Cost Behavior

Hallo! Hai! Selamat malam Sob, bagaimana Jum’at malam kalian? Pastinya harus semangat ya sob, gaboleh sedih2 ah sob. Daripada sedih, mending kita belajar yukyuk. Di malam yang bahagia ini, Gogo kembali hadir dengan membawakan materi yang ringan nan bermanfaat, dan kali ini Gogo akan diskusi bareng sama anak Akmen nih sob. Jadi, malam ini Gogo akan bahas tentang “Cost Behaviour”. Yaps, dari judulnya aja pasti sobat Gogo sudah punya bayangan nih tentang pembahasan malam ini, Hihi. Jadi, malam ini kita akan membahas tentang apa sih Cost Behaviour itu?.

Nah daripada penasaran, langsung aja yuk kita bahas tentang “Cost Behaviour”

Yuk Simak!!

  1. Definisi Cost Behaviour

Sebelum kita bahas tentang Cost Behaviour, sobat Gogo harus tau dulu nih mengenai apa sih yang dimaksud dengan Cost Behaviour? Terus apa saja sih yang ada di dalam Cost Behaviour itu? Nah, jadi gini sob, Cost Behaviour atau perilaku biaya itu adalah istilah umum untuk mendeskripsikan apakah biaya berubah seiring dengan perubahan keluaran. Biaya-biaya bereaksi pada perubahan keluaran dengan berbagai cara yang diklasifikasikan menjadi 3 aktivitas biaya  yaitu Biaya Tetap (Fixed Cost), Biaya Variabel (Variable Cost), dan Biaya Campuran (Mixed Cost). Jadi intinya sob, Cost Behaviour ini menjelaskan bagaimana bahwa berubah ketika jumlah output berubah.

  • Klasifikasi Cost Behaviour

Selanjutnya sob, Gogo akan membahas tentang klasifikasi cost behaviour nih sob. Dari penjelasan diatas, sobat Gogo pasti sudah tahu kan cost behaviour ini diklasifikasian menjadi 3 (tiga) yaitu Biaya Tetap (Fixed Cost), Biaya Variabel (Variable Cost), dan Biaya Campuran (Mixed Cost). Nah untuk lebih jelasnya simak pembahasan dibawah ini ya sob!

  1. Biaya tetap (fixed cost) adalah  Biaya yang jumlahnya tetap sama ketika keluaran berubah. lebih formalnya biaya tetap adalah biaya yang dalam jumlah keseluruhan tetap konstan dalam rentan yang relevan ketika tingkat keluaran aktivitas berubah. Contohnya sewa gedung, premi asuransi, pembayaran pinjaman, dll.
  2. Biaya variabel (variables cost) adalah biaya yg dalam jumlah keseluruhan bervariasi secara proporsional terhadap perubahan keluaran. Jadi, biaya variabel naik ketika output naik dan akan turun ketika output turun. Contohnya : biaya bahan langsung dan biaya tenaga kerja langsung.
  3. Biaya campuran (mixed cost) adalah biaya yang memiliki komponen tetap dan variabel atau biaya campuran adalah sejumlah biaya yang sampai jumlah tertentu adalah biaya tetap sedangkan selebihnya adalah biaya variabel. Contohnya : biaya pemeliharaan rutin kendaraan seperti ganti ban, ganti oli adalah biaya tetap sedangkan biaya yg terjadi karena musibah seperti tabrakan, penyok dst disebut biaya variabel.
  • Peranan model penggunaan sumber daya dalam memahami perilaku biaya.

Biaya-biaya jangka pendek kerap tidak cukup untuk menggambarkan seluruh biaya yang dibutuhkan untuk mendesain, memproduksi, memasarkan, mendistribusikan, dan mendukung suatu produk. Perilaku biaya jangka panjang dan jangka endek berhubungan dengan aktivitas dan sumber daya yang diperlukan untuk melakukannya. Kapasitas adalah kemampuan aktual atau potensial untuk melakukan sesuatu. Jadi dalam pembahasan mengenai kapasitas suatu aktivitas, hal yang dideskripsikan adalah jumlah aktivitas yang dapat dilakukan perusahaan. Banyaknya aktivitas yang diperlukan bergantung pada tingkat kinerja yang diminta. Biasanya, dapat diasumsikan bahwa kapasitas yang diperlukan berhubungan dengan tingkat di mana aktivitas dikerjakan secara efisien. Tingkat efisien kinerja aktivitas disebut kapasitas praktis (practical capacity). Hal ini terkadang terdapat kelebihan aktivitas.

  1. Sumber Daya Fleksibel

Sumber daya fleksibel dipasok saat digunakan dan dibutuhkan. Sumber daya ini diperoleh dari pihak luar dan tidak membutuhkan komitmen jangka panjag untuk membeli sejumlah seumber daya tertentu. Jadi, organisasi bebas membeli hanya sebatas jumlah yang dibutuhkan. Dengan demikian, jumlah sumber daya yang dipasok sama dengan jumlah yang diminta. Contohnya: bahan baku dan energy.

  • Sumber Daya Terikat

Sumber daya terikat adalah sumber daya yang dipasok sebelum penggunan ; mereka didapat dengan menggunakan kontrak eksplisit atau implisit unutk memperoleh sejumlah sumber daya tertentu, tanpa memandang apakah jumlah sumber daya yang tersedia digunakan secara penuh atau tidak. Sumber daya terikat dapat memiliki kapasitas yang tidak terpakai karena kapasitas yang tersedia lebih banyak daripada yang digunakan. Contohnya : banyak organisasi memperoleh berbagai kapasitas pelayanan multiperiode dengan membayar tunai dimuka atau membuat kontrak eksplisit yang memerlukan pembayaran tunai secara periodik. Contoh lainnya yaitu pembebanan tahunan yang  berhubungan dengan kategori multiperiode tidak bergantung pada penggunaan actual sumber daya. Pembebanan-pembebanan tersebut didefinisikan sebagai biaya tetap terikat (committed fixed cost) dan menyediakan kapasitas aktivitas jangka panjang.

  • Metode untuk memisahkan biaya campuran menjadi komponen tetap dan variabel

Metode yang digunakan untuk memisahkan biaya campuran menjadi komponen tetap dan variabel terdiri dari 3 metode yaitu :

  •     Metode titik tinggi-rendah (high-low method) adalah suatu metode untuk menentukan persamaaan suatu garis lurus dengan terlebih dahulu memilih dua titik (titik tertinggi dan terendah) yang akan digunakan untuk menghitung parameter perpotongan dan kemiringan. Titik tertinggi didefinisikan sebagai titik dengan tingkat output atau aktivitas tertinggi. Titik terendah didefinisikan sebagai titik dengan tingkat output atau aktivitas terendah. Kemudian kedua titik digunakan untuk menghitung titik potong dan kemiringan garis dari kedua titik tersebut. Metode ini bersifat obyektif dan sederhana. Akan tetapi, hubungan tersebut akan salah diperkirakan jika titik tertinggi dan terendah tidak mewakili hubungan biaya yang sebenarnya.
  •     Metode scatterplot menyangkut pemeriksaan grafik scatter (suatu plot yang menunjukkan jumlah biaya campuran pada berbagai tingkat aktivitas yang berbeda) dan pemilihan dua titik yang tampaknya terbaik untuk mewakili hubungan antara biaya dengan aktivitas. Karena kedua titik tersebut menentukan suatu garis, kedua titik yang terpilih tersebut dapat digunakan untuk menentukan titik potong dan kemiringan garis dari kedua titik tersebut. Titik potong tersebut memberikan perkiraan komponen biaya tetap dan kemiringan memberikan estimasi biaya variabel per unit aktivitas. Metode scatterplot adalah suatu cara yang baik untuk mengidentifikasikan nonlinearitas, outlier, dan pergeseran dalam hubungan biaya. Kelemahannya terletak pada subyektifitasnya.
  •     Metode kuadrat terkecil menggunakan semua titik data (kecuali outlier) pada grafik scatter dan menghasilkan suatu garis yang paling sesuai dengan semua titik. Garis yang paling sesuai adalah garis yang terdekat dengan semua titik yang diukur melalui penjumlahan kuadrat deviasi titik-titik tersebut dari garis. Metode ini menghasilkan garis yang paling sesuai dengan titik-titik data sehingga lebih direkomendasikan daripada metode titik tinngi-rendah dan scatterplot.

Contoh Kasus:

Sobat Gogo mengelola sebuah restoran padang yang bernama “GOGO”. Awalnya sobat Gogo hanya menyewa ruko di daerah Jakarta, dengan sewa Rp 120,000,000 per tahun, lalu sobat Gogo mempekerjakan 5 pegawai tetap dengan total gaji Rp 15,000,000 per bulan dan 2 pegawai tak tetap dengan upah Rp 3,000,000 per bulan. Pada bulan Desember ada sekitar 500 orang yang makan di resto GOGO. Keefektifan promosi dan pemasaran menunjukan bahwa jumlah pelanggan restoran mengalami pertumbuhan sekitar 15% (= 500×15% = 75 orang) setiap bulannya. Artinya apa? Artinya akan ada peningkatan “PENJUALAN” (revenue), tetapi peningkatan revenue saja, tidaklah cukup, yang dibutuhkan oleh perusahaan adalah peningkatan LABA. Apakah laba akan meningkat? Jawabannya: MUNGKIN. Karena,

LABA = REVENUE – BIAYA

Faktanya, peningkatan jumlah pelanggan sekitar 75 orang ini masih harus anda antisipasi dengan cara meningkatkan kapasitas yang memadai, minimal:

  1. Menambah jumlah produksi nasi
  2. Menambah jumlah produksi rendang
  3. Menambah jumlah produksi ayam bakar
  4. Menambah jumlah produksi perkedel

Penambahan jumlah produksi nasi, rendang, ayam bakar dan perkedel, tentu akan membuat “volume aktivitas” meningkat.

Nah, pertanyaannya utamanya: Bagaimana cost yang selama ini telah terjadi akan BERUBAH, sebagai respon atas perubahan volume aktivitas ini?

Lalu ada pertayaan-pertanyaan lainnya, diantaranya:

  • Biaya apa saja yang akan meningkat?
  • Berapa peningkatannya?
  • Biaya apa saja yang akan tetap?

“Perubahan cost” yang disandingkan dengan “perubahan penjualan (revenue)” akan menghasilkan perubahan “tingkat laba” (profitabilitas). Tanpa mengetahui perubahan biaya, pengelola usaha tidak akan tahu apakah perubahan aktivitas usaha “layak/tak layak” untuk dilakukan atau tidak. Jika layak, maka diteruskan. Jika tidak, mungkin perusahaan perlu mengubah strategi bisnis.

Nah cukup disini dulu sob pembahasan Gogo malam ini. Jangan lupa yaa untuk terus aktif belajar dan update pengetahuannya. Bulan depan kita akan bertemu lagi tentunya dengan bahasan yang berbeda dan tidak kalah menarik dengan hari ini. Gogo pamit yah sob.

Keep learning, sharing, and inspiring!

Sumber :

http://www.academia.edu/12102361/AKUNTANSI_MANAJEMEN_ACTIVITY_COST_BEHAVIOUR

http://verapipinw.blogspot.com/2013/12/managerial-accountinghansen.html

Intellectual Capital

Intellectual Capital

Selamat malam Sobat Gogo dimanapun kalian berada. Tak terasa kita sudah di penghujung tahun nih. Sebelum tahun berganti, seperti biasa kamis malam kamu akan di temani kultweet bermanfaat dari Prodi Akuntansi Keuangan. Are you ready..?

Jika sebelumnya kita membahas tentang Integrated Reporting (IR), malam ini Gogo akan membahas salah satu pilar dari IR, yaitu Intellectual Capital.

Pasti sobat gogo penasaran kan ingin tahu seperti apa Intellectual Capital itu? Nah, untuk menjawab rasa penasaran dari sobat gogo mengenai Intellectual Capital, yuk simak kultweet malam ini!

Menurut Stahle et al. (2011), Intellectual Capital (IC) adalah kajian penelitian baru yang mendapat perhatian cukup besar  dari para ahli di berbagai disiplin seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang berbasis pada pengetahuan (knowledge-based economy).

Bontis et al. (2000), menyatakan bahwa secara umum, para peneliti mengidentifikasi 3 konstruk utama dari IC, yaitu

  • Human Capital (HC)
  • Structural  Capital (SC)
  • Customer Capital (CC)

Menurut Bontis et al. (2000),

  • HC : merupakan kombinasi dari genetic inheritance, education, experience, and attitude tentang kehidupan dan bisnis yang merepresentasikan individual knowledge stock dari karyawan di suatu organisasi.
  • SC : meliputi seluruh non-human storehouses of knowledge dalam organisasi. Contohnya adalah database, organisational charts, process manual, strategies, routines dan segala hal yang membuat nilai perusahaan lebih besar daripada nilai materialnya.
  • CC : pengetahuan yang melekat dalam marketing channels dan customer relationship dimana suatu organisasi mengembangkannya melalui jalannya bisnis

Di Indonesia, Intellectual Capital mulai berkembang setelah munculnya PSAK No.19 (revisi 2000) tentang aktiva tidak berwujud. Di dalam PSAK No.19 dijelaskan bahwa aktiva tidak berwujud adalah aktiva non-moneter yang dapat diidentifikasi dan tidak mempunyai wujud fisik serta dimiliki untuk digunakan dalam menghasilkan atau menyerahkan barang atau jasa, disewakan kepada pihak lainnya, atau untuk tujuan administratif. Kendati tidak dinyatakan secara eksplisit namun dapat disimpulkan bahwa Intellectual Capital telah mendapat perhatian yang semakin dominan dan menjadi topik bahasan utama dalam pemikirian baru terkait dengan perkembangan tentang pemahaman akan capital itu sendiri, terutama bila dikaitkan dengan aktiva tidak berwujud.

Meskipun telah ditetapkan dalam PSAK No. 19, namun pada kenyataannya pengungkapan intellactual capital di Indonesia masih rendah. Penyebabnya adalah kurangnya kesadaran terhadap pentingnya intellectual capital dalam menciptakan dan mempertahankan keunggulan kompetitif perusahaan dan shareholder value.

Ketika intellectual capital ditingkatkan pengenalan dan pemanfaatannya secara optimal, maka akan membantu meningkatkan kepercayaan stakeholder terhadap kelangsungan hidup perusahaan yang dapat mempengaruhi return saham perusahaan. Sehingga dengan meningkatnya return saham, investor akan menunjukkan apresiasi yang lebih dengan berinvestasi pada perusahaan tersebut. Dengan adanya pertambahan investasi tersebut, juga akan berdampak pada naiknya nilai perusahaan.

Sekian kultweet kali ini dari Keluarga Akkeu ya Sob. Sampai jumpa tahun depan di topik2 menarik Akkeu selanjutnya!

Keep Learning, Sharing, and Inspiring! 😀

Sumber                        :

  1. Ulum, Ihyaul, Imam Ghozali & Anis Chariri. 2008. “Intellectual capital dan kinerja keuangan perusahaan; sebuah analisis dengan pendekatan partial least squares. Call for paper Simposium Nasional Akuntansi XI. Ikatan Akuntan Indonesia. Pontianak.

http://riaupos.co/4854-opini-intellectual-capital-solusi-atasi-perlambatan-ekonomi-global.html#.XAOQ-OJoRdg

Image: td.org

Akuntansi Pemerintah

  1. 2

     

    • Pengertian akuntansi pemerintahan

    “Akuntansi pemerintahan adalah sebuah kegiatan jasa dalam rangka menyediakan informasi kuantitatif terutama bersifat keuangan dari entitas pemerintah guna pengambilan keputusan ekonomi yang nalar dari pihak-pihak berkepentingan atas berbagai alternatif tindakan” (Halim, 2007)

    • Perbedaan akuntansi pemerintahan dan akuntansi bisnis/privat

    Perbedaan

    Akuntansi Pemerintahan

    Akuntansi Bisnis

    Tujuan

    NonProfit motive

    Profit motive

    Organisasi

    Pemerintah

    Swasta

    Sumber pendanaan

    Pajak, retribusi, utang, obligasi

    pemerintah, laba BUMN/BUMD, penjualan aset negara, dsb

    Pembiayaan internal : modal

    sendiri laba ditahan, penjualan

    aktiva

    Pembiayaan eksternal : utang

    bank, obligasi, penerbitan saham

    Pertanggungjawaban

    Masyarakat (publik) dan parlemen (DPR/MPR)

    Pemegang saham dan kreditur

    Komponen laporan keuangan

    Laporan finansial

    • Laporan operasional

    • Laporan perubahan ekuitas

    • Laporan posisi keuangan

    • Laporan arus kas

    • Catatan atas laporan keuangan

    Laporan pelaksanaan anggaran

    • Laporan realisasi anggaran

    • Laporan perubahan SAL

     

    • Laporan laba rugi

    • Laporan perubahan ekuitas

    • Laporan posisi keuangan

    • Laporan arus kas

    • Catatan atas laporan keuangan

    Struktur organisasi

    Birokratis, kaku, dan hierarkis

    Fleksibel, datar, piramid, lintas fungsional

    Standar akuntansi

    Standar akuntansi pemerintahan

    Standar akuntansi keuangan

    Jurnal anggaran

    Ada.

     

    (Pada PPKD)

    Estimasi pendapatan

    Estimasi penerimaan pembiayaan

    • Apropriasi belanja

    • Apropriasi pengeluaran pembiayaan

    • Estimasi perubahan SAL

     

    (Pada SKPD)

    Estimasi pendapatan

    Estimasi perubahan SAL

    • Apropriasi ​​ belanja

    Tidak ada jurnal

    Kodefikasi akun

    1. Aset

    2. Kewajiban

    3. Ekuitas

    4. Pendapatan LRA

    5. Belanja

    6. Transfer

    7. Pembiayaan

    8. Pendapatan LO

    9. Beban

    1. Aset

    2. Liabilitas

    3. Ekuitas

    4. Pendapatan

    5. Beban

     

     

    • Dasar hukum akuntansi pemerintahan

    • UU No.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara

    • UU No.1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara

    • PMK No.171/PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat

    • PMK No.196/PMK.05/2008 tentang Tata Cara Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-lain pada Bagian Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan

    • PMK No.191/PMK.05/2011 tentang Mekanisme Pengelolaan Hibah

    • PMK No.230/PMK.05/2011 tentang Sistem Akuntansi Hibah

    • PMK No.233/PMK.05/2011 tentang Perubahan atas PMK No.171/PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat

    • Tujuan akuntansi pemerintahan

      • Akuntabilitas, Keuangan Negara yang dikelola harus mampu dipertanggungjawabkan sesuai amanat konstitusi yang diatur dalam UUD 1945 Pasal 23 ayat 5.

      • Manajerial

    Akuntansi pemerintahan memungkinkan pemerintah membantu merancang penyusunan APBD dan strategi pembangunan dan pengendalian atas kegiatan dalam rangka pencapaian ketaatan perundang-undangan, efisiensi, efektifitas dan ekonomis.

      • Pengawasan

    Keuangan di pemerintahan terdiri dari pemeriksaan keuangan secara umum, pemeriksaan ketaatan dan pemeriksaan operasional atau manajerial.

    • Karakteristik akuntansi pemerintahan

      • Tidak berorientasi laba

      • Kepemilikan pemerintah bersifat kolektif sesuai konstituen

      • Kontribusi keuangan tidak terkait secara langsung dengan pelayanan pemerintah

      • Keputusan kebijakan dan operasional dibuat oleh lembaga perwakilan di negara-negara penganut demokrasi indonesia

      • Keputusan atau kebijakan wajib dibuat secara terbuka

      • Dimungkinkan adanya pemakaian lebih dari satu jenis dana

      • Bersifat kaku

    • Ruang lingkup akuntansi pemerintahan

    Mardiasmo (2006:01) mengatakan bahwa ruang lingkup akuntansi pemerintahan adalah:

      • akuntansi manajemen

      • sistem akuntansi keuangan

      • perencanaan keuangan dan pembangunan

      • sistem pengawasan dan pemeriksaan

      • berbagai implikasi finansial atas kebijakan-kebijakan yang dilakukan pemerintah.

     

    Daftar Pustaka

     

     

     

Indonesia dan Era Industri 4.0 at Glance

Indonesia dan Era Industri 4.0 at Glance

Halo apa kabar sobat Gogo ? Gogo harap sobat semua sehat selalu ya. Setelah sebulan lamanya kita tidak bertemu melalui media sosial, hari ini Gogo akan menjelaskan kultweet tentang peran akuntan Indonesia di tengah berkembangnya era industri 4.0. Hmm seperti apa ya ? Yuk sama- sama kita cari tahu.

Istilah industri 4.0 pertama kali di perkenalkan di Jerman beberapa tahun yang lalu. Istilah ini mengacu kepada penggunaan internet untuk memberikan solusi terhadap sektor manufaktur agar dapat bekerja lebih efisien. Singkatnya industri 4.0 merupakan era dimana seluruh pekerjaan terhubung melalui sambungan koneksi internet. Pernyataan ini didukung oleh laporan yang disampaikan oleh KPMG pada tahun 2016 yang mengatakan masa depan industri ada pada sambungan internet yang dapat mengintegrasikan seluruh informasi.

Era industri 4.0 juga berdampak kepada Indonesia. Perkembangan industri di Indonesia direspon dengan pembenahan akan penguasaan terhadap informasi dan teknologi. Disisi lain gencarnya pembangunan infrastruktur guna membantu meningkatkan akses di setiap daerah dianggap mampu menurunkan cost. Hal ini juga diperkuat dengan data yang dikeluarkan World Economic Forum (WEF)’s Global Competitiveness Report 2017 yang mengatakan Indonesia berada di urutan 36 dari 100 negara. Tahun 2017 juga pertumbuhan start-up di Indonesia berada di urutan ke 4 sebanyak 1.705 start-up.

Paparan diatas menggambarkan kesiapan Indonesia dalam era Industri 4.0. Dengan maraknya pertumbuhan start-up serta perkembangan industri maka selain menumbuhkan daya saing, diperlukan juga struktur keuangan yang kuat untuk dapat going concern.

 

Lalu bagaimana peran akuntan dalam industri 4.0? Apakah akuntan dapat survive dalam era ini ?

Memasukki modernisasi industri diyakini akan berdampak kepada berbagai faktor pendukung. Setiap faktor tersebut dapat men-support perkembangan industri di Indonesia. Salah satu faktor pendukung adalah dari sisi keuangan. Meningkatnya jumlah start up di masing- masing sektor menjadi modal bagus bagi Indonesia untuk menyambut era industri baru. Artinya akan muncul investor potensial untuk menanamkan modal di Indonesia. Investor membutuhkan laporan keuangan yang informatif demi membuat keputusan. Peran akuntan sangat dibutuhkan demi menyiapkan laporan keuangan tersebut. Dibutuhkan kemampuan teknis, pengetahuan akan business process untuk dapat menyiapkan laporan keuangan tersebut.

Disisi perusahaan, kehadiran akuntan penting dalam membantu perkembangan perusahaan sob. Jika kita melihat berita akhir- akhir ini start up unicorn di Indonesia contohnya Go-Jek yang melakukan ekspansi ke Vietnam, atau Grab yang mengakuisi beberapa start up layaknya Kudo, atau perusahaan kompetitor semacam UBER. Artinya terjadi ekspansi perusahaan-perusahaan tersebut dalam melebarkan bisnisnya. Peran akuntan disini penting bagi perusahaan dalam membuat analisis terkait profitabilitas dan Return on Investment (ROI) bagi perusahaan. Selain itu analisa mengenai pricing serta cost control dianggap krusial bagi perusahaan terutama di era internet of things.

Meningkatnya internet ditandai dengan ingeritas data serta koneksi terkait database perusahaan menjadi semakin penting. Peningkatan konektivitis juga berdampak kepada perubahan model bisnis dan business process. Namun, disisi lain, adanya potensi terhadap risiko seperti misalnya ransomware. Akuntan perlu dapat memahami enterprise riskmanagement process terutama dalam menilai risiko yang muncul bagi perusahaan. Selain itu, akuntan perlu membantu perusahaan dalam meningkatkan value yang perusahaan tawarkan dengan era internet sehingga menjadi modal dalam berkompetisi.

Kemudian sob apa saja yang perlu dilakukan oleh akuntan untuk survive ya sob ?

Kehadiran industri 4.0 turut serta membawa internet of things (IoT), big data yang akan berdampak kepada akuntan baik secara langsung dan tidak langsung. Akuntan perlu mempelajari cara manajemen big data. Akuntan harus bisa memahami bahasa IT dan konsep IoT dalam membangun struktur keuangan, akuntansi dan sistem pelaporan keuangan. Hal ini dapat membantu akuntan dalam memberikan advice kepada perusahaan/ client.

Kemampuan menganalisis dan advice sangat dibutuhkan oleh seorang akuntan sob. Artinya, sobat calon akuntan tidak hanya dibutuhkan kemampuan teknis akuntansi, tapi juga perlu mempelajari kemampuan memberikan advice. Sobat perlu memahami business process setiap industri. Hal ini penting, apalagi dengan hadirnya otomatisasi dan artificial intelligence yang dapat mengubah industri dengan cepat.

Era industri 4.0 akan berfokus kepada kecepatan dan ketepatan. Diperlukan data keuangan yang informatif, proses yang efektif dan efisien dalam membantu membuat keputusan. Maka dapat kita katakan akuntan memiliki potensi untuk berkembang dalam era industri 4.0 ini. Komunitas Jago Akuntansi juga mendukung dalam mengawal era industri 4.0 melalui kultweet-kultweet yang informatif terkait akuntansi. Jadi jangan lewatkan kultweet kami melalui media sosial sobat ya. See ya.

 

 

 

 

 

 

PSAP 12 LAPORAN OPERASIONAL

Halooooooo sobat gogo

Selamat Malam semuanya semoga aktivitas nya lancar ya 😁

Malam Mingguan ini kita Berjumpa lagi, dengan prodi Akuntansi Pemerintahan nih sob!

Untuk Malam Ini kita akan bahas tentang !!!!

 

                                          PSAP 12 LAPORAN OPERASIONAL

Manfaat Informasi LO

Laporan Operasional menyediakan informasi mengenai seluruh kegiatan operasional keuangan entitas pelaporan yang tercerminkan dalam

  • pendapatan-LO,
  • beban, dan
  • surplus/defisit operasional

dari suatu entitas pelaporan yang penyajiannya disandingkan dengan periode sebelumnya.

 

Periode Pelaporan

  • Laporan Operasional disajikan sekurang-kurangnya sekali dalam setahun.
  • Dalam situasi tertentu,  apabila tanggal laporan suatu entitas berubah dan Laporan Operasional tahunan disajikan dengan suatu periode yang lebih pendek dari satu tahun, entitas harus mengungkapkan informasi sebagai berikut:
  • alasan penggunaan periode pelaporan tidak satu tahun;
  • fakta bahwa jumlah-jumlah komparatif dalam Laporan Operasional dancatatan-catatan terkait tidak dapat diperbandingkan.

 

Struktur dan Isi Laporan Operasional

Laporan Operasional menyajikan berbagai unsur:

  1. pendapatan-LO,
  2. beban,
  3. surplus/defisit dari operasi,
  4. surplus/defisit dari kegiatan non operasional,
  5. surplus/defisit sebelum pos luar biasa,
  6. pos luar biasa, dan
  7. surplus/defisit-LO,

yang diperlukan untuk penyajian yang wajar secara komparatif.

 

STRUKTUR LAPORAN OPERASIONAL

  1. Pendapatan-LO (dari kegiatan operasional)
  1. Hak pemerintah
  2. Diakui sebagai penambah ekuitas
  3. Dalam periode tahun anggaran yg bersangkutan
  4. Tidak perlu dibayar kembali
  5. Beban (dari kegiatan operasional)
  6. Penurunan manfaat ekonomi/potensi jasa dalam periode pelaporan
  7. menurunkan ekuitas
  8. berupa pengeluaran/ konsumsi aset atau timbulnya kewajiban

 

  1. Kegiatan Non Operasional
  2. Sifatnya tidak rutin, termasuk surplus/defisit dari penjualan aset non lancar dan penyelesaian kewajiban jangka panjang
  3. Pos Luar Biasa
  • Pendapatan/Beban yg bukan merupakan operasi biasa
  • Tidak diharapkan sering/rutin terjadi
  • Di luar kendali/ pengaruh entitas ybs
  • Sifat & jumlah diungkap dalam CalK

 

Akuntansi Pendapatan – LO

 

  • Pendapatan-LO diakui pada saat:
  • Timbulnya hak atas pendapatan;
  • Pendapatan direalisasi, yaitu adanya aliran masuk sumber daya ekonomi.
  • Pendapatan-LO diklasifikasikan menurut sumber pendapatan.
  • Akuntansi pendapatan-LO dilaksanakan berdasarkan azas bruto, yaitu dengan membukukan pendapatan bruto, dan tidak mencatat jumlah netonya (setelah dikompensasikan dengan pengeluaran).
  • Dalam hal besaran pengurang terhadap pendapatan-LO bruto(biaya) bersifat variabel terhadap pendapatan dimaksud dan tidak dapat diestimasi terlebih dahulu dikarenakan proses belum selesai, maka asas bruto dapat dikecualikan.
  • Dalam hal badan layanan umum, pendapatan diakui dengan mengacu pada peraturan perundangan yang mengatur mengenai badan layanan umum.

 

AKUNTANSI PENDAPATAN  PADA LAPORAN OPERASIONAL

  1. Pengakuan
  2. Pada saat timbul hak atas pendapatan (hak untuk menagih) atau
  3. Pada saat pendapatan direalisasi
  4. Pencatatan

Berdasarkan azas bruto

  1. Pengungkapan

Rincian lebih lanjut sumber pendapatan disajikan dalam CaLK

  1. Klasifikasi

Menurut sumber pendapatan

 

Akuntansi Beban

  • Beban diakui pada saat:
  1. timbulnya kewajiban;
  2. terjadinya konsumsi aset;
  3. terjadinya penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa.
  • Dalam hal badan layanan umum, beban diakui dengan mengacu pada peraturan perundangan  yang mengatur mengenai badan layanan umum.
  • Beban diklasifikasikan menurut klasifikasi ekonomi.
  • Beban Transfer adalah beban berupa pengeluaran uang atau kewajiban untuk mengeluarkan uang dari entitas pelaporan kepada suatu entitas pelaporan lain yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan.
  • Koreksi atas beban, termasuk penerimaan kembali beban, yang terjadi pada periode beban, dibukukan sebagai pengurang beban pada periode yang sama. Apabila diterima pada periode berikutnya, koreksi atas beban dibukukan dalam pendapatan lain-lain. Dalam hal mengakibatkan penambahan beban dilakukan dengan pembetulan pada akun ekuitas.

Surplus/ Defisit dari Kegiatan Operasional

  • Surplus dari kegiatan operasional adalah selisih lebih antara pendapatan dan beban selama satu periode pelaporan.
  • Defisit dari kegiatan operasional adalah selisih kurang antara pendapatan dan beban selama satu periode pelaporan.
  • Selisih lebih/kurang antara pendapatan dan beban selama satu periode pelaporan dicatat dalam pos Surplus/Defisit dari Kegiatan Operasional.
  • Pendapatan dan beban yang sifatnya tidak rutin perlu dikelompokkan tersendiri dalam kegiatan non operasional.
  • Selisih lebih/kurang antara surplus/defisit dari kegiatan operasional dan surplus/defisit dari kegiatan non operasional merupakan surplus/defisit sebelum pos luar biasa.

Surplus/Defisit – LO

  • Surplus/Defisit-LO adalah penjumlahan selisih lebih/kurang antara surplus/defisit kegiatan operasional, kegiatan non operasional, dan kejadian luar biasa.
  • Saldo Surplus/Defisit – LO pada akhir periode pelaporan dipindahkan ke Laporan Perubahan Ekuitas.

Transaksi dalam Mata Uang Asing

Dalam hal tidak tersedia dana dalam mata uang asing yang digunakan untuk bertransaksi dan mata  uang asing tersebut dibeli dengan mata uang asing lainnya, maka:

  • Transaksi mata uang asing ke mata uang asing lainnya dijabarkan dengan menggunakan kurs transaksi
  • Transaksi dalam mata uang asing lainnya tersebut dicatat dalam rupiah berdasarkan kurs tengah bank sentral pada tanggal transaksi.
  • Transaksi pendapatan-LO dan beban dalam bentuk barang/jasa harus dilaporkan dalam Laporan Operasional dengan cara menaksir nilai wajar barang/jasa tersebut pada tanggal transaksi.
  • Di samping itu, transaksi semacam ini juga harus diungkapkan sedemikian rupa pada Catatan atas Laporan Keuangan sehingga dapat memberikan semua informasi yang relevan mengenai bentuk dari pendapatan dan beban.

Kompensasi Manajemen

Selamat malam sobat Gogo dimanapun kalian berada. Kembali lagi bersama Gogo yang akan kembali membahas tentang Jurnal. Jurnalnya apa ya kira-kira malam ini? Yapp betul sekali, Gogo akan bahas tentang Jurnal Kompensasi Manajemen. Judul jurnalnya yaitu PENGARUH PRIVATISASI, KOMPENSASI MANAJEMEN EKSEKUTIF, DAN UKURAN PERUSAHAAN PADA KINERJA KEUANGAN. Kalian juga bisa liat langsung jurnalnya di link berikut: https://ojs.unud.ac.id/index.php/Akuntansi/article/view/10304/8529. Baiklah tanpa panjang lebar mari kita bahas tentang jurnal ini.

Jadi gini sob, dunia usaha kini dihadapkan pada kondisi kompetisi yang semakin kuat. Terutama untuk BUMN yang mendapat sorotan dari masyarakat karena kinerjanya yang dianggap belum optimal. Optimalisasi BUMN dapat dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu peningkatan restrukturisasi, profitisasi dan privatisasi. Privatisasi merupakan kebijakan yang paling populer untuk mengurangi beban defisit anggaran negara dan meningkatkan efisiensi produksi BUMN.

Direksi sebagai pihak yang bertanggung jawab penuh mengelola perusahaan demi tercapainya kelangsungan hidup perusahaan dipandang sangat perlu mendapatkan apresiasi yang efektif yaitu dalam bentuk kompensasi. Sistem kompensasi manajemen dibentuk sebagai alat untuk mencapai keselarasan tujuan antara manajemen dengan pemilik, memotivasi pihak manajemen agar giat bekerja, produktif meningkatkan kinerja dan menciptakan nilai perusahaan. Weston et al. (2004: 559) menyatakan bahwa dewan komisaris memiliki peran penting di dalam praktik good corporate governance (GCG).

Ukuran perusahaan juga dapat mempengaruhi kinerja perusahaan, dan akan mempengaruhi fleksibilitas perusahaan tersebut dalam memasuki pasar modal. Perusahaan yang lebih besar dan memiliki tingkat stabilitas perusahaan yang baik akan lebih mudah memasuki pasar modal dibandingkan dengan perusahaan kecil. Itulah beberapa poin penting alasan jurnal ini dibuat.

Selanjutnya, yuk kita bahas pengertian masing-masing dari kata kunci tersebut. Yang pertama mengenai Privatisasi. Privatisasi adalah salah satu cara efektif memperbaiki kinerja BUMN dari faktor internal dan eksternal perusahaan tersebut, sehingga banyak perusahaan terutama BUMN melakukan privatisasi untuk memperbaiki kinerja perusahaan. Selanjutnya yaitu kompensasi eksekutif. Kompensasi eksekutif merupakan salah satu alat yang masih dianggap efektif untuk meningkatkan kinerja perusahaan. And the last adalah mengenai ukuran perusahaan. Ukuran perusahaan akan berpengaruh terhadap perkembangan perusahaan, karena perusahaan yang besar pada dasarnya memiliki kekuatan finansial yang lebih besar dalam menunjang kinerja, tetapi disisi lain, perusahaan dihadapkan pada masalah keagenan yang lebih besar.

Tibalah saatnya kita lakukan pembahasan. Penelitian ini berbentuk kuantitatif yang berbentuk asosiatif dengan tipe kausalitas. Penelitian ini menggunakan data laporan keuangan perusahaan BUMN yang terdaftar di BEI tahun 2008-2012 dan sudah dipublikasikan. Dalam menentukan ukuran sampel menggunakan metode purposive sampling. Berdasarkan kriteria tertentu sehingga yang digunakan dalam penelitian adalah 13 sampel.

Berikut adalah hasil uji analisis yang disajikan dalam bentuk tabel. Adapun analisis yang digunakan yaitu uji statistik deskriptif, uji asumsi klasik, uji autokorelasi, dan uji analisis regersi linier berganda.

Dari angka-angka yang didapat tersebut, dapat diindikasikan hasil yang baik karena semakin kecil nilai standar deviasi maka data atau variabel tersebut semakin merata, artinya standar deviasi tidak jauh menyimpang dari nilai rata-ratanya (mean).

Hasil uji asumsi klasik pada tabel 2 menunjukan signifikansi sebesar 0,846 melebihi 0,05, maka data telah terdistribusi dengan normal.

Pada tabel 3 menunjukan nilai durbin watson adalah 1,450 lebih besar dari batas atas du (1,604), sehingga kesimpulanya tidak terdapat gejala autokorelasi.

Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda diketahui variabel privatisasi dengan hasil = 0,000 < α = 0,05, Artinya perusahaan yang melakukan privatisasi kinerja keuangan perusahaan BUMN yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2012 semakin meningkat. Variabel kompensasi dengan hasil = 0,004 < α = 0,05, Artinya semakin tinggi kompensasi manajemen eksekutif maka semakin tinggi kinerja keuangan perusahaan BUMN yang terdaftar di bursa Efek Indonesia periode 2008-2012. Variabel ukuran perusahaan dengan hasil = 0,867 > α = 0,05, maka hasil penelitian ini menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh pada kinerja keuangan perusahaan BUMN periode 2008-2012.

Simpulan dari hasil pembahasan penelitian adalah privatisasi berpengaruh pada kinerja, kompensasi manajemen eksekutif berpengaruh pada kinerja keuangan, dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan BUMN yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2012.

Ok sob, sekian dulu materi dari prodi akmen hari ini.Sampai bertemu minggu depan di Kultweet selanjutnya. Keep learning, Sharing, Inspiring ! J

Sumber: https://ojs.unud.ac.id/index.php/Akuntansi/article/view/10304/8529