oleh Admin | Jan 17, 2018 | Akuntansi Manajemen
Selamat malam rabu sobat Gogo yang sangat berbahagia. Kembali lagi bersama kami, tim akuntansi manajemen. Pada malam yang sangat berbahagia ini, Gogo akan bawa sobat semua untuk lebih santai. Yup untuk malam ini Gogo tidak akan membahas tentang materi-materi Akmen, tapi Gogo akan membahas tentang… sejarah dan sedikit fakta tentang akmen. Yuhu pasti banyak dari kalian yang masih bingung datangnya prodi akmen itu darimana asalnya, siapa penemunya, dan kapan sebenernya mulai ada. Buat teman- teman yang sama keponya dengan Gogo, simak ya kultweet special malam ini.
Sebelumnya mari kita bahas seputar akuntansi terlebih dahulu. Mungkin kalau ini teman-teman banyak yang sudah tahu. Pada tahun 1494 muncul buku “Summa de Aritmatica, Geometrica Proportioni et Propotionalita” karya dari Lucas Pacioli (sobat bisa sebut bapak Akuntansi). isi bukunya terdapat bab yang berjudul “Tractatus de Computies et Scriptoris”
yang mengajarkan sistem pembukuan berpasangan atau sering disebut dengan sistem kontinental. Pengertian Sistem berpasangan adalah sistem pencatatan semua transaksi ke dalam dua bagian yakni debet dan kredit. Kedua bagian ini diatur sedemikian rupa agar selalu seimbang.
Sedangkan praktik akuntansi di Indonesia dapat ditelusuri melalui sejarah perkembangan akuntansi ketika era penjajahan Belanda, sekitar pada tahun 1642. Rekam jejak yang bisa menjelaskan terkait dengan praktik akuntansi di Indonesia ditemukan sekitar tahun 1747 ketika ditemukan praktik pembukuan yang dijalankan oleh Amphioen Societeit yang berpusat di Jakarta. Di era penjajahan Belanda menerapkan pembukuan dengan sistem pembukuan berpasangan(double entry bookeping) sesuai dengan praktek yang dibangun Lucas Paciolo.
Nah sekarang kita masuk ke asalnya akuntansi manajemen. Setelah Perang Dunia I, terdapat peraturan akuntansi keuangan yang mempunyai dampak berkurangnya informasi akuntansi yang bermanfaat untuk mengevaluasi kinerja bawahan dalam perusahaan besar (lost relevance). Selama kurun waktu lebih dari enam puluh tahun, akuntan akademisi berusaha untuk mengembalikan relevansi antara informasi kos akunting dengan informasi akuntansi keuangan. Akuntansi manajemen berintikan akuntansi biaya dikembangkan di USA mulai akhir abad ke 19 dan permulaan abad 20. Pada tahap awal perkembangannya (sampai dengan tahun 1914), akuntansi manajemen berorientasi pada penentuan cost produk dengan penelusuran profitabilitas produk secara individual dan penggunaan informasi tersebut untuk pengambilan keputusan strategik bagi pemimpin perusahaan dan pemakai intern lainnya.
Pada tahun 1887 terbit publikasi pertama buku akuntansi biaya dan akuntansi manajemen dengan judul “Factory Account” ditulis oleh Emile Garche dan J.M. Fells (Anne Loft, 1991: 19). Awal abad 20 dikembangkan teknik-teknik akuntansi manajemen berupa anggaran dan kembalian investasi (ROI). Perkembangan selanjutnya banyak perusahaan merubah struktur organisasinya dari fungsional menjadi multidivisi. Pada tahun 1917, Alexander Hamilton mengeluarkan gagasan mengenai pusat-pusat produksi yang merupakan sumbangan besar pada akuntansi manajemen sampai saat ini. Hamilton juga mengembangkan konsep tarip tenaga kerja per jam mesin, sehingga akuntansi manajemen mempunyai peran yang penting untuk mengevaluasi prestasi divisi maupun perusahaan secara keseluruhan. Pada awal dekade 1930-an sejalan dengan kelahiran pasar modal di Amerika Serikat, akuntansi manajemen berfungsi menyajikan laporan keuangan yang obyektif, auditable, dan verifiable bagi pemeriksaan oleh akuntan publik. Pada tahun- tahun ini mulai digunakan teknik-teknik untuk membebankan biaya pada produk individual, penerapan anggaran, akuntansi pertanggungjawaban, dan meluas pada penilaian prestasi divisional (Johnson, H.T. dan R. A. Kaplan, 1987: 43).
Pada tahun 1990-an banyak ditemukan bahwa praktek-praktek akuntansi manajemen tradisional sudah tidak mampu lagi melayani kebutuhan manajerial. Kalkulasi biaya produk yang lebih akurat lebih berguna, dan yang menjelaskan secara rinci penggunaan masukan, dibutuhkan untuk memungkinkan manajer meningkatkan kualitas, produktifitas, dan mengurangi biaya. Sebagai tanggapan terhadap kelemahan akuntansi biaya manajemen tradisional, berbagai usaha dilakukan untuk mengembangkan sistem akuntansi manajemen baru yang dapat memenuhi kebutuhan lingkungan ekonomi dewasa ini.
Trend yang menyebabkan perubahan akuntansi manajemen adalah:
- Kemajuan teknologi informasi.
- Implementasi metode just-in time manufacturing.
- Meningkatnya tuntutan kwalitas dan kwantitas
- Meningkatnya diversifikasi dan kompleksitas produk, serta semakin pendeknya daur hidup produk.
- Diperkenalkannya computer-integrated manufacturig
Lingkungan ekonomi telah mensyaratkan perkembangan praktik-praktik akuntansi
manajemen yang inovatif dan relevan. Sehingga muncul beberapa tema baru dalam Akuntansi Manajemen, yaitu:
- Manajemen Berdasarkan Aktivitas (Aktivity Based Management).
- Orientasi pada pelanggan
- Manajemen Kualitas Total (Total Quality Management)
- Waktu sebagai unsur kompetitif
- Efisiensi
- Bisnis secara elektronik (E-business)
Nah begitu ceritanya sob perkembangan singkat tentang Akuntansi Manajemen. Walaupun sedikit, setidaknya menambah pengetahuan sobat Gogo semuanya ya tentang ilmu yang sedang kita pelajari. Jangan lupa untuk tetap bersama Gogi setiap harinya, terutama di hari rabu hihihihi. See you next week sobat Akmen.
Keep sharing, learning, inspairing.
oleh Admin | Des 3, 2017 | Akuntansi Manajemen
Halo!! Selamat Malam Sobat Gogo! kembali lagi dengan kultweet dari prodi akuntansi
manajemen nih. Minggu ini kita bahas tentang salah satu pendekatan cost management dalam
pengelolaan inventory yaitu Backflush Costing. Penasaran? Yuk kita bahas
Ya langsung aja kita bahas tentang teori backflush costing. Sobat gogo disini ada yg tau teori
backflush costing gak nih?
Backflush costing itu pengertiannya apa sih sobat gogo? Monggo di simak pengertiannya ya.
Backflush costing merupakan suatu metode costing untuk mengakumulasikan biaya dengan
menyederhanakan sistem costing dimana mempersingkat pencatatan akuntansi atas aliran
biaya manufaktur.
Backflush costing diterapkan untuk perusahaan dengan proses produksi berlangsung sangat
cepat sehingga pencatatan akuntansi tradisional tidak memadai lagi, karena selalu
ketinggalan.
Tujuan dari Backflush costing adalah mengurangi jumlah kejadian yg diukur dan dicatat
dalam system akuntansi. Backflush costing menunda pencatatan beberapa jurnal entry hingga
akhir masa produksi atau akhir siklus penjualan, sehingga biaya utk penerapannya lebih
rendah dibandingkan dgn sistem job order dan process costing.
Perbedaan Backflush costing dgn job order & process costing adl kurangnya penelusuran
biaya terinci atas biaya work in process (WIP). Akun persediaan (inventory) tidak lagi
disesuaikan selama periode akuntansi, tetapi saldonya dikoreksi menggunakan ayat jurnal pd
akhir periode.
Perbedaan lainnya adalah sistem normal costing dan standar menggunakan penelusuran biaya
secara berurutan dgn 4 tahapan/trigger points, Dimana sistem normal pencatatan jurnal 4
tahapan mulai dr pembelian material, work in process, pencatatan finished goods sampai ke
penjualan. Dalam sistem backflush costing akan menyederhanakan sistem costing tanpa harus
kehilangan informasi yg relevan dlm pembebanan biaya produk.
Ada beberapa alternatif dlm #backflush costing dgn penekanan yg berbeda pada pentahapan
dlm trigger points nya, yaitu :
1. 3 trigger points, dgn pencatatan jurnal pembelian material, penyelesaian finished goods,
dan penjualan produk jadi #backflush . Dengan metode 3 trigger points, menggabungkan
pencatatan jurnal pembelian material dgn work in process dalam satu akun. Maka dlm 3
trigger points hanya akan ada 2 akun inventory yaitu : 1. Raw and In-process, 2. Finished
goods
2. 2 trigger points, dgn pencatatan jurnal pembelian material dan penjualan produk jadi
dimana hanya akan ada 1 akun inventory yaitu Inventory control.
3. 2 trigger points, dgn pencatatan penyelesaian finished goods dan penjualan produk jadi.
Backflush costing menekankan pd penjualan bukan penyelesaian produk utk mendorong
manajer fokus pada penjualan produk.
Pencatatan akuntansi dgn metode backflush costing adalah :
1. Penggabungan Raw material dgn work in process menjadi Raw and in-process
2. Adanya akun Raw In-Process (RIP) karena perusahaan menerapkan zero inventory
3. Komponen biaya bahan baku atas pekerjaan yang telah selesai dibackflush dari RIP
4. Komponen biaya bahan baku atas pekerjaan yang telah terjual dibackflush dari Finished
Goods
5. Saldo akhir ditetapkan dalam akun persediaan dengan melakukan penyesuaian terhadap
bagian conversion cost.
6. Biaya tenaga kerja langsung dibebankan ke akun Cost Of Goods Sold (Harga Pokok
Penjualan)
7. Biaya Overhead pabrik dibebankan ke FOH control, dari FOH control dibebankan ke
COGS (Cost Of Goods Sold).
8. Penentuan harga pokok #backflush dari mengeliminasi akun work in process dan
membebankan biaya produksi secara langsung pada finished goods.
Backflush costing ini berkaitan dgn sistem Just In Time Purchasing (JIT), perusahaan yg
menerapkan JIT menggunakan metode backflush costing. JIT yaitu suatu sistem tepat waktu
yg dirancang untuk mendapatkan kualitas, menekan biaya, dan mencapai waktu penyerahan
seefisien mungkin. Dengan menghapus seluruh jenis pemborosan yg terdapat dlm proses
produksi sehingga perusahaan meyerahkan produk sesuai permintaan konsumen.
Jadi, dengan metode backflush costing membantu perusahaan dalam proses produksi yang
tepat waktu. Selain itu juga diterapkan oleh perusahaan manufaktur dgn tingkat produksinya
yg sangat cepat.
Perusahaan menggunakan backflush costing jika terdapat kondisi sebagai berikut :
a. Perusahaan menerapkan sistem Just In time
b. Manajemen ingin sistem akuntansi yang sederhana
c. Setiap produk ditentukan biaya standarya
d. Metode ini menghasilkan penentuan harga pokok produk yang kira-kira menghasilkan
informasi keuangan yang sama dengan penelusuran secara berurutan.
Backflush costing tidak hanya terbtas pd perusahaan yg menerapkan JIT. Perusahaan yg tidak
menerapkan JIT pun dapat menggunakan backflush costing. Terutama untuk perusahaan
dengan lead time produksi yg singkat atau perusahaan yg tingkat inventory nya cukup stabil.
Namun backflush costing juga memiliki kelemahan yaitu kesulitan dalam penelusuran jejak
audit, dan kurangnya penelusuran rinci atas biaya WIP. Namun demikian, ketiadaan
inventory dlm jumlah besar akan mendorong manajemen utk fokus pada pengelolaan
operasional sistem produksi yaitu melalui peningkatan produktivitas tenaga kerja,
pengendalian dengan sistem komputer, dan pengembangan ukuran kinerja non-financial.
Oke sob sudah di penghujung materi kultweet malam ini. Sekian dulu materi dari akmen ya,
semoga bermanfaat dan terus semangat belajar.
Nantikan kedatangan akmen minggu depan dengan materi yg tidak kalah keren dan seru.
Sampai jumpa sob, keep learning, sharing, and inspiring ya
Sumber: Horngren, Charles T.,Cost Accounting a Managerial Emphasis.14 th edition.
Penerbit:Pearson
oleh Admin | Nov 24, 2017 | Akuntansi Manajemen, Direktorat Pendidikan dan Pelatihan
Selamat malam sobat Gogo dimanapun kalian berada. Kembali lagi bersama Gogo yang akan kembali membahas tentang Jurnal. Jurnalnya apa ya kira-kira malam ini? Yapp betul sekali, Gogo akan bahas tentang Jurnal Kompensasi Manajemen. Judul jurnalnya yaitu PENGARUH PRIVATISASI, KOMPENSASI MANAJEMEN EKSEKUTIF, DAN UKURAN PERUSAHAAN PADA KINERJA KEUANGAN. Kalian juga bisa liat langsung jurnalnya di link berikut: https://ojs.unud.ac.id/index.php/Akuntansi/article/view/10304/8529. Baiklah tanpa panjang lebar mari kita bahas tentang jurnal ini.
Jadi gini sob, dunia usaha kini dihadapkan pada kondisi kompetisi yang semakin kuat. Terutama untuk BUMN yang mendapat sorotan dari masyarakat karena kinerjanya yang dianggap belum optimal. Optimalisasi BUMN dapat dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu peningkatan restrukturisasi, profitisasi dan privatisasi. Privatisasi merupakan kebijakan yang paling populer untuk mengurangi beban defisit anggaran negara dan meningkatkan efisiensi produksi BUMN.
Direksi sebagai pihak yang bertanggung jawab penuh mengelola perusahaan demi tercapainya kelangsungan hidup perusahaan dipandang sangat perlu mendapatkan apresiasi yang efektif yaitu dalam bentuk kompensasi. Sistem kompensasi manajemen dibentuk sebagai alat untuk mencapai keselarasan tujuan antara manajemen dengan pemilik, memotivasi pihak manajemen agar giat bekerja, produktif meningkatkan kinerja dan menciptakan nilai perusahaan. Weston et al. (2004: 559) menyatakan bahwa dewan komisaris memiliki peran penting di dalam praktik good corporate governance (GCG).
Ukuran perusahaan juga dapat mempengaruhi kinerja perusahaan, dan akan mempengaruhi fleksibilitas perusahaan tersebut dalam memasuki pasar modal. Perusahaan yang lebih besar dan memiliki tingkat stabilitas perusahaan yang baik akan lebih mudah memasuki pasar modal dibandingkan dengan perusahaan kecil. Itulah beberapa poin penting alasan jurnal ini dibuat.
Selanjutnya, yuk kita bahas pengertian masing-masing dari kata kunci tersebut. Yang pertama mengenai Privatisasi. Privatisasi adalah salah satu cara efektif memperbaiki kinerja BUMN dari faktor internal dan eksternal perusahaan tersebut, sehingga banyak perusahaan terutama BUMN melakukan privatisasi untuk memperbaiki kinerja perusahaan. Selanjutnya yaitu kompensasi eksekutif. Kompensasi eksekutif merupakan salah satu alat yang masih dianggap efektif untuk meningkatkan kinerja perusahaan. And the last adalah mengenai ukuran perusahaan. Ukuran perusahaan akan berpengaruh terhadap perkembangan perusahaan, karena perusahaan yang besar pada dasarnya memiliki kekuatan finansial yang lebih besar dalam menunjang kinerja, tetapi disisi lain, perusahaan dihadapkan pada masalah keagenan yang lebih besar.
Tibalah saatnya kita lakukan pembahasan. Penelitian ini berbentuk kuantitatif yang berbentuk asosiatif dengan tipe kausalitas. Penelitian ini menggunakan data laporan keuangan perusahaan BUMN yang terdaftar di BEI tahun 2008-2012 dan sudah dipublikasikan. Dalam menentukan ukuran sampel menggunakan metode purposive sampling. Berdasarkan kriteria tertentu sehingga yang digunakan dalam penelitian adalah 13 sampel.
Berikut adalah hasil uji analisis yang disajikan dalam bentuk tabel. Adapun analisis yang digunakan yaitu uji statistik deskriptif, uji asumsi klasik, uji autokorelasi, dan uji analisis regersi linier berganda.
Dari angka-angka yang didapat tersebut, dapat diindikasikan hasil yang baik karena semakin kecil nilai standar deviasi maka data atau variabel tersebut semakin merata, artinya standar deviasi tidak jauh menyimpang dari nilai rata-ratanya (mean).
Hasil uji asumsi klasik pada tabel 2 menunjukan signifikansi sebesar 0,846 melebihi 0,05, maka data telah terdistribusi dengan normal.
Pada tabel 3 menunjukan nilai durbin watson adalah 1,450 lebih besar dari batas atas du (1,604), sehingga kesimpulanya tidak terdapat gejala autokorelasi.
Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda diketahui variabel privatisasi dengan hasil = 0,000 < α = 0,05, Artinya perusahaan yang melakukan privatisasi kinerja keuangan perusahaan BUMN yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2012 semakin meningkat. Variabel kompensasi dengan hasil = 0,004 < α = 0,05, Artinya semakin tinggi kompensasi manajemen eksekutif maka semakin tinggi kinerja keuangan perusahaan BUMN yang terdaftar di bursa Efek Indonesia periode 2008-2012. Variabel ukuran perusahaan dengan hasil = 0,867 > α = 0,05, maka hasil penelitian ini menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh pada kinerja keuangan perusahaan BUMN periode 2008-2012.
Simpulan dari hasil pembahasan penelitian adalah privatisasi berpengaruh pada kinerja, kompensasi manajemen eksekutif berpengaruh pada kinerja keuangan, dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan BUMN yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2012.
Ok sob, sekian dulu materi dari prodi akmen hari ini.Sampai bertemu minggu depan di Kultweet selanjutnya. Keep learning, Sharing, Inspiring ! J
Sumber: https://ojs.unud.ac.id/index.php/Akuntansi/article/view/10304/8529
oleh Admin | Nov 21, 2017 | Akuntansi Manajemen, Direktorat Pendidikan dan Pelatihan
Halo!! Selamat Malam Sobat Gogo! kembali lagi dengan kultweet dari prodi akuntansi manajemen nih… jangan lupa retweet dan like nya ya ^__^
Melanjutkan materi CVP Analysis nih Sob! Malam ini kita akan membahas jurnal International dari Krishnammal College for Women, Coimbatore, India.
Kalian bisa lihat langsung jurnal ini di link berikut ya Sob!
http://oaji.net/articles/2017/352-1490343704.pdf
Jurnal ini berjudul “An analysis of Cost Volume Profit of Nestle Limited”yaitu suatu penelitian analisis CVP yang menggunakan data sekunder dari perusahaan Nestle Ltd. Penelitian ini bertujuan untuk memastikan nilai kontribusi dengan rasio P/V perusahaan dan untuk menganalisa Break Even Point serta Break Even Rasio perusahaan Nestle Ltd. Data sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan keuangan perusahaan Nestle Ltd, periode 2012 – 2016 (5 Tahun).
Sebelum masuk ke jurnal nya, kita interpretasi kan dulu variabel yang akan jadi objektif pembahasan ini yuk Sob! Objektif penelitian ini adalah contribution, profit volume ratio, BEP dan Break even ratio. Contribution adalah selisih antara penjualan dengan variable cost atau marginal cost of sales dengan arti lain keuntungan dari harga jual atas variabel cost per unit. Profit volume ratio juga sering disebut contribution ratio atau marginal ratio mengungkapkan nilai kontribusi per produk sebagai presentase dari turnover dengan rumus kontribusi/sales x100%. Break even point analisis adalah suatu metode hubungan antara pendapatan penjualan, variable cost, dan fixed cost untuk menentukan level operasi dimana seluruh biaya sama dengan pendapatan penjualan dengan arti lain No Profit and No Loss point. Sedangkan Break even ratio adalah hubungan antara break even penjualan dengan aktual penjualan dari perusahaan dengan rumus break even sales/actual sales x 100%. Setelah kita mengetahui interpretasi dari objektif nya, yuk mulai bahas analisis data nya Sob! Dari data sekunder terdapat tabel sales, fixed dan variable cost periode 2012 – 2016 dari perusahaan Nestle Ltd sebagai berikut :
|
Year
|
Sales |
Fixed Cost |
Variable Cost |
| 2012 |
83.023,01 |
4.366,00 |
48.371,71 |
| 2013 |
90.619,02 |
4.366,00 |
50.572,72 |
| 2014 |
98.062,71 |
4.366,00 |
56.653,73 |
| 2015 |
81.232,72 |
4.366,00 |
43.234,71 |
| 2016 |
74.908,00 |
4.366,00 |
44.530,42 |
- Maka nilai kontribusi dapat kita hitung sebagai berikut:

Tabel diatas menggambarkan bahwa kontribusi tertinggi adalah 41.409 pada tahun 2014 dan terendah 30.377,61 pada tahun 2016. Penjualan harus ditingkatkan agar nilai kontribusi dapat meningkat.
- Profit volume ratio dapat kita hitung dengan tabel sebagai berikut :

Berdasarkan tabel diatas, penelitian mengungkapkan bahwa periode dengan profit volume tertinggi adalah 46.78% di tahun 2015 dan terendah 40.55% di tahun 2016. P/V ratio ini harus ditingkatkan untuk nilai perusahaan lebih baik kedepannya.
- Break even point dapat kita hitung dengan tabel sebagai berikut :

Sangat jelas bahwa terjadi break even point lebih tinggi pada tahun 2016 bila dibandingkan 2015. Peningkatan di penjualan dan kontribusi adalah esensi untuk kestabilitasan break even point.
- Rasio Break even dapat kita hitung dengan tabel sebagai berikut :

Pada tabel diatas rasio break even di tahun 2016 (14,37%) lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2014 (10,54%). Dengan nilai rasio tersebut, ini sangat krusial untuk memperbaiki break even point guna menambah rasio break even dalam bisnis yang tak terelakkan.
Temuan dan Anjuran dalam penelitian ini yakni Sales di periode 2012 – 2016 sangat fluktuasi. Oleh karena itu, sales harus ditingkatkan untuk meningkatkan nilai kontribusi.
P/V Rasio tertinggi adalah tahun 2015 (46,78%) dan terendah di tahun 2016 (40,55%). Keduanya merupakan factor kunci yang digunakan dalam rasio P/V yakni kontribusi dan penjualan menunjukkan tren fluktuasi dimana alasan atas ketidakstabilan dalam rasio P/V. Langkah-langkah yang harus diambil adalah meningkatkan penjualan untuk kestabilitasan rasio P/V. Break even point tertinggi adalah pada tahun 2016 dan terendah pada tahun 2015. Peningkatan pada penjualan dan kontribusi adalah esensi dari kestabilitasan break even point. Rasio break even tertinggi adalah tahun 2016 (14,37%) dan terendah adalah di tahun 2014 (10,54%). Dengan nilai rasio tersebut, ini sangat krusial untuk memperbaiki break even point guna menambah rasio break even dalam bisnis yang tak terelakkan.
Kesimpulan dari jurnal ini adalah keseluruhan cost volume profit dari perusahaan Nestle Ltd dilakukan secara tinggi. Sedangkan keseluruhan penjualan dilakukan sangat baik dan dapat dipertahankan. CVP Analysis menguji perilaku dari perubahan output level, harga jual, variable cost per unit dan fixed cost dari suatu barang atau jasa.
Gimana sob, sobat gogo semakin paham kan bagaimana implementasi CVP Analysis itu sendiri :D. Dimana #CVPAnalysis ini dapat membantu perusahaan untuk mengetahui berapa cost volume yang dikeluarkan dengan profit yang didapat, apakah terdapat break even point atau bahkan profit J.
Ok sob, sekian dulu materi dari prodi akmen hari ini. Sampai bertemu minggu depan di Kultweet selanjutnya. Keep learning, Sharing, Inspiring !
oleh Admin | Nov 1, 2017 | Akuntansi Manajemen
Halo!! Selamat Malam Sobat Gogo! kembali lagi dengan kultweet dari prodi akuntansi manajemen nih…
Materi malam ini seru loh sob… kuyyy pantengin terus yaa :D. Malam ini kita akan memperdalam materi mengenai Akuntansi Pertanggungjawaban atau disingkat Accountability. Sobat gogo masih ingat gak apa itu Accounting Responsibility? Accounting Responsibility merupakan istilah yang digunakan dalam menjelaskan akuntansi perencanaan serta pengukuran dan evaluasi kinerja organisasi sepanjang garis
pertanggungjawaban. Accounting Responsibility ini adalah jawaban akuntansi manajemen terhadap pengetahuan umum bahwa masalah – masalah bisnis dapat dikendalikan seefektif mungkin dengan mengendalikan orang – orang yang bertanggungjawab menjalankan operasi tersebut. Dapat diartikan bahwa, Accountability ini dapat membantu seorang manajer perusahaan dalam mengambil keputusan yang lebih baik sebab keputusan tersebut dibuat oleh pimpinan yang berada ditempat terjadinya isu-isu yang relevan sehingga berkurangnya beban manajemen puncak dan kemudian bisa lebih memfokuskan pada konsep pengendalian manajemen yang lebih strategis. Oleh karena itu Accountability ini dapat memberikan manfaat antara lain sebagai dasar penyusunan anggaran, penilaian kinerja manajer pusat pertanggungjawaban serta untuk memotivasi para manajer perusahaan. Bagi pimpinan pusat pertanggungjawaban, pendelegasian wewenang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan inovasi dan kreativitas masing-masing pusat pertanggungjawaban. Ada 4 jenis pusat pertanggungjawaban: 1. Cost Center (Pusat Biaya); pusat pertanggungjawaban dimana input atau biaya diukur dalam unit moneter namun outputnya tidak diukur dalam unit moneter. Berdasarkan hubungan input dan output, terdapat 2 pembagian pusat biaya yakni pusat biaya teknik dan pusat biaya kebijakan. Pusat biaya teknik; elemen biaya yang benar-benar terjadi dan dapat diukur secara pasti karena mempnyai hubungan yang erat dengan output yang dihasilkan, Sedangkan pusat biaya kebijakan; biaya yang sebagian besar yang terjadi tidak mempunyai hubungan yang erat dengan output yang dihasilkan. 2. Revenue Center (Pusat Pendapatan); suatu ukuran dimana outputnya diukur dalam unit moneter atas dasar pendapatan yang diperoleh dari penjualan atau perolehan pendapatan. 3. Profit Center (Pusat Laba); pusat pertanggungjawaban yang kinerjanya diukur berdasarkan laba yang diperoleh. 4. Investment Center (Pusat Investasi); pusat pertanggungjawaban yang menghubungkan investasi yang digunakan untuk memperoleh laba tersebut. Accountability ini juga menghubungkan 2 tipe struktur organisasi yaitu tipe organisasi fungsional dan organisasi divisional. Organisasi fungsional merupakan bentuk organisasi yang biasanya dipakai oleh perusahaan besar yang ditandai dengan adanya jumlah karyawan yang besar, spesialisasi kerja tinggi, wilayah kerja luas, serta komando yang tidak lagi berada pada satu tangan pimpinan saja. Pembagian organisasi fungsional didasarkan atas beberapa fungsi; fungsi produksi, fungsi penjualan/pemasaran dan fungsi administrasi. Sedangkan organisasi divisional dibagi berdasarkan pada divisi-divisi, masing-masing dipimpin oleh manajer yang bertanggungjawab atas pengambilan keputusan divisi. Gimana sob, sobat gogo semakin paham kan apa dan manfaat Accounting Responsibility itu sendiri :D. Dimana #Accountability ini dapat membantu manajer pusat pertanggungjawaban dalam pendelegasian wewenang berdasarkan jenis pusat pertanggungjawaban dalam rangka mengambil keputusan yang lebih baik dalam divisi masing-masing J.
Ok sob, sekian dulu materi dari prodi akmen hari ini. Sampai bertemu minggu depan di Kultweet selanjutnya. Keep learning, Sharing, Inspiring ! J
oleh Admin | Okt 26, 2017 | Akuntansi Keuangan, Akuntansi Manajemen, Artikel, Direktorat Pendidikan dan Pelatihan
Halo!! Selamat Malam Sobat Gogo! Apa kabarnya ? Semoga semakin baik setiap harinya dengan Kultweet Gogo ya Sob. Beberapa minggu yang lalu, kita sudah membahas mengenai Artificial Intelligence yang digembar-gemborkan dapat menggantikan peran Akuntan. Minggu sebelumnya, kita membahas mengenai #DeepLearninginAuditing, dan bagaimana penggunaan Deep Learning bisa meningkatkan kualitas Audit. Pada kesempatan ini, sedikit berhubungan dari topik-topik sebelumnya yang membahasi mengenai bagaimana Teknologi mempengaruhi dunia Akuntansi, sekarang kita akan membahas suatu artikel yang lebih praktikal mengenai bagaimana cara untuk Mengurangi Ketidakpastian Biaya Transaksional dengan Digitalisasi Proses Order Pembelian dan invoicing dan bagaimana hal tersebut dapat memberikan dampak positif pada bisnis. Menarik sekali ya Sob… Artikel tersebut dibuat oleh Ian Smith, Finance Director and General Manager of Invu. Invu merupakan organisasi penyedia jasa software independen.
Sebelumnya, apakah Sobat sudah mengetahui tentang apa itu Transactional Cost ? Terdapat banyak pengertian dari Transactional Cost dari berbagai bidang ilmu masing-masing, namun secara umum kita bisa mengambil pengertian umum bahwa Transactional Cost adalah seluruh biaya yang berkaitan dengan pengaturan operasi dari suatu perusahaan Sob. Ditengah ketidakpastian yang sekarang ini melanda, sebut saja Brexit yang terjadi 2016 lalu, juga terpilih Presiden Donald Trump yang menjadi polemik, Ancaman Perang Nuklir di Korea Utara, Refrendum Kemerdekaan Barcelona di Spanyol, ketidakstabilan di Timur Tengah bahkan di Indonesia sendiri, semuanya memicu ketidakpastian, di dalam dunia yang penuh dengan ketidakpastian, kebutuhan atas informasi real time atas Pernjanjian Keuangan, yang dibuat oleh bisnis menjadi sangat penting dan sangat dibutuhkan. #DigitalisasiPOP&I
Dalam riset independen yang memfokuskan pada pembuat keputusan keuangan dalam medium sized business dengan jumlah pegawai 50 hingga 250 pegawai, mengungkapkan bahwa visibilitas, efisiensi dan pengendalian masih menjadi hal yang sulit bagi departemen-departemen keuangan dalam suatu perusahaan. Meskipun usaha untuk menerapkan pengendalian yang lebih kuat terhadap order pembelian terus dilakukan, Chief Financial Officer (CFO) and Finance Department masih kekurangan pengetahuan atas visibilitas keuangan yang real time, sehingga menghambat pengendalian operasi dari perusahaan tersebut. Selain itu, yang semakin memperparah keadaan ini yaitu dengan penggunaan system pemrosesan yang “Ketinggalan Zaman”. Berdasarkan survey, hampir setengah, tepatnya 47 % dari jumlah Perusahaan ukuran medium di Inggris masih mendasarkan proses bisnisnya pada Microsoft Office (Word dan Excel) yaitu 25 %, proses manual berbasis kertas 14%, atau kombinasi dari keduanya yaitu 8% dalam mengatur proses order pembelian, juga sekitar 45 % bisnis tersebut masih menggunakan proses manual terhadap pengendalian Hutang Usaha mereka. Proses-proses manual yang kurang up-to date diatas menyebabkan proses bisnis menjadi lambat, dan tidak memberikan informasi yang komprehensif bagi pembuat keputusan. Penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa hampir setengah, tepatnya 44% perusahaan ukuran sedang di Inggris, harus menunda produksinya diakibatkan oleh lambatnya pemrosesan atas tagihan supplier. #DigitalisasiPOP&I
Salah satu langkah besar untuk meningkatkan visibilitas dan pengendalian atas operasi perusahaan yaitu dengan mengubah proses manual menjadi digital. Dokumen digital bisa dibagikan dan dapat dengan mudah dilacak apabila terdapat kesalahan. Kemudahan dokumen digital untuk dilacak, diketahui keberadaannya, dan siapa yang harus melanjutkan pengerjaan atas dokumen tersebut, dapat secara signifikan meningkatkan visibilitas dan pengendalian. Sebuah system pemrosesan order pembelian dan tagihan supplier yang ramah pengguna, dapat membantu bisnis untuk mengurangi ketidakpastian transaksional. Sehingga hal tersebut juga harus menjadi perhatian dari para CFO dan Manajer Keuangan untuk meningkatkan efisiensi dari proses bisnis yang sudah ada. Digitalisasi dalam pemrosesan Invoice dari supplier memungkinkan kita untuk mengetahui liabilitas secara real time, dan membuat kita bisa mengatur kapan untuk melunasinya, membuat bagian keuangan menjadi lebih leluasa untuk mengatur agenda pembayaran, bukannya untuk baru dipersiapkan dananya ketika terdapat penagihan dari supplier. Hal tersebut secara signifikan mengurangi ketidakpastian transaksional. Hal tersebut juga lebih memperdayakan karyawan keuangan, yang tidak hanya meng-entri data, tetapi juga dilibatkan ke fungsi review dan pengendalian.
Perubahan dalam proses keuangan merupakan suatu evolusi yang panjang, namun merupakan hal yang penting terutama bagi CFO yang berkeinginan untuk mengurangi ketidakpastian transaksional. Sekian sharing pengetahuan mengenai Digitalisasi Proses Order Pembelian dan Invoincing ini ya Sob, Semoga pengetahuan ini bermanfaat dan jangan lupa tetap semangat untuk mengembangkan diri ya Sob. Dan Keep Learning, Sharing, and Inspiring ! #DigitalisasiPOP&I
Komentar Terbaru