oleh Admin | Mei 18, 2016 | Artikel, Direktorat Pendidikan dan Pelatihan, Pemerintahan
Oleh: Slamet Hariyadi, Stephanie Dwisa Ayu, Vika Rosmala Maninda, Lucy Citra Fitriany
Masih ingat Peraturan No. 31 tahun 2009 tentang Pendoman Teknis dan Tata Cara Pemotongan, Penyetoran PPh Pasal 21 dan 20? Dalam peraturan tersebut, apabila Sobat Gogo berpenghasilan, namun tak ber-NPWP, akan dikenakan tarif 20 lebih tinggi. Sementara, jika ber-NPWP namun tidak lapor SPTOP dikenakan pidana minimal 6 bulan dan maksimal 6 tahun penjara. Bagi WP yang telat lapor juga mendapat sanksi berupa denda Rp100 ribu bagi WP OP. Sanksi tersebut tertulis di Pasal 39 UU KUP Nomor 16 tahun 2009.
Terdapat tiga jenis SPTOP Tahunan, SPT 1770; SPT 1770 S; dan SPT 1770 SS. Seperti namanya, SPTOP 1770 SS (Sangat Sederhana) memang dibuat simple dengan satu lembar formulir. SPTOP digunakan apabila PENGHASILAN BRUTO WP TIDAK LEBIH Rp60 juta setahun dengan SATU PEMBERI KERJA.Beda lagi jika Sobat Gogo berpenghasilan dari PEKERJAAN BEBAS/PENGHASILAN dari USAHA, maka gunakan SPTOP 1770. Kalau tidak masuk dua kriteria tersebut, Sobat Gogo pakai SPTOP jenis 1770 S.
Sebelum lapor SPTOP, ada baiknya periksa juga syarat kelengkapan SPT Tahunan yang dilaporkan. Usahakan isian form SPTOP diisi secara JELAS, LENGKAP, dan BENAR. Jelas: Pastikan isian di SPTOP dapat dibaca secara jelas dan tidak menimbulkan prasangka negatif fiskus saat membacanya. Lengkap : Sobat Gogo juga harus cek ulang kolom di SPTOP telah terisi dengan benar. Jangan lupa menulis nama, alamat, NPWP, tahun fiskal, bubuhkan tanda tangan
Lengkapi juga isian Daftar Susunan Keluarga, jika SPTOP 1770. Benar: Yang ini sudah paham . Lampirkan juga SSP sewaktu lapor #PTOP . SSP dilampirkan jika pajak terutang kurang bayar. Lampiran lainnya yang perlu dilampirkan sewaktu lapor SPTOP adalah butpot PPh 21, bisa formulir 1721 A1 atau 1721 A2. Jika lapor SPTOP dengan e-filling, maka akan dapat e-mail tentang Penerimaan Data Elektronik. Dengan lapor SPTOP, Sobat Gogo telah mencerminkan salah satu sifat akuntan, yaitu akuntanbilitas dan membantu Good Governance.
Penyunting Tulisan: Malinda Sari Sembiring
oleh Admin | Mei 16, 2016 | Akuntansi Manajemen, Artikel, Direktorat Pendidikan dan Pelatihan
Oleh: Nuraeni, Adi Putra Setianto, Rizqi Irma Oktavi, Yuni Ira Mulia Sari, Annisa Dwi Agustina
Saat ini masalah lingkungan sedang marak dibicarakan di seluruh dunia. Bencana alam yang sering terjadi merupakan dampak dari global warming. Masyarakat dunia mulai peduli terhadap Iingkungan dan berbagai cara mereka lakukan untuk memperbaiki kerusakan alam. Puncaknya, ditandatangani Protokol Kyoto oleh beberapa negara di dunia pada 1997, sebuah amandemen terhadap konvensi rangka kerja PBB tentang perubahan iklim (UNFCCC). Negara-negara yang meratifikasi protokol ini berkomitmen untuk mengurangi emisi/pengeluaran CO2 dan lima gas rumah kaca lainnya. (lebih…)
oleh Admin | Mei 14, 2016 | Akuntansi Manajemen, Artikel, Direktorat Pendidikan dan Pelatihan
Oleh: Nuraeni, Adi Putra Setianto, Rizqi Irma Oktavi, Yuni Ira Mulia Sari, Annisa Dwi Agustina
Sustainability Report (SR) berhubungan dengan konsep Triple Bottom Line (TBL) pada model bisnis yang tidak hanya menekankan pada pencapaian profit perusahaan. Melainkan juga harus memperhatikan faktor people (masyarakat) dan planet (lingkungan). Melalui SR inilah penerapan TBL suatu perusahaan dapat dinilai. (lebih…)
oleh Admin | Mei 13, 2016 | Akuntansi Manajemen, Artikel, Direktorat Pendidikan dan Pelatihan
Oleh: Nuraeni, Adi Putra Setianto, Rizqi Irma Oktavi, Yuni Ira Mulia Sari, Annisa Dwi Agustina
Akuntansi manajemen memiliki dua perspektif yang menjelaskan asal dari akuntansi manajemen itu sendiri. Perspektif pertama adalah perspektif ekonomi sedangkan perspektif kedua adalah perspektif non-ekonomi.
Perspektif ekonomi ini menyatakan bahwa praktik akuntansi manajemen timbul dari sektor swasta atau perusahaan. Tujuannya adalah untuk membantu mendukung operasional perusahaan. Menurut Kaplan (1987), pendekatan ini mulai diterapkan pada awal tahun 1900-an. Pada periode tersebut dibutuhkan efisiensi dalam aktivitas produksi perusahaan. Jadi, banyak perusahaan yang mulai mencoba melakukan tindakan untuk meningkatkan efisiensi produksi. Contohnya, meng-hire karyawan dalam jangka panjang serta pemisahan tugas antara pemilik dengan manajer, termasuk penerapan sistem informasi manajemen untuk meningkatkan dan mengevaluasi efisiensi perusahaan. (lebih…)
oleh Admin | Mei 12, 2016 | Akuntansi Keuangan, Artikel, Direktorat Pendidikan dan Pelatihan
Oleh: Aisyah Aulia Vianida, Arif Swandaru, Ria Guslimawati, Ivana Purnamasari, Hardianty Munawir
Pada dasarnya dalam dunia bisnis perusahaan pasti pernah terlibat dalam situasi dimana terjadi ketidakpastian. Hal ini bisa berupa kewajiban untuk mentransfer kas atau aset yang lain telah timbul atau berapa jumlah yang akan diminta untuk melunasi suatu kewajiban. Contoh ketidakpastian misalnya ada perusahaan yang terkena kasus hukum, tapi pada 31 Desember atau saat tutup buku belum jelas apakah perusahaan harus membayar denda atau terbebas dari tuntutan. Adanya ketidakpastian seperti contoh di atas membuat perusahaan harus membuat sebuah provisi atau kontinjensi. (lebih…)
Komentar Terbaru