Financial Shenanigans

Selamat Malam Sobat Gogo! Sudah siap belajar bareng Gogo tentang Audit di malam yang cerah ini? Yuk kita mulai…

Materi kita hari  membahas tentang analisis laporan keuangan yang dilakukan oleh auditor eksternal sebagai indikasi awal kecuarangan atau financial shenangians dalam laporan ekuangan kliennya.

Sobat gogo tau kasus Parmalat? Pendiri  Parmalat, Calisto Tanzi, harus mendekam di penjara selama 10 tahun akibat melakukan manipulasi harga saham, membuat laporan keuangan palsu sekaligus menghalangi audit. Deloitte & Touche dan Grant Thornton bersama dengan Italian offices of Bank of Ameria dituduh membantu manajer-manajer Parmalat dalam melakukan kecurangan.

Untuk terhindarnya auditor sebagai pelaku kecurangan, auditor diatur oleh Standar Audit untuk melaporkan kecurangan kepada Badan Pengatur dan Penegak Hukum jika dirasa perlu oleh Auditor. Dengan adanya SA 240 tentang tanggung jawab auditor terkait dengan kecuarangan dalam suatu audit atas laporan keuangan, auditor diwajibkan untuk menganalisis laporan keuangan bebas dari kesalahan penyajian dalam laporan keuangan yang diakibatkan oleh kesalahan dan kecurangan.

Dalam menganalisis laporan keuangan untuk dapat mendeteksi kecurangan dan gimmick akuntansi auditor dapat melihat financial shenanigans yang ada dalam laporan keuangan.

Analisis laporan keuangan yang dapat dilakukan dengan tiga cara:

  1. Melakukan common size atas Laporan Posisi Keuangan dan Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komperhensif
  2. Membeaca dengan seksama Catatan atas Laporan Keuangan dan penjelasan kualitatif lainnya.
  3. Membandingkan Arus Kas dari Kegiatan Operasional dengan Laba Bersih

Terdapat tujuh jenis financial shenanigans yaitu:

  1. Mengakui adanya pendapatan sebelum pada waktunya.
  2. Mengakui adanya pendapatan palsu sebagai pendapatan.
  3. Meningkatkan laba dengan keuntungan insedental.
  4. Merubah periode pencatatan tahun berjalan ke periode sebelumnya atau setelahnya.
  5. Tidak melakukan pencatatan atau dengan sengaja mengurangi nilai liabilitas
  6. Memindahkan pencatatan pendapatan periode berjalan ke periode yang akan datang.
  7. Memindahkan beban masa yang akan datang ke periode berjalan sebagai kerugian insidential.

Untuk mendeteksi Financial Shenanigans yang ada dalam laporan keuangan, terdapat ukuran yang digunakan sebagai indikasi awal yaitu:

  1. Pertumbuhan yang rendah ataupun negatif dari arus kas masuk dari kegiatan operasional sedangkan laba bersih mengalami peningkatan.
  2. Pertumbuhan pejualan tahunan yang tinggi, namun kemudian diikuti dengan pertumbuhan yang rendah atau negatif.
  3. Pertumbuhan piutang yang tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan penjualan (Account Receivable Turn Over)
  4. Pertumbuhan persediaan yang tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan penjualan (Inventory Turn Over)
  5. Penurunan laba kotor yang paling rendah atau yang paling tinggi
  6. Peningkatan yang signifikan dari aset tidak berwujud
  7. Tingginya nilai pendapatan tangguhan

Diluar ukuran tersebut, beberapa kegiatan yang terjadi dalam suatu entitas dapat memberikan indikasi awal adanya financial shenanigans yaitu:

  1. Perubahan prinsip atau estimasi akuntansi
  2. Perubahan kebijakan akuntansi
  3. Perubahan klasifikasi akun
  4. Perubahan auditor eksternal
  5. Perpanjangan termin pembayaran
  6. Penjualan yang pengiriman ditunda oleh pembeli (bill and hold)
  7. Syarat pemberian kredit yang sangat ringan
  8. Insider stock sales
  9. Transaksi nonkeuangan
  10. Transaksi pihak berelasi
  11. Decline in backlog
  12. Layaway sales

Jika dalam tahap analisis awal terdapat indikasi awal adanya financial shenanigans pada laporan keuangan, maka dapat dilakukan penelusuran informasi yang dikeluar entitas berupa:

  1. Laporan Auditor Independent yaitu : (a) Ada tidaknya opini audit Wajar Tanpa Pengecualian (b) Reputasi Auditor
  2. Catatan atas Laporan Keuangan: (a) Kebijakan akuntansi dan perubahan atas kebijakan akuntansi (b) Transaksi hubungan istimewa (c) Kontijensi dan komitmen.
  3. Laporan Tahunan Laporan : (a) Penyampaian laporan direksi, apakah langsung pada fokusnya atau tidak (b) Pengungkapan spesifik pada diskusi dan analisis (c)Konsistensi CALK dengan Laporan Tahunan (d) Bagaimana entitas kondisi keuangan, likuiditas dan rencana biaya modal untuk periode yang akan datang. (e) Litigasi dan tuntutan hukum lainnya. (f) Remunerasi direksi dan komisaris (g) Transaksi hubungan istimewa
  4. Laporan Prospektus (a) Kinerja masa lalu (b) Kualitas manajemen, direksi dan komisaris.

Hal lain yang perlu diperhatikan:

  1. Keberadaan dan independensi Komite Audit
  2. Penggunaan kebijakan akuntansi agresif.
  3. Ada tidaknya tuntutan hukum yang masih berjalan, khususnya yang memiliki konsekuensi tinggi bagi entitas.
  4. Ada tidaknya komitmen dalam bentuk kontrak pembelian jangka panjang, khususnya jika klausul dalam kontrak ternyata merugikan.
  5. Ada tidaknya perubahan pada estimasi atau prinsip akuntansi yang digunakan.
  6. Penekanan pada penjelasan dari Direktur Utama, khususnya untuk menilai integritas manajemen.

Sebagian besar financial shenanigans berasal dari dua area permasalahan utama yaitu akuntansi untuk akuisisi dan akuntansi untuk pengakuan pendapatan.

 

 

Kemungkinan financial shenanigans terkait akuntansi untuk akuisisi:

  1. Melakukan akuisisi dengan menggabungkan entitas yang tidak menghasilkan laba. Kejadian ini dapat meningkatkan pendapatan, laba dan harga saham jangka pendek, namun merugikan bagi investor jangka panjang.
  2. Menggeser kerugian ke periode “stub”. Periode stub adalah periode yang muncul saaat periode pelaporan entitas yang diakuisisi berbeda dengan periode entitas yang mengakuisisi. Di periode tersebut dapat dimanfaatkan untuk pengaturan pengakuan pendapatan ataupun beban untuk mempengaruhi harga akuisisi.
  3. Melakukan write-off sebelum dan sesudah akuisisi.
  4. Melepaskan cadangan yang tercipta akibatnya adanya write-off.
  5. Merubah alokasi harga akuisisi untuk menciptakan goodwill dan melakukan kapitalisasi beban akuisisi.
  6. Adanya potongan harga akuisisi yang diakui sebagai pendapatan entitas yang mengakuisisi.
  7. Memberikan waran saham sebagai pemanis untuk komitmen pembelian masa depan.

Kemungkinan financial shenanigans terkait akuntansi untuk pengakuan pendapatan.

  1. Pendapatan dari kontrak konstruksi jangka panjang.
  2. Penjualan konsinyasi
  3. Penjualan cicilan
  4. Pendatapan dari penyewaan aset (leasing)

http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2005/09/050928_parmalat.shtml

https://finance.detik.com/sosok/1056341/pendiri-parmalat-diganjar-10-tahun-penjara-kasus-enron-ala-eropa

IAI, Modul Chartered Accountant Pelaporan Korporat.

The Big Four

 

[BREAKING NEWS]

Deloitte Overtakes PwC as World’s Largest Firm!

Deloitte melaju di depan pada tahun 2016 dengan pendapatan globalnya tumbuh sebesar 5% menjadi 38.8 miliar Poundsterlling menikung Big Four PwC yang hanya naik 2% dengan total 37.7 milliar Poundsterlling versi International Accounting Bulletin. Posisi ketiga diisi oleh Ernst and Young yang pendapatannya tumbuh 3% menjadi 31.4 milliar Poundsterlling. Kemudian disusul KPMG yang tumbuh 4% dengan total pendapatan 25.4 milliar Poundsterlling. Di tempat kelima, keenam daan ketujuh ditempati oleh BDO, RSM, dan Grant Thornton yang masing-masing mencatat pendapatan 6.1 milliar poundsterlling, 3.9 milliar poundsterlling, dan 3.83 poundsterlling yang juga semuanya mencatat pertumbuhan terhadap pendapatan mereka.​​ 

 

[The Big Four and Their Clients]

Big Four adalah empat perusahaan pelayanan professional bisnis terbesar di dunia, yang menawarkan legal services, taxation, consulting, advisory, actuarial dan terutama pada bidang audit dan assurance services. Big Four menangani sebagian besar jasa audit untuk perusahaan publik dan swasta di seluruh dunia yang meliputi 99% perusahaan yang terdaftar di FTSE 100 (Financial Times Stock Exchanges), dan 96% perusahaan yang terdaftar di FTSE 250 Index.​​ 

 

[SHOULD I WORK FOR DELOITTE, PWC, EY, KPMG]

Anda ingin kerja di Big Four, Anda mungkin bersikap ambivalen dengan tujuan Anda. Lagi pula, mereka semua sangat mirip bukan? Itu bergantung pada siapa Anda berbicara.

“Mereka semua sangat banyak, Mereka semua akan bekerja keras. Mereka semua bekerja dengan klien besar. Mereka semua bersifat global. Empat Besar sangat mirip karena mereka semua adalah kemitraan profesional yang besar dan memiliki banyak kesamaan, namun ada Juga penting perbedaan struktural dan budaya. “

Steven Roll​​ 

UK, Head of HR, Deloitte

 

 

 

 

[Big Four in Numbers]

Top Global Employees

Bahkan selain menyalip PwC dalam soal pendapatan, Deloitte juga mempunyai jumlah Global Employees terbesar mengalahkan PwC

Screenshot (27)

Best For Hiring

Deloitte juga mencatat jumlah perekrutan terbesar dengan merekrut massif 70000 pegawai secara global atau satu setiap 8 menit.​​ 

Screenshot (98)

Best for Audit : PwC

  • PwC merupakan yang terbesar dalam hal pendapatan Audit yang mencapai $ 17m disbanding dengan $12bn yang dihasilkan EY

 

 

Best for Consulting and Advisory: Deloitte

Jika PwC adalah mesin Audit, Deloitte adalah mesin Konsultasi yang merupakan spesialisasi dalam konsultasi resiko, strategi, dan IT secara global

Worst for Working Hours: PwC

Secara umum, Big Four punya jam kerja lebih pendek daripada Banking. PwC merupakan yang terburuk dalam soal jam kerja dimana Anda akan bekerja 3 minggu berturut-turut tanpa seharipun libur, kemudian diikuti EY, KPMG dan Deloitte yang punya jam kerja lebih sedikit dari PwC.​​ 

Best for ​​ Pay: Deloitte

Bayaran yang menggiurkan ditawarkan oleh Deloitte yang menawarkan bayaran sebesar 865K Poundsterlling setiap tahun lalu EY dengan 662K Poundsterlling, PwC dengan 652K Poundsterlling dan KPMG dengan 582K Poundsterlling.​​ 

 

Source:

https://news.efinancialcareers.com/uk-en/204621/working-for-the-big-four-pwc-deloitte-ey-kpmg

http://economia.icaew.com/en/news/february-2017/deloitte-overtakes-pwc-as-worlds-largest-firm

https://www.statista.com/statistics/250479/big-four-accounting-firms-global-revenue/

https://www.icas.com/ca-today-news/the-top-30-accountancy-firms-in-2017-revealed

http://www.cpapracticeadvisor.com/news/12327445/the-best-accounting-firms-2017-rankings

 

 

History of “AUDITING”

Hallo sobat gogo, bagaimana persiapannya menyambut liburan panjang akhir tahun? Pasti seru donk.

Nah, kali ini prodi auditing bakal ngebahas tentang sejarah ataupun asal mula ilmu auditing.

Kuy, dibaca yuk!! J

Darimana istilah kata “Audit” muncul?

Kata “Audit” yang pertama kali muncul di pertengahan abad ke-19 berasal dari bahasa Latin “Audire” yang artinya “mendengar”. Orang yang mendengarkan (audire) laporan keuangan yang dibaca oleh akuntan dengan tujuan untuk memeriksa laporan keuangan tersebut disebut “Auditor”. Sebenarnya pekerjaan auditor sudah ada secara informal sejak zaman sebelum masehi ketika laporan keuangan pertama kali dibuat di negara-negara kuno seperti Mesopotamia, Mesir, Yunani, Roma, Inggris dan India.

Auditing Pertama Kali

Profesi ini pada waktu itu hanya dikhususkan untuk mendeteksi kecurangan dalam laporan keuangan dengan melakukan pemeriksaan secara rinci. Kecurangan merupakan masalah yang sangat memprihatinkan pada awal sejarah audit.

Akhir abad ke-19 merupakan titik balik dalam sejarah audit ketika hukum English Companies Act 1892 diberlakukan. English Companies Act 1892 mengharuskan semua perusahaan besar maupun perusahaan kecil memerlukan review yang objektf dari seorang professional khusus yang independen dan mempunyai skill untuk memeriksa laporan keuangan perusahaan tersebut.

 Penerapan Metode Sampling

Prosedur audit yang dilakukan pada akhir abad 19 sampai dengan awal abad 20-an adalah pemeriksaan secara lengkap pada setiap transaksi dan melakukan koreksi pada setiap akun yang salah saji pada laporan keuangan. Sekitar tahun 1890an, Negara Inggris dan Amerika Serikat melihat perlunya cara yang lebih efisien dan tidak memakan biaya besar, sehingga munculnya teknik sampling dalam proses audit, teknik ini mengambil transaksi-transkasi yang berjumlah besar dari populasi data yang ada untuk diperiksa kebenarannya yang saat ini dikenal dengan istilah Audit Berbasis Risiko (Risk Based Audit).

Komputer Dalam Audit

Pada tahun 1950, Dunia bisnis melihat pengolahan data elektronik oleh sistem komputer dapat melakukan banyak hal yang membantu Akuntan Publik, professional dan pengusaha lainnya. Di awal tahun 1960, mayoritas penggunaan komputer ditujukan untuk kepentingan bisnis daripada untuk hal ilmiah.

Mulai tahun 1970-an ini, komputer digital sudah dapat menangani sejumlah besar data dan memproses informasi dalam waktu yang sangat singkat. Komputer membuat pekerjaan akuntan publik menjadi jauh lebih mudah terutama dalam menangani pekerjaan pembukuan. Hal ini memberikan banyak waktu luang bagi akuntan untuk bisa fokus pada pekerjaan yang lebih penting. Sejarah audit dan penemuan komputer dalam melakukan audit berakhir di sini pada tahun 1970-an.

Perkembangan Audit di Indonesia

Profesi Auditorsi di Indonesia masih tergolong baru. Pada masa penjajahan Belanda, jumlah perusahaan di Indonesia belum begitu banyak, sehingga Auditorsi dengan sendirinya hampir tidak dikenal. Perusahaan-perusahaan milik Belanda yang beroperasi di Indonesia pada waktu itu, mengikuti model pembukuan seperti yang berlaku di negaranya. Situasi seperti itu berlangsung hingga Indonesia merdeka. Auditorsi baru mulai dikenal di Indonesia setelah tahun 1950-an, yaitu ketika semakin banyak perusahaan didirikan dan Auditorsi sistem Amerika mulai dikenal, terutama melalui pendidikan di perguruan tinggi.

Perkembangan Auditorsi di Indonesia terjadi pada tahun 1973, yaitu ketika Ikatan Auditor Indonesia (IAI) menetapkan Prinsip-prinsip Auditorsi Indonesia (PAI) dan Norma Pemeriksaan Auditor (NPA). Selain itu perkembangan yang terjadi dalam dunia perbankan sejak tahun 1988 semakin menuntut dilakukannya audit atas laporan keuangan bagi perusahaan-perusahaan yang akan mengajukan permohonan kredit ke bank. Pada tahun 1995 lahir Undang-undang Perseroan Terbatas yang mewajibkan suatu perseroan terbatas menyusun laporan keuangan dan jika perseroan merupakan perusahaan publik, maka laporan keuangannya wajib diaudit oleh Auditor publik. Pada tahun yang sama Undang – Undang Pasar modal pun lahir juga.

Seiring perkembangan perusahaan di Indonesia, IAI telah banyak melakukan penyempurnaan peraturan yang berlaku di Indonesia. Yang mana Indonesia saat itu berkibalat pada peraturan yang dibuat oleh Amerika Serikat. Pada tahun 1994 IAI melakukan penyusunan ulang prinsip Auditorsi dan standar audit yang disebut Standar Auditorsi Keuangan (SAK) dan Standar Profesional Auditor Publik (SPAP). Sejalan dengan itu Dewan Standar Auditorsi yang dibentuk IAI secara terus menerus menerbitkan Pernyataan Standar Auditorsi Keuangan (PSAK.

Seperti terjadi di Amerika Serikat seratus tahun lalu, fungsi pengauditan di Indonesia memasuki abad ke-21 ini masih belum dipahami masyarakat. Banyak kesalahpahaman yang terjadi atas laporan auditor, karena fungsi audit tidak dipahami dengan benar. Situasi demikian nampak sekali ketika berbagai kasus terkenal seperti kasus Bank Summa, skandal Bank Bali yang diaudit oleh Pricewaterhouse Coopers, dan sejumlah kasus lainnya, dikomentari berbagai pihak. Kebanyakan komentar tersebut mencerminkan kesalahpahaman masyarakat, tidak saja mengenai makna pendapat auditor atas laporan keuangan yang diperiksanya, tetap juga mengenai perbedaan antara berbagai jenis audit yang bisa dilakukan oleh seorang auditor.

 

REFERENCES

Lee, T. A., The Evolution of Audit Thought and Practice (New York: Garland Publishing, Inc., 1988).

McRae, T. W., The Impact of Computers on Accounting (New York: John Wiley & Sons, 1964).

The History of Auditing. (123HelpMe.com., 2015)

Origin and Evolution of Auditing. (Sribd.com., 2013)

https://dailylakss.wordpress.com/tag/perkembangan-audit-di-indonesia/ diakses pada 19 Desember 2017

http://richank-meister.blogspot.co.id/2012/09/auditing-i-sejarah-auditing.html diakses pada 19 Desember 2017

 

 

 

Peer Review

PEER REVIEW

Dalam menjaga mutu audit dan mendapatkan keyakinan bahwa pelaksanaan audit telah dilakukan sesuai dengan standar audit, maka perlu adanya peer review. Peer Review adalah suatu penelaahan kembali atas pekerjaan auditor dan operasi yang dilakukan oleh suatu KAP oleh sesama auditor.Orang yang melakukan penelaahan sejawat disebut penelaah sejawat atau mitra bestari (peer reviewer). Menurut AICPA, Peer Review dilakukan setiap 3 tahun sekali atas praktek akuntansi dan audit.

Tujuan peer review adalah untuk menentukan dan melaporkan apakah KAP yang di review telah mengembangkan prosedur dan kebijakan yang cukup atas ke 5 unsur pengendalian mutu dan diterapkan pada praktiknya. 5 unsur pengendalian mutu yaitu (1) Independensi, integritas, dan obyektivitas, (2) Manajemen Kepegawaian, (3) Penerimaan dan kelanjutan klien serta penugasan, (4) Kinerja penugasan, dan (5) Pemantauan.

  1. Independensi, integritas, dan obyektivitas artinya semua auditor harus memelihara sikap independen baik dalam kenyataan maupun dalam penampilan, melaksanakan seluruh tanggung jawab profesional dengan integritas yang tinggi, dan memelihara objektivitas dalam menjalankan tanggung jawab profesionalnya.
  2. Manajemen kepegawaian artinya KAP harus merumuskan kebijakan dan prosedur pengendalian mutu personalia untuk memberikan keyakinan bahwa semua orang yang diperkerjakan memiliki karakteristik semestinya, sehingga dapat melakukan penugasan secara kompeten.
  3. Penerimaan dan kelanjutan klien serta penugasan artinya KAP harus menetapkan kebijakan dan prosedur untuk memutuskan apakah akan menerima klien baru atau mempertahankan klien lama.
  4. Kinerja Penugasan artinya harus ada kebijakan dan prosedur untuk meyakinkan bahwa pekerjaan yang dilaksanakan oleh staf audit memenuhi standar profesional yang berlaku, persyaratan perundang-undangan, dan standar pengendalian mutu perusahaan.
  5. Pemantauan artinya harus ada kebijakan dan prosedur untuk meyakinkan bahwa keempat elemen pengendalian mutu lainnya diterapkan secara efektif.

Selain 5 unsur pengendalian mutu, peer review juga melakukan penelaahan atas (a) Relevansi dan kepatuhan dengan kebijakan dan prosedur; (b) Kecukupan materi pedoman dan bantuan praktek; (c) Efektifitas program pengembangan profesional.

KAP yang menjalani peer review juga memperoleh manfaat jika ia dapat meningkatkan mutu praktik auditnya dan sekaligus dapat meningkatkan reputasi dan mengurangi kemungkinan timbulnya tuntutan hukum.

Sumber:

  1. Heru Sulistyo. 2015. Peer Review untuk Kantor Akuntan Publik, (Online), (http://ejurnal.stiedharmaputra-smg.ac.id/index.php/DE/article/download/179/157 diakses pada 28 November 2017)
  2. 2016. Summary of the Nature, Objectives, Scope, Limitations of, and Procedures Performed in System and Engagement Reviews and Quality Control Materials and Continuing Professional Education Program Reviews (as Referred to in a Peer Review Report), (Online), (https://www.aicpa.org/Research/Standards/PeerReview/DownloadableDocuments/PRSummary.pdf diakses pada 29 November 2017)
  3. Irawati, Nur ST. 2015. Pengaruh Kompetensi danIndependensi Auditor Terhadap Kualitas Audit pada Kantor Akuntan Publik di Makassar. Skripsi. UniversitasHasanuddin.
  4. http://www.academia.edu/8423247/MAKALAH_PENGERTIAN_AUDIT_ diakses pada 29 November 20

 

Kode Etik dan IPPF Standard

Kode etik dan standar dalam audit internal diatur dalam Standar International Professional Practices Framework (IPPF) yang dikeluarkan oleh The Institute of Internal Auditor. Tujuan standar adalah untuk memberikan panduan dalam pemenuhan unsur-unsur yang diwajibkan dalam kerangka praktik profesional internasional. Standar mencakup serangkaian prinsip dan persyaratan wajib (mandatory) yang terdiri dari Pernyaataan (persyaratan pokok) dan Interpretasi (yang menjelaskan lebih lanjut istilah dan konsep yang digunakan dalam standar). Isi dari standar ini terdiri dari :

  1. Standar Atribut
  2. Tujuan, kewenangan, dan tanggung jawab

Harus didefinisikan secara formal dalam suatu piagam audit internal dan harus sesuai dengan misi audit internal dan unsur-unsur yang diwajibkan dalam kerangka profesional internasional. Meliputi sifat jasa asurans dan jasa konsutasi yang harus didefinisikan dalam piagam audit internal

  1. Independensi dan Objektivitas

Aktivitas audit internal harus independen dan auditor internal harus objektif dalam melaksanakan tugasnya. Termasuk indepensi dalam organisasi yakni kepala audit internal harus melapor secara fungsional kepada dewan. Interaksi langsung dengan dewan.

Objektivitas individual yakni harus memiliki sika mental tidak memihak dan tanpa prasangka, serta senantiasa menghindarkan diri dari kemungkinan timbulnya pertentangan kepentingan. Apabila ada kendala terhadap independensi, detail tersebut harus diungkapkan kepada pihak yang berwenang. Seorang auditor internal juga harus memiliki kecakapan yang bagus dalam hal memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi lain yang dibutuhkan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

Auditor internal harus menggunakan kecermatan dan keahlian, meningkatkan pengetahuan dalam hal pengembangan profesional berkelanjutan. Penilai eksternal harus dilakukan minimal sekali dalam 5 tahun oleh penilai yang memiliki kualifikasi memadai dan independen yang berasal dari luar organisasi.

 

  1. Standar Kinerja
  2. Mengelola aktivitas audit internal

Kepala audit internal harus mengelola aktivitas audit internal secara efektif (mencapai tujuan dan tanggung jawab) untuk meyakinkan bahwa suatu aktivitas tersebut memberikan nilai tambah bagi organisasi.

  1. Perencanaan

Kepala audit internal harus menyusun perencanaan berbasisi risiko untuk menetapkan prioritas kegiatan aktivitas audit internal sesuai dengan tujuan organisasi.

  1. Komunikasi dan persetujuan
  • Pengelolaan Sumber Daya
  1. Kebijakan dan Prosedur untuk mengarahkan/memandu aktivitas audit internal
  2. Koordinasi dan Penyandaran

Kepala audit internal  harus berbagi informasi,  mengkoordinasikan kegiatannyadan mempertimbangkan penyandaran terhadap hasil pekerjaan  penyedia jasa asurans  dan konsultansi  eksternal  dan internal  lain, untuk memastikan bahwa lingkup penugasan telah sesuai dan meminimalkan duplikasi aktivitas

  1. Laporan kepada Manajemen Senior dan Dewan
  • Penyedia Jasa Eksternal dan Tanggung Jawab Organisasi pada Audit Internal

Apabila terdapat penyedia jasa eksternal yang memberikan jasa audit internal pada aktivitas audit internal organisasi, penyedia jasa tersebut harus memberikan pemahaman bahwa organisasi memiliki tanggung jawab untuk memelihara aktivitas audit internal yang efektif

 

  1. Sifat dasar pekerjaan

Harus melakukan evaluasi dan memberikan kontribusi peningkatan proses tata kelola, pengelolaan risiko, dan pengendalian organisasi.

  1. Perencanaan dan Penugasan

Harus menyusun dan mendokumentasikan rencana untuk setiap penugasan yang mencakup tujuan penugasan, ruang lingkup, waktu, dan alokasi sumber daya dengan mempertimbangkan strategi dan sasaran kegiatan, kecukupan dan efektivitas tata kelola, dll.

Tujuan harus ditetapkan untuk setiap penugasan. Ruang lingkup penugasan yang ditetapkan harus memadai untuk dapat mencapai tujuan penugasan

  1. Pelaksanaan penugasan

Harus mengidentifikasi, menganalisi, mengevaluasi, dan mendokumentasikan informasi yang memadai untuk mencapai tujuan penugasan

  1. Pengidentifikasian informasi yang memadai, handal, relevan, dan berguna untuk mencapai tujuan penugasan
  2. Analisis dan evaluasi

Harus mendasarkan kesimpulan dan hasil penugasannya pada analisis dan evaluasi yang sesuai

  • Pendokumentasian informasi

Auditor internal  harus mendokumentasikan informasi yang memadai, handal, relevan dan berguna untuk mendukung kesimpulan dan hasil penugasan

  1. Komunikasi hasil penugasan

Kriteria komunikasi harus mencakup tujuan, ruang lingkup, dan hasil penugasan. Kualitas yang disampaikan harus akurat, objektif, jelas, ringkas, konstruktif, lengkap, dan tepat waktu. Jika mengandung kesalahan dan kealpaan, harus dikoreksi kepada semua pihak yang sebelumnya menerika komunikasi asli

  1. Pemantuan perkembangan

Harus menetapkan sistem untuk memantau disposisi atas hasil penugasan yang telah dikomunikasikan kepada manajemen

  1. Komunikasi penerimaan risiko

Dalam hal Kepala audit internal  menyimpulkan  bahwa manajemen telah

menanggung risiko yang tidak dapat ditanggung oleh organisasi, Kepala audit

internal  harus membahas masalah ini dengan manajemen senior

 

Extended Audit Report

Halo Sobat! Tahu dong malam apa ini? Tahu dong siapa yang siap gentayangan?

Yes, malam ini Audit hadir di antara kalian! Kali ini, kita bakal sharing tentang #ExtendedAuditReport! Nah lho, laporan audit yang bagaimana lagi itu? Jangan takut, Sobat! Topik ini dijamin tidak seseram namanya!

Pada Januari 2015 lalu, International Auditing and Assurance Standards Board (IAASB) mengesahkan beberapa standar pelaporan audit baru dan revisi yang mewajibkan auditor untuk memberikan laporan yang lebih transparan dan informatif terhadap perusahaan yang mereka audit. Standar-standar ini disahkan sebagai tanggapan atas permintaan para pengguna laporan keuangan untuk informasi yang lebih relevan pada audit.

Tujuan dari standar-standar ini adalah untuk memberikan laporan audit yang dapat meningkatkan keyakinan publik, baik untuk proses audit itu sendiri maupun untuk laporan keuangan perusahaan. IAASB meyakini bahwa #ExtendedAuditReport akan meningkatkan komunikasi antara auditor dan para investor serta antara auditor dan ‘those charged with governance’ (TCWG). Standar-standar baru ini diharapkan dapat merevitalisasi audit dan mengubah cara auditor mengomunikasikan pekerjaannya dalam laporan audit. Mau tidak mau, hal ini akan berdampak pada kelompok ‘stakeholder’, termasuk para penyusun laporan keuangan (CFO dan tim keuangannya), direksi, investor, dan regulator.

Standar-standar pelaporan audit baru dan revisi ini berlaku efektif untuk audit laporan keuangan dengan periode yang berakhir pada atau setelah 15 Desember 2016, Sobat!

Salah satu tantangan dalam laporan keuangan adalah bahwa laporan ini cukup rumit. Akibatnya, audit yang dilakukan menjadi cukup kompleks dan membutuhkan penilaian risiko ‘material misstatement’ terhadap laporan keuangan tersebut untuk mendorong kinerja audit. Sementara itu, para pengguna laporan keuangan sulit untuk memahami di mana saja risiko-risiko besar tersebut ada dalam pandangan auditor.

Oleh karena itu, sebuah area fokus tertentu menjadi persyaratan yang ditetapkan dalam ISA baru, yaitu ISA 701 “Communicating Key Audit Matters in the Independent Auditor’s Report.” Untuk audit entitas ‘listed’, sebuah bagian baru dalam laporan audit yang disebut Key Audit Matters (KAM) akan menegaskan hal-hal paling signifikan yang membutuhkan perhatian khusus auditor.

Dalam banyak kasus, KAM berkaitan dengan hal-hal kompleks signifikan yang diungkapkan dalam laporan keuangan, Sobat! Contoh: penilaian goodwill dan aset jangka panjang lainnya, penilaian instrumen keuangan, aspek rumit atau unik dari pengakuan pendapatan, atau akuntansi untuk akuisisi signifikan.

Dengan kata lain, KAM menjelaskan 1) Mengapa hal-hal tersebut dikategorikan sebagai KAM, 2) Bagaimana hal-hal tersebut dikomunikasikan dalam audit, dan 3) Referensi atas pengungkapan dalam laporan keuangan.

Nah, mungkin Sobat mulai penasaran, sebenarnya apa sih Key Audit Matters (KAM) ini? Di dalam standar, KAM didefinisikan sebagai “Those matters that, in the auditor’s professional judgment, were of most significance in the audit of the financial statements of the current period. KAM are selected from matters communicated with those charged with governance.” Intinya, KAM ditentukan dari hal-hal yang dikomunikasikan dengan TCWG, Sobat!

ISA 701 mencakup kerangka pengambilan keputusan untuk membantu auditor memutuskan isu mana saja yang akan dihitung sebagai KAM. Auditor membatasi hal apa saja yang memerlukan perhatian khusus dari hal-hal yang dikomunikasikan dengan TCWG. Untuk melakukannya, auditor akan mempertimbangkan:

  • Area-area berisiko tinggi dari ‘material misstatement’ laporan keuangan
  • Pertimbangan signifikan auditor terkait area-area dalam laporan keuangan yang melibatkan pertimbangan signifikan manajemen, termasuk estimasi akuntansi yang diidentifikasi memiliki ketidakpastian estimasi yang tinggi
  • Dampak pada audit atas peristiwa atau transaksi signifikan yang terjadi selama periode

Sebagai tambahan dari KAM, ada beberapa perubahan lain yang disertakan dalam laporan auditor:

  • Penempatan opini auditor pada awal laporan audit
  • Uraian baru tentang tanggung jawab terkait ‘going concern’ disertakan dalam masing-masing bagian tanggung jawab manajemen dan auditor
  • Persyaratan ‘enhanced reporting’ ketika terdapat ketidakpastian material terkait ‘going concern’
  • Identifikasi TCWG dalam bagian tanggung jawab manajemen terhadap pengawasan proses pelaporan keuangan (dalam hal ini Komite Audit)
  • Revisi laporan audit terhadap informasi lain berlaku untuk entitas yang menerbitkan laporan tahunan dengan mempertimbangkan apakah ada inkonsistensi material antara informasi lain dan pengetahuan auditor yang diperoleh dalam audit
  • Persyaratan baru untuk menyatakan informasi lain dalam laporan tahunan entitas ‘listed’ yang telah atau akan diperoleh auditor pada tanggal laporan audit

Baru-baru ini, Financial Reporting Council (FRC) Inggris melakukan sebuah ‘post-implementation review’. Dalam sebuah survei yang melibatkan lebih dari 150 laporan auditor, FRC menemukan lima KAM yang paling banyak dilaporkan di Inggris:

  • Perpajakan
  • Penurunan nilai aset
  • Penurunan nilai goodwill
  • Kecurangan dalam pengakuan pendapatan
  • Penyampingan kontrol oleh manajemen

Upaya signifikan dibutuhkan untuk menerapkan #ExtendedAuditReport, Sobat! Pihak manajemen, TCWG, dan auditor harus menyesuaikan tujuan mereka dalam meningkatkan komunikasi untuk memastikan lancarnya pelaksanaan audit.

Pengenalan KAM ini merupakan peningkatan signifikan yang tidak hanya mengubah laporan audit, tapi juga kualitas laporan keuangan dengan memberikan nilai informatif lebih kepada investor dan ‘stakeholder’ lain.

Perlu ditekankan bahwa hal tersebut tetap menjadi tanggung jawab manajemen, dengan pengawasan TCWG, untuk mengomunikasikan informasi relevan mengenai entitas dan kinerja keuangannya kepada para pengguna, termasuk menyajikan pengungkapan sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku.

Maka dari itu, pengedukasian ‘stakeholder’ menjadi sangat penting dalam mengatasi konsekuensi potensial dari kesalahan penafsiran KAM. Entitas serta badan dan otoritas profesional relevan harus terlibat secara aktif dan mengedukasi para ‘stakeholder’ agar dapat memahami tujuan KAM dan bagaimana sesuatu dikategorikan sebagai KAM.

Nah, itu dia sharing Gogo mengenai #ExtendedAuditReport pada malam ini! Semoga menambah pengetahuan para Sobat Audit!

Jangan lupa kepo Twitter untuk kultweet asik dan Instagram untuk infografik menarik hanya di @jagoakuntansi! Nantikan gentayangan audit pada Kamis malam berikutnya, Sobat!

Keep Learning, Sharing, Inspiring!

Source: Ernst & Young. (2016). “Enhanced Auditor’s Reporting.” Retrieved from http://www.ey.com/Publication/vwLUAssets/EY-enhanced-auditors-reporting/$FILE/EY-enhanced-auditors-reporting.pdf

Skip to toolbar