Properti Investasi dan Aset Tetap

Properti Investasi dan Aset Tetap

Oleh: Aisyah Aulia Vianida, Arif Swandaru, Ria Guslimawati, Ivana Purnamasari, Hardianty Munawir

Properti investasi dan aset tetap merupakan komponen aset tidak lancar. PSAK  13 memberikan panduan mengenai pengaturan properti investasi, sementara PSAK 16 memberikan penjelasan terkait aset tetap.

Definisi aset tetap adalah aset berwujud yang a) dimiliki untuk digunakan dalam produksi, direntalkan pada pihak lain untuk tujuan administratif, dan b)diharapkan untuk digunakan selama lebih dari 1 periode. Aset tetap adalah aset berwujud, punya bentuk fisik seperti tanah dan bangunan. Beda dengan paten/merek dagang yang tidak punya bentuk fisik. Aset tetap memiliki tujuan penggunaan khusus yakni untuik produksi, atau direntalkan dengan tujuan administratif. Jadi, aset seperti tanah yang dimiliki perusahaan dengan tujuan untuk dijual bukan aset tetap. Aset tetap termasuk ke dalam aset tidak lancar karena diharapkan akan digunakan untuk lebih dari satu  periode akuntansi. (lebih…)

Intangible Assets

Intangible Assets

Oleh: Aisyah Aulia Vianida, Arif Swandaru, Ria Guslimawati, Ivana Purnamasari, Hardianty Munawir

Pernah dengar usaha Franchise? Nah salah satu contoh paling dekat dengan #IntangibleAssets adalah usaha ini. Franchise merupakan kontrak antara dua pihak untuk sebuah produk atau jasa maupun lisensi merek dagang dalam hal memberikan izin untuk menjual barang tertentu dengan jangka waktu yang tertentu pula. (lebih…)

Non Current Assets Held for Sale

Non Current Assets Held for Sale

Oleh: Aisyah Aulia Vianida, Arif Swandaru, Ria Guslimawati, Ivana Purnamasari, Hardianty Munawir

Non Current Assets Held for Sale (NCAHFS) atau Aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual diatur dalam PSAK 58. NCAHFS terdiri dari dua kata penting: (1) aset tidak lancar, (2) tersedia untuk dijual.

Aset Tidak Lancar berarti aset ini tidak memenuhi definisi aset lancar misalnya peralatan, tanah, dan bangunan. Dimiliki untuk dijual artinya nilai tercatat aset akan dipulihkan melalui penjualan, bukan digunakan dalam kegiatan usaha sehingga dapat ditarik kesimpulan suatu aset yang dimiliki untuk dijual adalah ketika entitas berniat untuk tidak menggunakan aset tersebut dalam kegiatan operasinya, namun berniat untuk  menjualnya. (lebih…)

Instrumen Keuangan

Instrumen Keuangan

Oleh: Aisyah Aulia Vianida, Arif Swandaru, Ria Guslimawati, Ivana Purnamasari, Hardianty Munawir

Instrumen Keuangan ini dibahas dalam tiga PSAK, yaitu PSAK 50, PSAK 55, PSAK 60. PSAK 50 membahas mengenai penyajian, PSAK 55 seputar pengakuan dan penilaian,  dan PSAK 60 seputar pengungkapan (disclosure).

PSAK 50 diantaranya membahas seputar definisi dan ruang lingkup, penyajian: a) liabilitas dan Ekuitas, b) #InstKeu Majemuk, c) saham yang diperoleh kembali (tresuri stock), d) saham, deviden, kerugian dan keuangan, dan saling hapus antar aset dan liabilitas keuangan. (lebih…)

Penghitungan dalam Pengukuran Produktivitas

Penghitungan dalam Pengukuran Produktivitas

Oleh: Nuraeni, Adi Putra Setianto, Rizqi Irma Oktavi, Yuni Ira Mulia Sari, Annisa Dwi Agustina

Pengukuran produktivitas dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pengukuran parsial dan pengukuran total. Pengukuran Parsial dapat dibentuk dalam formula rasio Keluaran/Masukan. Misalkan, Pabrik Semen Jago memproduksi  60.000 sak semen dengan menggunakan 20.000 jam tenaga kerja,  maka dapat dikatakan rasio produktivitas tenaga kerja adalah 3 (60000/20000) sak semen per jam. Jam tenaga kerja ini merupakan ukuran operasional karena unitnya dinyatakan dalam bentuk fisik. Selanjutnya, bila harga jual tiap sak semen tersebut adalah Rp50,000 dan biaya tenaga kerja adalah Rp15.000 per jam, maka produktivitas keuangannya adalah Rp 10 ((60000×50000) / (15000×20000)) per biaya tenaga kerja. (lebih…)

Produktivitas sebagai Pengukur Kinerja

Produktivitas sebagai Pengukur Kinerja

Oleh: Nuraeni, Adi Putra Setianto, Rizqi Irma Oktavi, Yuni Ira Mulia Sari, Annisa Dwi Agustina

Secara umum produktivitas diartikan sebagai hubungan antara hasil nyata maupun fisik dengan masukan yang sebenarnya (ILO,1979). Jadi  produktivitas terkait dengan keluaran dan masukan yang digunakan untuk menghasilkan keluaran berdasarkan kombinasi masukan. Contohnya untuk menghasilkan keluaran berupa semen diperlukan kombinasi masukan berupa bahan baku, tenaga kerja,energi dan aset tetap. (lebih…)