Activity Based Management

Halo!! Selamat Malam Sobat Gogo yang kian hari kian hebat nan kece. Malam ini prodi akuntansi manajemen akan kembali hadir untuk membahas suatu tema. Dan kali ini kami akan membahas tentang suatu jurnal yang teman-teman bisa buka di link berikut http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.112.757&rep=rep1&type=pdf.

Sesuai dengan jurnal tersebut, kali ini kita akan bahas Activity Based Management. Dan judul jurnal yang sesuai dengan tema kita mala mini yaitu Activity-based management in a small company: a case study.

Studi kasus kali ini yaitu suatu perusahaan asal Inggris yaitu GE Mustil(GEM). Sebuah perusahaan manufaktur yang memproduksi empat jenis mesin yaitu sander, splitter, shaper dan foiler. Keempatnya diproduksi sendiri sebanyak 22% dan sisanya didapat dari supplier. Berkaitan dengan biaya, omset pertahun dari GEM yaitu 0.5 milllion.

GEM memberikan data total keseluruhan biaya, sebagai berikut:

Setelah mendapat total cost yang dibutuhkan dibuatlah diagram presentasi, seperti berikut:

Dari data tersebut, kemudian manajemen membagi kedalam dua aktivitas yaitu nilai tambah aktivitas dan non tambah nilai aktivitas, yang telah dibuatkan diagramnya sebagai berikut:

Penjabaran aktivitas non tambah nilai aktivitas tersebut, disajikan kembali dalam bentuk diagram untuk memudahkan dalam membaca dan mengidentifikasinya. Berikut diagramnya:

Dari kegiatan non tambah nilai aktivitas, manajemen harus mengidentifikasi dan mengeliminasi biaya-biaya yang sekiranya tidak menurunkan atribut produk, kualitas produk, dan kinerja. Sebagai contoh yaitu untuk menghilangkan biaya inspeksi digantikan dengan asuransi dan proses kontrol secara dinamis sehingga kualitas dapat dipertahankan. Begitu pula dengan penanganan material dan aktivitas terkait persediaan dapat dihilangkan dengan menggunakan metodologi dan teknik yang berbeda. Hal ini bukan tanpa alasan, mengingat tujuan daripada ABM untuk menekan biaya untuk meningkatkan laba. Sehingga tujuan daripada ABM dapat tercapai.

Kinerja GEM harus diukur pada tingkat aktivitas, dan ukuran kinerja mencangkup keduanya yaitu pengukuran keuangan dan non keuangan. Sedangkan kendali atau satuan biaya harus sesuai dengan tingkat kinerja masing-masing aktivitas. Contohnya kegiatan perakitan  yang memiliki satuan yaitu jam kerja.

Pada intinya jurnal ini membahas tentang penerapan ABM pada suatu perusahaan di Inggris. GEM harus menggunakan analisis berdasarkan aktivitas (ABM). Tujuannya adalah untuk membedakan nilai tamban dan non tambah aktivitas. Untuk kemudian di eliminasi guna menekan biaya agar sesuai dengan tujuan awal ABM yaitu meningkatkan laba.

Ok sob, sekian dulu materi dari prodi akmen hari ini.Sampai bertemu minggu depan di Kultweet selanjutnya. Keep learning, Sharing, Inspiring !

Article Event of Semarak 8 UNJ

Article Event of Semarak 8 UNJ

Urgensi Akuntansi Lingkungan

Dengan tema “Akuntansi Lingkungan, Langkah tersembunyi Hijaukan Negeri”,  Semarak ke delapan kembali hadir dengan mengangkat materi serta isu-isu yang berkaitan dengan akuntansi lingkungan. Acara yang berlangsung pada tanggal 11 Oktober 2017 ini merupakan rangkaian acara dari Gebyar Akuntansi yang dipersembahkan oleh BEM Program Studi Akuntansi Universitas Negeri Jakarta dan ditujukan kepada para Mahasiswa Fakultas Ekonomi UNJ dan se-Indonesia khususnya jurusan akuntansi.

Dengan tema yang urgen ini, seminar diisi oleh pembicara yang ahli dibidangnya, materi pertama membahas tentang sustainability reporting yang disampaikan oleh Ibu Ersa Tri Wahyuni S.E., M.Acc., Ph.D., Ak., CA., CPMA., CPSAK mewakili anggota Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntansi Indonesia(DSAK IAI). Beliau menjelaskan bahwa sadar atau tidak sadar perusahaan memberikan dampak pada lingkungan. Maka akuntansi lingkungan merupakan respon perusahaan terhadap lingkungan yang tercermin dalam sustainability report yang biasanya dilaporkan terpisah dari laporan keuangan perusahaan. Namun, Laporan sustainability tidak memiliki PSAK khusus, karena PSAK sekarang ini sudah cukup baik dalam mengakuntansikan biaya-biaya atau cadangan-cadangan yang dimiliki perusahaan ke dalam laporan keuangan. Dengan begitu, dalam membebankan biaya lingkungan, perusahaan dapat menggunakan PSAK 57.

PSAK 57 tentang Provisi, Liabilitas Kontijensi dan Aset Kontijensi. Beliau menjelaskan, berdasarkan PSAK 57, Provisi merupakan Liabilitas yang jumlahnya dan waktu yang belum pasti, namun harus tetap diakui. Provisi diakui sebagai liabilitas karena provisi tersebut merupakan kewajiban masa kini dan kemungkinan besar mengakibatkan arus keluar sumber daya yang mengandung manfaat ekonomik untuk menyelesaikan kewajiban tersebut. Provisi diakui jika memiliki kewajiban kini (baik bersifat hukum maupun konstruktif)sebagai akibat peristiwa masa lalu. Sementara liabilitas kontijensi merupakan kewajiban potensial karena belum pasti apakah entitas memiliki kewajiban kini yang akan menimbulkan arus keluar sumber daya yang mengandung manfaat ekonomik. Liabilitas kontijensi dapat berubah menjadi provisi, oleh karena itu perlu dikaji ulang tingkat kemungkinannya arus keluar sumber daya yang mengandung manfaat ekonomik. Tidak lupa di sela-sela materi yang serius tersebut, bu Ersa juga memberikan sebuah kuis agar peserta lebih memahami konsep dari provisi dan liabilitas kontijensi tersebut dari sebuah kasus.

(Pembicara 2 dan 3 bersama moderator di segmen kedua)

Kemudian sesi selanjutnya diisi oleh pemateri Pak Dr.rer.nat. M. Fani Cahyandito sebagai Konsultan CSR dan Praktisi Akuntansi Lingkungan.Beliau menyatakan bahwa kita sangat menggantungkan eksistensi hidup kita kepada lingkungan, namun banyak juga dampak yg kita berikan. Lalu beliau memaparkan bahwa sejak tahun 2013, tujuan dan visi misi perusahaan bukan lagi untuk mencari profit, tapi lebih kepada keseimbanganlingkungan dan sosial. Paradigma yang menganjurkan green accounting, bahwa fokus akuntansi tidak hanya transaksi lingkungan, tetapi juga transaksi-transaksi dan peristiwa lingkungan. Beliau juga memperkenalkan Badan yang mempelajari akuntansi hijau yang disebut EMAN (The Environmental Management Accounting Network). Selain itu, di tahun 2019 nanti, lembaga jasa keuangan mewajibkan emiten dan perusahaan publik membuat laporan keberlanjutan. Dengan begitu yang di laporkan tidak lain adalah melaporkan akuntansi lingkungan.

Masih dalam sesi yang sama juga diisi dengan pemateri ke tiga yaitu kak Fadly Alwahdy, SE seorang praktisi Akuntansi Lingkungan dari salah satu BUMN ternama yang pernah menjabat sebagai Ketua Tim Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) BUMN, beliau juga merupakan founder Komunitas @Jagoakuntasi Indonesia(KJAI). Dalam pemaparannya beliau langsung memfokuskan pada PKBL. Dijelaskan bahwa laporan keuangan perusahan berbeda dengan laporan keuangan CSRnya(Corporate Social Responsibility) atau PKBL. PKBL sudah diatur dalam Peraturan Menteri Bumn Nomor 2 tahun 2017, yg merevisi peraturan sebelumnya Nomor 9 tahun 2015 dan Nomor 3 tahun2016. Program Kemitraan adalah dimana perusahaan memberikan bantuan modal kepada usaha kecil agar lebih tangguh dan mandiri. Sedangkan Bina Lingkungan lebih kepada pemberdayaan masyarakat sekitar perusahaan. Berbeda dengan sebelumnya, beliau menyebutkan bahwa sekarang SAK ETAP digunakan sebagai acuan pelaporan CSR. Maka, dengan begitu perlu memperlakukan pengorbanan sumber daya ekonomis yang belum jelas manfaat ekonomiknya di masa yang akan datang sebagai beban periodik. Saat ini, di BUMN untuk PKBL di alokasikan maksimal 4% dari laba bersih setelah pajak.

(Fadly Alwahdy, SE sebagai pemateri ketiga)

Beliau pun juga mengkritisi akan fokus utama akuntansi saat ini hanya pada item – item yang dapat dikontrol oleh perusahaan. Sedangkan pengorbanan untuk tanggung jawab sosial lingkungan tidak bisa dikontrol. Tidak ketinggalan, beliau memaparkan juga UU No 40 tahun 2007 pasal 74, bahwa tidak hanya PT yang bergerak di bidang usaha mengelola sumber daya alam saja yang wajib membuat laporan CSR. Lalu diperjelas pada pasal 66 sebelumnya disebutkan bahwa semua usaha harus melakukan laporan tahunan CSR dalam laporan tahunan direksi kepada RUPS. Dan saat ini BUMN wajib melaksanakan PKBL-nya.

Atas pemaparan materi dari ketiga pembicara tersebut, dilihat dari segmen pertama hingga akhir, peserta yang datang cukup antusias dalam memberikan respon atas seminar ini. Hal ini terlihat dari antusias menjawab kuis dari pembicara satu sampai keingintahuan peserta dalam bertanya akan akuntansi lingkungan tersebut.  Dan acara ini ditutup dengan pembagian hadiah kepada para penanya, lalu diakhiri dengan do’a penutup.

 

Review oleh : Puspita Jasmine dan Risa Shamara

Foto oleh : Humas BEM Prodi Akuntansi UNJ

 

 

 

 

 

PRESS RELEASE SEMINAR AKUNTANSI (SEMARAK)

PRESS RELEASE SEMINAR AKUNTANSI (SEMARAK)

PRESS RELEASE

SEMINAR AKUNTANSI (SEMARAK)

DEPARTEMEN EDUKASI

BEM PRODI AKUNTANSI FE UNJ 2017

 

Pada hari Rabu, 11 Oktober 2017 telah dilaksanakan Seminar Akuntansi dengan tema “Akuntansi Lingkungan, Langkah Tersembunyi Hijaukan Negeri” di Gedung Ki Hajar Dewantara Lantai 9. Registrasi dibuka pukul 12.30 WIB. Acara dimulai dengan pembukaan oleh MC yaitu Justin Sukirya dan Yeni Amelia pada pukul 13.20 WIB. Dilanjutkan dengan tilawah oleh Viandra Kurniawan dan saritilawah oleh Irlinda Tanama pada pukul 13.22 WIB. Lalu pada pukul 13.25 WIB sambutan dari Fauzi Akbar sebagai ketua Gebyar Akuntansi 8th dan sambutan dari Ahmad Maulana Farizi sebagai ketua BEM Prodi Akuntansi. Kemudian sambutan dosen yang disampaikan oleh Ibu Dr. I Gusti Ketut Agung Ulupui, S.E., M.Si., Ak., CA sebagai Koordinator Prodi S1 Akuntansi.

Pada pukul 13.36 WIB pembacaan CV moderator pertama yaitu Ibu Marsellisa Nindito, S.E., M. Sc., Ak., CA oleh MC. Lalu pada pukul 13.43 WIB perkenalan pembicara pertama yaitu Ibu Ersa Tri Wahyuni, Ph. D dan dilanjutkan dengan penyampaian materi. Pada pukul 14.23 WIB dibuka sesi tanya jawab lalu kesimpulan oleh moderator. Pada pukul 14.39 WIB pemberian bingkisan kepada pembicara dan sesi foto bersama pembicara dan beberapa perwakilan dosen, dilanjutkan dengan pemberian doorprize kepada peserta yang bertanya saat sesi tanya jawab.

Pada pukul 14.45 WIB dilakukan pembacaan CV moderator kedua yaitu Bapak Unggul Purwohedi, M. Akt., Ph. D oleh MC. Pada pukul 14.50 WIB dilanjutkan pembacaan CV pembicara kedua yaitu Bapak Dr. rer. nat. M. Fany Cahyandito dan Fadly Alwahdy, S.E. dilanjutkan dengan sesi kedua yaitu talkshow dan pada pukul 15.28 WIB dibuka sesi tanya jawab, lalu penyampaian kesimpulan oleh moderator. Pada pukul 16.10 WIB dilakukan pemberian bingkisan serta sesi foto bersama. Lalu pada pukul 16.17 WIB pembagian doorprize kepada peserta yang bertanya pada sesi tanya jawab. Lalu pada pukul 16.20 WIB pembacaan doa penutup oleh Suryo Adiwibiwo dan acara di akhiri dengan penutupan oleh MC.

 

 

 

 

KJA: Ladang Amal yang Lukratif

Hai sobat gogo, berjumpa lagi dengan prodi akuntansi keuangan nih… Hari ini gogo akan membahas tentang KJA. Apa sih itu KJA?

KJA adalah badan usaha berupa Kantor Jasa Akuntansi yang didirikan oleh seorang akuntan bersertifikat CA yang telah mendapat izin dari Pusat Pembinaan Profesi Keuangan (P2PK) seperti diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.  25/PMK.01/2014 tentang  Akuntan Beregister  Negara. KJA memberikan seluruh jasa terkait akuntansi dan keuangan non-assurance, karena jasa assurance (audit) hanya boleh diberikan oleh KAP.

Macam jasa yang diberikan KJA:

  • Jasa pembukuan;
  • Jasa kompilasi laporan keuangan;
  • Jasa manajemen;
  • Jasa akuntansi manajemen;
  • Jasa konsultasi manajemen;
  • Jasa perpajakan;
  • Jasa prosedur yang disepakati  atas informasi keuangan; dan

Jasa sistem teknologi informasi.

Januari 2017 : IAI membentuk Kompartemen Akuntan Kantor Jasa Akuntansi (IAI  KA-KJA) yang bertugas  untuk meningkatkan profesionalisme akuntan yang memiliki izin pendirian  KJA dalam menjalankan kegiatan profesional  dan fungsi ilmiahnya.

IAI menyusun  Standar Profesional Jasa Akuntansi, Sistem Pengendalian Mutu KJA, serta menyosialisasikan  Kode Etik IAI baru yang akan memastikan perlindungan publik pengguna jasa KJA.

IAI membentuk Dewan Standar Profesi Jasa Akuntansi (DSPJA) yang bertugas  mengadopsi standar  yang dikeluarkan  IFAC terkait  KJA

Juli 2017 : IAI menerbitkan Direktori  KJA untuk  membantu  penetrasi  dan  sosialisasi KJA di tengah-tengah masyarakat  dan stakeholders

Demikian penjelasan tentang KJA hari ini sob,

Keep Learning, Sharing, Inspiring!

Kabar Munas V

Kabar Munas V

Komunitas @JagoAkuntansi Indonesia kembali menggelar acara akbar Musyawarah Nasional (Munas) yang ke-5. Acara yang mengusung tema “Upgrade Professional Accounting Ability to Support Sustainable Development Goals in 2030” dilaksanakan di Hotel Sahid, Bandar Lampung. Munas tahun ini cukup berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena merupakan pertama kalinya dilaksanakan di luar Pulau Jawa. Acara yang dilaksanakan dari tanggal 7-10 September 2017 dihadiri oleh para mahasiswa dan para akuntan muda baik dari internal KJAI maupun peserta umum dari berbagai daerah, diantaranya Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jabodetabek, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Sulawesi Selatan, dan Bali.

Para peserta sangat antusias untuk mengikuti Munas 5 KJAI tahun ini. Terlihat oleh banyaknya peserta yang turut hadir dalam mengikuti acara tahunan yang telah dipersiapkan oleh jajaran panitia dari Chapter Lampung. Acara diawali dengan Welcoming Party dengan sambutan yang dilakukan oleh Robert Trisnayandi selaku Ketua Pelaksana, Dewi Yulyana Hendryani selaku Koordinator Chapter, dan Ni Putu Maitri Nara Suari selaku Ketua Umum KJAI periode 2016/2017. Welcoming Party merupakan acara pembukaan Munas yang selalu menjadi agenda rutin dalam Munas setiap tahunnya. Acara ini dibuka dengan ditandai pemukulan gong yang dilakukan oleh Ketua Umum KJAI Periode 2016/2017. Selain itu, pemukulan gong merupakan sebagai simbolis bahwa Munas 5 KJAI resmi dibuka.

Acara dilanjutkan dengan seminar tentang SAK EMKM. Ibu Ersa Tri Wahyuni, SE., M.Acc., PhD., CA., CPA., CPSAK selaku Anggota DSAK IAI dan juga sebagai pemateri seminar tentang SAK EMKM menjelaskan tentang perbandingan antara SAK ETAP dan SAK EMKM. Beliau juga menjelaskan bahwa SAK EMKM dikeluarkan pada tanggal 26 Oktober 2014 dan akan diberlakukan pada tangaal 1 Januari 2018. Kriteria dari pengguna SAK EMKM itu sendiri harus memenuhi kriteria UMKM sesuai dengan UU No. 20/2008 tentang UMKM. Kriteria UMKM sesuai UU No. 20/2008 yaitu;

  1. Bukan anak perusahaan/cabang perusahaan yang dimiliki/dikuasai/menjadi bagian, secara langsung atau tidak langusng (pasal 1).
  2. Rentang kuantitatif tertentu: kekayaan bersih (tidak termasuk tanah dan bangunan) atau hasil penjualana tahunan (pasal 6).
  3. Tidak memiliki atau menguasai UMKM mitra usahanya (pasal 35).

Pada acara tersebut, para peserta sangat bersemangat dalam mengikuti kegiatan dan mereka tidak membuang kesempatan untuk bertanya dan mengupas tuntas tentang SAK EMKM. Selain itu, bagi penanya terbaikpun mendapatkan hadiah berupa buku SAK EMKM yang telah disiapkan oleh Ibu Ersa.

Setelah acara Seminar SAK EMKM selesai, Para peserta diberikan waktu untuk beristirahat dan berkumpul kembali pada pukul 19.00 di Aula Hotel Sahid untuk mengikuti acara Focus Group Discussion (FGD) yang dilakukan oleh panitia regenerasi guna melakukan pengkaderan untuk pengurus periode 2017/2018. Pada acara ini, para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dan kemudian  diberikan beberapa kasus dan tema yang berbeda pada setiap kelompoknya, lalu masing-masing kelompok diberi waktu untuk berdiskusi dengan kelompok masing-masing.  Pada acara ini semua peserta di FGD diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya masing-masing.  Jadi, setiap kelompok harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar semua anggota dapat mengutarakan pendapatnya. Acara FGD pun berlangsung dari pukul 19.00 s.d 22.00. Setelah acara FGD selesai, para peserta memasukin kamar masing-masing yang sudah disediakan oleh pantia dan beristirahat karena keesokan harinya masih ada agenda lain dalam Munas 5 KJAI.

Pada hari kedua, acara diawali dengan Seminar Akuntansi Desa oleh Bapak Dr. Nurdiono, SE., MM., Akt., CPA., CSRS selaku Ketua Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Lampung dan juga sekaligus sebagai pemateri dalam Seminar Akuntansi Desa. Pemateri menjelaskan bahwa desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut nama lain adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Penjelasan terkait desa juga berlanjut hingga road map pengalokasian dana desa yang saat ini mencapai Rp 1 Miliar tiap desa di tahun 2017. Pemateri mengajak mahasiswa(i) dan akuntan muda untuk mengawasi penggunaan dana desa, bahkan terjun langsung ke masing-masing desa untuk membantu pembangunan desa.

Setelah itu acara dilanjutkan dengan talkshow profesi tentang “Peran Akuntan Pendidik dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030” dengan pembicara yaitu Prof. Dr. Lindrianasari selaku dosen Universitas Lampung yang telah banyak membagikan tips dan juga trik untuk dapat terus melakukan penelitian. Beliau berkata “Jangan pesimis menjadi seorang akuntan, jika kalian merasa tersesat, maka kalian tersesat dijalan yang benar.” Kalimat tersebut mampu menjadi motivasi bagi para peserta.  Selain Ibu Lindrianasari, talkshow  “Peran Profesi Akuntan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030” di isi oleh Ibu Elly Zarni Husin (Direktur Eksekutif IAI) dan Bapak Denny Poerhardianto (Head of ICAEW Indonesia) yang mampu memberikan suntikan semangat bagi para akuntan muda dan calon akuntan sehingga kecintaan terhadap profesi akuntan dapat tumbuh. Peserta memberikan respon yang sangat positif dengan mengajukan berbagai pertanyaan. Di sela-sela sesi tanya jawab, Ibu Elly mengeluarkan pernyataan menarik yakni “Akuntan telah menyelamatkan lebih banyak nyawa dibanding dokter”. Talkshow yang dilaksanakan semakin asik dengan dimoderatori oleh Akmal Adrianza yang merupakan Wakil Ketua Bidang Akademik KJAI periode 2016/2017

 

 

 

Selepas acara sharing profesi, acara dilanjutkan dengan ujian beasiswa CA. Acara ini tentu menjadi suatu kehormatan bagi KJAI karena dipercaya oleh IAI dan ICAEW untuk bekerjasama mengadakan ujian beasiswa CA. Ujian ini diikuti oleh peserta yang sudah lebih dulu mendaftarkan diri dengan mengisi formulir yang telah disiapkan oleh panitia MUNAS. Sebagian peserta MUNAS V mengikuti ujian beasiswa CA dengan tertib dan semuanya memenuhi persyaratan yang sudah ditetapkan.

Pada malam hari acara diisi oleh Alvin Adrian, Furi Windari, dan   Aprilia Shinta, mahasiswa MBA Finance di University of Maryland USA yang disampaikannya melalui voice call. Acara ini dipandu oleh Maitri Nara Suari, Ketua Umum KJAI periode 2016/2017, untuk melakukan sharing tentang pendidikan dan juga pekerjaan dari masing-masing pembicara. Alvin Adrian merupakan mahasiswa dengan segudang prestasi dan juga Furi Windari, gadis muda yang telah menyelesaikan pendidikan S2 nya dan merupakan auditor sekaligus dosen di Sumatera Utara.

Pada hari ketiga, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan Grand Design, pemilihan Ketua Umum KJAI, Wisuda Angkatan 3, dan Pelantikan Pengurus Periode 2017/2018. Pada hari ke tiga, sudah tidak ada lagi acara Seminar dan Sharing terkait dunia akuntansi seperti hari-hari sebelumnya, melainkan acara ini diisi dan diikuti khusus internal KJAI itu sendiri. Acara Grand Design dipimpin oleh Kak Fadly Alwahdy selaku Founder KJAI. Kak Fadly juga menjelaskan bagaimana sejarah KJAI bisa berdiri hingga saat ini. KJAI lahir dari sebuah akun twitter yang bernama @JagoAkuntansi pada tanggal 26 Desember 2012. Dari situlah asal-muasal sejarah KJAI berdiri. Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan hingga KJAI kini telah menjadi komunitas akuntan muda terbesar di Indonesia. Jika dilihat dari jumlah KJAI, dari total angkatan satu yang berjumlah 30 mahasiswa dan praktisi muda, hingga kini telah merekrut lebih dari 1000 anggota yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Prestasi yang sangat baik karena dalam lima tahun terakhir.

Setelah memaparkan bagaimana sejarah KJAI bisa berdiri, Kak Fadly menjelaskan tentang struktur organisasi dalam KJAI. Pada awal berdiri KJAI hingga akhir kepengurusan periode 2016/2017, KJAI dipimpin oleh seorang Direktur dan tiga Wakil Direktur.  Banyak perubahan-perubahan istilah yang diberikan untuk kepengurusan KJAI periode 2017/2018, mengingat bahwa kini KJAI telah memiliki badan hukum yang cukup kuat, yakni Yayasan Pendidikan Jago Akuntansi Indonesia. Sehubungan dengan hal tersebut, maka sebutan Direktur dan Wakil Direktur diganti dengan sebutan Ketua Umum dan Wakil Ketua Umum.

Setelah pemaparan Grand Design selesai, pemilihan Ketua Umum pun dilaksanakan. Dua belas bakal calon Ketua Umum telah mengikuti beberapa tahapan seleksi yang sudah dilakukan oleh Panitia Pemilihan Ketua Umum KJAI. Dari dua belas calon Ketua Umum tersebut, dikerucutkan menjadi lima Calon Ketua Umum KJAI, diantaranya Malinda Sembiring, Anis Yuliana, Astuti Nerlisa, Akmal Adrianza dan A. Mud. Fadhil Wiguna. Kemudian, dari lima bakal calon tersebut dikerucutkan kembali menjadi tiga. Masing-masing dari mereka adalah A. Mud. Fadhil Wiguna sebagai calon nomor urut satu, Astuti Nerlisa sebagai calon nomor urut dua, dan Akmal Adrianza sebagai calon nomor urut tiga. Kemudian, mereka menyampaikan visi dan misi serta program kerja yang akan dilaksanakan selama satu tahun ke depan. Setelah pemaparan visi dan misi serta program kerja, para kandidat calon Ketua Umum KJAI mendapatkan banyak pertanyaan baik dari Ketua Umum KJAI periode 2016/2017, Dewan Alumni, Dewan Pembina, serta para peserta yang merupakan anggota dan pengurus KJAI yang hadir di MUNAS V. Ketiganya memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing, sangat berat dalam menentukan pilihan. Setelah dirasa cukup, sesi tanya jawab pemilihan pun dilakukan oleh peserta yang berada di dalam ruangan. Tahapan awal pemilihan dilakukan dengan menganalisis kelemahan dan kelebihan dari masing-masing calon. Berikutnya, dilakukan musyawarah mufakat untuk menentukan Ketua Umum periode 2017/2018. Namun, karena tidak menemukan kata mufakat sehingga voting terbuka menjadi babak akhir dalam pemilihan Ketua Umum dan terpilihlah A.Muh.Fadhil Wiguna sebagai Ketua Umum Periode 2017/2018.

Setelah pemilihan Ketua Umum dilakukan, acara dilanjutkan dengan prosesi wisuda angkatan 3 serta pelantikan Ketua Umum dan Pengurus KJAI Periode 2017/2018.  Wisuda diikuti oleh 8 orang yang hadir dan berasal dari angkatan 3, diantaranya Faradina A. Pratiwi, Akmal Adrianza, A.Muh.Fadhil Wiguna, Khairurrijal Ibrahim, Malinda Sembiring, Astuti Nerlisa Tambunan, Hatma Wigati, dan Anis Yuliana. Para wisudawan dan wisudawati yang telah purna jabatan menjadi bagian dari Dewan Alumni KJAI. Setelah wisuda angkatan 3, dilakukan pelantikan Ketua Umum terpilih yaitu A.Muh.Fadhil Wiguna. Sementara Ketua Umum KJAI Periode 2016/2017 yaitu Kak Maitri Nara Suari diangkat menjadi Dewan Pembina KJAI.

Selanjutnya, Ketua Umum KJAI terpilih mengumumkan 3 (tiga) nama yang menjadi Wakil Ketua Umum di periode 2017/2018. Terpilihlah tiga nama yang menjadi Wakil Ketua yakni Alvin Andrian (Wakil Ketua Bidang Akademik), Han Fajri Kautsar (Wakil Ketua Bidang Operasional), dan Uki Budi Wijaya (Wakil Ketua Bidang Sumber Daya dan Strategik). Ketua Umum juga mengumumkan nama jajaran pengurus baik Korchap (Koordinator Chapter), Kepala Biro, Kepala Program Studi, Kepala Seksi hingga Staff yang kemudian dilantik dengan pengucapan janji pengurus sebagai bentuk komitmen pengurus dalam menjalankan tugas selama setahun kedepan.

Pada malam hari, acara dilanjutkan dengan Batik’s Night yang diawali dengan Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS). RAKERNAS merupakan tahapan awal bagi para pengurus untuk memulai kepengurusan dengan merancang kegiatan maupun program kerja selama satu tahun kedepan.  Program kerja disampaikan oleh masing-masing Direktorat, baik Direktorat Utama, Direktorat Akademik, Direktorat Sumber Daya Strategik, dan Direktorat Operasional. Setelah RAKERNAS selesai, acara selanjutnya yaitu penampilan dari masing-masing Chapter. Masing-masing Chapter menampilkan sesuai dengan persiapan yang dilakukan diantaranya bernyanyi, menari, dan berpantun. Acara malam hari ini mampu menarik semua peserta untuk dapat bersenang-senang bersama guna menumbuhkan rasa kebersamaan para anggota.

Hari keempat merupakan hari terakhir acara MUNAS 5 KJAI yang diakhiri dengan kegiatan outbond. Outbond dilakukan dengan tujuan untuk menyatukan dan menjalin keakraban para peserta sebelum kembali ke daerah masing-masing. Setelah itu, foto bersama pun dilakukan guna mengambil momen langka yang hanya terjadi satu tahun sekali. Sebelum Acara ditutup para peserta berkumpul di Aula Hotel Sahid untuk menentukan tuan rumah MUNAS tahun depan yang dipimpin oleh Ketua Umum KJAI terpilih Periode 2017/2018, yaitu kak Fadhil Wiguna. Berdasarkan hasil kesepakatan bersama, tuan rumah Musyawaran Nasional ke VI ditetapkan di Kota Palembang.

Sekian kabar dari Musyawarah Naisonal KJAI yang ke V, menarik bukan? Buat sobat KJAI yang belum mengikuti Munas, jangan khawatir karena tahun depan akan dilaksanakan kembali. Sampai jumpa di Sumatera Selatan ya sob!

 

Learning, Sharing, and Inspiring.

Time Value of Money

Hai sobat gogo, berjumpa lagi dengan prodi akuntansi keuangan nih…

Hari ini gogo akan membahas tentang Time Value of Money (TVM). Apa sih TVM itu? TVM mengartikan bahwa nilai uang di waktu yang berbeda itu berbeda, eh.. gimana? Bingung sob? bagaimana bisa uang dengan jumlah yang sama memiliki nilai yang berbeda bila didapatkan pada waktu yang berbeda? Kenapa perbedaan ini bisa terjadi?
Jawaban dari perbedaan mata uang ini adalah ‘opportunity cost’. Nilai uang berbeda pada waktu yang berbeda dikarenakan adanya kesempatan bagi pemilik dana untuk mendapatkan return seandainya mendapat uang tersebut lebih dahulu. Dalam hal sederhana Opportunity Cost ini sama dengan discount rate, atau dalam akuntansi disebut denga tingkat diskonto.
Sebagai ilustrasi, Anda adalah bagian collection dari piutang. Piutang yang tidak tertagih adalah sebesar Rp 1.000.000 apabila piutang tersebut dapat anda tagih sekarang, anda dapat menempatkan dana tersebut di deposito dengan tingkat buga 6%. Namun apabila anda baru dapat menagih uang tersebut pada tahun depan, maka anda akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan return deposito tersebut.

Melanjutkan contoh diatas pada 1 Januari 2016, anda berhasil menagih Rp 1.000.000 lalu menempatkan di deposito dengan rate 6%. Sehingga pada 31 desember 2016, uang Rp 1.000.000 tersebut sudah tidak bernilai Rp 1.000.000 namun sudah bernilai RP 1.060.000 (6% berasal dari imbal hasil, bunga, deposito). Namun apabila anda gagal menagih uang pada tanggal 1 Januari 2016 dan baru bisa menagih pada 31 Desember 2016, maka uang anda akan tetap bernilai Rp 1.000.000. Sehingga dengan demikian, uang dengan jumlah yang sama lebih baik didapatkan sesegera mungkin.  Rp 1.000.000 pada tanggal 1 Januari lebih bernilai daripada Rp 1.000.000 pada tanggal 31 Desember karena anda bisa mendapat return bunga sebesar 6% yang menjadikan nilainya sebesar Rp 1.060.000.

Apabila konsumen anda bersikeras ingin membayar pada akhir tahun, maka anda dapat mengenakan Bunga sebesar 6% kepada konsumen agar anda tidak kehilangan kesempatan untuk berinvestasi di deposito tersebut.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Rp 1.000.000 sekarang memiliki nilai yang sama dengan Rp 1.060.000 tahun depan pada discount rate 6%. Hal ini dikarenakan adanya discount rate atau opportunity cost dari memegang uang dengan segera. Konsep ini disebut dengan time value of money, nilai uang di waktu yang berbeda itu berbeda.

 

Time Value Of Money Dari Sebuah Perusahaan Dalam Perspektif Akuntansi

Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa pada tingkat diskonto sebesar 6% Uang Rp 1.000.000 pada 1 Januari 2016 dan RP 1.060.000 memiliki nilai yang sama. Tidak tepat bagi kita untuk mengatakan bahwa Rp 1.000.000, kapanpun diterimanya bernilai sama. Time Value of Money yang demikian tidak secara konsisten diterapkan dalam akuntansi. Dalam akuntansi, anda menganggap bahwa sebuah perusahaan yang untung sebesar Rp 1 Miliar lalu tahun depan mengalami keuntungan lagi sebesar RP 1,06 miliar mengalami kenaikan keuntungan sebesar 6%, padahal dalam sudut pandang dari keuangan perusahaan tersebut tidak mengalami kenaikan profit karena Rp 1,06 Miliar tahun depan sama dengan Rp 1 Miliar tahun ini.

 

Present Value dan Future Value

Setelah mendengar penjelasan diatas, kita menyadari bahwa untuk satu arus kas terdapat 2 nilai yang secara nominal berbeda, yaitu Rp 1.000.000 sekarang dan Rp 1.060.000 tahun depan. Atas 2 nilai yang berbeda tersebut, maka kita memiliki istilah Present value (nilai kini) dan Future Value (nilai masa depan). Present Value adalah nilai kas setara kas tersebut bila dihitung berdasarkan discount rate yang berlaku. Future value adalah nilai uang dimasa depan bila kita tambahkan dengan return yang berlaku.

Sebagai contoh, Berapakah Future Value dari Rp 1.000.000 setahun ke depan bila return yang berlaku adalah 6%? Untuk menghitung nilai tersebut, maka kita menggunakan perhitungan Rp 1.000.000 untuk menghitung pokok investasinya dan Rp 60.000 (6% x Rp 1.000.000) sebagai returnnya. Atau dapat ditulis dengan rumus

Dimana,

Future Value = nilai yang ingin dicari di masa depan

Present Value = setara nilai uang hari ini

r = tingkat diskonto atau return yang diharapkan

n = periode lamanya investasi

Bila kita masukkan angka diatas, maka didapatkan

Sebaliknya, ketika kita menerima Rp 1.000.000 setahun ke depan, maka kita harus menghitung Present Value-nya, nilai setara uang tersebut sekarang. Untuk mencari Present Value maka kita tinggal memodifikasi persamaa diatas menjadi

Sehingga present value dari nilai Rp 1.000.000 setahun lagi adalah

Atas paparan diatas, maka jelaslah bahwa menerima Rp 1.000.000 di masa depan akan sangat merugikan dikarenakan jumlah Rp 1.000.000 tersebut hanya ekuivalen dengan Rp 943.396,23 saja.

 

Perbedaan TVM dikarenakan Kondisi Ekonomi dan Negara

Tadi sudah kita bahas bahwa yang menyebabkan adanya Time Value of Money adalah opportunity cost. Ya.. opportunity cost yang sering kita samakan dengan interest rate deposito. Bagaimana keadaan ekonomi dalam suatu negara bisa mempengaruhi discount rate? Dan apakah TVM untuk uang yang sama di negara yang berbeda itu sama?

Keadaan ekonomi sebuah negara yang kemudian mempengaruhi tingkat suku bunga dari sebuah negara akan mempengaruhi interest rate. Ambil contoh pada Januari-April 2007 BI rate di Indonesia adalah 12,75% sementara hari ini BI 7 Days Repo berada pada level 4,75%. Jelas pada masa Januari-April 2006 itu, Uang akan lebih tidak berharga dibanding hari ini.

Sementara dalam kasus TVM antar negara, saat BI 7 days Repo rate berada pada level 4,75% Fed Rate di Amerika berada pada level 1% saja. sehingga jelas di Amerika TVM akan lebih kecil rentangnya dibandingkan di Indonesia. Sehingga orang Amerika relatif tidak berkeberatan terhadap perbedaan waktu uang diterima dikarenakan toh perbedaan TVM nya kecil.

 

Demikian Penjelasan Gogo Malam ini sob!
Keep Learning Sharing Inspiring!

 

Skip to toolbar