Stock Opname: Urgensi dan Prosedur Perhitungan Fisik Persediaan

images (15)Siapa yang akhir2 tahun ini sibuk #StockOpname hehe. Hmm, yang belum bekerja, yang masih unyu ayo belajar bareng sini. Timing yg tepat! 🙂

 

1. Diantara byk masalah akuntansi persediaan, yg sering ditanyakan adl prosedur teknis penghitungan fisik persediaan alias #StockOpname wow!

 

2. Kalau masalah jurnal, penyajiannya dlm lapkeu termasuk penentuan metode nilai persediaan, Mimin yakin kalian udah belajar. #StockOpname

 

3. Yg jarang dibahas adl prosedur teknis #StockOpname itu sendiri, padahal menguasai hal ini adl sesuatu yang sangat vital loh. Nah loh. 🙂

 

4. “Lho, utk apa #StockOpname lg, akun persediaan kita udah pake sistem perpetual -setiap pergerakan barang langsung tercatat kok-” hadeeeh!

 

5. Tentu aja, Mimin gak nyalahin pendapat itu. Cm dlm hati berpikir: “beginilah kalau teori ditelan mentah-mentah”. Kasian ya. #StockOpname

 

6. Secara teoritis, sistem perpetual, setiap pergerakan barang sdh terekam dlm data transaksi di kartu stock &ledger inventory. #StockOpname

 

7. Ingat kan kalau ada pembelian bahan baku, dicatat dgn jurnal : Dr. Persediaan — Bahan Baku/Barang Jadi. Cr. Utang Dagang. #StockOpname

 

8. Lalu bahan baku dikeluarkan dr gudang (utk diolah di produksi) dicatat dgn jurnal : Dr. Barang Dalam Proses. Cr. Persediaan. #StockOpname

 

9. Selanjutnya BDP pindah ke barang jadi, dicatat dgn jurnal : Dr. Persediaan Barang Jadi. Cr. BDP — BB. Cr. BDP — BTKL. #StockOpname inget?

 

10. Barang laku terjual dicatat : Dr. Piutang Dagang. Cr. Penjualan. Dr. Harga Pokok Penjualan. Cr. Persediaan Barang Jadi. #StockOpname

 

11. Barang retur dr pelanggan dicatat : Dr. Penjualan Cr. Piutang Dagang Dr. Persediaan Barang Jadi Cr. Harga Pokok Penjualan #StockOpname

 

12. Nah untuk no 11 tadi, menurut ketentuan IFRS, barang persediaan retur dinilai dan diakui sebesar nilai wajarnya/pasarnya. #StockOpname

 

13. So, apa yg di bilang tadi emang betul; di atas kertas, semua pergerakan persediaan udah terekam, gak ada yg lewat. Tapi… #StockOpname

 

14. Ada tetapinya lho. Ada 4 kejadian (event) menyangkut barang persediaan yg lolos dr pencatatan sistem perpetual. #StockOpname wah wah..

 

15. a. Persediaan Scrap, sisa2 bahan baku yg ga bs kepake lg tapi ada nilainya, entah didaur ulang atau dijual kpd pihak lain. #StockOpname

 

16. Darimana bisa tahu berapa ada scrap inventory jika tidak melakukan penghitungan fisik (ditimbang/diukur/dihitung) ? #StockOpname hayoo!

 

17. b. Persediaan Kadaluarsa khususnya di perusahaan pengolahan makanan/minuman, potensi nilainya tinggi. #StockOpname hmm…

 

19. c. Persediaan Rusak Dalam Penyimpanan, khususnya barang yg bersifat tidak ‘fast-moving’, butuh waktu lama utk abis terjual. #StockOpname

 

20. Kemungkinan rusak dlm penyimpanan (apalagi yg gak tahan lembab, gak tahan suhu dingin, dll.) itu tergolong tinggi. #StockOpname naah..21. Intinye barang rusak dlm penyimpanan gak terekam di catatan sistem perpetual sampai dilakukan penghitungan fisik atau #StockOpname wow!

 

22. d. Persediaan Tercuri, kalo pengurangannya tercatat, ya namanya bukan barang tercuri. Jadi ini jg gak bisa diketahui (cont) #StockOpname

 

23. ..hanya dgn melihat kartu stock dan catatan dari sistem perpetual. Walau sedikit kalo bernilai tinggi sangat rentan dicuri. #StockOpname

 

24. Dari ke4 event itu rasanya Mimin udah gak perlu lg jelasin betapa vitalnya #StockOpname dalam proses akuntansi persediaan. Mikir dah ah!

 

25. Pasti ada yg mikir “Saya kan orang accounting, untuk apa pusing2 mikirin urusan #StockOpname, bukankah itu tugasnya orang gudang?”

 

26. Mengapa karyawan Akuntansi wajib bisa nanganin Penghitungan Fisik Persediaan alias #StockOpname? Nih lanjut baca baik2 ya Jagoan. 🙂

 

27. Bahwa yang bertanggungjawab atas kehilangan barang persediaan adalah warehouse manager dan anggota teamnya, IYA. Terus? #StockOpnam

 

28. Tanggungjawab atas kerusakan barang dan selisih antara kartu stock dgn ‘kenyataan fisik persediaan’ adl orang gudang? IYA. #StockOpname

 

29. Tetapi ORANG ACCOUNTING bertanggungjawab atas AKURASI LAPORAN KEUANGAN yg di dalamnya termasuk Harga Pokok Penjualan (cont) #StockOpname

 

30. ..dalam Laporan L/R yg di dalamnya ada penggunaan persediaan dan

Saldo akhir Persediaan di Lap. Posisi Keuangan (Neraca). #StockOpname

 

31. So pihak yg paling berkepentingan utk mastiin kartu stock dan buku persediaan mewakili kondisi yg sebenarnya adalah (cont) #StockOpname

 

32. …orang akuntansi bukan orang gudang. Terlebih-lebih auditor, mereka berkentingan utk tahu kondisi persediaan yg bener. #StockOpname

 

33. Pertanyaan selanjutnya : Kapan donk Min #StockOpname dilakukan? Gak ada ketentuan pasti kapan hal ini harus dilakukan. Tuh catet ya! 🙂

 

 

34. Secara teori yg dipelajari di buku2 itu #StockOpname dilakukan di akhir periode pelaporan setahun sekali. Tapi implementasinya? Nah loh.

 

35. Makin sering #StockOpname dilakukan makin bagus. *wow koprol dulu ah! Mengapa? Ada 2 tujuan strategis dari perhitungan fisik ini, catet!

 

36. Dari aspek akuntansi keuangan, penghitungan fisik persediaan dilakukan utk menjamin keakuratan isi laporan keuangan. #StockOpname catet!

 

37. Sehingga nilai aset khususnya persediaan tercermin di Neraca. Utk maksud ini, betul #StockOpname cm perlu dilakukan tiap akhirtaun buku.

 

38. Dari aspek akuntansi manajemen, perhitungan fisik persediaan dilakukan utk tujuan pengendalian biaya (cost control). #StockOpname catet!

 

39. Agar cost terkait dgn persediaan teralokasi dgn benar, sehingga harga jual per unit barang bisa dihitung secara akurat. #StockOpname

 

40. Nah! utk maksud ini, kalo #StockOpname cm dilakukan di akhir tahun, maka manajemen gak punya kesempatan utk melakukan upaya pencegahan!!

 

41. Tentu perusahaan harus mempertimbangkan ‘cost and benefit’-nya, bagaimanapun juga #StockOpname mengkonsumsi waktu dan tenaga, hehe. 🙂

 

42. Kalo Mimin melakukan #StockOpname menjelang tutup buku bulanan agar manajemen bs melihat kondisi barang persediaan (cont) #StockOpname

 

43. ..yang sesungguhnya setiap bulan termasuk analisa variance yg timbul di wilayah ini. Ya #StockOpname ini masuk kebijakan perusahaan. 🙂

 

44. Sekarang kita masuk ke bagaimana prosedur dijalankan, dalam implementasi pekerjaan yg sesungguhnya? Ayo yg mau #StockOpname simak!!! 🙂

 

45. Utk menghitung jumlah fisik persediaan kartu perdana di sebuah counter HP, tentu yg diperlukan cm diri sendiri. Tapi coba.. #StockOpname

 

46. Sekarang bayangin km Chief Accountant, sedang berdiri di pintu gudang barang persediaan berukuran 5000 meter persegi (cont) #StockOpname

 

47. ..dgn jenis item barang persediaan ratusan ribu yg tumpukan raknya hingga setinggi 10 meter. Apa yg akan km lakukan utk #StockOpname ???

 

48. Bukan pekerjaan yg mudah. Seorang auditor biasanya hny melakukan random count (penghitungan acak) sekedar utk menguji. #StockOpname

 

49. Tapi akuntan perusahaan hrs melakukan full-count, hitung satu-per-satu, tanpa boleh ada yg terlewatkan. What??? Capek Min! #StockOpname

 

50. Yg jelas kita gak bisa lakukan sendiri, harus ada TEAM. Team PENGHITUNG, Team TAG/STICKER dan Team INPUT DATA. Bagi2 tugas #StockOpname.

 

51. Team Penghitung terdiri dari beberapa orang yg akan melakukan #StockOpname tergantung seberapa besar volume persediaan dan luas gudang.

 

52. Tugasnya melakukan penghitungan &memasang tag/sticker pd barang yg tlah dihitung &menyerahkan copy tag/sticker ke team TAG. #StockOpname

 

53. Team TAG/Sticker terdiri dari beberapa orang yang khusus menangani TAG/sticker. team ini mendistribusikan tag/sticker dlm #StockOpname.

 

54. Setiap tag diserahkan kpd anggota team penghitung, dicatat pada spreadsheet. Pastikan tag yg kembali jg sama dg yg keluar. #StockOpname.

 

55. Team Input Data terbagi 2 kelompok. kelompok 1 bertugas membandingkan antara kode barang yg ada di spreadsheet dgn (cont) #StockOpname.

 

56. ..kode barang yg ada di atas masing2 tag. Setelah quantity dijumlah dgn benar, tag diserahkan ke kelompok 2.

#StockOpname

 

57. Kelompok 2 terdiri dr bbrp orang data entry yg memasukan angka2 quantity yg ada di atas tag kembali ke dalam spreadsheet. #StockOpname

 

58. Bagimana prosedur penghitungannya? Mimin biasa bagi mjd 3 fase dgn jadwal waktu yg berbeda yaitu Persiapan Tahap I, II dan #StockOpname.

 

59. Fase-1. Persiapan Tahap I waktunya seminggu menjelang proses #StockOpname. Pesan TAG yg sdh ada nomor serinya sejumlah jenis barangnya.

 

60. Jika buku persediaan ada dalam suatu sistem (software), review data barang persediaan. Cari barang yg tanpa kode, (cont) #StockOpname

 

61. ..beri keterangan “Perlu Kode” pd field keterangan. Lalu printout. Di atas kertas printout beri stabilo dgn warna mencolok. #StockOpname

 

62. Serahkan printout tsb ke Kepala Gudang, minta agar barang yg ada tanda “Perlu Kode” diisi kode secepatnya. #StockOpname lalu ngapain?

 

63. Minta orang gudang menata barang persediaan agar dipack dan ditempatkan di rak sesuai jenis dan urutan kodenya. #StockOpname terus?

 

64. Siapkan sticker yg berisi tulisan “Jangan Dihitung” utk nanti ditempelkan di barang yg tidak diikutsertakan dlm #StockOpname. Contohnya?

 

65. Barang persediaan yg nilainya sudah dihapus (written off), barang persediaan titipan dari pelanggan (consignment), (cont) #StockOpname

 

66. Peralatan/tempat penyimpanan barang, peralatan kerja, supplies kantor. Lalu buat Team dan tentukan waktu serta lokasi #StockOpname.

 

67. Fase-2 Persiapan Tahap II waktunya sehari menjelang #StockOpname dilaksanakan. Beritahu semua team dan undang Internal Auditor jika ada.

 

68. Beritahu Kepala Gudang agar barang masuk mulai besok pagi-pagi harus dipisahkan dan diberi sticker “Jangan Dihitung”. #StockOpname

 

69. Beritahukan Kepala Gudang cc: Manager Marketing bahwa pengiriman barang dari gudang, tidak diperbolehkan selama proses #StockOpname.

 

70. Beritahu Kepala Gudang menginput semua transaksi persediaan per hari ini ke dalam sistem tanpa ada yang ketinggalan. #StockOpname

 

71. Karena kita Accounting akan printout data persediaan di akhir jam kerja hari ini. Setelah itu komputer gudang akan disegel. #StockOpname

 

72. Beritahu Kepala Gudang bahwa transaksi persediaan hanya boleh dilakukan paling lambat pukul 5 sore. Lalu masuk tahap akhir #StockOpname.

 

73. Fase 3 Perhitungan Fisik atau #StockOpname waktunya pagi hari. Periksa &pastikan semua transaksi persediaan kemarin sdh masuk ke sistem.

 

74. Kumpulkan semua team penghitung untuk di briefing. Berikan instruksi #StockOpname. Jika gudangnya cukup luas, perlu peta gudang.

 

75. Khusus utk menghitung barang yg ada di rak bagian atas, pastinya perlu forklift, tugaskan orang2 yg sudah berpengalaman. #StockOpname

 

76. Ketua team penghitung mengawasi jalannya #StockOpname. Jika ada anggota yg udah selesai di satu rak tugaskan utk segera ke rak lain.

 

77. Jika menemukan barang rusak/kadaluarsa, sisihkan barang tsb utk diletakkan di rak khusus dan isi tag dgn “Rusak/Kadaluarsa” #StockOpname

 

78. Serahkan tag kpd ketua team TAG. Selanjutnya ketua ini membagikan tag kpd masing2 anggota team penghitung utk diisi saat #StockOpname.

 

79. Utk setiap blok rak yg selesai dihitung, petugas penghitung mengembalikan tag yg telah diisi data #StockOpname kpd team tag utk di cek.

 

80. Kelompok 1 team input menjumlahkan setiap angka yg ada di tag terisi. Satu tag berisi satu total quantity dgn kode barang. #StockOpname

 

81. Kelompok 2 team input memasukan angka yg ada di masing2 tag ke dalam komputer (spreadsheet). Tag yg rusak/kadaluarsa (cont) #StockOpname

 

82. ..di isi keterangan yg sama saat meng-input ke dalam komputer. Kalo udah diinput semua kemudian disortir per kode barang. #StockOpname

 

83. Hasilnya bandingkan dgn data asli di sistem. Jika ada variance (perbedaan), maka bicarakan dgn ketua team penghitung. #StockOpname

 

84. Di akhir proses akan terlihat apakah data persediaan di sistem sama atau tidak dgn data hasil #StockOpname. Jika stelah dilakukan (cont)

 

85. ..penghitungan ulang variance masih tetap ada, itu artinya ada barang hilang atau data persediaan selama ini tidak akurat. #StockOpname

 

86. Data variance akhir (stelah dilakukan perhitungan ulang), barang rusak &kadaluarsa, diserahkan ke Kepala Gudang utk di ttd. #StockOpname

 

87. Serahkan semua data #StockOpname ke Controller utk minta approval dan instruksi lebih lanjut mengenai variance, barang rusak/kadaluarsa.

 

88. Apakah dibuatkan inventory adjustment? Apakah barang rusak dan kedaluarsa di write-off? Atasan yg harus memutuskan hal itu. #StockOpname

 

89. Demikianlah tweeps, penjelasan gamblang dari Mimin yg pernah berpengalaman waktu di KAP jadi Observer #StockOpname di perusahaan dagang.

 

90. Foto waktu Mimin #StockOpname semen dikantor sekarang. Beda, case khusus nih! *selesai http://t.co/JqEyqwQl

Inilah 10 Karakter Dasar Untuk Jadi Akuntan Handal

Akuntan Handal

Akuntansi, seperti bidang lain, menjunjung nilai-nilai khusus tertentu. Nilai-nilai khusus ini kemudian membentuk karakter dasar yang jika dijaga dengan baik bisa menjadi keunggulan tersindiri di lingkungan bisnis dan masyarakat secara luas.

Nilai tertinggi yang dipegang, dalam akuntansi, adalah “akuntabilitas” (accountability)–bisa dipertanggungjawabkan. Setiap angka yang tercatum dalam laporan akuntansi (baik manajemen maupun keuangan) harus bisa dipertanggungjawabkan–akuntabel.

Untuk bisa akuntabel, diperlukan kondisi-kondisi tertentu yang hanya bisa diwujudkan jika memiliki karakter dasar yang diperlukan. Tuntutan akuntabilitas yang direfleksikan melalui aktivitas pekerjaan sehari-hari, yang kian lama kian terasah, akan membuat karakter dasar ini kian muncul ke permukaan, dan menjadi karakter bawaan akuntan dimanapun berada–baik di lingkungan bisnis maupun sosial masyarakat.

Inilah sepuluh karakter dasar yang mutlak harus dimiliki untuk menjadi akuntan handal:

1. Akurat

Bicara akuntansi sudah pasti bicara 2 hal, yaitu: (a) angka; dan (b) uang.

Angka harus akurat. Penggunaan uang (orang lain/pemilik usaha) harus akuntabel–bisa dipertanggungjawabkan. Sehingga pekerjaan akuntansi esensinya adalah mengakurasikan dan mengakuntabelkan angka uang yang dipergunakan dalam aktivitas usaha.

Dari masa sekolah hingga bekerja, orang akuntansi dididik untuk menjadikan akurasi sebagai nilai yang tidak boleh dikompromikan. Nyaris tidak ada ruang untuk tidak akurat. Ketidakakuratan adalah cacat. Ketidakakuratan adalah masalah. Ketidakakuratan adalah kegagalan.

Misalnya: akuntansi hanya mengakui transaksi yang didukung oleh bukti transaksi yang valid. Dan angka yang diakui harus sama persis dengan yang tertera dalam bukti transaksi–hingga ke digit desimal di belakang koma.

Tuntutan ini membuat orang akuntansi menjadi terbiasa menggunakan akurasi sebagai salahsatu alat takar kualitas. Dan sebaliknya, menjadi tidak terbiasa menerima hal-hal yang tidak akurat.

Di sisi kehidupan manapun, akurasi adalah nilai positive. Akurasi menimbulkan trust (kepercayaan) dari pihak lain–baik di lingkungan bisnis maupun lingkungan sosial masyarakat. Sesuatu yang akurat jauh lebih dihargai dibandingkan yang kurang atau tidak akurat.

2. Detail

Akurasi membutuhkan detail. Tanpa detail yang cukup, akurasi tidak akan tercapai. Setiap pekerjaan akuntansi, yang manapun, selalu detail.

Misalnya: Beras 3 truck datang dari supplier tidak bisa dicatat dengan “Persediaan Beras 3 Truck Rp 200,000,000”. Tidak bisa. Harus rinci–dengan dengan menggunakan satuan ukur (unit measurement) terkecil. Jika satuan ukur terkecilnya beras adalah kilogram, maka satuan yang digunakan (dalam perhitungan maupun pencatatan) harus kilogram–tidak boleh “truck”. Untuk emas yang satuan ukur terkecilnya adalah gram, maka harus diakui dengan satuan gram.

Bagi orang akuntansi, sesuatu yang tidak detail cenderung tidak akurat–thus otomatis tidak bisa dipertanggungjawabkan. Itu sebabnya mengapa orang akuntansi cenderung terbiasa terhadap hal-hal yang sifatnya detail dan tidak terbiasa dengan yang sebaliknya.

“Attention to detail” selalu bagus–dibandingkan generalisasi–di sisi kehidupan manapun, baik dalam lingkungan bisnis maupun sosial masyarakat. Di lingkunga bisnis misalnya, keputusan yang diambil dengan menggunakan backup data yang detail cenderung lebih tepat dibandingkan yang menggunakan dasar pertimbangan aggregate (bersifat general). Dan di lingkungan sosial masyarakat, dalam banyak kasus, generalisasi adalah sesuatu yang kurang dihargai.

3. Logis

Meskipun banyak bekerja menggunakan angka, pada kenyataannya akuntansi bukanlah ilmu pasti (exacta)–banyak menggunakan prinsip dan asumsi, namun masih dalam kisaran logis.

Dalam memahami persoalan (pekerjaan) akuntansi, orang akuntansi sendiri tidak sepenuhnya kaku, bisa menerima hal-hal yang masih dalam kisaran logis, tetapi tidak untuk sesuatu yang tidak logis.

Itu sebabnya mengapa orang akuntansi, dalam kesehariannya, adalah orang-orang yang lebih banyak menggunakan logika dibandingkan hal lain. Orang akuntansi tidak mudah menerima hal-hal yang tidak masuk akal.

Logis adalah nilai positive dalam dimensi kehidupan manapun, baik dalam lingkungan bisnis maupun sosial masyarakat. Di lingkungan bisnis misalnya, input dasar pengambilan-keputusan minimal harus logis, tidak bisa menggunakan asumsi dan pertimbangan ngawur. Dan di lingkuan sosial masyarakat, logis lebih bisa diterima dibandingkan tak logis (ngawur).

4. Terukur

Logika yang masih bisa diterima dalam akuntansi adalah logika yang terukur. Sehingga bisa dibilang bahwa, logika yang terukur (di atas kertas dan dalam pelaksanaan) adalah kualitas terendah yang bisa ditoleransi, dalam akuntansi. Segala sesuatunya, jika tidak bisa exact, minimal harus logis dan terukur.

Logika yang dianggap terukur oleh akuntansi adalah logika yang tertuang dalam prinsip dan asumsi yang sudah melalui pengujian yang cukup, lalu disepakati bersama dan diterima oleh umum–dalam literature disebut ‘prinsip prinsip akuntansi berterima umum” (PABU). Bukan prinsip dan asusmi ngawur. Harus masuk akal–baik secara teoritis maupun praktikal.

Terlebih-lebih tugas utama seorang akuntan, di lingkungan bisnis, adalah mengukur kinerja perusahaan dari aspek keuangan. Maka keterukuran adalah nilai minimal yang bisa diterma.

Untuk bisa melaksanakan fungsi utama sebagai pengukur, khsusunya di lingkungan bisnis, seorang akuntan dituntut untuk berpikir, berbicara, bersikap, dan bertindak, serba terukur. Konkretnya: seorang akuntan berpikir, berbicara, lalu melakukan tindakan berdasarkan fakta yang dibackup oleh data. Jika tidak ada data, minimal menggunakan logika yang terukur, yaitu: standar akuntansi dan undang-undang pajak.

Di lingkungan sosial, orang-orang akuntansi juga cenderung berpikir, berbicara, dan bertindak secara terukur (kecuali jika sedang berseloroh). Selalu menggunakan dasar rujukan pasti (hukum, norma, etika, budaya, dan nilai-nilai agama) yang berlaku di lingkungannya.

5. Konsisten

Akuntabilitas, disamping butuh akurasi, detail, kelogisan dan keterukuran, juga membutuhkan konsistensi. Tidak bisa naik-turun. Tidak bisa ‘ngalor-ngidul’, semuanya harus dilakukan secara konsisten:

  • Prosedur akuntansi (pengkuran, pengakuan dan pelaporan) harus konsisten
  • Metode apapun yang digunakan harus konsisten
  • Satuan ukur terkecil yang digunakan harus konsisten
  • Format penyajian laporan harus konsisten
  • Dan lain sebagainya, semua harus konsisten

Tuntutan konsistensi tersebut, jelas atau tersamar, terefleksi dalam pola-pikir dan perilaku orang-orang akuntansi itu sendiri–di langkungan manapun berada; mereka cenderung menunjukan pola-pikir dan perilaku yang konsisten. Tidak mencla-mencle. Tidak plintant-plintut.

Sekali bilang tidak boleh menggunakan fasilitas kantor, maka selamanya tidak boleh. Sekali tidak menerima permintaan belanja tanpa PO, selamanya tidak akan mau menerima. Sekali bilang tidak bisa cash bon, maka selanya tidak akan bisa.

6. Disiplin

Tanpa disiplin tinggi, konsistensi tidak akan terjadi. Konsistensi, butuh disiplin tinggi:

  • Tidak menyepelekan fakta (data) sekecil apapun;
  • Taat pada prosedur dan kebijakan perusahaan;
  • Taat pada aturan pemerintah;
  • Taat pada standard an kode etik;
  • Taat pada prinsip yang berterima umum dan praktek yang lazim

Disamping akurasi dan konsistensi, laporan yang dibuat melalui proses akuntansi–yaitu laporan keuangan–harus relevan, disajikan tepat waktu, tidak kedaluarsa. Untuk bisa memenuhi target waktu penyampaia laporan keuangan, juga memerlukan disiplin yang tinggi.

Secara keseluruhan, pekerjaan akuntansi tergolong pekerjaan yang membutuhkan disiplin yang tidak main-main.

Tidak tahu di tempat lain, sejauh yang saya lihat; anak akuntansi (baik yang masih belajar maupun yang sudah bekerja) memanglah disiplin. Dan itu adalah karakter yang positive di lingkungan manapun, terlebih-lebih di lingkungan bisnis. Tak ada satu perusahaan (organisasi) pun yang suka terhadap personnel yang tidak disiplin.

7. Skeptis

Dari karakter pertama hingga kelima di atas, jelas dan tak diragukan lagi, menjadi skeptis adalah sebuah konsekwensi yang tidak bisa dihindari. Untungnya, sekpetis adalah salah nilai yang positive (bukan negatif).

Bahkan, dalam akuntansi, menjadi skeptis adalah sesuatu yang dianjurkan–saya pribadi malah mengharuskan, jika ingin menjadi akuntan yang handal harus memiliki level skepticism yang tinggi.

Berbeda dengan sinis (cynic), skeptik dalam hal ini maksudnya adalah:

  • Tidak mudah mengatakan iya — Orang akuntansi, secara informal, memang tidak diperkenaankan untuk mudah mengatakan “iya”. Standar minimal yang digunakan adalah “apa iya?”. Selanjutnya dicari tahu, kumpulkan data dan fakta sebelum mengubah “apa iya?” menjadi “iya” atau “no way”.
  • Tidak mempercayai infomasi (apapun bentuknya) sebelum melakukan verifikasi — Khususnya di wilayah auditing, para auditor–baik eksternal maupun internal–diwajibkan untuk hanya mempercayai data dan fakta (bukti transaksi yang valid). Di dalam perusahaan, akuntan hanya boleh mempercayai data dan informasi setelah diverifikasi validitasnya.

Orang akuntansi, secara profesi memang wajib skeptis; tidak mudah mengatakan iya; dan tidak mudah mempercayai informasi tanpa data dan fakta.

8. Sederhana

Sederet nilai kualitas (mulai dari akurasi hingga konsistensi), belum jaminan pasti untuk bisa mewujudkan kondisi akuntabel. Untuk itu akuntansi menganjurkan agar para akuntan mengedepankan kehati-hatian dalam menjalankan proses akuntansi–konservatif (conservatism).

Karena laporan keuangan adalah bentuk pertanggungjawaban manajemen (pengelola) perusahaan terhadap pemilik usaha (para pemegang saham), maka yang dimaksud dengan kehai-hatian dalam akuntansi adalah:

  • Lebih baik mengakui laba yang lebih kecil dari kenyataannya, dibandingkan lebih besar (jika diturunkan, jadinya: akui potensi beban/biaya tapi jangan potensi pendapatan)
  • Lebih baik mengakui aset lebih rendah dari kenyataannya, dibandingkan lebih besar. Sebaliknya lebih baik mengakui kewajiban lebih tinggi dari kenyataannya, dibandingkan lebih rendah.

Jika dipandang dari akuntan independent, prinsip di atas adalah wujud dari kehati-hatian (melindungi diri dari risiko lebih mengakui nilai perusahaan klien). Tetapi jika dipandang dari akuntan yang bekerja di dalam perusahaan, itu adalah wujud dari kesederhanaan–simplicity. Lebih baik nampak lebih kecil daripada nampak lebih besar dari aslinya.

Kesederhanaan juga nampak dari penampilan dan gaya hidup para akuntan. Anda tidak akan pernah menemukan akuntan yang berpenampilan serba “wah”–meskipun sesungguhnya, secara finansial, mereka mampu untuk itu.

9. Jujur

Tentu jujur adalah hal terpenting dalam mewujudkan akuntabilitas.

Jika hal pertama hingga ke 8 di atas sudah terwujud, otomatis kejujuran terwujud dengan sendirinya. Bila tidak, maka minimal, kejujuran harus ada. Bisa jadi akurasi dan yang lain-lainnya tidak bisa terwujud karena kondisi tertentu. Tetapi kejujuran harus ada.

Boleh dikatakan bahwa, kejujuran adalah hal paling terakhir yang bisa dipegang dari seorang akuntan–pada saat akurasi, detail, kelogisan, keterukuran, konsistensi dan lain-lainnya, terpaksa tidak bisa diwujudkan. Seburuk-buruknya kinerja seorang akuntan, minimal dia harus jujur. Tanpa itu, maka habislah karirnya.

Konkretnya, laporkan kondisi keuangan perusahaan apa adanya, tanpa ada niat melakukan kecurangan–baik atas nama sendiri, kelompok, maupun perusahaan itu sendiri.

10. Gigih

Meskipun tidak serumit membuat mesin roket, pekerjaan akuntansi tergolong tidak sederhana dan bersifat teknikal–mengandung kerumitan yang memerlukan pembelajaran khusus untuk bisa menguasainya. Tidak bisa instant.

Untuk bisa memahami dan menjalankan pekerjaan akuntansi dengan baik, dibutuhkan level kegigihan yang ekstra. Dalam banyak kasus, khususnya di lingkungan KAP, bekerja dalam jam yang panjang adalah sesuatu yang lumrah.

Disamping teknikal, akuntansi juga bersifat dinamis, terus mengalami perubahan–mengikuti perkembangan lingkungan bisnis. Memilih akuntansi, harus siap untuk terus belajar (sambil bekerja) sepanjang waktu–

Kegigihan, kemauan dan daya juang yang tinggi, adalah nilai positive, dimanapun–syarat mutlak yang dibutuhkan untuk sukses dalam menjalankan profesi apapun.

Secara keseluruhan, melalui pembelajaran akuntansi (sejak di masa sekolah hingga di masa kerja), semua orang akuntansi sudah dibekali dengan nilai-nilai dasar tersebut. Hanya saja, diperlukan kesungguhan dan keseriusan untuk bisa menjaga dan merefleksikan nilai tersebut, SECARA KONSISTEN, melalui pola-pikir, sikap dan perilaku sehari-hari. Sukses selalu untuk anda. Selamat berakhir pekan.