Properti Investasi

Hai hai sobat gogo, salam cinta akuntansi dari program studi Akuntansi Keuangan Komunitas @JagoAkuntansi Indonesia

Kali ini gogo mau bahas terkait Properti Investasi nih sob,,,

Seiring dengan perkembangan era globalisasi yang semakin maju, banyak lahan yang dibutuhkan pula untuk perluasan usaha. Karena itu dibutuhkan investasi yang dapat dilakukan untuk mendapatkan keuntungan dimasa yang akan datang sehingga dalam melakukan investasi dibutuhkan suatu perencanaan yang matang agar investasi yang dilakukan tidak menimbulkan kerugian baik investasi dalam bentuk lahan contohnya dalam properti.

Investasi dapat berupa properti. Properti investasi cukup diminati karena nilai investasi yang cenderung meningkat, Kenaikan harga properti investasi ini dapat disebabkan oleh kenaikan harga tanah dari tahun ke tahun karena permintaan yang selalu bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk sedangkan terdapat keterbatasan penawaran. Oleh karena itu tidak sedikit perusahaan yang mengambil keputusan dengan membeli properti. Ketika perusahaan memutuskan untuk melakukan investasi berupa properti, maka perusahaan tersebut wajib mengikuti standar akuntansi yang mengatur tentang properti investasi yaitu PSAK 13. Akuntansi untuk properti investasi diatur di Indonesia pada PSAK 13 Properti Investasi yang diadaptasi  dari IAS 40 Investment Property.

 

Definisi Properti Investasi

Berdasarkan PSAK 13, properti investasi adalah properti (tanah atau bangunan atau bagian dari suatu bangunan atau kedua – duanya) yang dikuasai (oleh pemilik atau lesse/penyewa melalui sewa pembiayaan) untuk menghasilkan rental atau untuk kenaikan nilai atau kedua – duanya, dan tidak untuk:

  • Digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa atau untuk tujuan administratif; atau
  • Dijual dalam kegiatan usaha sehari – hari.

Dapat disimpulkan bahwa untuk mengklasifikasikan suatu properti sebagai properti investasi, harus memenuhi kedua kriteria yaitu: penggunaan dan kepemilikan. Penggunaan properti investasi yaitu untuk rental dan/atau kenaikan nilai sedangkan jenis kepemilikan hanya dimiliki sendiri atau melalui sewa pembiayaan.

Properti investasi tersebut menghasilkan arus kas yang sebagian besar tidak bergantung pada aset lain yang dikuasai oleh entitas. Hal ini membedakan properti investasi dari properti yang digunakan sendiri. Properti yang digunakan sendiri adalah properti yang dikuasai (oleh pemilik atau lesse melalui sewa pembiayaan) untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa atau untuk administratif, contohnya gedung kantor pusat perusahaan. Proses produksi atau pengadaan barang atau jasa ( atau penggunaan properti untuk tujuan administratif) dapat menghasilkan arus kas yang diatribusikan tidak hanya ke properti, tetapi juga ke aset lain yang digunakan dalam proses produksi atau persediaan. PSAK 16 Aset Tetap  berlaku untuk properti yang digunakan sendiri.

Contoh properti investasi:

  1. Tanah yang dikuasai dalam jangka panjang untuk kenaikan nilai dan bukan untuk dijual jangka pendek dam kegiatan usaha sehari – hari.
  2. Tanah yang dikuasai saat ini yang penggunaannya di masa depan belum ditentukan
  3. Bangunan yang dimiliki oleh entitas (atau dikuasai oleh entitas melalui sewa pembiayaan) dan disewakan kepada pihak lain melalui satu atau lebih sewa operasi.
  4. Bangunan yang belum terpakai tetapi tersedia untuk disewakan kepada pihak lain melalui satu atau lebih sewa operasi.
  5. Properti dalam proses pembangunan atau pengembangan yang di masa depan digunakan sebagai properti investasi.

Contoh yang BUKAN Properti investasi:

  1. Properti yang digunakan sendiri (PSAK 16), mencakup (di antaranya) Properti yang dikuasai untuk digunakan di masa depan sebagai properti yang digunakan sendiri, properti yang dimiliki untuk pengembangan di masa depan dan selanjutnya digunakan sebagai properti yang digunakan sendiri, properti yang digunakan oleh karyawan (dengan atau tanpa pembayaran rental sesuai harga padar oleh karyawan), dan properti yang digunakan sendiri dan menunggu untuk dijual.
  2. Properti ( selesai atau dalam pembangunan ) yang diniatkan untuk dijual (PSAK 140
  3. Properti yang dibangun atas nama pihak ketiga (PSAK 34)
  4. Properti yang disewakan pada pihak lain dalam sewa pembiayaan (PSAK 30)

NO

Contoh

Jenis Aset

1. PT GOGO memiliki tanah yang dimiliki untuk dijual Persediaan
2. PT GOGO memiliki tanah, tetapi penggunaan dari tanah tersebut belum ditentukan Properti Investasi
3. PT GOGO sedang membuat gedung untuk disewakan melalui sewa operasi di masa depan Properti Investasi
4. Bangunan dalam konstruksi yang dimiliki oleh PT GOGO untuk kantor barunya akan selesai pada tahun 2018 Bangunan dalam Konstruksi
5. PT GOGO membeli bangunan pabrik untuk produksi produk barunya Aset Tetap

 

Ada beberapa properti yang dimiliki kegunaan sebagai properti investasi sekaligus properti yang digunakan sendiri misalnya untuk menghasilkan barang atau jasa atau tujuan administratif atau untuk proses produksi. Dalam hal ini entitas mencatat secara terpisah yaitu sebagai properti yang digunakan sendiri dan sebagian sebagai properti investasi, akan tetapi jika bagian tersebut tidak bisa dijual secara terpisah, maka properti ini dicatat sebagai properti investasi hanya jika bagian yang digunakan untuk menghasilkan barang atau jasa atau tujuan administratif atau untuk proses produksi memiliki jumlah yang tidak signifikan.

Contoh:

  1. PT GOGO memiliki kantor yang disewakan, akan tetapi PT GOGO sebagai pemilik bangunan kantor tersebut menyediakan jasa keamanan kepada orang – orang yang menyewa bangunan kantor tersebut. Dalam hal ini, maka PT GOGO tetap mencatat bangunan kantor tersebut sebagai properti investasi karena jasa tersebut tidak signifikan terhadap keseluruhan perjanjian.
  2. PT GOGO memiliki dan mengelola sebuah hotel, Jasa yang diberikan kepada tamu hotel tersebut sangat signifikan, sehingga PT GOGO tidak boleh mencatat bangunan hotel sebagai properti investasi melainkan sebagai properti yang digunakan sendiri.
  3. PT GOGO memiliki sebuah gedung yang disewakan kepada perusahaan yang kemudian mengelola degung tersebut sebagai hotel. PT GOGO hanya mendapatkan pendapatan dari sewa gedung dan tidak mendapatkan bagian keuntungan dari pengelolaan hotel. Gedung tersebut dianggap sebagai properti investasi.

Dalam beberapa kasus, entitas juga memiliki properti yang dapat disewakan kepada entitas induk atau anaknya. Properti yang demikian tidak dapat diklasifikasikan sebagai properti investasi dalam laporan keuangan konsolidasian karena properti tersebut termasuk properti yang digunakan sendiri jika dilihat dari sudut pandang kelompok usaha. Akan tetapi, entitas dapat mengakui properti tersebut sebagai properti investasi pada laporan keuangan individualnya.

Pengukuran Unsur Laporan Keuangan

Hai hai sobat gogo, berjumpa dengan prodi akuntansi keuangan lagi ya. Tetap dijaga semangat menuntut ilmu nya ya !

Akuntansi sebagai sumber informasi keuangan menggunakan satuan uang sebagai alat denominasi unsur-unsur yang dilaporkan di laporan keuangan. Pengukuran (measurement) unsur neraca dan laporan laba rugi menggunakan beberapa dasar pengukuran tertentu, yaitu biaya historis, biaya kini, nilai realisasi/penyelesaian, nilai sekarang, dan nilai wajar. Langsung saja kita bahas satu persatu dasar pengukurannya yah

1. Nilai historis (Historical cost) 

Aset dicatat sebesar pengeluaran kas atau setara kas yang dibayar atau sebesar nilai wajar dari imbalan yang diberikan, untuk memperoleh aset tersebut pada saat perolehan. Liabilitas dicatat sebesar jumlah yang timbul sebagai penukar dari kewajiban (obligation), atau, dalam keadaan tertentu (misalnya pajak penghasilan) sejumlah kas atau setara kas yang diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan usaha yang normal.

 

2. Biaya kini (Current cost)

Aset dinilai dalam jumlah kas atau setara kas yang seharusnya dibayar, bila aset yang sama atau setara aset tersebut diperoleh sekarang. Liabilitas dinyatakan dalam jumlah kas atau setara kas yang tidak didiskontokan (undiscounted) yang mungkin akan diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban (obligation) sekarang.

 

3. Nilai realisasi/penyelesaian (Realizable/settlement value) 

Aset dinyatakan dalam jumlah kas atau setara kas yang dapat diperoleh sekarang dengan menjual aset dalam pelepasan normal (orderly disposal). Liabilitas dinyatakan sebesar nilai penyelesaian; yaitu, jumlah kas atau setara kas yang tidak didiskontokan yang diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan usaha normal.

 

4. Nilai Sekarang (Present value)

Aset dinyatakan sebesar arus kas masuk bersih dimasa depan, yang didiskontokan (discounted) ke nilai sekarang (present value) dari pos yang diharapkan dapat memberikan hasil dalam pelaksanaan usaha normal. Liabilitas dinyatakan sebesar arus kas keluar bersih di masa depan, yang didiskontokan ke nilai sekarang yang diharapkan akan diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban dalam pelaksanaan usaha normal. Biaya historis adalah dasar pengukuran yang lazimnya digunakan. Kadang – kadang biaya historis digunakan dengan membandingkan dengan dasar pengukuran lain, misalnya dalam penliaian persediaan. Nilai persediaan kadang – kadang dinilai dengan metode nilai terendah antara biaya historis atau nilai realisasi bersih (lower of cost or net realizable value). Akuntansi dana pensiun menilai aset tertentu berdasarkan nilai wajar (fair value).

 

5. Nilai wajar (Fair Value)

Perkembangan standar akuntansi keuangan berbasis IFRS terakhir telah memperkenalkan konsep nilai wajar (fair value). IFRS 13 Fair Value Measurement mengatur mengenai nilai wajar yang juga telah diadopsi untuk PSAK 68 Pengukuran Nilai Wajar.

Sekuritas Dilutif

Definisi Sekuritas Dilutif

Hai sobat gogo, prodi akuntansi keuangan kali akan membahas mengenai Sekuritas Dilutif. Langsung aja ya sob,

Sesuai dengan istilah “dilutif” yang berarti penurunan, sama hal-nya dengan Sekuritas Dilutif yang dimana merupakan surat berharga yang dapat dikonversikan menjadi saham biasa sehingga pada saat dikonversikan akan memengaruhi jumlah saham yang beredar dan berdampak pada penurunan nilai Laba Per Saham atau terdilusi. Lebih simpelnya bahwa dalam perhitungan laba per saham komponen atas (Pembilang) yang merupakan Earning atau Pendapatan sedangkan pada komponen bawah perhitungan EPS (Penyebut) yang merupakan Outstanding Common Stock atau saham biasa yang beredar dimana jika semakin banyak jumlah saham yang beredar dikerenakan adanya sekuritas dilutive maka akan berpotensi menurunkan nilai EPS atau sering dikenal dengan istilah Laba Per Saham Dilusian. Berikut ilustrasi terkait pengertian dari Sekuritas Dilusian.

 

 

 

 

Macam-macam Sekuritas Dilutif

Ada beberapa efek atau sekuritas yang digolongkan sebagai sekuritas dilutif atau sekuritas yang berpotensi menurunkan nilai Laba Per Saham. Berikut ini penjelasan mengenai macam-macam sekuritas dilutif yang gogo dapatkan dari sumber terpercaya:

  1. Opsi Saham

Opsi saham merupakan kontrak yang diterbitkan oleh investor untuk dijual kepada investor lainnya dimana kontrak tersebut memberikan opsi/hak bagi penerimanya untuk menjual/membeli suatu saham perusahaan (underlying stock) yang menjadi dasar perdagangan opsi tersebut dalam jumlah dan pada harga yang telah ditetapkan sebelumnya (exercise price), serta berlaku dalam periode tertentu. Opsi saham dibagi atas dua jenis yaitu opsi beli (call option) dan opsi jual (put option). Opsi menyebabkan jumlah saham perusahaan yang beredar menjadi bertambah sehingga mendilusi Laba Per Saham.

 

  1. Waran Saham

Waran saham merupakan opsi yang diberikan oleh perusahaan kepada pemilik waran untuk membeli saham dengan harga tertentu dalam waktu tertentu. Perbedaan utama waran saham dengan opsi saham adalah pihak yang mengeluarkannya dan jenisnya. Waran dikeluarkan oleh perusahaan penerbit saham sedangkan opsi dikeluarkan oleh investor.

 

  1. Obligasi Konversi

Obligasi Konversi merupakan surat utang yang memberikan fitur opsi bagi pemegangnya untuk mengonversikannya menjadi saham biasa perusahaan setelah, selama, atau pada tanggal tertentu setelah surat utang dikeluarkan biasanya pada rasio pertukaran yang sudah ditentukan terlebih dahulu pada penerbitan obligasi tersebut. Sekuritas ini merupakan sekuritas hibrida yaitu suatu sekuritas yang terdiri dari dua unsur yaitu utang dan ekuitas. Terdapat beberapa alasan bagi perusahaan untuk mengeluarkan utang konversi. Pertama, meningkatkan permodalan perusahaan dengan kemungkinan mengeluarkan saham dalam jumlah yang lebih kecil. Kedua, fitur konversi yang melekat pada obligasi dapat berfungsi sebagai pemanis yang berdampak pada tingginya permintaan atas obligasi tersebut dan turunnya biaya modal dari pengeluaran obligasi tersebut.

Berikut ilustrasi dari Obligasi Konversi :

 

 

  1. Saham Preferen Konversi

Saham preferen merupakan saham yang memiliki keutamaan dalam pendistribusian laba. Sering kali juga saham preferen memiliki fitur konversi atau dapat diubah menjadi saham biasa. Saham Preferen Konversi adalah sekuritas saham utama yang mana pemilik saham preferen dapat mengonversi menjadi saham biasa dalam jumlah yang telah ditentukan sebelumnya. Berbeda dengan obligasi konversi yang mana utamanya merupakan sekuritas utang dan opsi konversinya merupakan sekuritas ekuitas, sekuritas saham preferen konversi secara prinsipnya merupakan sekuritas. Oleh karena itu, perusahaan tetap memasukan kedua komponen tersebut dalam ekuitas perusahaan.

 

  1. Kompensasi Berbasis Saham

Kompensasi berbasis saham merupakan imbalan yang diberikan perusahaan pemaso barang atau jasa yang dapat mencakup pihak karyawan dan non karyawan yang mana kompensasi tersebut berbentuk saham atau pengakuan kewajiban yang jumlahnya ditentukan berdasarkan pada harga saham atau instrumen ekuitas perusahaan.

 

Pada prinsipnya dalam menghitung Laba Per Saham Dilusian, perlu dipahami bahwa sekuritas dianggap dilutif bila dikonversi menjadi saham biasa, dapat berpotensi menurunkan laba bersih per saham. Karena ada saatnya tidak dilakukan perhitungan Laba Per Saham dilusian apabila efek berpotensi saham biasa yang dimiliki perusahaan bersifat antidilutif. Maksudnya bahwa efek tersebut tidak berpotensi menurunkan EPS atau bisa jadi malah menaikan nilai EPS.

Sampai disini dulu pembahasan gogo mengenai Sekuritas Dilutif, semoga materi ini dapat bermanfaat dalam menambah wawasan sobat semua.

 

Saham Preferen

Saham preferen (preferred stock) adalah saham dengan kelas khusus yang memiliki beberapa preferensi atau kelebihan atau fitur yang tidak dimiliki oleh saham biasa. Karakteristik berikut yang paling sering berkaitan dengan penerbitan saham preferen:

1. Preferensi atas dividen.
2. Preferensi atas aktiva pada saat likuidasi.
3. Dapat dikonversi menjadi saham biasa.
4. Dapat ditebus pada opsi perseroan.
5. Tidak mempunyai hak suara.

Karakteristik yang membedakan saham preferen dengan saham biasa terletak pada sifatnya yang lebih tertutup dan negatif di samping preferensinya. Misalnya saham preferen tidak memiliki hak suara, tidak kumulatif, dan non partisipasi. Saham preferen biasanya diterbitkan dengan suatu nilai pari, dan preferensi dividen dinyatakan sebagai suatu persentase dari nilai pari. Jadi pemegang saham preferen 8%, dengan nilai pari $100 memberikan hak dividen tahunan $8 per saham. Saham ini biasanya disebut saham preferen 8%. Dalam kasus saham preferen tanpa nilai pari, preferensi dividen dinyatakan sebagai jumlah dolar spesifik (specific dollar amount) per saham, misalnya $7 per saham. Saham ini umumnya disebut saham preferen $7.
Preferensi untuk dividen tidak memastikan bahwa dividen akan dibayar, hal itu hanya merupakan jaminan bahwa tingkat dividen yang ditetapkan atau jumlah yang dapat ditetapkan pada saham preferen harus dibayar sebelum ada dividen yang dibayar untuk saham biasa.

 

Karakteristik Saham Preferen
Sebuah perseroan dapat menyertakan preferensi atau batasan pada setiap kombinasi yang diinginkan untuk penerbitan saham preferen, sepanjang tidak bertentangan secara spesifik dengan hukum negara bagian, dan perseroan itu dapat menerbitkan lebih dari satu kelompok saham preferen.

1. Saham Preferen Kumulatif
Saham preferen kumulatif (cumulative preferred stock) jika perseroan gagal membayar dividen dalam suatu tahun, maka harus dibayarkan dalam tahun berikutnya sebelum laba dapat dibagikan kepada pemegang saham biasa. Jika direktur tidak mengumumkan dividen pada tanggal pembagian dividen yang biasa, maka dividen itu disebut passed (terlewat). Setiap dividen yang terlewat atas saham preferen kumulatif merupakan dividen tertunggak (dividend in arrears). karena tidak ada kewajiban yang terjadi sampai dewan direksi mengumumkan dividen, maka dividen tertunggak tidak dicatat sebagai kewajiban tetapi diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Saham preferen non-kumulatif jarang diterbitkan karena dividen yang terlewat akan hilang selamanya bagi pemegang saham preferen dan akibatnya penerbitan saham ini tidak dapat dipasarkan.

2. Saham Preferen Partisipasi
Pemegang saham preferen partisipasi (convertible preferred stock) membagi rata dengan pemegang saham biasa setiap pembagian laba di luar tingkat yang ditentukan. Contoh perusahaan yang telah menggunakan saham preferen partisifasi adalah LTC Corporation, Southern California Edison, dan Allied Products Corporation.

3. Saham Preferen Konvertibel
Saham preferen konvertibel (convertible preferred stock) mengizinkan pemegang saham, menurut opsinya, menukar saham preferen menjadi saham biasa pada rasio yang telah ditentukan sebelumnya. Pemegang saham preferen konvertibel tidak hanya menikmati klaim preferen atas dividen tetapi juga memiliki opsi konversi ke pemegang saham biasa dengan partisipasi tak terbatas atas laba.

4. Saham Preferen yang Dapat Ditebus
Saham preferen yang dapat ditarik (callable preferred stock) mengizinkan perusahaan penerbit saham untuk menarik atau menembus, pada opsinya, saham preferen yang beredar pada tanggal tertentu di masa depan dan pada harga yang ditentukan. Harga penarikan atau penebusan biasanya ditetapkan sedikit di atas harga penerbitan awal dan biasanya ditentukan pada satuan yang berkaitan dengan nilai pari. Keberadaan harga penarikan ini cenderung menetapkan plafon nilai pasar saham preferen kecuali jika hal itu bersifat konvertibel untuk saham biasa. Jika saham preferen ditarik untuk ditebus, maka setiap dividen yang tertunggak harus dibayar. Saham preferen yang dapat ditebus (reemable preferred stock) memiliki periode penebusan wajib atau karakter penebusan yang tidak dapat dikontrol oleh perusahaan penerbit saham.

 

Akuntansi Saham Preferen
Akuntansi saham preferen pada saat penerbitannya sama dengan akuntansi saham biasa. Perusahaan mengalokasi proceeds antara nilai pari saham preferen dan tambahan modal disetor. Contohnya: Bishop Co menerbitkan 10.000 saham preferen dengan nilai pari sebesar $10 seharga $12 per saham. Bishop mencatat penerbitan ini sebagai berikut:

Kas   120.000

Saham preferen   100.000

Modal disetor sebagai kelebihan dari nilai pari   20.000

Oleh karena itu, Bishop membuat akun terpisah antara dua jenis saham yang berbeda. Berkebalikan dengan obligasi konvertibel (dicatat sebagai kewajiban pada tanggal penerbitan, perusahaan memasukkan saham konvertibel sebagai bagian dari ekuitas pemegang saham.

Keep Learning, Sharing, Inspiring
#KJAI#PRODIAKKEU#CINTAAKUNTANSI

Debt to Asset Ratio

Struktur modal merupakan kunci perbaikan produktivitas dan kinerja perusahaan. Struktur modal dapat dilihat berdasarkan pada komposisi utang dan ekuitas. Untuk mengukur besarnya utang terhadap aset maupun ekuitas, digunakanlah rasio utang. Semakin besar utang yang digunakan sebaiknya diimbangi dengan semakin meningkatnya aset tetap perusahaan, sehingga rasio utang yang dapat digunakan adalah rasio utang terhadap aset dan rasio utang terhadap ekuitas. Struktur modal yang dilihat berdasarkan utang akan diproksikan melalui Debt to Asset Ratio (DAR), Debt to Equity Ratio (DER), Longterm Debt to Asset Ratio (LDAR), dan Longterm debt to Equity Ratio (LDER), Sebelumnya gogo sudah bahas 4 ratio tersebut. Kali ini gogo mau bahas lebih luas terkait Debt to Asset Ratio (DAR). Langsung aja yuk sob!

 

Debt to Asset Ratio (DAR)

Debt to Asset Ratio (DAR) merupakan rasio utang yang digunakan untuk mengukur perbandingan antara total utang dengan total aktiva. Apabila rasionya tinggi, artinya pendanaan dengan utang semakin banyak maka semakin sulit bagi perusahaan untuk memperoleh tambahan pinjaman karena dikhawatirkan perusahaan tidak mampu menutupi utang-utangnya dengan aktiva yang dimilikinya. Demikian pula apabila rasionya rendah, semakin kecil perusahaan dibiayai dengan utang.

Penggunaan utang yang besar akan menimbulkan beban tetap (biaya bunga) yang cukup besar. Semakin besar penggunaan utang maka semakin besar kemungkinan perusahaan mengalami kesulitan keuangan (financial distress) yang mengarah pada kebangkrutan. Bankruptcy cost adalah biaya yang secara langsung terjadi bila perusahaan merasa akan gagal dalam pendanaan dan nilainya lebih besar dari nol. Kemungkinan bangkrut meningkat dengan bertambahnya tingkat utang. Hal ini didorong oleh adanya ketakutan bahwa perusahaan tidak dapat menghasilkan profit untuk membayar kembali bunga dan pinjaman. Sehingga dengan begitu perlu dipahami pada titik mana yang dianggap aman (safety position) untuk menerapkan konsep pinjaman atau konsep balancing theories dan pada titik seperti apa dianggap pinjaman itu berada dalam posisi extreme leverage atau pinjaman yang membahayakan sehingga perusahaan memungkinkan untuk berada dalam posisi financial distress (kesulitan keuangan).

Pengertian titik aman adalah jika pinjaman itu maksimal adalah 40% dari jumlah nilai aset.

Pa = Ta x PP

Keterangan:

Pa = Pinjamanaman

TA = Total aset

Pp = Persentasepinjaman

Adapun posisi extreme leverage adalah jumlah pinjaman sudah mencapai titik 80%-90% dari total nilai aset. Sehingga jika kondisi tiba-tiba perusahaan mengalami permasalahan dalam usaha khususnya dalam bidang penurunan penjualan maka memungkinkan timbulnya gagal bayar (risk default) dan bagi pihak pemberi pinjaman ini akan mencatat sebagai kasus kredit macet (bad debtcase). Dan selanjutnya perusahaan jika tidak ada penyelesaian yang bersifat konkret akan mengarah pada posisi pailit (bankruptcy).

Laba Per Lembar Saham (Earnings Per Share)

Stuktur modal perusahaan bersifat sederhana jika hanya terdiri dari saham biasa atau tidak mencakup saham biasa potensial (potential common stock) yang pada saat konversi atau penggunaan dapat mendilusi laba per saham biasa. Struktur modal bersifat kompleks jika mencakup sekuritas yang dapat mempunyai pengaruh dilutif terhadap laba per saham biasa.

Laba per lembar saham menunjukkan pendapatan yang diperoleh oleh masing-masing saham biasa.  Perusahaan melaporkan laba per saham hanya untuk saham biasa.  Ketika laporan laba rugi berisi penghentian operasi, perusahaan diwajibkan untuk melaporkan laba per saham dari operasi yang dilanjutkan dan laba bersih di laporan laba rugi.

Struktur Kapital Sederhana (Simple Capital Structure)

Struktur kapital sederhana hanya terdiri atas saham biasa dan efek yang tidak dapat dikonversi dan tidak memiliki efek dilusi yang potensial. Untuk perusahaan dengan struktur modal sederhana, hanya perlu melaporkan EPS (earnings per share) dasar.

  • DivideSaham Preferen (Preferred Stock Dividens)

Sebagaimana telah di tunjukan sebelumnya, laba per saham berhubungan dengan laba per saham biasa. Jika perusahaan memiliki baik saham biasa maupun saham preferen yang beredar, maka dividen saham preferen tahun berjalan dikurangi dari laba bersih untuk memperoleh laba yang tersedia untuk pemegang saham biasa.

Dalam melaporkan informasi tentang laba per saham, perusahaan harus menghitung laba yang tersedia bagi pemegang saham biasa. Untuk melakukannya, dividen saham preferen harus dikurangi dari setiap komponen laba antara (laba dari operasi berlanjut dan laba sebelum pos-pos luar biasa) dan akhirnya dari laba bersih. Jika dividen saham preferen telah diumumkan dan terjadi rugi bersih, maka dividen saham preferen itu akan ditambahkan ke rugi untuk menghitung kerugian per saham.

Jika saham preferen bersifat kumulatif dan dividen tidak diumumkan pada tahun berjalan, maka jumlah yang sama dengan dividen yang harusnya sudah diumumkan untuk tahun berjalan saja yang harus dikurangi dari laba bersih (atau di tambahkan ke rugi bersih). Dividen tertunggak (dividends in arrears) unutk tahun sebelumnya harus dicantumkan dalam perhitungan tahun sebelumnya.

  • Rata-rata Tertimbang Jumlah Saham (Weighted-Average Number of Shares)

Dalam sebuah perhitungan laba per saham, Jumlah Rata-Rata Tertimbang Saham Yang Beredar (weiahted average number of shares outstanding) selama periode bersangkutan merupakan dasar untuk melaporkan jumlah per saham. Saham yang diterbitkan atau dibeli selama periode itu akan mempengaruhi jumlah saham yang beredar dan harus ditimbang menurut bagian dari periode peredarannya. Dasar pemikiran untuk pendekatan ini adalah mencari jumlah ekuivalen dari keseluruhan saham yang beredar selama tahun berjalan.

Illustration :

Franks Inc. mengalami perubahan jumlah saham biasa yang beredar selama satu periode.

Tanggal Perubahan Saham Saham Beredar
1 Januari Saldo awal 90.000
1 April Diterbitkan 30.000 saham secara tunai 30.000
120.000
 1 Juli Dibeli 39.000 saham 39.000
81.000
1 November Diterbitkan 60.000 saham secara tunai 60.000
31 Desember Saldo Akhir 141.000

Franks Inc. menghitung rata-rata tertimbang jumlah saham yang beredar, sebagai berikut :

(A) (B) (C)
Tanggal Beredar Saham Yang Beredar Bagian Dari Tahun Saham Tertimbang (AxB)
1 Jan – 1 Apr 90.000 3/12 22.500
1 Apr – 1 Jul 120.000 3/12 30.000
1 Jul – 1 Nov 81.000 4/12 27.000
1 Nov – 31 Des 141.000 2/12 23.500
Weighted-Average Number of Shares Outstanding 103.000

 

Sebagaimana di gambarkan pada ilustrasi ini, sebanyak 90.000 saham telah beredar selama 3 bulan, yang dijabarkan menjadi 22.500 lembar saham selama tahun berjalan. Karena saham tambahan diterbitkan oleh Franks Inc. pada tanggal 1 April, maka saham yang beredar harus ditimbang selama waktu beredarnya. Ketika 39.000 saham dibeli pada tanggal 1 Juli, saham yang beredar akan berkurang. Karena itu, dari 1 Juli hingga 1 November, hanya ada 81.000 saham yang beredar, yang ekuivalen dengan 27.000 saham. Penerbitan 60.000 saham akan meningkatkan saham yang beredar selama dua bulan terakhir. Franks Inc. kemudian melakukan perhitungan baru untuk menentukan rata-rata tertimbang saham yang beredar yang tepat.