhir Maret, setelah pembahasan dengan Badan anggaran DPR. Dalam

keadaan darurat (misalnya terjadi bencana alam), Pemerintah dapat melakukan pengeluaran
yang belum tersedia anggarannya.
Pertanggung jawaban Pelaksanaan APBN.
Selambatnya 6 bulan setelah tahun anggaran berakhir, Presiden menyampaikan RUU
tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBN kepada DPR berupa Laporan Keuangan
yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan.
Prinsip penyusunan APBN.
Berdasarkan aspek pendapatan, prinsip penyusunan APBN ada tiga, yaitu:

  1. Intensifikasi penerimaan anggaran dalam jumlah dan kecepatan penyetoran.
  2. Intensifikasi penagihan dan pemungutan piutang negara.
  3. Penuntutan ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh negara dan penuntutan denda.
    Sementara berdasarkan aspek pengeluaran, prinsip penyusunan APBN adalah:
  4. Hemat, efesien, dan sesuai dengan kebutuhan.
  5. Terarah, terkendali, sesuai dengan rencana program atau kegiatan.
  6. Semaksimah mungkin menggunakan hasil produksi dalam negeri dengan
    memperhatikan kemampuan atau potensi nasional.
    Azas penyusunan APBN.
    APBN disusun dengan berdasarkan azas-azas:
  7. Kemandirian, yaitu meningkatkan sumber penerimaan dalam negeri.
  8. Penghematan atau peningkatan efesiensi dan produktivitas.
  9. Penajaman prioritas pembangunan
  10. Menitik beratkan pad azas-azas dan undang-undang Negara

b. Penyusunan dan Penetapan Anggaran pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
Anggaran pendapatan dan Belanja Daerah, selanjutnya disingkat APBD adalah rencana
keuangan tahunan pemerintah daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah
daerah dan DPRD, dan ditetapkan dengan peraturan daerah.
Stuktur APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri dari:

  1. Pendapatan Daerah , Pendapatan daerah terdiri dari:
    a. Pendapatan asli daerah (PAD)
    b. Dana Perimbangan
    c. Lain-lain pendapatan asli daerah yang sah
  2. Belanja Daerah , Belanja daerah diklasifikasikan dalam dua kelompok besar, yaitu:
    a. Belanja Langsug

b. Belanja Tidak Langsung

  1. Pembiayaan Daerah, Adapun sumber pembiayaan yaitu sebagai berikut.
    a. Sisa lebih perhitungan anggaran daerah.
    b. Penerimaan pinjaman daerah.
    c. Dana cadangan daerah.
    d. Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan.

Adapun terdapat Fungsi dari APBD itu sendiri yaitu:

  1. Fungsi otorisasi mengandung arti bahwa anggaran daerah menjadi dasar untuk
    melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan.  
  2. Fungsi perencanaan mengandung arti bahwa anggaran daerah menjadi pedoman bagi
    manajemen dalam merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan.
  3. Fungsi pengawasan mengandung arti bahwa anggaran daerah menjadi pedoman untuk
    menilai apakah kegiatan penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan
    ketentuan yang telah ditetapkan
  4. Fungsi alokasi mengandung arti bahwa anggaran daerah harus diarahkan untuk
    menciptakan lapangan kerja/ mengurangi pengangguran dan pemborosan sumber daya,
    serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas perekonomian.
  5. Fungsi distribusi mengandung arti bahwa kebijakan anggaran daerah harus
    memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.
  6. Fungsi stabilisasi mengandung arti bahwa anggaran pemerintah daerah menjadi alat
    untuk memelihara dan mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian
    daerah.
    Penyusunan APBD
    Berpedoman kepada RKPD dalam rangka mewujudkan pelayanan kepada masyarakat
    untuk tercapainya tujuan bernegara. APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah
    dalam masa 1 (satu) tahun anggaran terhitung mulai tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal
    31 Desember.
    Pelaksanaan APBD
    Pelaksanaan APBD diatur lebih lanjut menggunakan Perkada (Peraturan Keuangan
    Daerah) dengan menjabar melalui : (Anggaran pendapatan dan belanja daerah) APBD, cash,
     budget, standar harga.
  7. Pertanggung jawaban, Akuntansi dan Pelaporan Uang Negara/Daerah
    Bendahara Umum Negara/Daerah, menteri/pimpinan lembaga/gubernur/bupati/
    walikota/kepala kantor atau Satuan Kerja di pusat maupun di daerah bertanggung jawab atas
     pengelolaan uang yang menjadi tanggung jawabnya. Bendahara Umum Negara/Daerah,
    kementerian negara/lembaga/pemerintah daerah dan semua unit kerja yang berada di
    bawahnya, yang menguasai Uang Negara/Daerah, melakukan akuntansi atas pengelolaan
    Uang Negara/Daerah berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan. Pelaporan pengelolaan
    Uang Negara dalam rangka pertanggungjawaban Pemerintah Pusat dalam bentuk laporan
    keuangan pemerintah pusat dilakukan secara periodik dan  berjenjang. Pelaporan pengelolaan
    Uang Daerah dalam rangka pertanggungjawaban Pemerintah Daerah dalam bentuk laporan
    keuangan pemerintah daerah dilakukan secara periodik.
  8. Pengawasan Keuangan Negara/Daerah
    Pengendalian internal terhadap pengelolaan Uang Negara/Daerah dilakukan oleh
    menteri/pimpinan lembaga/gubernur/bupati/walikota/kepala kantor/satuan kerja. Pengawasan
    fungsional terhadap pengelolaan Uang Negara/Daerah dilakukan oleh aparat pengawasan
    fungsional pusat/daerah dan oleh Badan Pemeriksa Keuangan.

Sumber

  1. UU Nomor 17 Tahun 2003
  2. PP Nomor 58 Tahun 2005
  3. https://klc.kemenkeu.go.id/wp-content/uploads/2018/08/8.-Pengelolaan-
    Keuangan-Negara1.pdf
  4. Pasal 23 C Undang-Undang Dasar, Undang-Undang tentang Keuangan Negara

Siklus Akuntansi

Halo Sobat Gogo dimana pun kalian berada. Bagaimana nih kabarnya? Yang pastinya luar biasa dong ya!!! Di Senin malam yang indah ini, Gogo kembali hadir lagi dengan kultweet dari prodi Akuntansi Dasar. Yuk Sobat Gogo, jangan lupa terus simak, retweet, dan like ya ^~^

Malam ini, kita akan membahas tentang “Siklus Akuntansi” ya Sob. Beberapa diantara kita pasti sudah tidak asing lagi dengan kata “Siklus akuntansi”, atau bahkan ada juga nih yang mungkin pekerjaan setiap harinya selalu berhubungan dengan siklus akuntansi. Sebelumnya, Gogo punya accounting fun fact nih Sob untuk malam ini mengenai sejak kapan akuntansi dipelajari. Kita simak dulu ya Sob.

Accounting Fun Fact

Tahukah kamu?

Akunting berusia ribuan tahun, berasal dari peradaban kuno. Ada bukti system audit awal oleh orang Mesir kuno dan pembukuan doubl-entry di Amerika abad pertengahan.

Sumber. https://medium.com/kepoinjurusan/serba-serbi-akuntansi-6e8e9b014a8b

Tak perlu berlama lama lagi ya sobat sekarang Gogo mau mengajak teman – teman semua untuk membahas mengenai siklus akuntansi. Di dalam akuntansi terdapat siklus yang pencatatannya dimulai dari bukti transaksi sampai dengan membuat laporan keuangan. Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada siklus berikut ini

Berdasar gambar di atas dapat kita uraikan bahwa siklus akuntansi adalah sebagai berikut:

  1. Pencatatan Data ke dalam dokumen sumber / bukti transaksi.
  2. Penjurnalan, yaitu menganalisis dan mencatat transaksi dalam jurnal (buku harian)
  3. Melakukan posting ke Buku Besar yaitu memindahkan debet dan kredit dari jurnal ke akun Buku Besar.
  4. Penyusunan Neraca Saldo yaitu menyiapkan Neraca Saldo untuk mengecek keseimbangan Buku Besar.
  5. Membuat ayat jurnal penyesuaian dan memasukkan jumlahya pada Neraca Saldo.
  6. Membuat neraca lajur untuk mempermudah dalam pelaporan laporan keuangan
  7. Membuat laporan keuangan yang berisi: Laporan posisi keuangan (Neraca), Laporan Laba/Rugi, Laporan Perubahan Modal, Laporan Arus Kas, dan Catatan Atas Laporan Keuangan
  8. Membuat ayat-ayat penutup yaitu menjurnal dan memindahbukukan ayat-ayat penutup.
  9. Membuat neraca saldo setelah penutupan.
  10. Membuat Jurnal Pembalik
  11. Analisis Transaksi
  12. Transaksi yang mempengaruhi aktiva
  13. Pembelian aktiva / aset secara tunai

Contoh = suatu perusahaan produsen minuman membeli sebuah kendaraan seharga Rp 100.000.000,00 secara tunai

Analisis = transaksi tersebut akan mempengaruhi aktiva yaitu kas perusahaan berkurang sebesar Rp 100.000.000,00 dan kendaraan bertambah senilai Rp 100.000.000,00

  1. Pembelian aktiva / aset secara kredit

Contoh = suatu perusahaan jasa foto copy membeli mesin foto kopi seharga Rp 50.000.000,00 secara kredit.

Analisis = transaksi tersebut akan mempengaruhi aktiva yaitu peralatan bertambah senilai Rp 50.000.000,00 dan hutang bertambah senilai Rp 50.000.000,00.

  1. Penjualan aktiva / aset secara tunai

Contoh = suatu perusahaan minuman menjual kendaraan seharga Rp 80.000.000,00 secara tunai.

Analisis = transaksi tersebut akan mempengaruhi aktiva yaitu kas perusahaan bertambah sebesar Rp 80.000.000,00 dan kendaraan perusahaan berkurang senilai Rp 80.000.000,00

  1. Penjualan aktiva / aset secara kredit

Contoh = suatu perusahaan minuman menjual kendaraan seharga Rp 150.000.000,00 secara kredit

Analisis = transaksi tersebut akan mempengaruhi aktiva yaitu kendaraan berkurang senilai Rp 150.000.000,00 dan piutang perusahaan bertambah sebesar Rp. 150.000.000,00

  1. Transaksi yang mempengaruhi utang
  2. Pembelian aktiva / aset secara kredit

Contoh = suatu perusahaan membeli sebuah mesin secara kredit seharga Rp 200.000.000,00

Analisis = transaksi tersebut akan mempengaruhi utang yaitu utang perusahaan bertambah sebesar Rp 200.000.000,00 dan peralatan bertambah sebesar Rp 200.000.000,00.

  1. Pembayaran utang

Contoh = suatu perusahaan membayar utang sebesar Rp 50.000.000,00

Analisis = transaksi tersebut mempengaruhi utang yaitu Utang perusahaan berkurang sebesar Rp 50.000.000,00 dan kas berkurang sebesar Rp 50.000.000,00.

  1. Transaksi yang mempengaruhi modal
  2. Penambahan investasi pemilik

Contoh = Mr. X melakukan penyetoran sebesar Rp 50.000.000,00 ke kas perusahaan sebagai tambahan modal.

Analisis = transaksi tersebut akan mempengaruhi modal yaitu modal perusahaan bertambah sebesar Rp 50.000.000,00 dan kas perusahaan bertambah sebsesar Rp 50.000.000,00.

  1. Pengurangan investasi pemilik

Contoh = Mr. T melakukan penarikan uang perusahaan untuk keperluan pribadi sebesar Rp 25.000.000,-

Analisis = transaksi tersebut akan mempengaruhi modal yaitu modal perusahaan berkurang sebesar Rp 25.000.000,- dan prive bertambah sebesar Rp 25.000.000,-.

  1. Penjurnalan

Jurnal adalah catatan kronologis dari transaksi suatu entitas/kesatuan berdasarkan urutan terjadinya dengan menunjukkan rekening yang harus didebet dan dikredit. Manfaat Pemakaian jurnal adalah sebagai berikut:

  1. jurnal merupakan alat yang dapat menggambarkan pos-pos yang terpengaruh oleh suatu transaksi. Manfaatnya akan terasa bila suatu transaksi mengakibatkan adanya pendebetan dan pengkreditan.
  2. Jurnal merupakan alat pencatatan yang memberikan gambaran secara kronologis (menurut waktu yang terjadi), sehingga dapat memberi gambaran yang lengkap tentang seluruh transaksi perusahaan.
  3. Jurnal dapat dipecah-pecah menjadi jurnal khusus dan dikerjakan oleh beberapa orang secara bersamaan.
  4. Bila transaksi langsung dicatat ke buku besar dan terjadi kesalah dalam pencatatan akan sulit untuk ditemukan, misalnya lupa mendebet atau mengkredit suatu rekening, atau pendebetan dan pengkreditan ke rekening yang salah.

Keterangan kolom jurnal

  1. Tanggal, kapan terjadinya transaksi.
  2. Judul Akun dan Penjelasan setiap transaksi.
  3. Referensi pemindah bukuan.
  4. Kolom debit.
  5. Kolom kredit.

Contoh jurnal adalah sebagai berikut:

Proses mencatat transaksi ke dalam jurnal disebut menjurnal, Prosedur yang harus diikuti dalam menjurnal adalah sebagai berikut:

  1. Tahun ditulis pada baris pertama dan biasanya tidak ditulis berulang-ulang apabila tahun tidak berganti.
  2. Nama bulan ditulis untuk transaksi yang pertama terjadi dalam bulan yang bersangkutan.
  3. Tanggal untuk tiap transaksi dicatat pada kolom pertama pada bagian kolom yang kecil, untuk setiap transaksi perlu ditulis tanggalnya meskipun pada tanggal yang sama terjadi beberapa transaksi.
  4. Nama rekening yang didebet ditulis merapat kesebelah kiri dalam kolom dan jumlah pendebetan dimasukkan ke dalam sisi kiri/debet.
  5. Nama rekening yang dikredit ditulis pada baris berikutnya dalam kolom dan ditulis sedikit masuk kesebelah kanan bila dibandingkan dengan rekening yang di debet.
  6. Penjelasan atau keterangan ditulis pada baris keberikutnya dalam kolom keterangan dan nama rekening.
  7. POSTING

Posting atau Pemostingan adalah proses pemindahan ayat jurnal yang telah dibuat dalam jurnal ke buku besar, yaitu memindahkan jumlah dalam kolom debet jurnal ke sisi debet akun buku besar dan memindahkan jumlah dalam kolom kredit jurnal ke dalam kolom kredit akun buku besar. Urutan kegiatan memindahkan jurnal ke akun buku besar harus sejalan dengan urutan mendebit dan mengkredit dari jurnal, dan cara yang harus ditempuh adalah sebagai berikut:

  1. Tanggal dan jumlah yang dicatat dalam jurnal harus dicatat kembali dalam akun yang bersangkutan bila di debet jurnal juga harus dicatat disisi kredit akun buku besar, begitu juga sebaliknya.
  2. Apabila posting telah dilakukan maka nomor halaman jurnal harus dituliskan dalam kolom Ref (Folio) di akun.
  3. Selanjutnya menuliskan nomor akun yang telah diposting pada kolom nomor akun dalam jurnal, prosedur ini mempunyai dua tujuan yaitu :
  4. Jurnal sudah diposting.
  5. Untuk menunjukkan hubungan antara jurnal dan akun di buku besar.

Buku besar disusun sedemikian rupa sehingga jelas pengaruhnya terhadap aktiva, kewajiban, modal, pendapatan dan beban. Prinsip utama sistem ini adalah bahwa setiap transaksi selalu dicatat dengan mendebet dan mengkredit dua buah akun atau lebih dengan jumlah yang sama. Dengan demikian setiap transaksi akan berpengaruh paling sedikit terhadap dua akun yaitu satu didebet dan satu dikredit.

Contoh buku besar :

  1. NERACA SALDO.

Neraca saldo adalah daftar yang berisi saldo-saldo dari seluruh rekening yang ada dalam buku besar pada suatu saat tertentu. Tujuan membuat neraca saldo adalah:

  1. Untuk menguji kesamaan debet dan kredit didalam buku besar.
  2. Untuk mempermudah penyusunan laporan keuangan.

Neraca saldo dapat dibuat setiap saat setelah pencatatan suatu transaksi, akan tetapi untuk praktisnya neraca saldo biasanya dibuat pada akhir periode untuk tiap-tiap bulan.

Proses Pembuatan Neraca Saldo:

  1. Pertama-tama jumlahkan kolom debet dan kolom kredit semua rekening yang terdapat dibuku besar.
  2. Tulislah hasil penjumlhan tersebut di dalam kolom yang sesuai dalam rekening yang bersangkutan. Penulisan angka hasil penjumlahan ini dilakukan dengan pensil karena hanya bersifat sementara.
  3. Hitunglah saldo semua rekening yang terdapat dalam buku besar, yaitu dengan mencari selisih jumlah kolom debet dan jumlah kolom kredit, angka saldo ditulis pada sisi yang sejajar dengan jumlah disisi yang besar tersebut.

Dibawah ini contoh neraca saldo:

  1. PROSES PENYESUAIAN

Tujuan dari proses penyesuaian adalah :

  1. Agar setiap rekening-rekening rill, khususnya rekening aktiva dan rekening utang menunjukkan jumlah yang sebenarnya pada akhir periode.
  2. Agar setiap rekening nominal (rekening pendapatan dan rekening biaya) menunjukkan pendapatan dan biaya yang sebenarnya pada akhir periode.
  3. Pendapatan diterima dimuka, yaitu pendapatan yang sudah diterima, tetapi sebenarnya pendapatan untuk periode yang akan datang.
  4. Biaya dibayar dimuka, yaitu biaya-biaya yang sudah dibayar tetapi sebenarnya harus dibebankan pada periode yang akan datang.
  5. Kerugian piutang, yaitu taksiran kerugian yang timbul karena adanya piutang yang tidak bisa ditagih.
  6. Depresiasi, yaitu penyusutan aktiva tetap yang harus dibebankan pada suatu periode akuntansi.
  7. Biaya pemakaian perlengkapan, yaitu bagian dari harga beli perlengkapan yang telah terpakai selama periode akuntansi.
  8. Neraca Lajur

Penyusunan neraca lajur merupakan kelanjutan dari pembuatan kertas kerja untuk menentukan neraca saldo setelah disesuaikan. Data neraca saldo setelah disesuaikan selanjutnya dipisahkan menjadi dua golongan yaitu data yang dicantumkan dalam rugi laba dan data yang dicantum dalam neraca.

Proses Penyusunan Neraca Lajur:

  1. Masukkan saldo saldo rekening buku besar kekolom neraca saldo pada formulir neraca lajur
  2. Masukkan ayat ayat jurnal penyesuaian ke dalam kolom penyesuaian.
  3. Isi kolom kolom neraca saldo yang telah disesuaikan. (Setiap rekening yang tercantum dalam kolom kolom neraca saldo digabungkan dengan angka angka yang tercantum dalam kolom kolom neraca saldo setelah disesuaikan. Dan apabila dalam kolom penyesuaian tak ada angka yang disesuaikan maka angka yang ada dalam kolom neraca saldo langsung dipindahkan ke kolom neraca saldo yang telah disesuaikan tanpa perubahan.
  4. Pindahkan jumlah jumlah di dalam kolom kolom neraca saldo setelah disesuaikan ke dalam kolom kolom neraca saldo setelah disesuaikan ke dalam kolom kolom rugi laba atau kolom kolom neraca. Saldo pendapatan dan biaya dipindahkan ke dalam kolom rugi laba sedangkan saldo rekening aktiva, utang dan prive pindahkan ke dalam kolom kolom neraca.
  5. Jumlahkan kolom rugi laba dan kolom neraca dan masukkan angka rugi bersih atau laba bersih sebagai angka pengimbang dalam kedua pasang kolom.
  6. Laporan Keuangan

Seperti yang sudah dibahas di materi sebelumnya laporan keuangan terdiri dari

  1. Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
  2. Laporan Laba / Rugi
  3. Laporan Perubahan Modal
  4. Laporan Arus Kas
  5. Catatan Atas Laporan Keuangan
  6. Jurnal Penutup

Jurnal yang dibuat untuk memindahkan saldo-saldo akun sementara (akun-akun nominal dan akun privat) disebut dengan jurnal penutup. Tujuan pembuatan jurnal penutup adalah untuk menutup saldo yang terdapat dalam semua akun sementara dan agar saldo akun modal menunjukkan jumlah yang sesuai dengan keadaan pada akhir periode.

  1. Neraca Saldo Setelah Penutupan

Setelah selesai penutupan buku, perlu diadakan pengujian untuk memeriksa kebenaran dan keseimbangan jumlah debit dan kredit. Pengujian tersebut dilakukan dengan cara membuat neraca saldo setelah penutupan buku, yaitu suatu daftar yang berisi saldo-saldo akun buku besar setelah perusahaan melakukan penutupan buku.

  1. Jurnal Pembalik

Setelah laporan keuangan disusun dan jurnal penutup dicatat serta dibukukan, pada awal tahun buku berikutnya (sebelum mulai dengan pencatatan transaksi pada tahun buku yang baru) perusahaan kadang – kadang merasa perlu untuk melakukan penyesuaian kembali atas beberapa jurnal penyesuaian yang telah dibuatnya pada akhir tahun yang lalu. Jurnal yang dibuat untuk tujuan ini disebut jurnal penyesuaian kembali atau jurnal pembalik karena pendebetan dan pengkreditannya merupakan kebalikan dari jurnal penyesuaian yang telah dibuat sebelumnya.

Sumber:

Bringham dan Houston, 2006. Dasar – Dasar Manajemen Keuangan, Buku 2, Jakarta, Salemba Empat

Jusup Haryono, 2011, Dasar – Dasar Akuntansi Jilid 1, Yogyakarta, Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN

Kardinal, 2016, PENGANTAR AKUNTANSI (BAHAN AJAR), Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (Stie) Multi Data Palembang

MODUL PUSDIKMIN LEMDIKLAT POLRI, PENGANTAR AKUNTANSI NASKAH SATUAN PENDIDIKAN (NSP) DIKBANGSPES BRIGADIR/PNS GOL. II SIMAK BMN

Cost Behavior

Hallo! Hai! Selamat malam Sob, bagaimana Jum’at malam kalian? Pastinya harus semangat ya sob, gaboleh sedih2 ah sob. Daripada sedih, mending kita belajar yukyuk. Di malam yang bahagia ini, Gogo kembali hadir dengan membawakan materi yang ringan nan bermanfaat, dan kali ini Gogo akan diskusi bareng sama anak Akmen nih sob. Jadi, malam ini Gogo akan bahas tentang “Cost Behaviour”. Yaps, dari judulnya aja pasti sobat Gogo sudah punya bayangan nih tentang pembahasan malam ini, Hihi. Jadi, malam ini kita akan membahas tentang apa sih Cost Behaviour itu?.

Nah daripada penasaran, langsung aja yuk kita bahas tentang “Cost Behaviour”

Yuk Simak!!

  1. Definisi Cost Behaviour

Sebelum kita bahas tentang Cost Behaviour, sobat Gogo harus tau dulu nih mengenai apa sih yang dimaksud dengan Cost Behaviour? Terus apa saja sih yang ada di dalam Cost Behaviour itu? Nah, jadi gini sob, Cost Behaviour atau perilaku biaya itu adalah istilah umum untuk mendeskripsikan apakah biaya berubah seiring dengan perubahan keluaran. Biaya-biaya bereaksi pada perubahan keluaran dengan berbagai cara yang diklasifikasikan menjadi 3 aktivitas biaya  yaitu Biaya Tetap (Fixed Cost), Biaya Variabel (Variable Cost), dan Biaya Campuran (Mixed Cost). Jadi intinya sob, Cost Behaviour ini menjelaskan bagaimana bahwa berubah ketika jumlah output berubah.

  • Klasifikasi Cost Behaviour

Selanjutnya sob, Gogo akan membahas tentang klasifikasi cost behaviour nih sob. Dari penjelasan diatas, sobat Gogo pasti sudah tahu kan cost behaviour ini diklasifikasian menjadi 3 (tiga) yaitu Biaya Tetap (Fixed Cost), Biaya Variabel (Variable Cost), dan Biaya Campuran (Mixed Cost). Nah untuk lebih jelasnya simak pembahasan dibawah ini ya sob!

  1. Biaya tetap (fixed cost) adalah  Biaya yang jumlahnya tetap sama ketika keluaran berubah. lebih formalnya biaya tetap adalah biaya yang dalam jumlah keseluruhan tetap konstan dalam rentan yang relevan ketika tingkat keluaran aktivitas berubah. Contohnya sewa gedung, premi asuransi, pembayaran pinjaman, dll.
  2. Biaya variabel (variables cost) adalah biaya yg dalam jumlah keseluruhan bervariasi secara proporsional terhadap perubahan keluaran. Jadi, biaya variabel naik ketika output naik dan akan turun ketika output turun. Contohnya : biaya bahan langsung dan biaya tenaga kerja langsung.
  3. Biaya campuran (mixed cost) adalah biaya yang memiliki komponen tetap dan variabel atau biaya campuran adalah sejumlah biaya yang sampai jumlah tertentu adalah biaya tetap sedangkan selebihnya adalah biaya variabel. Contohnya : biaya pemeliharaan rutin kendaraan seperti ganti ban, ganti oli adalah biaya tetap sedangkan biaya yg terjadi karena musibah seperti tabrakan, penyok dst disebut biaya variabel.
  • Peranan model penggunaan sumber daya dalam memahami perilaku biaya.

Biaya-biaya jangka pendek kerap tidak cukup untuk menggambarkan seluruh biaya yang dibutuhkan untuk mendesain, memproduksi, memasarkan, mendistribusikan, dan mendukung suatu produk. Perilaku biaya jangka panjang dan jangka endek berhubungan dengan aktivitas dan sumber daya yang diperlukan untuk melakukannya. Kapasitas adalah kemampuan aktual atau potensial untuk melakukan sesuatu. Jadi dalam pembahasan mengenai kapasitas suatu aktivitas, hal yang dideskripsikan adalah jumlah aktivitas yang dapat dilakukan perusahaan. Banyaknya aktivitas yang diperlukan bergantung pada tingkat kinerja yang diminta. Biasanya, dapat diasumsikan bahwa kapasitas yang diperlukan berhubungan dengan tingkat di mana aktivitas dikerjakan secara efisien. Tingkat efisien kinerja aktivitas disebut kapasitas praktis (practical capacity). Hal ini terkadang terdapat kelebihan aktivitas.

  1. Sumber Daya Fleksibel

Sumber daya fleksibel dipasok saat digunakan dan dibutuhkan. Sumber daya ini diperoleh dari pihak luar dan tidak membutuhkan komitmen jangka panjag untuk membeli sejumlah seumber daya tertentu. Jadi, organisasi bebas membeli hanya sebatas jumlah yang dibutuhkan. Dengan demikian, jumlah sumber daya yang dipasok sama dengan jumlah yang diminta. Contohnya: bahan baku dan energy.

  • Sumber Daya Terikat

Sumber daya terikat adalah sumber daya yang dipasok sebelum penggunan ; mereka didapat dengan menggunakan kontrak eksplisit atau implisit unutk memperoleh sejumlah sumber daya tertentu, tanpa memandang apakah jumlah sumber daya yang tersedia digunakan secara penuh atau tidak. Sumber daya terikat dapat memiliki kapasitas yang tidak terpakai karena kapasitas yang tersedia lebih banyak daripada yang digunakan. Contohnya : banyak organisasi memperoleh berbagai kapasitas pelayanan multiperiode dengan membayar tunai dimuka atau membuat kontrak eksplisit yang memerlukan pembayaran tunai secara periodik. Contoh lainnya yaitu pembebanan tahunan yang  berhubungan dengan kategori multiperiode tidak bergantung pada penggunaan actual sumber daya. Pembebanan-pembebanan tersebut didefinisikan sebagai biaya tetap terikat (committed fixed cost) dan menyediakan kapasitas aktivitas jangka panjang.

  • Metode untuk memisahkan biaya campuran menjadi komponen tetap dan variabel

Metode yang digunakan untuk memisahkan biaya campuran menjadi komponen tetap dan variabel terdiri dari 3 metode yaitu :

  •     Metode titik tinggi-rendah (high-low method) adalah suatu metode untuk menentukan persamaaan suatu garis lurus dengan terlebih dahulu memilih dua titik (titik tertinggi dan terendah) yang akan digunakan untuk menghitung parameter perpotongan dan kemiringan. Titik tertinggi didefinisikan sebagai titik dengan tingkat output atau aktivitas tertinggi. Titik terendah didefinisikan sebagai titik dengan tingkat output atau aktivitas terendah. Kemudian kedua titik digunakan untuk menghitung titik potong dan kemiringan garis dari kedua titik tersebut. Metode ini bersifat obyektif dan sederhana. Akan tetapi, hubungan tersebut akan salah diperkirakan jika titik tertinggi dan terendah tidak mewakili hubungan biaya yang sebenarnya.
  •     Metode scatterplot menyangkut pemeriksaan grafik scatter (suatu plot yang menunjukkan jumlah biaya campuran pada berbagai tingkat aktivitas yang berbeda) dan pemilihan dua titik yang tampaknya terbaik untuk mewakili hubungan antara biaya dengan aktivitas. Karena kedua titik tersebut menentukan suatu garis, kedua titik yang terpilih tersebut dapat digunakan untuk menentukan titik potong dan kemiringan garis dari kedua titik tersebut. Titik potong tersebut memberikan perkiraan komponen biaya tetap dan kemiringan memberikan estimasi biaya variabel per unit aktivitas. Metode scatterplot adalah suatu cara yang baik untuk mengidentifikasikan nonlinearitas, outlier, dan pergeseran dalam hubungan biaya. Kelemahannya terletak pada subyektifitasnya.
  •     Metode kuadrat terkecil menggunakan semua titik data (kecuali outlier) pada grafik scatter dan menghasilkan suatu garis yang paling sesuai dengan semua titik. Garis yang paling sesuai adalah garis yang terdekat dengan semua titik yang diukur melalui penjumlahan kuadrat deviasi titik-titik tersebut dari garis. Metode ini menghasilkan garis yang paling sesuai dengan titik-titik data sehingga lebih direkomendasikan daripada metode titik tinngi-rendah dan scatterplot.

Contoh Kasus:

Sobat Gogo mengelola sebuah restoran padang yang bernama “GOGO”. Awalnya sobat Gogo hanya menyewa ruko di daerah Jakarta, dengan sewa Rp 120,000,000 per tahun, lalu sobat Gogo mempekerjakan 5 pegawai tetap dengan total gaji Rp 15,000,000 per bulan dan 2 pegawai tak tetap dengan upah Rp 3,000,000 per bulan. Pada bulan Desember ada sekitar 500 orang yang makan di resto GOGO. Keefektifan promosi dan pemasaran menunjukan bahwa jumlah pelanggan restoran mengalami pertumbuhan sekitar 15% (= 500×15% = 75 orang) setiap bulannya. Artinya apa? Artinya akan ada peningkatan “PENJUALAN” (revenue), tetapi peningkatan revenue saja, tidaklah cukup, yang dibutuhkan oleh perusahaan adalah peningkatan LABA. Apakah laba akan meningkat? Jawabannya: MUNGKIN. Karena,

LABA = REVENUE – BIAYA

Faktanya, peningkatan jumlah pelanggan sekitar 75 orang ini masih harus anda antisipasi dengan cara meningkatkan kapasitas yang memadai, minimal:

  1. Menambah jumlah produksi nasi
  2. Menambah jumlah produksi rendang
  3. Menambah jumlah produksi ayam bakar
  4. Menambah jumlah produksi perkedel

Penambahan jumlah produksi nasi, rendang, ayam bakar dan perkedel, tentu akan membuat “volume aktivitas” meningkat.

Nah, pertanyaannya utamanya: Bagaimana cost yang selama ini telah terjadi akan BERUBAH, sebagai respon atas perubahan volume aktivitas ini?

Lalu ada pertayaan-pertanyaan lainnya, diantaranya:

  • Biaya apa saja yang akan meningkat?
  • Berapa peningkatannya?
  • Biaya apa saja yang akan tetap?

“Perubahan cost” yang disandingkan dengan “perubahan penjualan (revenue)” akan menghasilkan perubahan “tingkat laba” (profitabilitas). Tanpa mengetahui perubahan biaya, pengelola usaha tidak akan tahu apakah perubahan aktivitas usaha “layak/tak layak” untuk dilakukan atau tidak. Jika layak, maka diteruskan. Jika tidak, mungkin perusahaan perlu mengubah strategi bisnis.

Nah cukup disini dulu sob pembahasan Gogo malam ini. Jangan lupa yaa untuk terus aktif belajar dan update pengetahuannya. Bulan depan kita akan bertemu lagi tentunya dengan bahasan yang berbeda dan tidak kalah menarik dengan hari ini. Gogo pamit yah sob.

Keep learning, sharing, and inspiring!

Sumber :

http://www.academia.edu/12102361/AKUNTANSI_MANAJEMEN_ACTIVITY_COST_BEHAVIOUR

http://verapipinw.blogspot.com/2013/12/managerial-accountinghansen.html

Akuntansi Dasar – Laporan Keuangan

 

 

Halo Sobat Gogo dimana pun kalian berada. Bagaimana nih kabarnya? Yang pastinya luar biasa dong ya!!! Di Senin malam yang indah ini, Gogo kembali hadir lagi dengan kultweet dari prodi Akuntansi Dasar. Yuk Sobat Gogo, jangan lupa terus​​ simak, retweet, dan like ya ^~^

Malam ini, kita akan membahas tentang “Laporan Keuangan” ya Sob. Beberapa diantara kita pasti sudah tidak asing lagi dengan kata “laporan keuangan”, atau bahkan ada juga nih yang mungkin pekerjaan setiap harinya selalu berhubungan dengan laporan keuangan.​​ Sebelumnya, Gogo punya accounting fun fact nih Sob untuk malam ini mengenai aplikasi untuk membuat laporan keuangan yang diluncurkan oleh Kemenkop UKM. Kita simak dulu ya Sob.

 

 

Accounting​​ Fun Fact

Tahukah kamu ?

Beberapa waktu yang lalu​​ atau​​ tepatnya pada Oktober 2017​​ telah diluncurkan aplikasi yang bernama “Lamikro” atau nama lain dari “Laporan Keuangan Mikro” oleh Kementerian ​​ Koperasi dan UKM. Lamikro ini merupakan aplikasi pembukuan akuntansi sederhana bagi usaha mikro yang dapat digunakan melalui smartphone dengan sistem operasi android. Latar belakang terciptanya aplikasi ini disebabkan karena selama ini pelaku usaha mikro belum memiliki tata kelola administrasi dan laporan keuangan yang baik. Dengan adanya aplikasi ini, UKM tersebut diharapkan dapat memiliki laporan keuangan yang akuntabel sehingga dapat menunjang pengembangan usahanya serta ​​ meningkatkan daya saing dan kapasitas UKM dalam negeri.​​ 

Sumber.​​ https://keuangan.kontan.co.id/news/lamikro-aplikasi-laporan-keuangan-buat-umkm

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

For your information nih Sob, penting loh bagi suatu entitas atau organisasi untuk membuat laporan keuangannya. Kira-kira kenapa ya Sob laporan keuangan itu menjadi penting ?? Ayo, kalian pada penasaran tidak nih Sob ? Sabar dulu ya Sob, karena habis ini kita mau membahas tentang pengertian dan bentuk laporan keuangan. Tanpa membuang-buang waktu lagi yuk kita mulai kultweet kita malam ini.

  • Pengertian dan Bentuk Laporan Keuangan​​ 

  • Pengertian Laporan Keuangan

Menurut Standar Akuntasi Keuangan (SAK), laporan keuangan adalah bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara seperti, misalnya: sebagai laporan arus kas atau laporan arus dana),​​ catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian intergral ​​ dari laporan keuangan termasuk skedul dan informasi tambahan, misalnya : informasi keuangan segmen industri dan geografis serta pengungkapan pengaruh perubahan harga (IAI:2009).

Menurut Soemarso (2002:34), laporan keuangan adalah laporan yang dirancang untuk pembuatan keputusan, terutama pihak di luar perusahaan, mengenai posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan.

Dari ​​ kedua pengertian diatas, maka bisa kita simpulkan nih Sob bahwa laporan keuangan merupakan laporan yang menggambarkan kondisi dan posisi keuangan serta kinerja dari suatu entitas dalam periode tertentu, yang salah satunya​​ manfaatnya​​ dapat digunakan dalam pengambilan keputusan.

Laporan keuangan yang lengkap biasanya terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan.

 

  • Tujuan Laporan Keuangan

Selanjutnya kita mau membahas tentang tujuan laporan keuangan ya Sob. Sekedar informasi saja nih, laporan keuangan ini awalnya digunakan sebagai alat uji terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh bagian akuntansi ​​ loh Sob, tetapi seiring berkembangnya waktu,​​ laporan keuangan juga menyediakan informasi mengenai posisi dan kinerja keuangan yang digunakan sebagai dasar penilaian kinerja suatu perusahaan serta menjadi referensi dalam suatu pengambilan keputusan yang akan diambil.​​ 

Yang pastinya nih Sob, laporan keuangan ini dibuat​​ untuk memenuhi kebutuhan akan informasi keuangan bagi pihak-pihak yang berkepentingan terhadap entitas tersebut, (misalnya saja informasi mengenai posisi keuangannya, kinerjanya, ataupun perubahan posisi keuangannya) serta menjadi salah satu wujud pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang telah dipercayakan kepada mereka.​​ 

Sebelum melanjutkan ke pembahasan selanjutnya, Gogo mau bertanya nih !!! kalian masih ingat tidak, kira-kira siapa saja pihak-pihak berkepentingan yang menjadi pengguna dari laporan keuangan ?? Ya, benar sekali Sob. Pihak-pihak yang berkepentingan itu adalah pihak internal yang meliputi, pemilik perusahaan, manager, ataupun karyawan serta pihak eksternal yang meliputi, investor, kreditur, pemasok dan kreditur usaha lainnya, pelanggan, pemerintah, serta masyarakat.

 

  • Bentuk Laporan Keuangan

Seperti yang sudah pernah kita bahas sebelumnya nih Sob, secara umum laporan keuangan ini terdiri dari beberapa komponen atau​​ beberapa laporan yang meliputi:

  • ​​ Laporan Laba Rugi (Income Statement)

Di dalam laporan ini terdapat ringkasan pendapatan dan beban untuk periode keuangan tertentu, serta laba atau rugi yang diperoleh suatu entitas.

 

  • Laporan Perubahan Modal (Statement of Changes in Equity)

Di dalam laporan ini terdapat informasi mengenai jumlah modal yang dimiliki oleh suatu entitas dalam periode keuangan tertentu, serta Sobat Gogo juga bisa melihat perubahan dan penyebab perubahan yang terjadi pada modal.

 

  • Laporan Posisi Keuangan atau Neraca (Statement of Financial Position)

Di dalam laporan ini terdapat informasi mengenai kondisi dan posisi keuangan (jumlah asset, liabilitas, dan ekuitas / modal) yang dimiliki oleh suatu entitas dalam periode keuangan tertentu.

 

  • Laporan Arus Kas (Statement of Cash Flows)

Laporan ini menunjukkan aliran kas masuk dan kas keluar yang berasal dari tiga aktivitas yaitu aktivitas operasi, aktivitas investasi, dan aktivitas pendanaan suatu entitas dalam periode keuangan tertentu.

  • Catatan atas Laporan Keuangan

Catatan yang berisi penjelasan dan informasi tambahan yang lebih rinci mengenai hal-hal yang tertera dalam laporan keuangan.

 

  • Standar Akuntansi di Indonesia.

Dalam pelaporan keuangan terdapat beberapa standar yang berlaku di Indonesia nih Sobat Gogo. Langsung saja ya Sob, kita akan membahas standar-standar tersebut.

  • SAK – IFRS (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan – International Financial Reporting Standards)

SAK – IFRS ini diterapkan untuk entitas dengan akuntabilitas publik, misalnya. Perusahaan yang sudah go public di BEI, BUMN, perbankan, dan asuransi. Penetapan IFRS sebagai akuntansi umum di Indonesia ini disebabkan karena Indonesia merupakan salah satu anggota IFAC yang mana para anggotanya menjadikan IFRS sebagai standar akuntansinya sehingga Indonesia yang juga menjadi salah satu anggotanya wajib untuk mematuhi kesepakatan antar anggota IFAC. Berikut komponen laporan keuangan berdasarkan SAK – IFRS, yaitu :

  • Laporan Laba Rugi Komprehensif

  • Laporan Perubahan Ekuitas

  • Laporan Posisi Keuangan

  • Laporan Arus Kas

  • Catatan atas Laporan Keuangan

 

  • SAK ETAP (Standar Akuntansi Keuangan – Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik)

SAK ETAP merupakan bentuk sederhana dari SAK IFRS yang bertujuan agar semua unit usaha dapat menyusun laporan keuangan sesuai dengan standar yang sudah dibuat. Standar ini diterapkan untuk entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik atau akuntabilitas publiknya tidak terlalu signifikan dan laporan keuangan tersebut disusun dengan tujuan umum bagi pihak pengguna eksternal. Pengguna SAK-ETAP ini adalah Perusahaan tertutup, BPR konvensional, CV, Firma, dan Koperasi. Berikut komponen laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP, yaitu:

  • Neraca

  • Laporan Laba Rugi​​ 

  • Laporan Perubahan Ekuitas

  • Laporan Arus Kas

  • Catatan atas Laporan Keuangan

 

  • SAK Syariah

SAK Syariah ini diterapkan bagi entitas yang bertransaksi dengan prinsip syariah, baik yang dilakukan oleh lembaga syariah ataupun non-syariah, misalnya. BPR Syariah, Bank Umum Syariah, Baznas, dan unit-unit syariah lainnya. Tujuan pembuatan standar akuntansi ini adalah untuk memudahkan penyelenggaraan berbagai lembaga yang berbasis syariah tersebut. Berikut komponen laporan keuangan berdasarkan SAK Syariah, yaitu :

  • Neraca

  • Laporan Laba Rugi​​ 

  • Laporan Perubahan Ekuitas

  • Laporan Arus Kas

  • Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat

  • Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan

  • Catatan atas Laporan Keuangan

 

  • SAK EMKM (Standar Akuntansi Keuangan – Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah)

SAK EMKM ini disusun guna memenuhi kebutuhan dalam pelaporan keuangan entitas mikro, kecil, dan menengah yang belum atau tidak mampu terhadap persyaratan akuntansi dalam SAK ETAP. SAK-EMKM ini memang ditujukan agar UMKM yang ada di Indonesia ini lebih mudah dalam membuat atau menyusun laporan keuangannya. Hal ini dilakukan pemerintah karena masih cukup banyak UMKM yang belum memiliki laporan keuangan yang memadai. Hal ini juga berakibat pada kurang berdaya saingnya UMKM yang ada di Indonesia ini loh Sob sehingga untuk memudahkan UMKM tersebut maka dibuatlah standar akuntansi yang lebih sederhana (SAK EMKM) lagi. Berikut komponen laporan keuangan berdasarkan SAK EMKM, yaitu :

  • Laporan Posisi Keuangan

  • Laporan Laba Rugi

  • Catatan atas Laporan Keuangan

 

  • SAP (Standar Akuntansi Pemerintahan)

SAP ini diterapkan bagi pemerintah dalam menyusun Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) dan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) yang bertujuan agar terjaminnya transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan negara. Berikut komponen laporan keuangan berdasarkan SAP, yaitu :

  • Laporan Realisasi Anggaran (LRA)

  • Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (LPSAL)

  • Neraca

  • Laporan Operasional

  • Laporan Arus Kas

  • Laporan Perubahan Ekuitas

  • Catatan atas Laporan Keuangan

Wah, tidak terasa ya Sob kita sudah ada di akhir pembahasan kita hari ini yang bertemakan tentang laporan keuangan. Cukup sekian dulu ya Sob. Tapi, jangan khawatir ya Sob, karena Gogo masih punya pembahasan yang menarik lainnya untuk Sobat Gogo semua. Sampai ketemu Sobat Gogo di kutweet selanjutnya. Keep Learning, Sharing, and Inspiring !!!!

Sumber:

 

Indonesia dan Era Industri 4.0 at Glance

Indonesia dan Era Industri 4.0 at Glance

Halo apa kabar sobat Gogo ? Gogo harap sobat semua sehat selalu ya. Setelah sebulan lamanya kita tidak bertemu melalui media sosial, hari ini Gogo akan menjelaskan kultweet tentang peran akuntan Indonesia di tengah berkembangnya era industri 4.0. Hmm seperti apa ya ? Yuk sama- sama kita cari tahu.

Istilah industri 4.0 pertama kali di perkenalkan di Jerman beberapa tahun yang lalu. Istilah ini mengacu kepada penggunaan internet untuk memberikan solusi terhadap sektor manufaktur agar dapat bekerja lebih efisien. Singkatnya industri 4.0 merupakan era dimana seluruh pekerjaan terhubung melalui sambungan koneksi internet. Pernyataan ini didukung oleh laporan yang disampaikan oleh KPMG pada tahun 2016 yang mengatakan masa depan industri ada pada sambungan internet yang dapat mengintegrasikan seluruh informasi.

Era industri 4.0 juga berdampak kepada Indonesia. Perkembangan industri di Indonesia direspon dengan pembenahan akan penguasaan terhadap informasi dan teknologi. Disisi lain gencarnya pembangunan infrastruktur guna membantu meningkatkan akses di setiap daerah dianggap mampu menurunkan cost. Hal ini juga diperkuat dengan data yang dikeluarkan World Economic Forum (WEF)’s Global Competitiveness Report 2017 yang mengatakan Indonesia berada di urutan 36 dari 100 negara. Tahun 2017 juga pertumbuhan start-up di Indonesia berada di urutan ke 4 sebanyak 1.705 start-up.

Paparan diatas menggambarkan kesiapan Indonesia dalam era Industri 4.0. Dengan maraknya pertumbuhan start-up serta perkembangan industri maka selain menumbuhkan daya saing, diperlukan juga struktur keuangan yang kuat untuk dapat going concern.

 

Lalu bagaimana peran akuntan dalam industri 4.0? Apakah akuntan dapat survive dalam era ini ?

Memasukki modernisasi industri diyakini akan berdampak kepada berbagai faktor pendukung. Setiap faktor tersebut dapat men-support perkembangan industri di Indonesia. Salah satu faktor pendukung adalah dari sisi keuangan. Meningkatnya jumlah start up di masing- masing sektor menjadi modal bagus bagi Indonesia untuk menyambut era industri baru. Artinya akan muncul investor potensial untuk menanamkan modal di Indonesia. Investor membutuhkan laporan keuangan yang informatif demi membuat keputusan. Peran akuntan sangat dibutuhkan demi menyiapkan laporan keuangan tersebut. Dibutuhkan kemampuan teknis, pengetahuan akan business process untuk dapat menyiapkan laporan keuangan tersebut.

Disisi perusahaan, kehadiran akuntan penting dalam membantu perkembangan perusahaan sob. Jika kita melihat berita akhir- akhir ini start up unicorn di Indonesia contohnya Go-Jek yang melakukan ekspansi ke Vietnam, atau Grab yang mengakuisi beberapa start up layaknya Kudo, atau perusahaan kompetitor semacam UBER. Artinya terjadi ekspansi perusahaan-perusahaan tersebut dalam melebarkan bisnisnya. Peran akuntan disini penting bagi perusahaan dalam membuat analisis terkait profitabilitas dan Return on Investment (ROI) bagi perusahaan. Selain itu analisa mengenai pricing serta cost control dianggap krusial bagi perusahaan terutama di era internet of things.

Meningkatnya internet ditandai dengan ingeritas data serta koneksi terkait database perusahaan menjadi semakin penting. Peningkatan konektivitis juga berdampak kepada perubahan model bisnis dan business process. Namun, disisi lain, adanya potensi terhadap risiko seperti misalnya ransomware. Akuntan perlu dapat memahami enterprise riskmanagement process terutama dalam menilai risiko yang muncul bagi perusahaan. Selain itu, akuntan perlu membantu perusahaan dalam meningkatkan value yang perusahaan tawarkan dengan era internet sehingga menjadi modal dalam berkompetisi.

Kemudian sob apa saja yang perlu dilakukan oleh akuntan untuk survive ya sob ?

Kehadiran industri 4.0 turut serta membawa internet of things (IoT), big data yang akan berdampak kepada akuntan baik secara langsung dan tidak langsung. Akuntan perlu mempelajari cara manajemen big data. Akuntan harus bisa memahami bahasa IT dan konsep IoT dalam membangun struktur keuangan, akuntansi dan sistem pelaporan keuangan. Hal ini dapat membantu akuntan dalam memberikan advice kepada perusahaan/ client.

Kemampuan menganalisis dan advice sangat dibutuhkan oleh seorang akuntan sob. Artinya, sobat calon akuntan tidak hanya dibutuhkan kemampuan teknis akuntansi, tapi juga perlu mempelajari kemampuan memberikan advice. Sobat perlu memahami business process setiap industri. Hal ini penting, apalagi dengan hadirnya otomatisasi dan artificial intelligence yang dapat mengubah industri dengan cepat.

Era industri 4.0 akan berfokus kepada kecepatan dan ketepatan. Diperlukan data keuangan yang informatif, proses yang efektif dan efisien dalam membantu membuat keputusan. Maka dapat kita katakan akuntan memiliki potensi untuk berkembang dalam era industri 4.0 ini. Komunitas Jago Akuntansi juga mendukung dalam mengawal era industri 4.0 melalui kultweet-kultweet yang informatif terkait akuntansi. Jadi jangan lewatkan kultweet kami melalui media sosial sobat ya. See ya.