Akuntansi Keuangan Akuntansi Sekuritas Pendilusi part. 2

Sekuritas Pendilusi (Pendilusi Securities)

Sekuritas pendilusi merupakan sekuritas yang dapat diubah menjadi saham biasa dan perubahan tersebut berakibat pada pengurangan (dilution) laba per lembar saham.

Contoh sekuritas pendilusi adalah convertible bonds, convertible preferred stock, stock warrants.

Gogo kali ini bahas 3 contoh sekuritas pendilusi nya ya sob!

 

1. Utang dan Ekuitas ( Debt & Equity )

Banyak kontroversi  yang terkait dengan perlakuan akuntasi untuk instrumen keuanga seperti opsi saham, sekuritas konvertibel, dan saham preferen berhubungan dengan apakah perusahaan harus melaporkan intrumen intrumen ini sebagian kewajiban (liability) ataukah sebagai ekuitas. Misalnya, perusahaan harus menggolongkan saham yang tidak dapat ditembus (nonredeemable) sebagai ekuitas karena perusahaan penerbitnya tidak memiliki kewajiban(obligation) untuk membayar dividen atau membeli kembali saham. Pengumuman dividen adalah kebijakan perusahaan penerbit, demikian pula mengenai keputusan untuk membeli kembali saham tersebut. Demikia pula, saham preferen yang tidak dapat ditebus tidak mengharusakan perusahaan penerbitnya untuk membayar dividen atau membeli sahamnya kembali. Oleh karena itu, saham biasa atau saham preferen yang dapat ditebus tidak mempunyai karakteristik kewajiban yang penting kewajiban untuk membayar pemegang saham biasa atau saham preferen pada suatu saat dimasa depan.

Sekuritas yang mempunyai dua karakteristik, baik sebagai hutang maupun ekuitas. Misalnnya, obligasi koonvertibel mempunyai karakteristik baik sebagai hutang maupun ekuitas.  Sekuritas konvertibel di samping opsi, warna, dan sekuritas yang lain sering kali disebut sebagai sekuritas dilutif (dilutive securities), karena pada saat pengurangan (exercise), sekuritas ini akan mengurangi / mendilusi laba per saham.

 

2. Utang Terkonversi ( Debt Converted )

Aset dan kewajiban finansial merupkan pos-pos statemen keuangan sebagai konsekuensi adanya instrumen finansial. Instrumen finansial pada dasarnya merupakan alat pembayaran atau penjaminan sehingga dapat digunakan oleh pemegangnya untuk melunasi utang. Utang terkonversi (convertible debt) merupakan salah satu instrumen finansial tersebut. Karakteristik obligasi konversi menimbulkan masalah akuntansi pada saat pengakuan, pengkonversian, dan pelunasan.

Karena bersifat kewajiban dan ekuitas, masalah pada saat pengakuan adalah apakah harga penerbitan (kos) obligasi harus dipecah menjadi porsi yang merepresentasi utang obligasi (masuk kewajiban) dan porsi yang merepresentasi hak konversi (masuk ekuitas) atau harga penerbitan tidak dipecah dan utang terkonversi dianggap utang semata-mata.

Terdapat dua perbedaan pendapat mengenai hal tersebut. Pendukung pemisahan berpendapat bahwa hak konversi dapat dinilai karena hak tersebut tidak berbeda dengan hak beli saham. Sementara itu, pendukung semata-mata utang mengatakan seballiknya. Landasan mereka dalam memperlakukan utang terkonversi semata-mata sebagai utang adalah ketidakterpisahan (inseparability) dan kepraktisan (practicality). Hal ini pula yang menjadi basis APB dalam memandang nilai obligasi dan hak konversi sebagai satu kesatuan.

Jika obligasi dapat dikonversi menjadi sekuritas perusahaan lainnya selama periode tertentu sesudah penerbitnya, maka obligasi tersebut disebut sebagai Obligasi konvertibel (convertible bonds). Obligasi konvertibel menggabungkan manfaat dari sebuah obligasi dengan hak istimewa (privilege) untuk menukarnya dengan saham pada opsi pemegang saham. Obligasi itu dibeli oleh investor yang menginginkan keamanan atas obligasi yang dipegangnya (jaminan bunga dan pokok) ditambah opsi tambahan berupa konversi jika nilai saham tersebut meningkat secara signifikan.

Perusahaan menerbitkan sekuritas konvertibel karena dua alasan utama. Pertama adalah keinginan untuk meningkatkan modal ekuitas tanpa memberikan pegendalian kepemilikan yang berlebihan kecuali diperlukan. Untuk mengilustrasikannya, asumiskan bahwa perusahaan ingin mendapat $1.000.000 pada saat saham biasanya dijuah seharga $45 persaham. Penerbitan seperti ini akan membutukan penjualan sebanyak 22.222 saham (dengan mengabaikan biaya penerbitan). Dengan menjual 1.000 Obligasi pada nilai pari $1.000, yang masing masing dapat dikonversi menjadi 20 lembar saham biasa, perusahaan dapat memperoleh $1.000.000 dengan hanya menerbitkan 20.000 lembar saham biasa.

Alasan kedua mengapa perusahaan menerbitkan sekuritas konvertibel adalah untuk memperoleh pembiayaan dengan saham biasa pada suku bunga yang rendah. Banyak perusahaan hanya dapat menerbitkan hutang pada suku bunga yang tinggi, kecuali jika perjanjian konvertibel dicantumkan. Hak istimewa atau privilage konversi membuat para investor bersedia menerima suku bunga yang lebih rendah dibandingkan penerbitan hutang secara normal. Sebagi contoh, Amazon.com baru baru ini menerbitkan obligasi konvertibel yang membayar bunga pada hasil efetif 4,75% yang lebih rendah daripada yang harus dibayar Amazon.com jika menerbikan hutang langsung. Pada suku bunga yang lebih rendah  ini, investor memperoleh hak untuk memberli saham biasa amazon.com pada harga yang tetap sampai jatuh tempo.

Akuntasi untuk hutang konvertibel mencakup masalah pelaporan pada saat (1) penerbitan, (2) konversi, (3) penarikan.

 

  • Pada Saat Penerbitannya

Metode pencatatan obligasi konvertibel pada tanggal penerbitan mengikuti metode yang digunakan untuk mencatat penerbitan hutang langsung. Tanpa mencatat hasilnya sebagai ekuitas. Setiap diskonto atau premi yang dihasilkan dari penerbit obligasi konvertibel diamortisasi hingga tanggal jatuh tempo. Mengapa perilakunya seperti ini? Karena sulit untuk memprediksikan kapan, secara keseluruhan, konversi akan terjadi. Akan tetapi, akuntansi untuk hutang  konvertibel sebagai penerbitan huatng langsung bersifat kontroversial.

 

  • Pada Saat Konversi

Jika obligasi dikonversi menjadi sekuritas lainnya, maka  perusahaan metode nilai buku untuk mencatat konversi. Metode niali buku mencatat pertukaran sekuritas untuk obligasi pada jumlah tercatat (nilai buku) obligasi.

Illustration :

Hilton Inc. Menerbitkn suatu obligasi konvertibel senilai $1,000 yang dapat di konversi menjadi 10 Lembar saham biasa  (nilai pari $10). Pada saat konversi, premi yang belum diamortisasi adalah $50. Ayat jurnal untuk konversi obligasi Hilton Inc. Adalah :

Jurnal :

                  Hutang Obligasi                                   $1,000

                  Premi Atas Hutang Obligasi                 $50

                                          Saham Biasa                                        $100

                                          Agio Saham                                         $950

 

Para pendukung pendekatan niali buku menyatakan bahwa suatu perjanjian telah ditetapkan pada tanggal penerbitan untuk membayar sejumlah uang yang di tetapkan pada saat jatuh tempo atau untuk menerbitkn sejumlah sekuritas ekuitas yang telah ditetapkan. Maka dari itu apabila huatng dikonversi menjadi ekuitas sesuai dengan syarat-syarat kontrak sebelumnya, maka tidak ada keuntungan atau kerugian yang diakui atas konversi.

 

 

  • Konversi Yang di Rangsang ( Induced Conversion )

Kadang-kadang penerbit ingin merangsang lebih cepat konversikan hutang konvertibelnya menjadi sekuritas ekuitas, dengan tujuan mengurangi biaya bunga atau meningkatkan rasio hutang terhadap ekuitas. Sebagai akibatnya, penerbit dapat menawarkan beberapa bentuk pertimbangan tambahan ( seperti kas atau saham biasa ) atau di sebut “pemanis” (sweetener), untuk merangsang konversi. “Sweetener” ini harus dilaporkan sebagai beban periode berjalan dalam jumlah yang sama dengan nilai wajar sekuritas tambahan atau pertimbangan lain yang diberikan.

Illustration :

Helloid, Inc. mempunyai obligasi konversi dengan nominal  $1,000,000. Obligasi dapat dikonversikan dengan 100,000 saham biasa  (nominal $1). Ketika dijual  Helloid mencatat agio saham-ekuitas konversi  $15,000. Helloid berkeinginan untuk mengurangi biaya bunga dengan mendorong pemilik obligasi untuk mengkonversi menjadi saham. Helloid setuju untuk membayar  $80,000 bila obligasi dikonversi menjadi saham biasa.

 

Jurnal Saat Konversi :

Biaya konversi                         $65,000

Agio Saham-Ekuitas Konversi $15,000

Utang Obligasi                         $1,000,000

                        Modal saham biasa                                  $100,000

                        Agio  Saham Biasa                                    $900,000

                        Kas                                                                  $80,000

 

Beberapa akuntan berpendapatan bahwa biaya perangsangan konversi adalah biaya untuk memperoleh modal ekuitas. Hal ini harus di akui sebagai biaya (pengurangan dari) modal ekuitas yang diperoleh dan bukan sebagai beban. Jika diperlukan tambahan pembayaran untuk membuat para pemegang obligasi mengkonversinya, maka pembayaran tersebut adalah untuk jasa (pemegang obligasi mengkonversikan pada waktu tertentu) dan harus dilaporkan sebagai beban. Beban ini tidak boleh dilaporkan perusahaan penerbit sebagai pos luar biasa.

 

  • Penarikan Hutang Konvertibel ( Withdrawal of Convertible Debt )

Metode pencatatan penerbitan obligasi konvertibel mengikuti metode yang digunakan dalama mencatat penerbitan hutang langsung. Secara khusus hal ini berarti bahwa tidak ada bagian dari hasil yang ahrus berasal dari karateristik konversi dan dikreditkan ketambahan modal disetor.

Keuntungan atau kerugian atas penarikan hutang konvertibel perlu diakui dengan cara yang sama seperti pada keuntungan atau kerugian atas penarikan hutang nonkonvertibel. Perbedaan antara harga tunai akusisi hutang dan jumlah tercatatnya harus dilaporkn dalam laba berjalan sebagai keuntungan atau kerugian.

3. Saham Preferen Terkonversi ( Convertible Preference Shares )

Saham preferen terkonfersi (convertible preference shares) mencakup opsi bagi pemegang untuk mengkonversi saham preferen menjadi saham biasa dengan jumlah tetap. Perbedaan utama akuntansi untuk obligasi konvertibel dan saham preferen konvertibel adalah pada tanggal penerbitannya: Obligasi konvertibel di anggap sebagai kewajiban, sedangkan saham preferen konvertibel (kecuali ada penebusan wajib) dianggap sebagai bagian dari ekuitas pemegang saham.

Ketika pemegam saham menggunakan saham preferen terkonversi, tidak ada justifikasi teoritis untuk mengakui keuntungan atau kerugian. Tidak ada keuntungan atau kerugian yang diakui pada saat perusahaan bertemu dengan pemegam saham dalam kapasitasnya sebagai pemilik usaha. Oleh karena itu, perusahaan tidak mengakui keuntungan atau kerugian pada saat pemegang saham menggunakan saham preferen terkonversi.

 

Illustration 1:

Morse Company mengeluarkan  1,000 lembar Saham Preferen Konversi dengan nominal  €1 per lembar. Saham dijual pada harga  €200 .

Jurnal :

Kas (1,000 x €200)                                             €200,000

Modal saham Preferen (1,000 x €1)                                €1,000

Agio Saham- ekuitas konversi                            €199,000

 

Illustration 2 :

Bila 1 lembar saham preferen dapat dikonversi menjadi  25 lembar saham biasa  (nominal €2) yang mempunyai nilai pasar  €410,000.

Junral :

Modal saham Preference                                               €1,000

Agio saham-ekuitas konversi                                          €199,000

Modal saham biasa  (1,000 x 25 x €2)                             €50,000

Agio Saham biasa                                                                     €150,000

 

Illustration 3 :

Bila Saham Preferen dibeli kembali dan tidak dikonversi.

Jurnal :

Modal saham Preference                       €1,000

Agio Saham-ekuitas konversi                 €199,000

Laba Ditahan                                         €210,000

Kas                                                                  €410,000

Bila pelunasan melebihi nilai saham terkonversi maka didebet ke rekening laba di tahan.

 

4. Warran ( Warrant )

Warran atau surat jaminan (warrant) adalah sertifikat yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk memperoleh saham pada harga tertentu selama periode yang telah ditetapkan. Opsi ini serupa dengan privilage atau hak istimewa konversi karena warran, jika digunakan, akan menjadi saham biasa dan biasanya mempunyai pengaruh dilutif ( mengurangi laba per saham ) yang serupa dengan konversi. Akan tetapi, perbedaan pokok antara sekuritas konvertibel dan warran terletak pada penggunaan warran, dimana pemilik harus membayar sejumlah uang tertentu untuk memperoleh saham.

Penerbitan warran atau opsi untuk membeli tambahan saham biasanya timbul dalam 3 situasi :

  1. Pada saat menerbitkan jenis sekuritas yang berbeda, seperti obligasi atau saham preferen, sering kali warran disertakan agar sekuritas terliht lebih menarik untuk memberikan suatu “pendorong ekuitas (equity kicker)”.
  2. Pada penerbitan tambahan saham biasa, pemegang saham yanga ada mempunyai hak istimewa (preemptive right) untuk lebih dahulu membeli saham biasa. Warran dapat diterbitkan untuk membuktikan hak tersebut.
  3. Warran, yang sring kali disebut sebagai opsi saham (stock option), di berikan sebagai kompensasi kepada para eksekutif dan karyawan.

Warran Dikeluarkan Bersamaan Dengan Sekuritas Lain

Warran yang diterbikan dengan sekuritas lainnya pada dasarnya merupakan opsi jangka panjang untuk membeli saham biasa dengan harga tetap. Meskipun beberapa warran perpetual telah di perdagangkan, namun umumnya hanya bertahan slama 5 tahun, terkadang 10 tahun.

Perusahaan menggunakan metode  with-and-without untuk mengalokasikan penerimaan dari dua komponen.

Illustration 1 :

AT&T (USA) mengeluarkan obligasi dengan disertai waran yang berumur 5 tahun (10.000 lembar warran). Setiap warran dapat digunakan untuk membeli 1 lembar saham biasa dengan harga $25(nominal saham $5). Pada saat itu saham biasa AT&T dijual  $50. Adanya warran ini membuat harga obligasi  AT&T ditawarkan sebesar nominal dengan bunga 8,75%. AT&T menjual obligasi plus warran sebesar  $10,200,000. AT&T menggunakan metode  with-and-without. Present value dari Cash flow di masa mendatang adalah  $9,707,852.

Jurnal :

Kas                                          $9,707,852

Utang Obligasi                          $9,707,852

Kas                                          $492,148

Agio Saham-Warran                               $492,148

 

Illustration 2 :

Bila investor memanfaatkan 10,000 warran untuk membeli saham.

Jurnal :

Kas (10,000 x $25)                                             $250,000

Agio Saham—Waran                                         $492,148

Modal saham biasa (10,000 x $5)                                   $50,000

Agio Saham biasa                                                         $692,148

 

Illustration 3 :

Bila investor tidak memanfaatkan warran untuk membeli saham dan warran menjadi kadaluarsa.

Jurnal :

Agio Saham—Warran                            $492,148

Agio Saham – Warran Kadaluarsa                                  $492,148

 

Program Pensiun Part 2

Hai sobat gogo, sebelumnya gogo sudah bahas terkait apa itu program pensiun saja, kali ini gogo masih lanjut nih terkait program pensiun di simak ya sob!

 

Peran Aktuaris dalam Akuntansi Pensiun
Karena permasalahan yang hubungan dengan program pensiun melibatkan pertimbangan aktuarial yang rumit, maka para aktuaris ditugaskan untuk memastikan bahwa program tersebut sudah tepat bagi kelompok karyawan yang tercakup. Aktuaris adalah orang yang dilatih melalui suatu program sertifikasi yang panjang dan berat untuk menaksir probabilitas peristiwa dimasa depan serta dampak keuangannya.
Para aktuaris bertugas membuat prediksi (disebut asumsi akturial) mengenai angka kematian atau mortalitas, perputaran karyawan, suku bunga dan pendapatan frekuensi pensiun dini, gaji masa depan dan setiap faktor lainnya yang diperlukan untuk mengoperasikan program pensiun.

 

Akuntansi Untuk Pensiun
Alternatif Ukuran Kewajiban
Sebagian besar akuntan setuju bahwa kewajiban pensiun (pensiun obligation) pemberi kerja adalah kewajiban kompensasi yang ditangguhkan kepada para karyawannya atas jasa-jasa mereka menurut persyaratan dalam program pensiun tetapi ada cara alternative untuk mengukur kewajiban tersebut. Tunjangan terjamin (vested benefit) adalah tunjangan yang berhak diterima karyawan sekalipun karyawan tersebut tidak memberikan jasa tambahan dalam program.
Kewajiban tunjangan terjamin (vested benefit obligation) dihitung dengan gaji yang sekarang berlaku dan hanya mencakup tunjangan yang dijamin. Ukuran kewajiban kedua mendasarkan perhitungan jumlah kompensasi yang ditangguhkan itu pada seluruh tahun masa kerja yang dijalani karyawan setelah mengikuti program baik yang terjamin mengikuti maupun yang tidak terjamin dengan menggunakan tingkat gaji yang sekarang berlaku. Ukuran kewajiban pensiun ini disebut akumulasi kewajiban tunjangan.

Ukuran ketiga berdasarkan perhitungan jumlah kompensasi yang ditangguhkan atas masa kerja terjamin maupun tidak terjamin dengan menggunakan gaji masa depan. Ukuran kewajiban pensiun ini disebut proyeksi kewajiban tunjangan. Pendekatan mana yang biasa dipakai dalam profesi akuntan? Umumnya profesi akuntan menggunakan proyeksi kewajiban tunjangan, yaitu nilai sekarang tunjangan yang terjamin dan yang tidak terjamin diakrualkan sampai tanggal ini berdasarkan tingkat gaji masa depan karyawan.

 

Komponen Beban Pensiun


Ada kesepakatan umum bahwa biaya pensiun harus dipertanggungjawabkan dengan dasar akrual. Profesi akuntan menyadari bahwa akuntansi untuk program pensiun membutuhkan pengukuran biaya dan pengidentifikasian biaya itu dalam periode waktu yang tepat. Akan tetapi, penentuan biaya pension ini sangat rumit karena merupakan fungsi dari komponen- komponen berikut ini:

1. Biaya Jasa
Biaya jasa merupakan beban yang disebabkan oleh kenaikan hutang tunjangan pensiun (proyeksi kewajiban tunjangan) kepada karyawan atas jasa yang mereka berikan selama tahun berjalan. Aktuaris menghitung biaya jasa (service cost), sebagai nilai sekarang tunjangan baru yang diperoleh karyawan selama tahun berjalan.

2. Bunga atas kewajiban
Karena pensiun adalah perjanjian kompensasi yang ditangguhkan, maka terdapat faktor nilai waktu dari uang. Akibatnya, pensiun dicatat atas dasar setelah didiskontonkan. Beban bunga akrual setiap tahun atas proyeksi kewajiban tunjangan terjadi tepat seperti pada beban bunga atas setiap hutang yang didiskontokan. Akuntan menerima bantuan dari aktuaris dalam memilih suku bunga, yang dikenal sebagai suku bunga penyelesaian (settlement rate).

3. Pengembalian Aktual atas Aktiva Program
Pengembalian (return) yang dihasilkan oleh akumulasi asset dana pensiun selama tahun tertentu adalah relevan dengan pengukuran biaya bersih bagi pemberi kerja yang mensponsori program pensiun karyawan. Oleh karena itu, beban pensiun tahunan harus disesuaikan untuk memperhitungkan bunga dan dividen yang terakumulasi dalam dana juga kenaikan serta penurunan nilai pasar asset dana itu.

Sumber:

Ikatan Akuntan Indonesia. 1994.PSAK No.24 Standar Akuntansi Keuangan: Akuntansi Biaya Manfaat Pensiun. Jakarta: Salemba Empat

Ikatan Akuntan Indonesia. 1994.PSAK No. 24 Standar Akuntansi Keuangan:Imbalan Kerja.Jakarta: Salemba Empat

Program Pensiun Part 1

Program pensiun merupakan salah satu bagian penting dari program balas jasa yang diselenggarakan pemberi kerja untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan. Permasalahan pokok akuntansi program pensiun bagi pemberi kerja adalah tentang pengukuran biaya manfaat pensiun yang wajar dan pengungkapan yang memadai mengenai program pensiun di dalam laporan keuangan pemberi kerja (PSAK 24).

Pernyataan ini bertujuan untuk menjelaskan tentang kapan biaya manfaat pensiun harus diakui sebagai beban, berapa jumlahnya dan informasi apa yang harus diungkapkan dalam laporan keuangan pemberi kerja sehubungan dengan program pensiun (PSAK24).

Program pensiun diklasifikasikan menjadi Program Pensiun luran Pasti atau Program Pensiun Manfaat Pasti (PSAK24).

Dalam Program Pensiun luran Pasti, jumlah yang diterima oleh peserta pada saat pensiun tergantung pada jumlah iuran yang dibayarkan oleh pemberi kerja dan peserta serta hasil pengembangan dana. Kewajiban dari pemberi kerja adalah membayarkan iuran seperti yang ditetapkan dalam Peraturan Dana Pensiun. Bantuan profesi aktuaris tidak mutlak diperlukan, kecuali untuk mengestimasi jumlah manfaat pensiun yang akan diterima peserta pada saat pensiun berdasarkan besarnya iuran saat ini dan estimasi hasil pengembangan dana (PSAK24).

Dalam Program Pensiun Manfaat Pasti, besarnya manfaat pensiun yang akan diterima oleh peserta pada saat pensiun ditentukan berdasarkan suatu rumusan manfaat pensiun yang biasanya mempunyai variabel masa kerja dan penghasilan dasar pensiun. Kewajiban pemberi kerja adalah untuk menyediakan manfaat pensiun yang akan dibayarkan kepada peserta pada saat pensiun. Bantuan profesi aktuaris mutlak diperlukan untuk mengestimasi besarnya kewajiban aktuaria, mengkaji kembali asumsi aktuaris yang digunakan dan merekomendasikan besarnya iuran yang harus dibayar (PSAK24).

Imbalan kerja (employee benefits) adalah seluruh bentuk imbalan yang diberikan perusahaan atas jasa yang diberikan oleh pekerja. Imbalan kerja mencakup: imbalan kerja jangka pendek, imbalan pasca kerja, imbalan kerja jangka panjang lainnya, pesangon pemutusan hubungan kontrak kerja, serta imbalan kerja berbasis ekuitas. Imbalan kerja jangka pendek meliputi: gaji, upah, iuran jaminan sosial, cuti tahunan, cuti sakit, bagi laba dan bonus. Imbalan kerja jangka pendek juga bisa meliputi imbalan nonmoneter seperti kesehatan, rumah, mobil, atau barang dan jasa. Imbalan pasca kerja meliputi:  pensiun, asuransi jiwa pasca kerja, dan imbalan kesehatan pasca kerja. Sedangkan imbalan kerja jangka panjang lainnya meliputi: cuti besar, cuti hari raya, cacat permanen, bagi laba, bagi bonus dan kompensasi.

Beban pensiun merupakan fungsi dari komponen-komponen berikut ini:

(1) Biaya jasa;

(2) Bunga atas kewajiban;

(3) Pengembalian aktual atas aktiva program;

(4) Amortisasi biaya jasa sebelumnya yang belum diakui; serta

(5) Keuntungan atau kerugian

Sifat Program Pensiun

Program pensiun (pension plan) adalah sebuah perjanjian yang menetapkan bahwa pemberi kerja atau majikan memberikan tunjangan (pembayaran) kepada para karyawan setelah mereka pensiun atas jasa-jasa yang mereka berikan ketika masih bekerja. Akuntasi pensiun dapat dibagi daan diperlakukan secara terpisah sebagai akuntasi untuk pemberi kerja dan akuntasi untuk dana pensiun. Perusahaan atau pemberi kerja adalah organisasi yang mensponsori program pensiun. Organisasi inilah yang menanggung biaya dan memberikan kontribusi ke dana pensiun. Dana atau program adalah entitas yang menerima kontribusi dari pemberi kerja mengelola aktiva pensiun, dan melakukan pembayaran tunjangan kepeda para penerima pensiun (karyawan yang purnakarya)

Program pensiun dikatakan sedang didanai (funded) ketika pemberi (perusahaan) menyisihkan dana untuk tunjangan pensiun dimasa depan dengan melakukan pembayaran kepada para penerima ketika tunjangan itu jatuh tempo.

Beberapa program dapat bersifat wajib (contributory) menanggung sebagian dari biaya tunjangan yang ditetapkan atau secara sukarela melakukan pembayaran untuk menaikan tunjangan mereka. Program-program lainnya dapat bersifat tidak wajib (non-contributory) dimana pemberian kerja yang menanggung keseluruhan biaya. Perusahaan biasanya merancang program pensiun berkualifikasi, sesuai dengan persyaratan pajak penghasilan federal, yang memperbolehkan dikurangkannya kontribusi pemberi kerja kedana pensiun dan memberikan status bebas pajak atas laba dari aktiva dana pensiun.

 

Sumber pustaka:

Ikatan Akuntan Indonesia. 1994.PSAK No. 24 Standar Akuntansi Keuangan: Akuntansi Biaya Manfaat Pensiun. Jakarta: Salemba Empat

Ikatan Akuntan Indonesia. 1994.PSAK No. 24 Standar Akuntansi Keuangan: Imbalan Kerja.Jakarta: Salemba Empat

Akuntansi Perkebunan (Agrikultur)

Selamat malam, Sobat Gogo!

Kali ini dari tim Akuntansi Keuangan akan membahas tentang #Agrikultur. Pasti Sobat gogo sudah tidak asing lagi dengan Akuntansi Perkebunan? #Agrikultur. Karena sebagian wilayah Indonesia adalah perkebunan, apalagi Indonesia kaya akan hasil perkebunan dan hasil pertanian. Yuk sobat gogo, kita simak materi malam hari ini.

 

Bagi entitas yang bergerak di industri perkebunan dan peternakan, maka akan muncul jenis aset yang khusus pada sederet klasifikasi aset yang dilaporkannya. Aset khusus yang menjadi pembeda tersebut adalah aset biologis. Sobat gogo tau gak aset biologis itu yang seperti apa? Jadi, aset biologis itu mempunyai karakteristik yang terletak pada adanya proses transformasi atau perubahan biologis atas aset ini sampai pada saatnya aset ini dapat dikonsumsi atau dikelola lebih lanjut oleh entitas.

Aset biologis, khususnya yang berbentuk tanaman perkebunan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

  • Tanaman semusim
  • Tanaman keras
  • Tanaman yang dapat dipanen lebih dari satu kali (bukan tanaman keras)
  • Tanaman holtikultura
  • Tanaman non holtikultura
  • Tanaman belum menghasilkan
  • Tanaman menghasilkan

Asal sobat gogo tau, standar khusus mengenai pengungkapan atau pelaporan aset biologis itu belum ada. Dengan demikian penyusunan laporan keuangan bagi entitas perkebunan dilakukan berdasarkan penyesuaian terhadap konsep dan prinsip umum mengenai pelaporan keuangan yang dijelaskan pada PSAK No. 1, peraturan Bapepam tentang industri perkebunan, dan pedoman akuntansi lainnya.

Sobat gogo juga harus tau, bahwa baru-baru ini IAI mengeluarkan PSAK 69 tentang #Agrikultur. Dimana PSAK tersebut akan mulai berlaku tahun 2018. Karena belum adanya sosialisasi tentang PSAK terbaru tersebut membuat IAI belum menerapkannya di industri perkebunan. PSAK 69 #Agrikultur mengadopsi dari IAS 41. Sebelumnya dengan perlunya pedoman yang mengatur tentang keuangan perkebunan dan tuntutan global yang mengharuskan adopsi tentang IFRS membuat PTPN I-IV bersama IAI menyusun sebuah Pedoman Akuntansi Perkebunan BUMN berbasis IFRS.

Menurut Pedoman Akuntansi Perkebunan BUMN, persediaan adalah :

  1. Aset yang tesedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal
  2. Aset dalam proses produksi atau dalam perjalanan
  3. Aset yang tersedia dalam bentuk bahan atau perlengkapan untuk digunakan dalam pemberian pelayanan, proses produksi, dan mendukung kegiatan administratif

Akun persediaan menampung beberapa jenis persediaan yaitu hasil tanaman, barang dalam proses, bahan baku, dan bahan pelengkap.

Selain unsur persediaan, sobat gogo juga harus tahu mengenai aset tanaman tahunan. Apa sih aset tanaman tahunan itu? #Agrikultur. Yaitu aset tanaman perkebunan yang terdiri dari tanaman belum menghasilkan (TBM) dan tanaman telah menghasilkan (TM).  Proses yang dilalui menjadi aset tanaman tahunan adalah dari pembibitan sampai dengan menjadi tanaman telah menghasilkan, dan dari tanaman telah menghasilkan sampai dengan dihentikan pengakuannya, misal ditebang atau diganti dengan tanaman lain.

Terkait dengan pengakuan biaya perolehan aset biologis berupa tanaman tahunan, maka dalam hal ini dapat dikategorikan atas biaya TBM, biaya TM, dan biaya untuk penggantian atas tanaman yang rusak. Menurut Pedoman Akuntansi Perkebunan BUMN, TBM direklasifikasi ke TM pada saat tanaman sudah menghasilkan. Sobat gogo, penentuan waktu tanaman dapat menghasilkan itu ditentukan oleh pertumbuhan vegetatif dan berdasarkan taksiran manajemen. Nilai TBM yang direklasifikasi ke TM adalah total biaya perolehan dikurangi dengan akumulasi rugi penurunan nilai. Penyusutan aset tanaman dilakukan menggunakan metode garis lurus, diakui sebagai beban produksi atau penambahan biaya perolehan persediaan yang dihasilkannya.

Secara garis besar keberadaan aset biologis ini dapat dimasukkan dalam klasifikasi akun persediaan dan aset tidak lancar di dalam laporan posisi keuangan. Sobat gogo juga harus tahu bahwa konsep biaya historis dan fair value memberikan pengaruh yang mendasar pada penyajian nilai nominal aset biologis #Agrikultur pada laporan keuangan. Akun persediaan akan menampung tanaman perkebunan yang telah siap dijual menurut jenis usaha entitas. Sedangkat akun aset tidak lancarakan menampung tanaman perkebunan milik entitas yang belum bisa dijual karena masih mengalami proses pertumbuhan. Sampai disini sobat gogo paham kan?

Sobat gogo, persediaan dalam industri perkebunan disajikan sebesar biaya perolehan atau nilai realisasi bersih, di cari mana yang lebih rendah. Sob, di lingkungan industri perkebunan aset tidak lancar berupa aset biologis ini biasa disebut dengan akun tanaman produksi. Sesuai yang telah diterangkan dalam IAS 41, produk hasil perkebunan (persediaan) yang dipanen dari aset biologis harus diukur pada saat panen sebesar nilai wajar dikurangi dengan biaya pada saat penjualan.

 

Sob, menurut IAS 41 #Agrikultur aset biologis yang masuk dalam kelompok aset tidak lancar harus diukur pada saat pengakuan awal dan akhir pada setiap tanggal neraca sebesar nilai wajarnya dan dikurangi dengan estimasi biaya pada saat penjualannya. Nah, jika pada saat pengakuan awal entitas tidak dapat menentukan nilai wajarnya dengan andal, maka aset biologis ini diukur berdasarkan biaya perolehannya dikurangi dengan akumulasi depresiasi dan akumulasi kerugian penurunan nilai. Jika ada selisih dalam tahapan pegukuran baik berupa keuntungan atau kerugian, entitas wajib memasukkannyadalam item laporan laba rugi periode berjalan. Dan apabila entitas menggunakan konsep fair value dalam mengukur dan menyajikan aset biologisnya, maka entitas harus menyajikan rekonsiliasi perubahan atas nilai tercatat pada tanaman perkebunan diantara awal dan akhir periode berjalan.

 

Bagaimana sobat gogo dengan materi akuntansi perkebunan #Agrikultur kali ini? Ternyata laporan akuntansi perkebunan itu sangat diperlukan ya untuk dunia industri. Pastinya kita sebagai seorang calon akuntan harus tau tentang pelaporan keuangan di semua sektor ya sob. Kalau sobat gogo masih penasaran dengan apa itu akuntansi perkebunan #Agrikultur , kalian bisa membaca referensi dari kita.

 

Sob, sekian dulu materi #Agrikultur untuk malam hari ini. Semoga ilmunya bermanfaat.

Keep Learning, Sharing, Inspiring

Relevansi Nilai

Heyho, Sobat Gogo! Jumpa lagi dengan Tim Akkeu. Kultweet kali ini kita akan bahas tentang salah satu kemampuan laporan keuangan yang masih menjadi isu di kalangan akuntan, apalagi sejak Konvergensi IFRS diterapkan pada PSAK kita. Hmm.. sobat gogo bisa tebak apa itu? Ya, #RelevansiNilai !

Hingga saat ini Sob, masih berkembang pemikiran bahwa informasi yang dihasilkan oleh akuntansi berupa laporan keuangan dirasakan masih kurang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan atau masih kurang relevan. Hmm..

Sobat perlu tau dulu nih, sebuah informasi akuntansi agar bermanfaat bagi pemakai perlu memiliki empat ciri yakni; dapat dimengerti oleh pemakai (understandable), bebas dari kesalahan material dan bias (reliable), dapat dibandingkan (comparable) dan relevan (relevant). Apa sih maksudnya relevan?

Relevan artinya dapat membantu para pemakai informasi (laporan keuangan) dalam membuat keputusan keuangan. Untuk bisa membantu itu, informasi perlu memiliki kemampuan untuk menggambarkan atau menyimpulkan nilai perusahaan dengan baik. Untuk bisa menyimpulkan nilai dengan baik, informasi perlu mencerminkan nilai terkini, sehingga dapat dijadikan dasar untuk memprediksi dan mengestimasi nilai pasar perusahaan. Nah kemampuan nilai seperti ini yang biasa disebut dengan kemampuan #RelevansiNilai.

Oh ya keempat karakteristik tersebut harus ada dalam informasi akuntansi ya Sob, jika tidak maka keputusan yang diambil berdasarkan informasi tersebut bisa salah dan merugikan banyak pihak.

Informasi akuntansi perlu diukur relevansi nilainya, hal ini penting untuk memberikan sinyal terutama bagi para investor tentang bagaimana kemampuan nilai dalam laporan keuangan menggambarkan keadaan emiten yang sebenarnya agar tepat dalam pengambilan keputusan investasi. Gimana sih cara ngukurnya? Yakni dengan mengestimasi hubungan statistik antara nilai informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dengan nilai saham emiten di pasar (harga saham).

Untuk memenuhi tujuan relevansi, laporan keuangan sebaiknya disusun dengan menggunakan nilai sekarang (fair value). Fair value atau akrab dikenal dengan Nilai Wajar adalah harga yang akan diterima dalam penjualan aset atau pembayaran untuk mentransfer kewajiban di pasar pada tanggal pengukuran. Nilai ini dibutuhkan oleh para investor untuk mengetahui harga sebenarnya yang berlaku saat ini sehingga dapat melindungi investor dari kesalahan pengambilan keputusan tadi, Sob.

Penggunaan Nilai Wajar di Indonesia baru diberlakukan mulai tahun 2008. Yakni semenjak Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) memutuskan berkomitmen untuk menerapkan Konvergensi IFRS (International Financial Report Standard) yang diberlakukan secara efektif keseluruhan pada tahun 2012.

Sobat Gogo masih inget dong.. sebelumnya PSAK kita mengacu pada standar US GAAP (United State Generally Accepted Accounting Principles) sejak tahun 1974. Namun belakangan Indonesia merasa standar akuntansi US GAAP tidak lagi dirasa relevan untuk digunakan karena asumsi historical cost yang dianutnya.

Hal ini sejalan dengan mandat pertemuan negara-negara G-20 di London pada 2 April 2009 untuk mempunyai a single set of high-quality global accounting standards dalam rangka menyediakan informasi keuangan yang berkualitas di pasar modal internasional agar lebih dapat diperbandingkan dan berkualitas tinggi kepada investor.

Masih inget historical cost kan? Prinsip historical cost menghendaki digunakannya harga perolehan dalam mencatat aktiva, utang, modal dan biaya. Transaksi dengan menggunakan historical cost memiliki kelemahan yakni kurang mencerminkan kondisi yang sebenarnya pada tahun sesudah transaksi.

Penerapan IFRS ini diklaim akan memberi manfaat bagi peningkatan relevansi nilai dan kualitas informasi laporan keuangan karena penggunaan fair value lebih dapat merefleksikan kondisi ekonomik perusahaan dibandingkan historical cost. Fair value lebih relevan namun historical cost diyakini lebih reliabel.

Setelah PSAK berkonvergensi dengan IFRS, banyak penelitian-penelitian bermunculan untuk mengukur apakah tingkat #RelevansiNilai informasi akuntansi benar-benar meningkat dengan penggunaan fair value. Namun hasil yang ditunjukkan adalah beragam dan tak jarang bertentangan. Hmm.. gimana nih Sob? Tertarik juga untuk mengukur #RelevansiNilai?

Itu tadi sekilas pembahasan isu dari Tim Akkeu. Semoga bisa meningkatkan keingintahuan kalian ya. Sampai ketemu minggu depan, Sob. Keep Learning, Sharing, and Inspiring!

Properti Investasi part 2

Hai hai sobat gogo, salam cinta akuntansi dari program studi Akuntansi Keuangan Komunitas @JagoAkuntansi Indonesia. Gogo sebelumnya sudah bahas definisi dari properti investasi sob, kali ini lanjutannya atau part. 2 nya ya sob!

 

Pengakuan

Properti investasi dapat diakui sebagai aset jika memenuhi dua kriteria berikut:

  1. Besar kemungkinan manfaat ekonomik masa depan yang terkait dengan properti investasi akan mengalir ke entitas, dan
  2. Biaya perolehan properti investasi dapat diukur secara andal

Biaya perolehan awal hak atas properti yang dikuasai secara sewa dan dikelompokkan sebagai properti investasi mengacu pada PSAK 30 Sewa, dengan aset diakui pada jumlah mana yang lebih rendah antara:

  1. Nilai wajar properti, dan
  2. Nilai kini dari pembayaran sewa minimum.

 

Nilai Jasa Pendukung yang Disediakan

            Untuk menghasilkan pendapatan dari suatu properti, entitas mungkin harus menyediakan berbagai jasa pendukung, Jika nilai jasa pendukung tersebut tidak signifikan terhadap paket rental sencara keseluruhan, maka properti dicatat sebagai properti investasi. Untuk menentukan signifikansi atas jasa pendukung tersebut, diperlukan berbagai judgement dan kriteria untuk menilainya. Kriteria tersebut harus dipakai secara konsisten sebagai pedoman dan diungkapkan di catatan atas laporan keuangan.

 

Pengukuran

Pada Pengakuan Awal

Properti investasi pada awalnya diukur sebesar biaya perolehan. Biaya transaksi termasuk dalam pengukurann awal tersebut. Biaya perolehan properti investasi adalah harga pembelian dan setiap pengeluaran yang dapat diatribusikan secara langsung. Contohnya adalah biaya jasa hukum, pajak pengalihan properti, dan biaya transaksi lain. Pengakuan awal untuk properti investasi sama dengan pengakuan aset tetap sesuai dengan PSAK 16 Aset Tetap

Biaya perolehan properti investasi tidak termasuk:

  1. Biaya printisan
  2. Kerugian operasional yang terjadi sebelum properti investasi mencapai tingkat hunian yang direncanakan; atau
  3. Jumlah tidak normal bahan baku, tenaga kerja, atau sumber daya lain terjadi selama masa pembangunan atau pengembangan properti.

Suatu aset juga dapat diperoleh dengan cara pertukaran dengan aset moneter dan nonmoneter. Apabila aset nonmneter lainnnya maka biaya perolahan aset tetap tersebut diukur pada nilai wajar kecuali:

  1. Transaksi pertukaran tidak memiliki substansi komersial. Untuk mengetahui apakah terdapat subtansi komersial, entitas dapat mempertimbangkan sejauh mana arus kas masa depan dapat berubah. Suatu transaksi pertukaran memiliki substansi komersial jika:
  2. Konfigurasi (risiko, waktu, dan jumlah) arus kas dari aset yang diterima berbeda dengan konfigurasi arus kas dari aset yang diserahkan;
  3. Nilai spesifik entitas dari bagian operasi entitas yang terpengaruh oleh transaksi berubah sebagai akibat dari pertukaran tersebut; dan
  4. Selisih (a) atau (b) adalah relativ signifikan terhadap nilai wajar dari aset yang dipertukarkan.
  5. Nilai wajar aset yang diterima dan aset yang dipertukarkan tidak dapat diukur secara andal.

Biaya perolehan atas properti investasi yang diperoleh melalui pertukaran diukur pada nilai wajar, bahkan jika entitas tidak dappat segera menghentkan pengakuan aset yang diserahkan. Namun, jika nilai wajar atas proerti investasi yang diperoleh tidak dapat diukur dengan anda maka biaya perolehan properti investasi tersebut diukur pada nilai wajar properti investasi yang diserahkan.

 

Setelah Pengakuan awal

Entitas dapat memilih antara nilai wajar atau model biaya untuk kebijakan akuntansi atas seluruh properti investasinya. Jika yang dikuasai dalam sewa operasi diklasifikasikan sebagai properti investasi maka tidak ada pilihan, entitas harus menggunakan model nilai wajar. Jika properti investasii yang nilai wajarnya tidak dapat ditentukan secara anadal atas dasar berkelanjutan, maka peroperti investasi diukur model biaya. PSAK 13 menegaskan bahwa tidaklah lazim untuk pindah dari nilai wajar ke model biaya.

 

Model Nilai Wajar

Jika entitas memilih untuk menggunakan model nilai wajar, maka seluruh properti investasi akan diukur berdasarkan nilai wajar. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar properti investasi akan diakui sebagai laba atau rugi pada periode berjalan. Berdasarkan PSAK 68 Pengukuran Nilai wajar, nilai wajar adalah harga yang akan diterima untuk menjual suatu aset atau harga yang akan dibayar untuk mengalihkan suatu liabilitas dalam transaksi teratur antara pelaku pasar pada tanggal pengukuran. Dengan kata lain, bukan merupakan nilai yang akan diterima atau dibayarkan entitas dalams suatu transaksi yang dipaksakan, likuidasi yang dipaksakan, atau penjualan akibat kesulitan keuangan.

Model Biaya

Entitas yang memilih untuk mmenggunakan model biaya, maka seluruh properti investasinya akan diukur sesuai dengan ketentuan dalam PSAK 16 Aset Tetap. Kecuali jika properti investasi tersebut memiliki kriteria sebagai aset yag dimiliki untuk dijual, maka akan diukur sesuai dengan PSAK 58 Aset tidak Lancar ntuk Dijual dan Operasi yang dihentikan.

 

Penurunan Nilai Properti Investasi

Penurunan Nilai Properti Investasi untuk Model Biaya

Pada tahun 2007 – 2008, industri properti sempat mengalami kejatuhan. Hal ini menyebabkan bahwa perusahaan harus melakukan indentifikasi terhadap aset – aset yang mungkin mengalami penurunan nilai aset. Indikasi penurunan nilai entitas dilakukan minimal setahun sekali (impairment test). Adaun informasi minimum yang dipertimbangkan terbagi menjadi dua, yaitu sumber eksternal dan sumber internal:

  1. Sumber Eksternal
  • Perubahan signifikan nilai pasar
  • Perubahhan signifikan teknologi, pasar ekonomi da lingkup hukum
  • Jumlah tercatat aset neto entitas melebihi kapitalisasi pasarnya
  1. Sumber Internal
  • Bukti keusangan atau kerusakan fisik aset
  • Perubahan signifikan atas penggunaan, penghentian dan masa manfaat aset
  • Bukti internal mengindikasikan bahwa kinerja ekonomi aset lebih buruk dari yang diharapkan.

Uji penurunan nilai aset untuk properti investasi yang diukur menggunakan model biaya mengikuti PSAK 48 Penurunan Nilai Aset