oleh Admin | Mar 25, 2016 | Akuntansi Syariah, Direktorat Pendidikan dan Pelatihan
Oleh: M. Reza Ar Rizky/Hatma Wiganti/Siti Masfiroh/Reza Trisna/Achlinta Dewinta
Sukuk adalah salah satu jenis sekuritas syariah pada investasi pasar modal syariah. Sukuk merupakan bentuk pendanaan sekaligus investasi yang inovatif dalam sistem ekonomi Islam. Sukuk pertama kali muncul di Indonesia pada tahun 2002 oleh PT. Indosat Tbk. senilai Rp175 miliar. Tak ketinggalan, pemerintah pun mengeluarkan UU Surat Berharga Syariah Nasional (SBSN) pada Mei 2008.
Dalam PSAK 110, sukuk merupakan efek syariah berupa sertifikat/bukti kepemilikan yang bernilai sama dan mewakili: (lebih…)
oleh Admin | Mar 24, 2016 | Akuntansi Syariah, Direktorat Pendidikan dan Pelatihan
Oleh: M. Reza Ar Rizky M/Achlita Dewinta Fajrin
Soft and Benevolent Loan atau qardh adalah pmberian harta kepada orang lain yang dapat diminta kembali tanpa mengharap imbalan. Dlm literatur klasik, qardh dikategorikan dalam akad saling bantu dan bukan transaksi komersial. Nah, qardh diperbolehkan oleh para ulama salah satunya karena berdasarkan QS Al Hadiid: 11.
Walaupun bukan termasuk akad komersial, qardh juga memiliki penerapannya di perbankan, yaitu: (lebih…)
oleh Admin | Mar 24, 2016 | Akuntansi Syariah, Direktorat Pendidikan dan Pelatihan
Oleh: M. Reza Ar Rizky M/Hatma Wiganti/Siti Masfiroh/Rezha Trisna Yuli
Pasar modal dapat diartikan sebagai kegiatan mengenai penawaran umum dan perdagangan efek perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek. Nah, pasar modal syariah memiliki karakteristik khusus dibandingkan dengan pasar modal konvensional. Bedanya adalah adanya pemenuhan prinsip syariah dalam menciptakan produk, membuat kontrak dalam penerbitan efek syariah, melakukan transaksi perdagangan, serta melakukan aktivitas pasar modal lainnya. (lebih…)
oleh Admin | Mar 24, 2016 | Akuntansi Syariah, Direktorat Pendidikan dan Pelatihan
Oleh: M. Reza Ar Rizky M/Siti Masfiroh
Alasan utama yang mendasari adanya perbankan syariah karena praktik bunga dalam perbankan konvensional. Dalam sudut pandang fikih, bunga dikategorikan sebagai riba sehingga diharamkan. Sedangkan ummat Islam juga membutuhkan adanya sistem perbankan untuk mencapai tujuan ekonomi Islam.Tujuan tersebut adalah falah (kesejahteraan dunia dan akhirat) dengan cara-cara yg sesuai dgn prinsip Islam. Dengan begitu perlu adanya alternatif sistem perbankan yang sesuai, dan akhirnya muncullah perbankan syariah. (lebih…)
oleh Admin | Feb 10, 2016 | Direktorat Pendidikan dan Pelatihan, Pemerintahan
Oleh: Elychia Roly Putri/Nelly Yulinda/Hajrahwati/Borisma Anastasia Sinaga
Penyunting Tulisan: Astrid Mega A
Terdapat 2 (dua) jenis dalam penganggaran pada sektor publik, yaitu anggaran tradisional dan anggaran pendekatan New Public Management (NPM).
Pada halaman ini, akan dibahas mengenai salah satu jenis penganggaran sektor publik yaitu anggaran tradisional.
Sistem Anggaran Tradisional (Traditional Budgeting System) adalah suatu cara penyusunan anggaran dimana tidak didasarkan atas pemikiran dan analisa rangkaian kegiatan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Adapun dua ciri utama dalam pendekatan Sistem Anggaran Tradisional yaitu cara penyusunan anggaran didasarkan atas pendekatan incrementalism. Penjelasannya, penekanan dan tujuan utama pendekatan tradisional adalah pada pengawasan dan pertanggungjawaban yang terpusat. Bersifat incrementalism artinya menambah dan mengurangi jumlah rupiah pada item-item anggaran yg sudah ada dengan data tahun sebelumnya. Masalah utama Sistem Anggaran Tradisional adalah tidak memperhatikan konsep Value For Money (VFM). Terdapat tiga konsep dalam VFM yaitu Ekonomi, Efisiensi, dan Efektivitas.
Ciri kedua dalam Sistem Anggaran Tradisional yaitu struktur dan susunan anggaran yang bersifat Line-item. Bersifat Line-item didasarkan atas sifat (nature) dari penerimaan dan pengeluaran. Masalah utama Sistem Anggaran Tradisional adalah tidak mampu mengungkapkan besarnya dana dikeluarkan untuk setiap kegiatan. Metode Line-item budget tidak memungkinkan item-item penerimaan atau pengeluaran yang telah ada dalam struktur anggaran.
Penyusunan anggaran dengan menggunakan struktur Line-item dilandasi alasan adanya orientasi Sistem Anggaran Tradisional yang dimaksud untuk mengontrol pengeluaran. Sistem Anggaran Tradisional disusun atas dasar sifat penerimaan dan pengeluaran seperti pendapatan dari pemerintah atasan, dan sebagainya.
Terdapat beberapa karakteristik pada Sistem Anggaran Tradisional, yaitu:
- sentralisasi,
- berorientasi pada input,
- tidak terkait dengan perencanaan jangka panjang,
- Line-item & incremantalism.
- batasan departemen yang kaku,
- menggunakan aturan klasik,
- vote accounting,
- prinsip anggaran bruto,
- bersifat tahunan.
Pada penerapan Sistem Anggaran Tradisional memiliki kelebihan dan kelemahan, antara lain:
Kelebihan:
- Penyusunannya relatif mudah, sehingga dapat mengatasi rumitnya proses penyusunan anggaran;
- Tidak memerlukan pengetahuan tinggi untuk memahami program-program baru karena banyak dari kegiatan tersebut dilanjutkan dari tahun sebelumnya.
Kelemahan:
- Hubungan yang tidak memadai (terputus) antara anggaran tahunan dengan rencana pembangunan jangka panjang;
- Sekat antara departemen yang kaku membuat tujuan nasional secara keseluruhan sulit dicapai dan berpeluang menimbulkan konflik;
- Overlapping, kesenjangan dan persaingan antar departemen;
- Proses anggaran terpisah untuk pengeluaran rutin dan pengeluaran investasi/ modal.
oleh Admin | Feb 10, 2016 | Direktorat Pendidikan dan Pelatihan, Pemerintahan
Oleh: Elychia Roly Putri / Nelly Yulinda / Hajrahwati / Borisma Anastasia Sinaga
Penyunting Tulisan: Astrid Mega A
Keberhasilan sebuah organisasi sektor publik tidak dapat diukur semata-mata dari perspektif keuangan. Surplus atau defisit dalam laporan keuangan tidak dapat menjadi tolak ukur keberhasilan organisasi sektor publik. Oleh sebab itu, aspek pertanggungjawabannya tidak cukup hanya berupa laporan keuangan, tetapi juga harus dilengkapi dengan laporan kinerja.
Pengukuran kinerja digunakan sebagai dasar untuk melakukan penilaian kinerja, yaitu untuk menilai sukses atau tidaknya suatu organisasi, program, atau kegiatan yang dilakukan oleh organisasi sektor publik. Pengukuran kinerja di sektor publik bukanlah hal yang mudah. Salah satu sebabnya adalah karena tidak adanya sebuah teknik atau cara yang baku untuk melakukannya.
Dalam melakukan pengukuran kinerja ada 2 jenis informasi yang digunakan, yaitu informasi finansial dan informasi non-finansial.
Penilaian laporan kinerja finansial diukur berdasarkan pada anggaran yang telah dibuat. Penilaian tersebut dilakukan dengan menganalisis varians (selisih atau perbedaan) antara kinerja aktual dengan yang dianggarkan. Analisis varians ini secara garis besar berfokus pada 2 hal, yaitu varians pendapatan dan varians pengeluaran.
Sedangkan informasi non-finansial digunakan untuk menambah keyakinan terhadap kualitas proses pengendalian manajemen. Jenis informasi ini dapat dinyatakan dalam bentuk variabel kunci (key variable) atau sering juga dinamakan key success factor. Variabel kunci ini merupakan variabel yang mengindikasikan faktor-faktor yang menjadi sebab kesuksesan organisasi.
Variabel kunci memiliki beberapa karakteristik, antara lain: (1) menjelaskan faktor pemicu keberhasilan dan kegagalan organisasi; (2) sangat volatile dan dapat berubah dengan cepat; (3) perubahannya tidak dapat diprediksi; (4) jika terjadi perubahan perlu diambil tindakan segera; dan (5) variabel tersebut dapat diukur, baik secara langsung atau melalui ukuran antara (surrogate). Contohnya unit kerja perusahaan air minum diukur dari jumlah debit air yang terjual, PLN diukur dari kWh yang terjual.
Hal yang dilakukan selanjutnya setelah mengidentifikasi variabel kunci adalah mengembangkannya menjadi indikator kinerja. Indikator kinerja tersebut dapat berbentuk faktor-faktor keberhasilan utama organisasi dan indikator kinerja kunci.
Faktor keberhasilan utama (critical success factors) adalah suatu area yang mengindikasikan kesuksesan kinerja unit kerja organisasi. Area ini merefleksikan preferensi manajerial dengan memperhatikan variabel-variabel kunci finansial dan non-finansial pada kondisi waktu tertentu. Critical success factors ini harus secara konsisten mengikuti perubahan yang terjadi dalam organisasi.
Sedangkan indikator kinerja kunci (key performance indicator) merupakan sekumpulan indikator yang dianggap sebagai ukuran kinerja kunci baik yang bersifat finansial maupun non-finansial untuk melaksanakan operasi dan kinerja unit bisnis. Indikator ini dapat digunakan oleh manajer untuk mendeteksi dan memonitor capaian kinerja. Penggunaan indikator kinerja penting untuk mengetahui apakah suatu aktivitas atau program telah dilakukan secara efisien dan efektif.
Indikator untuk tiap-tiap unit organisasi berbeda-beda, tergantung pada tipe pelayanan yang dihasilkan. Dalam penetuan indikator kinerja perlu mempertimbangkan 5 komponen berikut, yaitu :
- biaya pelayanan,
- penggunaan,
- kualitas dan standar pelayanan,
- cakupan pelayanan,
- kepuasan (satisfaction).
Apa yang diukur dalam proses pengukuran kinerja?
Salah satu pendekatan untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah sebuah konsep yang dikenal dengan Value for Money.
Konsep Value for Money ini merupakan indikator yang memberikan informasi kepada kita apakah anggaran (dana) yg dibelanjakan menghasilkan suatu nilai tertentu bagi masyarakatnya. Dalam konsep ini, indikator yang dimaksud adalah ekonomi, efisien, dan efektif.
Konsep ekonomi sangat terkait dengan konsep biaya untuk memperoleh unit input. Ekonomi berarti sumber daya input hendaknya diperoleh dengan harga lebih rendah (spending less), yaitu harga yg mendekati harga pasar.
Selanjutnya yaitu konsep Efisiensi. Efesiensi diukur dengan rasio antara output dengan input. Semakin besar output dibanding input, maka semakin tinggi tingkat efisiensi suatu organisasi.
Dan yang terakhir adalah konsep Efektivitas. Efektivitas merupakan ukuran berhasil tidaknya suatu organisasi mencapai tujuannya. Efektivitas tidak menyatakan tentang berapa besar biaya yang telah dikeluarkan untuk mencapai tujuan tersebut. Efektivitas lebih melihat apakah suatu program atau kegiatan telah mencapai tujuan yang ditetapkan.
Komentar Terbaru